<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tukiman taruna Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/tukiman-taruna/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Jan 2026 15:07:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>tukiman taruna Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Wong-Wong Rongeh</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/01/04/wong-wong-rongeh</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2026 01:02:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[rongeh]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<category><![CDATA[Wong-Wong Rongeh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=537549</guid>

					<description><![CDATA[<p>BACALAH rongeh sebagaimana Anda berucap: “Pak Sholeh berulangkali menoleh ke belakang, seolah mencari seseorang.”  Ternyata, pak Sholeh hendak memberi kode kepada istrinya untuk membeli oleh-oleh bagi para tetangga. Nah …… seperti itulah mengucapkan rongeh, topik menarik saat ini. Betapa tidak menarik?  Hanya dengan melihat seeorang itu rongeh atau tidak, sebenarnya kita tahu orang itu “sedang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/04/wong-wong-rongeh">Wong-Wong Rongeh</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong> <img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-463065" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg" alt="" width="681" height="170" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-400x100.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-150x37.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /></strong></p>
<p><strong>BACALAH </strong>r<em>ongeh </em>sebagaimana Anda berucap: “<em>Pak Sholeh berulangkali menoleh ke belakang, seolah mencari seseorang.” </em> Ternyata, pak Sholeh hendak memberi kode kepada istrinya untuk membeli <em>oleh-oleh </em>bagi para tetangga.</p>
<p>Nah …… seperti itulah mengucapkan <em>rongeh, </em>topik menarik saat ini. Betapa tidak menarik?  Hanya dengan melihat seeorang itu r<em>ongeh</em> atau tidak, sebenarnya kita tahu orang itu “sedang ada apa-apa,” atau tidak ada apa-apa.</p>
<p>Alam sekitar menyediakan sinyal-sinyal atau pertanda apa pun bagi kehidupan ini. Kalau tiba-tiba melihat rombongan burung terbang ke arah tertentu, lalu rombongan burung yang sama itu terbang ke arah yang lain, itulah tanda-tanda alam(-iah) sedang atau akan terjadi sesuatu.</p>
<p>Masalahnya memang, kita belum tentu melihat kejadian itu sebagai tanda-tanda alam(iah); dan kalau pun bergumam ada apa itu, belum tentu juga kita lalu mencari tahu lebih mendalam.</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2025/12/28/wong-wong-kapiran-wong-wong-kesrakat">Wong-Wong Kapiran, Wong-Wong Kesrakat?</a></span></strong></p>
<p>Binatang, apa pun jenisnya atau pun namanya, biasanya paling peka terhadap sesuatu dan binatang itu pulalah yang pertama kali akan memberikan tanda-tanda lewat sikapnya yang <em>rongeh</em>. Kalau tiba-tiba, semula kucing itu diam saja, lalu ia rongeh seraya lari ke sana ke sini sambal ekornya mengibas-ibas, besar kemungkinan ada sesuatu dilihatnya.</p>
<p>Burung di sangkar pun dapat tiba-tiba <em>rongeh</em> seraya terbang sana sini; dan ketika si empunya menyadari hal itu, ia pasti akan segera melihat-lihat apa yang sedang terjadi. “Ohhhh…. ternyata ada tikus mendekati sangkar.”</p>
<p><strong><em>Rongeh</em></strong></p>
<p>Masyarakat yang tinggal di kaki gunung berapi, pasti sudah sangat hafal dan segera bersiap-siap bila mengetahui sejumlah hewan liar mulai turun, atau mulai berkeliaran di pemukiman penduduk. Turun gunungnya  hewan liar itu memberi tanda-tanda.</p>
<p>Binatang disebut rongeh jika hewan itu <em>ora anteng, tansah polah wae. </em>Maksudnya, di luar dari kebiasaannya, binatang itu kok kelihatan gelisah, obah terus, bersuara terus, dan polah-polah lainnya. Jika <em>rongeh</em> seperti itu terjadi, sekali lagi, dapat dipastikan ada apa-apa di sekitar itu, atau akan terjadi sesuatu dalam waktu dekat.</p>
<p>Pertanyaannya, apakah <em>rongeh</em> hanya milik binatang saja?  Bukan. Justru manusialah si pemilik atau si empunya sikap <em>rongeh </em>yang  lebih dari seribu macam jumlahnya. Manusia justru paling kaya dengan <em>ke-rongeh-an</em> yang bermacam ragam.</p>
<p>Karena itu, sebenarnya, dari rongehnya manusia yang bermacam ragam itulah khalayak sudah dapat mulai menengarai ada apa-apa sedang terjadi. Namun karena manusia pulalah yang paling pandai “menutupi” atau berupa-pura; tidaklah mustahil sedang ada apa-apa tadi tidak kelihatan oleh orang lain.</p>
<p><strong><em>Contoh</em></strong></p>
<p><em>Ora bisa anteng, tansah polah wae, rongeh, </em>para pejabat tentu saja paling jelas terlihat karena mereka itu orang publik (<em>public figure</em>). Ada yang tidak bisa betah berlama-lama atas jabatan anak buahnya, maka sering melakukan mutasi. Jika <em>rongeh</em>nya seperti ini, telitilah, ada apa di balik mutasi-mutasi itu, jangan-jangan ada apa-apa.</p>
<p>Jika <em>rongeh</em> itu ditunjukkan lewat suka membuat kebijakan atau aturan baru, apalagi aturan yang terkesan mengada-ada; pastilah sedang ada sesuatu terjadi pada dirinya.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2025/12/21/wong-wong-blangkemen">Wong-Wong Blangkemen</a></strong></span></p>
<p>Tidak kurang pejabat <em>rongeh</em> lewat mempersoalkan fasilitas jabatan, mulai dari soal pilihan warna sampai merk misalnya; atau minta semua perabotan lama di ruang kerjanya diganti baru. Ke-<em>rongeh</em>-an semacam itu sudah jelas menggambarkan ada sesuatu di balik <em>rongeh</em>-nya itu.</p>
<p>Apakah mereka yang sudah pensiun terbebas dari sikap <em>rongeh</em>?  Konon ada adagium: “Semakin tua seseorang, semakin sulit atau menyulitkanlah dia.” Apa itu artinya? Yah……. pasti sangat terkait dengan <em>rongeh</em> tadi, dan dari sanalah bait nyanyian ini nyaring: “<em>Angel temen tuturanmu; angel temen, tuturanmu……..”</em></p>
<p>Seorang ahli mistik di usia tuanya seolah menyesali masa mudanya. Ia berkata, seandainya  doaku sejak muda dulu seperti yang saya doakan saat ini; pastilah saya tidak merasakan sia-sia.  “Doaku sewaktu muda: Tuhan, mohon berkatMu, saya mengubah dunia dengan segala isinya.” Sampai dengan usiaku separuh-baya, tidak satu pun yang berhasil saya ubah.</p>
<p>Lalu, saya mengganti doaku di usia paruh-baya: “Tuhan, saya harus berhasil mengubah istriku, anak-anakku, dan tetanggaku; mohon berkatMu.” Sampai usia tuaku, tidak juga ada yang berhasil saya ubah, meski itu anakku. “Sekarang doa kakek apa?” tanya muridnya. “Doaku sekarang dan yang membuatku sangat tenang-nyaman, <em>ora rongeh, </em>tidak merasa sia-sia:   Tuhan, ajarkan aku mengubah diriku sedikit demi sedikit.”</p>
<p>Jebul, orang berdoa pun sangat mungkin <em>rongeh.</em></p>
<p><strong><em>Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan  budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng</em></strong><em> </em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/04/wong-wong-rongeh">Wong-Wong Rongeh</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tanpa Rikuh-(Rikuh)</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/11/02/tanpa-rikuh-rikuh</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2025 00:21:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[rikuh]]></category>
		<category><![CDATA[tanpa rikuh]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=504738</guid>

					<description><![CDATA[<p>RIKUH dalam batas tertentu semakna dengan risi;  namun dalam batas lebih luas, rikuh memiliki cakupan makna luas dan menarik. Sopan santun kehidupan sehari-hari telah mengajarkan banyak hal tentang rikuh dan risi ini. Menjemur pakaian, misalnya, sedapat mungkin di setiap rumah tangga telah diajarkan agar jika menjemur pakaian, apalagi ada pakaian dalamnya, letakkanlah di tempat “tersembunyi” [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/11/02/tanpa-rikuh-rikuh">Tanpa Rikuh-(Rikuh)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-463065" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg" alt="" width="681" height="170" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-400x100.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-150x37.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /></p>
<p><b><i>RIKUH </i></b>dalam batas tertentu semakna dengan <em>risi;  </em>namun dalam batas lebih luas, <em>rikuh</em> memiliki cakupan makna luas dan menarik. Sopan santun kehidupan sehari-hari telah mengajarkan banyak hal tentang <em>rikuh dan risi</em> ini.</p>
<p>Menjemur pakaian, misalnya, sedapat mungkin di setiap rumah tangga telah diajarkan agar jika menjemur pakaian, apalagi ada pakaian dalamnya, letakkanlah di tempat “tersembunyi” dalam arti tidak gampang terlihat orang lain. Jika tidak mungkin karena sempitnya lahan, upayakan pakaian dalam ditutupi cucian lainnya.</p>
<p>Mengapa hal seperti itu harus dilakukan? Jawabannya, si pemilik jemuran selayaknya merasa <em>risi </em>kok pakaian yang dicuci itu dipamer-pamerkan. Bagi tetangga atau orang lain yang melihat, sangat mungkin bukan hanya merasa <em>risi</em> (atau sekurang-kurangnya berfikiran: “Orang ini kok tidak tahu malu”). Bahkan sangat boleh jadi ia merasa <em>rikuh</em> melihatnya. Justru orang lain yang merasa rikuh.</p>
<p><strong>Risi</strong></p>
<p><em>Risi  </em>memiliki tiga arti, yaitu (1<em>) krasa ora kepenak, (2) krasa ora seneng, lan (3) krasa keri.. </em>Terasa tidak nyaman, itulah makna  <em>krasa ora kepenak, </em>seperti contohnya menjemur pakaian di depan kamar tamu tadi. Rasa tidak nyaman terkait dengan mengganggu pemandangan, tetapi bisa juga terkait dengan rasa hati: “Mosok, jemur CD di depan pintu.”</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2025/10/26/tanpa-sapa-aruh">Tanpa Sapa-Aruh</a></span></strong></p>
<p>Adapun sudah sangat jelas maknanya, yakni membuat hati ini tidak senang. Bayangkan kalau ada teman yang bikin hati tidak senang karena setiap kali bertemu selalu nagih minta ditraktir <em>dhawet ayu</em>, lain kali minta ayam kremes, lain kali minta ke kafe.</p>
<p>Bikin hati ini tidak senang, <em>risi kok saben-saben mung soal mangannnnnnn wae. </em>Dan tentang <em>krasa keri, </em>bacalah <em>keri</em> seperti Anda mengatakan ngeri deh; dan bayangkan ada kerikil kecil ada di sepatu kita. Sekecil apa pun, benda itu membikin <em>keri, </em>yaitu di satu sisi geli, di sisi lain terasa tidak nyaman di kaki.</p>
<p><strong>Rikuh</strong></p>
<p><em>Rikuh </em>pasti semua orang tahu artinya, pun juga makna bahkan penerapannya dalam hidup sehari-hari. Rikuh itu terasa <em>kikuk, kidung, jiguh </em>bukan saja merasa tidak nyaman, tidak enak; namun juga orang bisa merasa serba salah. Bayangkan bertemu mertua sementara sedang berpakaian kurang lengkap. Lebih dramatis lagi kalau ketahuan mertua sementara si menantu ini sedang cengkerama asyik di kafe dengan orang lain. Rikuh juga bermakna <em>rada isin</em>, agak malu-malu seperti contoh “ketangkep basah” mertua  di kafe tadi.</p>
<p>Pertanyaan yang kontekstual saat ini, ialah: Masih adakah <em>rasa rikuh</em> seperti yang disebutkan lewat contoh-contoh di atas? Tegasnya, generasi <em>zaman now</em>, apakah tetap mengembangkan <em>rasa rikuh</em> dalam kehidupan sehari-harinya? Pertanyaan lebih menukik lagi: Apakah orang-orang tua saat ini juga memberikan teladan dalam mengembangkan rasa rikuh itu? Jangan-jangan orang-orang tua pun ogah memberi contoh, atau malah juga larut bersikap <em>tanpa rikuh-rikuh</em>?.</p>
<p>Dalam konteks <em>rasa isin</em>, yaitu masih memiliki dan/atau  terasa malu, apakah para senior selama ini masih bersedia menjadi pelopor? Ataukah sudah luntur?</p>
<p>Seorang tokoh suku Indian, seorang ahli mimpi, suatu hari didatangi seseorang yang bertanya tentang makna mimpinya. “Saya memiliki dua ekor anjing yang selalu berkelahi. Anjing yang satu sangat baik, cantik dan berbulu putih. Anjing ini selalu membantu tuan rumahnya. Sedang anjing satunya, berbulu hitam, dan nampak jahat, cenderung merusak apa saja.”</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2025/10/19/tanpa-tedheng-aling-aling">Tanpa Tedheng Aling-Aling</a></span></strong></p>
<p>Orang Indian itu lalu bertanya: “Dalam perkelahian, anjing mana banyak menangnya?” Seseorang yang bertanya itu menjawab: “Anjing pertama.”</p>
<p>Tokoh Indian ini tersenyum, lalu menjawab pasti  penuh meyakinkan: “Begitulah, siapa pun yang dituntun ke arah putih, yaitu kebaikan; pasti masih akan memiliki <em>rasa rikuh</em> jika mau berbuat yang hitam.”</p>
<p>Imbauan moralnya, mari tetap kembangkan rasa rikuh lebih-lebih untuk melawan “anjing berbulu hitam itu,” Upayakan rasa rikuh tetap ada dalam hidup ini, jangan dikalahkan oleh kecenderungan <em>tanpa rikuh-rikuh maneh</em>  apalagi sering ada yang berkata: Hari gini <em>rikuh-rikuh</em>?</p>
<p><strong><em>Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan  budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/11/02/tanpa-rikuh-rikuh">Tanpa Rikuh-(Rikuh)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ora Nglegewa</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/07/20/ora-nglegewa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2025 00:58:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[SCU]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<category><![CDATA[UNS]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=484630</guid>

					<description><![CDATA[<p>KATA ora itu  artinya tidak, sebuah ungkapan penolakan, negasi, bahkan bisa juga berupa penyangkalan, denial; kosok balen, berlawanan.  Namun, ora juga dapat bermakna sebuah keharusan, dapat juga bernada saran atau pun kritik. Berbagai arti itu sangat bergantung kepada kata yang menyertai ora. Nah, kali ini kita berbincang tentang “ora nglegewa” Sakit hati yang bertahan lama, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/07/20/ora-nglegewa">Ora Nglegewa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-463065" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg" alt="" width="681" height="170" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-400x100.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-150x37.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /></p>
<p><strong>KATA</strong><em> ora </em>itu  artinya tidak, sebuah ungkapan penolakan, negasi, bahkan bisa juga berupa penyangkalan, <em>denia</em>l; <em>kosok balen</em>, berlawanan.  Namun, <em>ora</em> juga dapat bermakna sebuah keharusan, dapat juga bernada saran atau pun kritik. Berbagai arti itu sangat bergantung kepada kata yang menyertai <em>ora. </em>Nah, kali ini kita berbincang tentang <em>“ora nglegewa”</em></p>
<p>Sakit hati yang bertahan lama, bisa bertahun-tahun lho, adalah sakit hati karena <em>diapus</em>i, ditilap oleh orang yang paling dicintai atau dipercaya. Sakit hatinya ada yang menjadi-jadi karena <em>carane ngapusi</em>, cara orang itu menipu, lewat berbagai taktik sampai-sampai orang <em>ora nglegewa. </em>Nah…… tentang <em>ora nglegewa</em> inilah topik bahasan dengan tokoh utamanya, sebutlah dengan nama panggilan: Pak Dhadap Waru.</p>
<p><em>Nglegewa</em> harus dicari akar katanya pada <em>legewa. </em>Namun, seperti biasa, ucapkan <em>legewa</em> ini seperti Anda mengatakan legenda, atau bendera; dan jangan keliru dengan <em>legawa. </em></p>
<p>Arti <em>legewa </em>ialah <em>duwe panyana marang liyan amarga meruhi pratingkahe; </em>menduga-duga orang/pihak lain lewat melihat tingkah lakunya. Maksudnya, misalnya seseorang tiba-tiba bertindak berbeda dari biasanya, nah ……… pihak yang melihat Naya bersiul-siul sepanjang pagi, menduga-duga kemungkinan Naya sedang jatuh cinta nih. Atau sekurang-kurangnya sedang penuh suka cita.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2025/07/13/ora-mitayani">Ora Mitayani</a></strong></span></p>
<p>Dari tingkah laku seseorang, apalagi dari perubahan tingkah lakunya, dapatlah ditengarai: Ada apa ini? Lalu diduga-duga, wahhhhh Suta <em>klecam-klecem</em> sepanjang hari full senyum. Dapat warisan kelihatannya.  Itulah legewa, itulah <em>panyana</em>, dugaan-dugaan.</p>
<p>Nah……..<em>ora nglegewa </em>menjadi jelas artinya, <em>ora nyana ora ngira, </em>tidak pernah punya dugaan apa pun, tidak pernah punya bahkan firasat apa pun; ehhhhhhh…….<em>jebul mak cempulik </em>Pak Dhadap Waru <em>ngapusi</em>, misalnya. Padahal selama ini Pak Dhadhap Waru ini dipersepsikan oleh tetangga sebagai  orang baik, tulus, <em>apa anane. Lha kok jebul ngapusi melek-melekan, </em>menipu terang-terangan. Tak seorang pun <em>nglegewa </em>tentang triknya menipu. “<em>Jan, ora nglegewa tenan, aku</em>!!” komentar Suta dan Naya penuh rasa heran tidak percaya</p>
<p><strong><em>Isih doyan sega</em></strong></p>
<p><em>Apus-apuse Pak Dhadhap Waru </em> yang tidak diduga seperti itu, <em>ora nglegewa</em>, menandakan betapa <em>sapa wae sing isih doyan sega, </em>siapa pun asal masih membutuhkan nasi dan lauk pauknya, apa pun pangkat dan kedudukannya, ternyata tetap ada naluri menipu atau melakukan pelanggaran. <em>Isih manungsa, arane</em>, masih bernama manusia.</p>
<p>Cerita kuna pengusaha kaya raya berikut ini dapat menjadi contoh bagus tentang <em>ora nglegewa</em> yang sangat bagus. Pengusaha kaya raya sudah tua, mengumpulkan tiga anak laki-lakinya, katanya: “Saya tidak akan membagi warisan keadamu. Harta bernda kekayaanku, akan dimiliki oleh siapa paling cerdas menjawab tantanganku. Saya beri kalian uang masing-masing satu juta rupiah. Pergilah, dan belilah barang apa pun yang bisa memenuhi ruangan ini penuh-penuh, dialah yang akan memiliki harta kekayaan papa.”</p>
<p>Mereka cepat-cepat keluar. Sulung segera membeli banyak sekali pohon dengan semua cabang rantingnya, dibawa pulang, dan dimasukkan ke ruangan itu. Tetapi ternyata baru separoh ruangan terisi. Anak kedua membawa pulang beberapa truk bermuatan  jerami, rumput dan segala macam. Setelah diisikan ruangan itu, masih sepertiga dari ruangan itu kosong, tidak terisi apa pun.</p>
<p>Anak ketiga,  ketika keluar dari rumah,  tidak pergi jauh-jauh, hanya ke tempat doa yang tidak jauh dari rumah ayahnya.-Di sana ia melihat sebuah lilin yang masih menyala. Ia terinspirasi, <em>ora nglegewa, </em>pada lilin itu. Lalu ia segera ke warung yang tidak jauh dari tempat itu. Ia beli beberapa lilin kecil, lalu dibawa pulang.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2025/07/06/ora-kainan">Ora Kainan</a></strong></span></p>
<p>Ketika malam tiba, si bungsu cerdik <em>ora nglegewa</em> itu meminta ayahnya ke ruangan itu dalam keadaan gelap.  Ia nyalakan satu lilin, ruangan itu berubah menjadi agak terang. Ia nyalakan lilin lainnya, ruangan semakin terang. Lima lilin kecil dinyalakan semua, dan ia bertanya kepada ayahnya: “Papa, masihkah ada yang tidak diterangi oleh sinar lilin-lilin kecil itu?” Ayahnya menggeleng, meneteskan air mata, karena <em>ora nglegewa</em> juga anaknya secerdas itu.</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, Dosen pascasarjana dalam matakuliah Pengembangan Masyarakat (UNS, Surakarta), dan Filsafat Ilmu (SCU, Semarang)</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/07/20/ora-nglegewa">Ora Nglegewa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>NgGAGAK-i</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/12/29/nggagak-i</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Dec 2024 03:34:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[burung gagak]]></category>
		<category><![CDATA[Carvus Macrohynsus. kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[gagak]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=454139</guid>

					<description><![CDATA[<p>JC Tukiman Tarunasayoga  MARI Sekarang kita membahas burung gagak, Carvus macrorhynsus, burung serba warna hitam sebesar elang, dengan suara kaokkkk…… kaokkkk…….. Tidak ada, di mana pun, burung gagak berwarna selain hitam. Maka ada peribahasa “Selama gagak hitam, selama air hilir,” bermakna selama-lamanya gagak pasti berwarna hitam, air selalu menuju ke hilir. Kalau tidak seperti itu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/12/29/nggagak-i">NgGAGAK-i</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JC Tukiman Tarunasayoga<img loading="lazy" class=" wp-image-449737 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/TUKIMAN.jpg" alt="" width="223" height="305" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/TUKIMAN.jpg 303w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/TUKIMAN-293x400.jpg 293w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/TUKIMAN-110x150.jpg 110w" sizes="(max-width: 223px) 100vw, 223px" /></strong></p>
<p><strong> </strong><strong>MARI </strong>Sekarang kita membahas burung gagak, <em>Carvus macrorhynsus, </em>burung serba warna hitam sebesar elang, dengan suara kaokkkk…… kaokkkk…….. Tidak ada, di mana pun, burung gagak berwarna selain hitam.</p>
<p>Maka ada peribahasa “<em>Selama gagak hitam, selama air hilir,” </em>bermakna selama-lamanya gagak pasti berwarna hitam, air selalu menuju ke hilir. Kalau tidak seperti itu, peribahasa lainnya mengatakan: “<em>Ketika gagak putih, bangau hitam,</em>” menyatakan sesuatu hal yang mustahil, atau mungkin itu terjadi duluuuuuuuuu <em>banget</em>.</p>
<p>Saat sekarang ini, saya menduga, bahkan “menuduh” betapa terlalu sedikitnya  warga masyarakat yang menyadari menurunnya populasi gagak. Sangat sulit saat ini mendengar barisan gagak terbang sambal bersahut-sahutan kaokkkk……kaokkkk……kaokkkkkk.</p>
<p>Padahal di belahan dunia nun di India atau Turki sana; wahhhh gagak ada di mana-mana. Pertanyaannya, mengapa populasi gagak di negeri kita sangat-sangat menurun drastis padahal burung ini tidak dikonsumsi oleh manusia seperti halnya belibis, bangau, ataupun merpati?</p>
<p><strong>Gagak lincak</strong></p>
<p><em>Gagak lincak</em> (pernah saya tulis di platform ini), adalah sebuah <em>paribasan</em>, peribahasa, yang melukiskan kehidupan orang <em>sing tansah ngolah-ngalih panggonan. </em>Pasti adaaaaa saja orang di negeri mana pun yang tidak mampu bertahan lama bertempat tinggal di suatu daerah.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2024/12/22/kancilen">Kancilen</a></strong></span></p>
<p>Dua tahun di sini, berikutnya tahu-tahu sudah pindah ke tempat lain. Orang semacam itu disebutlah <em>gagak lincak. </em>Hal ini, berlaku  juga bagi orang-orang yang <em>ngolah-ngalih partainya. </em>Lihatlah fenomena gagak lincak di partai-partai menjelang pemilu dan Pilkada kemarin. Setahun di partai ini, pindah ke partai lain; bahkan ada yang partainya banyak karena partai A mendaku seseorang  itu kadernya, demikian juga partai B mendakunya. Saking banyaknya partai-partai mendaku, jadilah warna partai itiu berubah.</p>
<p><em>Gagak lincak</em> kiranya juga dapat memberi gambaran generasi tertentu, sebutlah Z, yang begitu lincahnya pindah dari satu profesi ke profesi lain hanya dengan alasan “gak asyik.” Banyak anak muda yang selalu berkata: “Wahhhh gak asyikkkk kerja di situ, pindah sajalah.”</p>
<p>Persis seperti gagak. Dia pindah/terbang  dari satu tempat ke tempat lain, hanya karena tidak bisa tinggal diam dalam tempo yang singkat sekali pun.</p>
<p><strong><em>ngGAGAK-i   </em></strong></p>
<p>Hati-hati membaca <em>nggagaki</em> ini, jangan keseleo menjadi <em>nggagahi. Adohhhhhhhh  banget bedane</em>, juga konotasinya. Ada dua makna <em>nggagaki, kaya gagak; </em>yaitu pertama, <em>jupuk utawa nyolong lan mangan sajen</em>; dan kedua, <em>ndhudhuk bangke sing wis dipendhem</em>.</p>
<p><strong>Baca juga </strong><strong><span style="font-size: 12pt;"><a href="https://suarabaru.id/2024/12/15/semuten">Semuten</a></span></strong></p>
<p>Makna pertama, <em>jupuk utawa nyolong sajen banjur dipangan </em>ini bermakna ritual di satu sisi, namun sering diganggu gagak di sisi lainnya. <em>Sajen</em>, sesaji, lihat betapa model sesaji ini sampai saat ini masih dilaksanakan dengan setia oleh orang-orang Bali; adalah sebuah ritual harian untuk mempersembahkan sesuatu kepada Sang Khalik.</p>
<p>Wujudnya sesaji itu dapat berupa makanan atau benda/barang seperti bunga, buah, dan lain-lain. Sesaji biasanya diletakkan di suatu tempat, entah di bawah pohon besar, di dekat perempatan jalan, mungkin juga di pintu masuk kuburan, dan lainnya.</p>
<p>Maksud hati, begitu sesaji itu diletakkan di sana seraya doa khusuk, tidak ada seorang pun mengganggunya, mengambilnya atau pun merusaknya. Ehhhhhhh, dasar gagak, terbang sana terbang sini, ambillah dia, nyolong, lalu memakannya.</p>
<p>Makna kedua lebih ngeri lagi karena bukan sekedar nyolong; tetapi membongkar kuburan, <em>ndhudhuk bangke sing wis dipendhem</em>. Apa tujuannya? Untuk gagak ya  bangkai itu mau dimakan bila berhasil menggalinya. Rakus kan, bahkan <em>njijiki?</em> Kalau untuk manusia, apa maksudnya?  Nahhhhhh…… ini dia.</p>
<p>Di zaman dulu, katanya, ada saja orang yang malam-malam menggali kuburan yang sudah berisi mayat dengan maksud mengambil barang yang diikutkan dikubur, misalnya barang berharga seperti emas. Ada juga yang mengambil tali pocongnya, konon katanya barang itu bertuah bagi pemegangnya. Benarkah<em>? Embuh, takona sing nglakoni.</em></p>
<p>Tetapi untuk zaman <em>now</em>, <em>nggagaki </em>dalam arti membongkar kuburan ini menggambarkan kondisi pasca-Pilkada serentak lalu namun eksesnya masih sampai sekarang. Contoh konkretnya, pasti ada saja pihak (bisa perseorangan, bisa kelompok, bahkan bisa juga partai) yang mempersoalkan hal-hal lama yang sebenarnya sudah masa lalu, sudah terkubur dalam-dalam. Rasa kecewa sangat memungkinan ada saja sikap semacam itu muncul, <em>ndhudhah kuburan. </em> Nger ikan, bahkan perangai politik semacam itu bisa juga <em>njijiki.</em></p>
<p>Seorang Bernama Christopher pernah menulis sejenaka ini: “Suatu saat sejumlah setan berdemo di pintu gerbang surga. Semakin siang, jumlah setan pendemo semakin banyak. Mereka berteriak-teriak: Tidak adil, tidak adil. Tuhan tidak adil. Tuhan tidak adil.</p>
<p>Semula demo itu tidak ada yang menanggapi, dibiarkan saja. <em>Ngapain</em> setan diurus. Tetapi lama kelamaan kok mengganggu ketertiban surga; maka dua malaikat berinisiaitf menemui setan-setan pendemo itu;</p>
<p><em>Malaekat: Apa maksudmu, setannnnn?</em></p>
<p><em>Setan: Tuhan tidak adil. Banyak orang berbuat banyak kesalahan, tetapi mereka diampuni lalu boleh masuk surga. Kami para setan ini, berbuat dosa satu kali saja selalu ditolak masuk surga. Sungguh tidak adil, Tuhan pilih kasih</em></p>
<p><em>Malaikat: Ohhhhhh itu maksudmu. Begini setan; orang-orang itu boleh masuk surga karena mereka bertobat dan lalu diampuni. <strong>Pernahkah Anda, para setan bertobat?? </strong>Satu demi satu setan itu pergi meninggalkan pintu gerbang surga, dan melihat itu, malaikat bergumam: Dasar setan, mana mau mereka bertobat.</em></p>
<p>Mereka yang di zaman <em>now</em> suka <em>nggagaki, </em>sebaiknya bertobatlah. (Anda bukan setan lho)</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Soegijapranata Catholic University</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/12/29/nggagak-i">NgGAGAK-i</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Salah Seleh, Bohong Bodong</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/03/03/salah-seleh-bohong-bodong</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Mar 2024 12:48:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[bohong bodong]]></category>
		<category><![CDATA[KPU]]></category>
		<category><![CDATA[pinokio]]></category>
		<category><![CDATA[salah seleh]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=402411</guid>

					<description><![CDATA[<p>JC Tukiman Tarunasayoga MARI kita doakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) baik lembaganya maupun lebih-lebih orang-orangnya yang bekerja di dalamnya. Mereka saat ini benar-benar sedang letih, lesu dan berbeban berat karena banyaknya permasalahan yang sedang dihadapi. Memang ada saran secara spiritual” “Datanglah kepada-Ku kamu semua yang letih, lesu, dan berbeban berat; Aku akan memberimu kelegaan.” Artinya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/03/03/salah-seleh-bohong-bodong">Salah Seleh, Bohong Bodong</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JC Tukiman Tarunasayoga<img loading="lazy" class="wp-image-357641 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-293x400.jpeg" alt="" width="252" height="344" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-293x400.jpeg 293w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-110x150.jpeg 110w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA.jpeg 492w" sizes="(max-width: 252px) 100vw, 252px" /></strong></p>
<p><strong>MARI</strong> kita doakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) baik lembaganya maupun lebih-lebih orang-orangnya yang bekerja di dalamnya. Mereka saat ini benar-benar sedang letih, lesu dan berbeban berat karena banyaknya permasalahan yang sedang dihadapi.</p>
<p>Memang ada saran secara spiritual” “Datanglah kepada-Ku kamu semua yang letih, lesu, dan berbeban berat; Aku akan memberimu kelegaan.” Artinya, bawalah semua permasalahan itu sebagai bagian dari pasrah kita kepada Allah, “Ya Allah, kami sudah berusaha bekerja keras dan cerdas dengan semangat <strong><em>salah boleh, tetapi jangan bohong.” </em></strong></p>
<p>Nah, sekali lagi, mari teman-teman di KPU di mana pun mereka berada/bekerja, kita doakan secara tulus, pun <em>legawa</em>, selegawa mereka yang telah mengakui kemenangan “lawan.”</p>
<p><strong>Di masyarakat</strong></p>
<p>Namun, tentu tidak segampang itu yang sedang terjadi dalam masyarakat; maksudnya tidak segampang “mari kita doakan,” sebab fragmentasi dampak pilihan yang sedang/masih terjadi dalam masyarakat masih butuh waktu empat puluh hari untuk akhirnya mulai surut bagi yang selama ini masih “banjir,” atau pun mulai mendingin bagi mereka yang selama ini masih panas.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2024/02/25/kalah-cacak-menang-cacak">Kalah Cacak, Menang Cacak</a></strong></span></p>
<p>Persoalannya, empat puluh hari itu dimulai dari mana, apakah mulai dari 10 Februari 24, ataukah jangan-jangan baru mulai setelah 20 Maret 24?</p>
<p>Dalam masyarakat yang sedang terfragmentasi, ada saja yang berteriak: “<strong><em>Salah ya seleh:”</em></strong> maksudnya, barang siapa berbuat salah (curang? atau sengaja melakukan kesalahan?) ya harus <em>seleh. </em>Bacalah seleh ini seperti Anda mengucapkan <em>weleh…….weleh……weleh</em> si komo lewat……….; dan artinya ialah <em>leren</em> (sama pengucapannya) yaitu berhenti.</p>
<p>Harus berhenti, seperti apa? Nah, inilah permasalahan lainnya, karena berhenti dalam konteks ini dapat bermakna ganda; di antaranya bisa saja berhenti sehari untuk <em>refreshing</em> total agar lusa segar dan fresh kembali. Bisa saja <em>leren</em> dalam arti rotasi tugas.</p>
<p>Satu hal yang tidak boleh adalah <em>leren</em> dalam arti meninggalkan tugas dan tanggung jawab, <em>escape atau ngilang. </em>Jangan! Jika ada seruan <em>salah ya seleh</em> lebih bersifat seruan moral agar siapa pun mengutamakan tingginya tanggungjawab dan profesionalitas. Bila dengan seruan itu tanggungjawab dan profesionaliras terpacu, nahhhhhh inilah hebat.</p>
<p>Boleh/bisa salah, asal jangan bohong; hendaklah  tetap menggema merdu di relung hati setiap komisioner berikut staf pendukungnya. Ini basis fundamentalnya, dan di atas itulah didirikan bangunan dan semangat bekerja 24 jam.</p>
<p>Memang, tetap perlu didengarkan, karena meski pun semangatmu  begitu, lagi-lagi berhubung sangat variasinya mastarakat, pasti ada saja yang berseru: <strong><em>“Bohong bodong</em></strong>.”</p>
<p><em>Bodong</em> bermakna macam-macam. Mobil atau sepeda motor yang tidak dilengkapi nomer plat atau pun surat-surat resmi seperti BPKB, disebutnya mobil bodong. Anak yang nampak <em>ngah-ngoh…</em> kelihatannya kok kurang pintar, sering juga disebut cah bodong.</p>
<p>Dan makna <em>bodong</em> yang sangat dikenal khalayak yang berkaitan dengan <em>wudel </em>atau pusar, karena <em>wudel sing menjoto, mlenthu, </em>yaitu pusar yang menonjol keluar, itulah yang disebut <em>wudele bodong.</em>  (Lalu ingat salah satu kakak yang sudah almarhum, sejak kecil ia dipanggil Bodong karena memang pusarnya <em>menjoto). </em></p>
<p>Seruan <em>bohong bodong </em>tentu maksudnya barang siapa berbohong, pusar Anda akan menonjol/keluar. Atau, juga wanti-wanti, awas lho, jangan berlaku bodoh dan kelak dipanggil bohong, dirimu.</p>
<p>Seruan moral <em>salah seleh, bohong bodong </em> pasti akan terus bergema bukan hanya karena KPU “lagi dadi lakon” saat ini. Bukan!  Dalam segala perkara hidup sehari-hari, secara moral setiap orang diharapkan <em>aja salah lan aja bohong/goroh; </em>hendaklah jangan melakukan kesalahan, apalagi bohong/tidak jujur. Meski pun dalam kenyataan sehari-hari sangatlah sulit menemukan orang sempurna seperti  itu, toh sebagai seruan dan ajaran moral tetap saja bergaung.</p>
<p>Bahkan kalimatnya lebih lengkap lagi: <strong><em>Sapa salah, seleh; sapa bohong, bodong; </em></strong>menyentuh dan ditujukan kepada siapa saja. Kalau dalam Bahasa Indonesia, rumusannya kurang lebih: Barangsiapa bersalah, mundurlah; dan barangsiapa tidak jujur, ……………. menonjollah pusarmu, hehehehe (bukan hidungnya seperti Pinokio, melainkan pusarnya):  hihihihi………maluuuuuuu).</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Soegijapranata Catholic University</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/03/03/salah-seleh-bohong-bodong">Salah Seleh, Bohong Bodong</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kalah Cacak, Menang Cacak</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/02/25/kalah-cacak-menang-cacak</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Feb 2024 15:02:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[kalah cacak menang cacak]]></category>
		<category><![CDATA[lingsir]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<category><![CDATA[unika]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=401157</guid>

					<description><![CDATA[<p>JC Tukiman Tarunasayoga HASIL pemilu 14 Februari 2024 lalu, saat ini sudah ada gambaran siapa menang/terpilih dan siapa kalah/tidak terpilih. Memang mungkin nanti akan  ada fase “gugatan” dan akan terjadi kemungkinan yang selama ini disebut kalah akan menjadi menang, atau pun yang selama ini disebut-sebut menang, akan menjadi kalah. Peluang itu ada, meskipun kecil saja [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/02/25/kalah-cacak-menang-cacak">Kalah Cacak, Menang Cacak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JC Tukiman Tarunasayoga<img loading="lazy" class="alignright wp-image-357641 " src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-110x150.jpeg" alt="" width="225" height="307" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-110x150.jpeg 110w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-293x400.jpeg 293w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA.jpeg 492w" sizes="(max-width: 225px) 100vw, 225px" /></strong></p>
<p><strong>HASIL </strong>pemilu 14 Februari 2024 lalu, saat ini sudah ada gambaran siapa menang/terpilih dan siapa kalah/tidak terpilih. Memang mungkin nanti akan  ada fase “gugatan” dan akan terjadi kemungkinan yang selama ini disebut kalah akan menjadi menang, atau pun yang selama ini disebut-sebut menang, akan menjadi kalah.</p>
<p>Peluang itu ada, meskipun kecil saja jumlahnya. Jadi, memang sudah ada gambarannya siapa menang siapa kalah, namun semuanya masih menunggu keputusan final KPU. Itu berarti belum semuanya serba pasti.</p>
<p>Akan tetapi, satu hal yang sangat pasti ialah, ketika para calon itu menyatakan dirinya “maju.”  dalam arti <em>nyalon</em> (mencalonkan diri), semuanya pasti bermodalkan <em>paribasan</em> ini: <strong><em>Kalah cacak, menang cacak. </em></strong>Tentang peribahasa inilah topik bahasan kali ini,  di kala <em>sing menang seneng-seneng, sing kalah mesthi wae susah.<strong>; </strong></em>yaitu di saat mereka yang “menang” pasti merasa senang, dan mereka yang kalah, pastilah susah.</p>
<p><strong><em>Cacak</em></strong></p>
<p>Arti c<em>acak</em> itu ada tiga, yaitu (1) <em>piranti kanggo ngrajang tembako</em>, alat untuk merajang  lembaran daun tembakau sehingga menjadi lembut, (2) <em>coba-coba</em>, <em>jajal-jajal</em>; mencoba dan mencoba; dan (3) <em>caca</em>k juga berarti <em>pancen, mula nyata, </em>maksudnya, ungkapan menegaskan bahwa memang seperti itu keadaannya.</p>
<p>Nah ………peribahasa atau <em>paribasan kalah cacak, menang cacak</em>, terkait dengan arti kedua itu, yakni <em>kabeh apike kudu dicoba dhisik, apik apa elek, pikoleh apa ora; </em>hampir segala hal itu perlu pembuktian lewat dicoba dulu.</p>
<p>Makna terdalam yang terkait pemilu, kalah cacak, menang cacak artinya semua yang mencalonkan diri pasti mengawali dengan <em>coba-coba, begja-bejan, embuh tuna embuh bakal bathi; embuh menang, embuh kalah. </em>Siapa pun dapat dipastikan  bermodalkan untung-untungan, menang untung, kalah buntung.  Pastinya begitu.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2024/02/18/tamat-djum">Tamat, Djum!</a></strong></span></p>
<p><em>Paribasan</em> ini menegaskan dan tentu saja mengajarkan  bahwa tetap saja ada yang tidak atau belum pasti dalam hidup ini. Selalu ada misteri. Dalam hal mencalonkan diri dalam pilpres maupun pileg, bersikap kalah cacak, menang cacak tentulah sikap paling etis karena tidak jemawa, tidak mentang-mentang seraya berujar  “aku pasti menang/terpilih.”</p>
<p>Tetap ada misteri, embuh menang, embuh kalah, dan setelah melewati berbagai proses, tanda-tandanya sekarang semakin jelas, lalu dapat berucap: “Syukur pada Allah, aku terpilih.” Dapat juga sebaliknya: “Aku belum terpilih, <em>matur nuwun Gusti, kula  diparingi pitedah</em>; terima kasih Tuhan   saya diberi pelajaran berharga.</p>
<p><strong><em>Kalahan vs Menangan</em></strong></p>
<p>Kalah bermakna dua, yaitu <em>kasoran</em>, maksudnya <em>dadi asor</em>, menjadi di bawah; dan <em>isih diungkuli liyane</em>, masih ada yang lebih unggul. Dalam konteks arti ini, ada ungkapan <em>kalahan, </em>menggambarkan orang atau pihak yang <em>ajeg kalah terus, utawa tansah kalah; </em>sudah mencalonkan diri beberapa kali, tetapi slalu kalah.</p>
<p>Orang atau partai semacam inilah yang diebut <em>kalahan, tansah kalah </em> Pertanyaannya, bagaimana mungkin sudah sering kalah, kok masih saja mencalonkan diri? Barangkali orang atau partai seperti ini menarik untuk diteliti lebih lanjut dengan pertanyaan utama, misteri apa yang dihayatinya: <em>Kalahan kok ya isih nyalonnnnnn terus</em>?</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2024/02/11/lingsir">Lingsir</a></strong></span></p>
<p>Tentang <em>tembung menang</em>, juga bermakna dua, pertama, bisa ngalahake mungsuh(e), dapat mengalahkan musuhnya; dan arti kedua, <em>luwih unggul tinimbang …….. , </em>orang itu atau partai itu lebih unggul daripada ……….. (calon lain, atau partai lain). Orang semacam itu disebut <em>menangan, </em> <em>tansah  menang mungsuh sapa wae</em>; melawan siapa pun atau partai apa pun, ia selalu menang. Menangan.</p>
<p>Pertanyaannya tentu berbeda dari pertanyaan untuk yang k<em>alahan. </em>Bagi yang <em>menangan</em>, tentu siapa pun bertanya-tanya:  “Resepnya apa sih, kok dapat menang terus?</p>
<p>Selamat untuk semuanya. Bagi yang menang, selamat berjuang dan mengabdi negeri secara nyata dan legal secara yuridis, karena itu hukumnya wajib. Bbagi yang sedang mengalami kekalahan, silahkan menikmati kesedihanmu dulu, tetapi nanti segera move on nggih. Anda tetap punya hak untuk juga mengabdi negeri lewat apa pun. Tetap kita gaungkan lagu Bagimu Negeri.</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Soegijapranata Catholic University</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/02/25/kalah-cacak-menang-cacak">Kalah Cacak, Menang Cacak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Balada Menipisnya RIW: Rikuh, Isin, lan Wirang</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/01/01/balada-menipisnya-riw-rikuh-isin-lan-wirang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Jan 2024 16:12:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[jc tukiman tarunasayoga]]></category>
		<category><![CDATA[kalamudheng]]></category>
		<category><![CDATA[Pak Lurah]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=391374</guid>

					<description><![CDATA[<p>JC Tukiman Tarunasayoga SUDAH sejak bangun tidur pagi tadi, Pak Darma, Kepala Dusun (Kadus) Suka Hati merencanakan akan menghadap Pak Lurah Desa Suka Maju untuk mohon pencerahan atas masalah warganya.  “Ini masalah kebudayaan,” pikir Darma yang sepantasnya masih sangat layak dipanggil “Mas” berhubung ia lahir pada tahun 1988. Dan yang dipandangnya paling mumpuni dalam masalah [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/01/01/balada-menipisnya-riw-rikuh-isin-lan-wirang">Balada Menipisnya RIW: Rikuh, Isin, lan Wirang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-357641 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-293x400.jpeg" alt="" width="293" height="400" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-293x400.jpeg 293w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-110x150.jpeg 110w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA.jpeg 492w" sizes="(max-width: 293px) 100vw, 293px" />JC Tukiman Tarunasayoga</strong></p>
<p><strong>SUDAH </strong>sejak bangun tidur pagi tadi, Pak Darma, Kepala Dusun (Kadus) Suka Hati merencanakan akan menghadap Pak Lurah Desa Suka Maju untuk mohon pencerahan atas masalah warganya.  “Ini masalah kebudayaan,” pikir Darma yang sepantasnya masih sangat layak dipanggil “Mas” berhubung ia lahir pada tahun 1988.</p>
<p>Dan yang dipandangnya paling mumpuni dalam masalah kebudayaan di Desa ini, ya satu-satunya adalah Pak Lurah.  Tepatnya sih sebutan atau panggilannya Pak Kades; namun rata-rata orang lebih senang menggunakan panggilan Pak Lurah, termasuk yang bersangkutan lebih senang dipanggil Pak Lurah.</p>
<p><em>Pak Lurah: Tumben <strong>mruput</strong> sudah menghadap Mas Darma?<br />
Mas Kadus: Leres Pak Lurah. Ada masalah kebudayaan pelik bagi kami generasi kelahiran seputaran 1990, Pak.<br />
Pak Lurah: <strong>Hohohoho…….. apa sing angel? Ora ana barang angel</strong> di dunia ini. Tidak ada yang sulit di dunia ini.<br />
Mas Kadus:      Mohon pencerahan Pak Lurah, apa perbedaan antara <strong>rikuh, isin, dalah wirang (RIW)  punika, punapa Pak?</strong><br />
Pak Lurah: <strong>Hohoho…….. piye ta larah-larahe</strong>? Ada apa kok tiba-tiba bertanya apa bedanya RIW itu?<br />
Mas Kadus: Kemarin sore ada warga sepuh di Dusun Suka Hati memarahi remaja anaknya tetangga seraya berulang kali mengatakan: “<strong>Bocah enom ora ngerti rikuh, apa maneh isin. Suk mben yen kowe kena wirang, embuh lho ya</strong>”.</em></p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/12/25/nir-ing-sambekala">Nir Ing Sambekala</a></span></strong></p>
<p>Terdiam sejenak, Pak Lurah berkata: “Begini,  orang tua itu menegur, bukan memarahi agar sejak remaja pun seseorang itu selayaknya tahu apa yang disebut <em>rikuh, isin, dan wirang</em>. Jangan sampai nantinya <em>kewirangan</em>, dipermalukan. Bagus orang tua itu, Cuma caranya memberi tahu, sebaiknya lebih <em>sabar, alon, sareh</em>. Tapi bagus hohohoho………..”</p>
<p><strong><em>Rikuh lan Isin</em></strong></p>
<p>“Masalah kebudayaan” memang sedang berlangsung “serius” saat ini, sebutlah sedang terjadi degradasi, penurunan,  atau sekurang-kurangnya menipis dalam arti semakin kurang dipahami. Di antara masalah itu, banyaklah keluhan dari orang-orang tua terhadap orang-orang muda yang entah karena apa, kurang paham tentang RIW tadi.</p>
<p>Ungkapan umumnya mengatakan: <em>Ora duwe rikuh</em>, tidak memiliki rasa rikuh; semakin <em>ora duwe isin</em>, apa maneh dapat menghayati <em>wirang.</em></p>
<p><em>Rikuh</em> itu memiliki tiga makna: pertama <em>kidung, </em>perasaan atau sikap serba kurang pas, kikuk. Bayangkan, remaja yang sedang naksir dan tiba-tiba bertemu dengan orang tua dari cewek taksirannya. Salah tingkah, dan itulah kidung.</p>
<p>Arti kedua <em>rikuh</em> ialah <em>jiguh</em>, lebih “berat” dari kidung tadi, karena bisa-bisa tidak berani berkata apa-apa, mukanya merunduk. Mengapa begitu?  Arti ketiganya <em>rada isin</em>, agak malu-malu, apalagi ditanya: “Sekolahmu bagaimana? Nilai rapormu lebih bagus dari rapotnya Ika, atau lebih jelek?” Jangankan menjawab, menegakkan wajah saja tidak mampu.</p>
<p><em>Isin</em>, sering disebutkan secara lebih halus <em>lingsem, </em>dimaknai dengan ungkapan “<em>rasa rumangsa rikuh,” </em> maksudnya,  karena ada rikuh, maka automatis seseorang seharusnya <em>isin</em>, yaitu malu.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/12/21/kentekan-abab">Kentekan Abab</a></strong></span></p>
<p>Menjadi lebih isin lagi kalau seseorang melakukan sesuatu yang <em>ngisin-isini, </em>sangat memalukan. Misal, melanggar peraturan, apalagi dia itu anak pejabat. <em>Ngisin-isini</em> bukan saja dia yang bersangkutan yang seharusnya malu, melainkan juga pejabat yang sang ayah itu seharusnya yang  lebih  merasa malu.</p>
<p>Degradasinya ialah, semakin banyak anak, juga orang tuanya semakin <em>ora duwe isin, </em>semakin hilang urat malunya. “Aku kan berkuasa, masak tidak boleh main kuasa?” sebutlah misalnya ada pejabat yang berkata  begitu.</p>
<p><strong><em>Wirang</em></strong></p>
<p>Jika rikuh dapat menimbulkan isin, keduanya itu bila benar terjadi, apalagi bagi para pejabat, seharusnya hal itu menyebabkan <em>wirang</em> sejauh syaratnya terpenuhi. Satu-satunya syarat <em>rikuh dan isin</em>  dapat  menyebabkan <em>wirang </em> ialah manakala <em>kaweruhan ing akeh, </em>yaitu perbuatannya diketahui atau dilihat oleh khalayak ramai.</p>
<p>Contoh konkretnya, kalau tiba-tiba Pak Lurah Suka Maju tadi mengangkat anaknya menjadi kepala urusan (ka-ur) padahal tanpa ada <em>ba….bi…..bu</em> dengan siapa pun (kecuali dengan bu lurah); nah …….seharusnya kejadian itu sudah masuk kategori <em>gawe wirang, ngisin-isini amarga kaweruhan ing akeh. </em></p>
<p>Kok bisa tiba-tiba mengangkat anaknya sebagai ka-ur? Bisa saja  karena semua ternyata bisa  diatur, termasuk mengatur agar perangkat yang lain mendukung. Degradasinya seperti apa? Satu hal yang jelas ialah, seharusnya Pak Lurah menjadi contoh orang yang taat aturan, ehhhhhh lha kok justru dia yang melakukan tindakan tidak taat itu. Degradasinya lebih terasa lagi manakala Pak Lurah <em>ora rumangsa kliru, </em>seraya berucap: “<em>Mosok, mrenah-mrenahke anak ora oleh</em>?” Boleh kan orang tua mencarikan pekerjaan untuk anaknya?</p>
<p>Dalam degradasi semacam itu, dan Pak Lurah masih sebagai contohnya, berarti beliau menempuh “jalan budaya” <em>wani wirang. </em>Jalan budaya <em>wani wirang</em> ini memang bagaikan  keping mata uang: Jika bernasib baik, ya <em>moncer</em>, jaya, dan sorak-sorak bergembira menjadi lagu wajibnya; namun bila tidak beruntung,  ya <em>bakale kewirangan. </em></p>
<p>Kapan keping mata uang ini akan terundi lalu ketahuan hasilnya? Inilah pertanyaan sangat sulit, sesulit Mas Kadus Darma tadi melihat “masalah kebudayaan” berhubung ia termasuk generasi tahun 90-an.</p>
<p>Kesulitan mas Darma teratasi berhubung ia berani minta pencerahan Pak Lurah. Nah, sekarang, berhubung yang menempuh “jalan kebudayaan” itu justru Pak Lurah, ia akan mencari pencerahan kepada siapa? Tunggu, episode selanjutnya.</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Soegijapranata Catholic University</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/01/01/balada-menipisnya-riw-rikuh-isin-lan-wirang">Balada Menipisnya RIW: Rikuh, Isin, lan Wirang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rebut Keri</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/08/20/rebut-keri</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Aug 2023 14:39:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Rebut Keri]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<category><![CDATA[unika]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=361140</guid>

					<description><![CDATA[<p>JC Tukiman Tarunasayoga POLITIK praktis itu, -sekedar mengamati saja- , ternyata termasuk seni peran, yakni bagaimana orang (politisi dan parpolnya) harus pandai-pandai berperan. Seni, kata orang, dan memang sangat mungkin membikin banyak orang senewen manakala orang itu belum katam berkiprahnya. Ada saatnya mereka itu (para aktor) bermain rebut dhisik, yakni banter-banteran ngarah dhisiki; beradu kencang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/08/20/rebut-keri">Rebut Keri</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="alignright wp-image-357641 " src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-110x150.jpeg" alt="" width="220" height="300" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-110x150.jpeg 110w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-293x400.jpeg 293w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA.jpeg 492w" sizes="(max-width: 220px) 100vw, 220px" />JC Tukiman Tarunasayoga</strong></span></p>
<p><strong>POLITIK</strong> praktis itu, -sekedar mengamati saja- , ternyata termasuk seni peran, yakni bagaimana orang (politisi dan parpolnya) harus pandai-pandai berperan. Seni, kata orang, dan memang sangat mungkin membikin banyak orang senewen manakala orang itu belum katam berkiprahnya.</p>
<p>Ada saatnya mereka itu (para aktor) bermain rebut dhisik, yakni banter-banteran ngarah dhisiki; beradu kencang supaya dapat mendahului lawannya. Bareng mlayu tenan, ehhhhhh jebul lawan gliyak-gliyak  bae; ternyata tidak ada satu lawan pun yang ikut berlari. Apa jadinya? “Nun di sana” dia nunggu kalau-kalau ada lawan yang tergoda ikut berlari. Itulah rebut dhisik.</p>
<p><em>Tembung</em> atau kata <em>rebut</em> memiliki  dua makna, yakni <em>jupuk kanthi peksa</em>, mengambil (barang orang lain atau kesempatan) dengan cara memaksa; dan arti kedua ialah unggul-unggulan, <em>golek unggul</em>. Contoh parpol yang <em>mlayu dhisik</em> tadi, menggambarkan dengan sangat jelas bahwa ia bermain unggul-unggulan atau <em>golek unggul</em>.</p>
<p>Bahwa <em>jebule</em> tidak ada lawannya, maksudnya parpol lain jalan lambat-lambat saja (dalam hal pencapresan, misalnya),  itu namanya <em>resikone wong kesusu</em>.  Memang <em>embuh mlayu dhisiki, embuh mlaku alon-alon</em>, masing-masing  ada risikonya. <em>Tanggungen dhewe</em>, silahkan ditanggung sendiri risiko itu.</p>
<p>Kata <em>rebut</em> ini dalam percakapan sehari-hari  lalu berpasangan dengan kata lain, dan sekurang-kurangnya terbentuk  delapan pasangan seperti <em>rebut dhisik</em> tadi. Ada juga <em>rebut cukup, rebut unggul</em>; dan untuk yang <em>mlayu dhisiki</em> tadi ada ungkapan khasnya, yakni <em>rebut dhucung</em>.</p>
<p>Mau contoh lain? Ada, yaitu <em>rebut urip</em>, maksudnya <em>padha ngungsi murih bisa urip</em>; berebut memeroleh kehidupan (layak?) dengan cara mengungsi. Ketika terjadi bencana misalnya; atau pergi transmigrasi ke tempat lain karena ada peluang untuk berjuang memeroleh kehidupan lebih layak.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/08/14/mardika-kang-mardikani-amrih-mardikengrat">Mardika kang Mardikani amrih Mardikengrat</a></strong></span></p>
<p>Gejala umum yang sangat sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita ialah rebut bener, yakni orang padha pepadon golek menang, bertengkar untuk merasa benar atau pun untuk menang. Akankah  proses pemilu kita saat ini kearah rebut bener ini? Seyogianya jangan!!</p>
<p><strong>Rebut Keri</strong></p>
<p>Bacalah <em>keri</em> seperti Anda mengucapkan <em>happy</em> atau <em>merry</em>; dan maksud <em>rebut keri</em> ini berlawanan dengan <em>rebut dhisik</em> seperti telah disebut di atas. Mari lihat proses pilpres saat ini. Sosok yang telah dicapreskan, -mungkin nanti masih akan ada yang menyusul- , kurang lebih sudah ada; namun sosok siapa akan dicawapreskan dengan siapa.</p>
<p>Nah ……………… semua parpol sedang “gencatan senjata” <em>rebut keri.</em> Istilah yang sering terdengar ialah masih saling intip, saling nguping, termasuk saling manas-manasi dengan cara ada yang minta agar cawapresnya segera dipilih/diumumkan; ada yang menyebut nama sekedar sebagai jajak-jajak ombak. Seni pokoknya, namun <em>sing ora kuwat</em> akan senewen bahkan stres.</p>
<p><em>Rebut keri</em> maksudnya ingin menjadi “yang terakhir” dalam konteks menyebutkan nama cawapresnya. Pertanyaannya: Mengapa ada yang <em>rebut dhucung</em> dan <em>rebut dhisik</em>, tetapi akhirnya juga mau menempuh <em>rebut keri</em>? Lagi-lagi inilah seninya, -untuk tidak mengatakan: <em>Piye to iki-</em>?</p>
<p><em>Rebut keri</em> ditempuh konon karena ada beberapa alasan, katanya (1) cawapres diumumkan the last minutes untuk “ngunci” lawan berhubung saatnya memang benar-benar terakhir. Alasan (2) menghindari cawapres itu “dikuliti” atau di-<em>bully</em> karena waktunya memang sudah tidak memungkinkan lagi.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/07/31/eling-ancasmu">Eling Ancasmu</a></strong></span></p>
<p>Dengan kata lain, agar percawapresannya lancar, aman, dan tidak menghabiskan energi karena berkurangnya kesempatan untuk di-<em>bully</em>. Sedangkan alasan (3) sebagai kejutan politis, baik bagi masyarakat calon pemilih maupun bagi parpol atau koalisi pesaing.</p>
<p>Kapan <em>the last minutes </em>atau <em>rebut keri</em> itu harus terjadi paling tepat? Masing-masing pihak memiliki perhitungan sendiri, namun jadwal menyebutkan bahwa ada 38 hari (19 Oktber 23 – 25 November 23) dialokasikan sebagai tenggang waktu untuk pendaftaran dan penetapan capres/cawapres. Jadi, kapan Lurrrrr?  Silahkan saja ditebak-tebak.</p>
<p>Ajaran moral Jawa memang mengatakan: <em>Banter-banter ngoyak apa, rindhik-rindhik ngenteni sapa</em>. Artinya, mengajarkan cara berkeputusan dan bertindak penuh kehati-hatian dan perhitungan: <em>Grusa-grusu bakal kliru; sareh bakal oleh</em>. Nah, …………  dia atau mereka yang serba tergesa akan kecewa, sebaliknya bagi dia atau mereka yang penyabar, bakal mengakar.</p>
<p>Ujian mental, Lurrrrr!!</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Soegijapranata Catholic University</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/08/20/rebut-keri">Rebut Keri</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mardika kang Mardikani amrih Mardikengrat</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/08/14/mardika-kang-mardikani-amrih-mardikengrat</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Aug 2023 01:30:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[17 agustus]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<category><![CDATA[Unika Soegjapranata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=359438</guid>

					<description><![CDATA[<p>JC Tukiman Tarunasayoga SAMPAI dengan usia kemerdekaan ke 78 tahun ini, Republik Indonesia sangat memenuhi syarat untuk menapaki alur mardika à mardikani à mardikengrat. Maksudnya, sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Republik Indonesia terus menegaskan eksistensinya sebagai negara berdaulat, dan sampai dengan usia 78 tahun ini. Republik Indonesia terhitung negara kang nguwasani jagad dalam beberapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/08/14/mardika-kang-mardikani-amrih-mardikengrat">Mardika kang Mardikani amrih Mardikengrat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size: 12pt;"><img loading="lazy" class=" wp-image-357641 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-293x400.jpeg" alt="" width="169" height="231" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-293x400.jpeg 293w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-110x150.jpeg 110w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA.jpeg 492w" sizes="(max-width: 169px) 100vw, 169px" />JC Tukiman Tarunasayoga</span></strong></p>
<p><strong>SAMPAI </strong>dengan usia kemerdekaan ke 78 tahun ini, Republik Indonesia sangat memenuhi syarat untuk menapaki alur mardika à mardikani à mardikengrat.</p>
<p>Maksudnya, sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Republik Indonesia terus menegaskan eksistensinya sebagai negara berdaulat, dan sampai dengan usia 78 tahun ini.</p>
<p>Republik Indonesia terhitung negara <em>kang nguwasani jagad</em> dalam beberapa hal tertentu. Penjelasannya terurai sebagai berikut.</p>
<p><strong>Mardika</strong></p>
<p>Ada dua makna <em>mardika</em>, merdeka itu, yakni pertama <em>ora direh utawa ora dikuwasani pihak liya</em>: Tidak diperintah, maksudnya tidak dalam kekuasaan pihak lain. Kondisi dan status merdeka berikut kemerdekaannya semacam itu sangat penting bagi siapa pun, apalagi bagi sebuah negara.</p>
<p>Karena tidak ada pihak mana pun memerintah atau menguasai kita, maka kita terbebas dari pengaruh pihak mana pun atau siapa pun. Ungkapan yang sering terdengar yakni kita benar-benar mandiri, menentukan nasib dan hari depan sendiri.</p>
<p>Makna keduanya, <em>mardika</em> itu artinya <em>luwar saka</em>; seperti contohnya kemarin-kemarin seseorang berada dalam penjara sebagai hukuman atas tindak pidananya. Nah …… menjelang peringatan 17 Agustus, ia termasuk orang yang mendapatkan remisi karena berkelakuan baik.</p>
<p>Itu artinya <em>luwar saka kunjaran</em>, telah keluar dari penjara. Tujuh puluh delapan tahun lalu, bangsa kita juga <em>luwar saka penjajah</em>, keluar dari penjajahan, tidak lagi berada di bawah kekuasaan penjajah. <em>Luwar</em> dapat juga berarti terlepas dari kekangan atau pun tali.</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/07/31/eling-ancasmu">Eling Ancasmu</a></span></strong></p>
<p>Kemerdekaan Indonesia tujuh puluh delapan tahun lalu sangat-sangat kuat nuansanya baik dalam makna pertama mardika: <em>Ora direh utawa ora dikuwasani pihak liya</em>; maupun makna kedua: <em>luwar saka</em>. Intinya, bangsa Indonesia sejak hari proklamasi 17 Agustus 1945 itu, merdeka dari penjajahan.</p>
<p>Terdengung lagu Hari Merdeka: “Tujuh belas Agustus tahun empat lima; itulah hari hari kemerdekaan kita. Hari merdeka, nusa dan bangsa; itulah …………..dst”</p>
<p><strong>Mardikani</strong></p>
<p>Ekspresi seperti itulah yang disebut dengan <em>mardika kang mardikani</em>, yakni kemerdekaan itu harus diungkapkan dengan segala ekspresi kebahagiaan, semangat bergelora, penuh antusiasme, dan sebagainya. <em>Mardikani</em>, kata itu maksudnya <em>njarwani, nerangake</em>; yakni menegaskan sikap, seperti sikap bahagia, semangat, Bersatu, dll.</p>
<p>Semua itu harus terekspresikan dengan sangat jelas sehingga tergambarkan lewat adanya perubahan-perubahan signifikan.</p>
<p>Contoh konkret <em>mardika kang mardikani </em>ada pada Kurikulum Merdeka di kancah dunia pendidikan kita. Kurikulum ini berintikan <em>mardika kang mardikani</em>, karena memang harus terekspresikan dengan sangat signifikan pada diri kepala sekolah, guru dan siswa. Kosakata <em>mardika kang mardikani</em> dalam konteks Kurikulum Merdeka adalah <em>means and ends</em>, adalah “awal dan akhir”, “Alfa dan Omega,” adalah sarana dan serta-merta tujuan seluruh pergulatan pembelajaran.</p>
<p>Maka ekspresinya harus sangat signifikan, dan terakumulasi dalam perubahan perilaku individual maupun kolektif seluruh insan pendidikan.</p>
<p><strong>Mardikengrat </strong></p>
<p>Untuk maksud atau tujuan apa <em>mardika kang</em> <em>mardikani </em>itu? Dalam konteks negara kita NKRI, tujuan <em>mardikengrat</em> terumuskan dalam kosakata bebas dan aktif. Yakni, NKRI sebagai negara berdaulat harus (dan terus berusaha) tampil sebagai negara (a) <em>kang nguwasani jagad, dalah</em> (b) <em>kang wicaksana lan kuwasa</em>.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/08/06/sugih-singgih">Sugih-Singgih</a></strong></span></p>
<p>Inilah makna <em>mardikengrat</em> itu, dan harus dimengerti secara tepat-benar sebagai berikut:  Arti dari <em>nguwasani jagad</em> bukannya NKRI akan menjadi penjajah dari negara lain, melainkan (ini sudah terjadi) negara kita harus berusaha semakin maju sehingga berpengaruh nyata bagi negara-negara lain. Di sinilah bebas dan aktif itu bermakna.</p>
<p>Adapun makna <em>kang wicaksana lan kuwasa</em> sudah barang tentu sangat jelas entah dalam konteks internal di dalam NKRI, maupun secara eskternal terhadap negara-negara lain. Secara internal, pemimpin nasional memang harus <em>mardikengrat, wicaksana</em>, yaitu bijaksana dan melaksanakan kepemimpinannya penuh wibawa, seraya tegak-kuat hak-hak prerogatifnya.</p>
<p>Demikian pun di dunia luar sana, pemimpin nasional NKRI harus sangat berwibawa, berpengaruh, dan signifikan kebijaksanaannya.</p>
<p>Dirgahayu Republik Indonesia; menapaki tahun-tahun berikutnya, mari terus kita kembangkan NKRI penuh semangat <em>mardika kang mardikani amrih mardikengrat!!</em></p>
<p><em> </em><strong><em>JC Tukiman Tarunasayga, Ketua Dewan Penyantun Soedijapranata Catholic University</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>-0-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/08/14/mardika-kang-mardikani-amrih-mardikengrat">Mardika kang Mardikani amrih Mardikengrat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bangbang Wetan: Di Timur Matahari</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/12/26/bangbang-wetan-di-timur-matahari</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2022 17:26:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[SUARA Anda]]></category>
		<category><![CDATA[jateng]]></category>
		<category><![CDATA[Natal 2022]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<category><![CDATA[unika]]></category>
		<category><![CDATA[UNS]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=303014</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : JC Tukiman Tarunasayoga Teman-teman di timur sana masih saja ada yang protes terhadap ungkapan “dari barat sampai ke timur, berjajar pulau-pulau&#8230;” Bukankah matahari terbit dari timur, bukan dari barat? Seharusnya, mulailah segalanya dari timur ke barat, jangan sebaliknya dari barat ke timur. Seharusnya dari Merauke sampai ke Sabang, bukan seperti sekarang ini. Dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/26/bangbang-wetan-di-timur-matahari">Bangbang Wetan: Di Timur Matahari</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Oleh : JC Tukiman Tarunasayoga</strong></h4>
<figure id="attachment_303017" aria-describedby="caption-attachment-303017" style="width: 570px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-303017" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/7itukiman-1.jpg" alt="" width="570" height="400" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/7itukiman-1.jpg 570w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/7itukiman-1-400x281.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/7itukiman-1-150x105.jpg 150w" sizes="(max-width: 570px) 100vw, 570px" /><figcaption id="caption-attachment-303017" class="wp-caption-text">JC Tukiman Tarunasayoga</figcaption></figure>
<p>Teman-teman di timur sana masih saja ada yang protes terhadap ungkapan “dari barat sampai ke timur, berjajar pulau-pulau&#8230;” Bukankah matahari terbit dari timur, bukan dari barat? Seharusnya, mulailah segalanya dari timur ke barat, jangan sebaliknya dari barat ke timur.</p>
<p>Seharusnya dari Merauke sampai ke Sabang, bukan seperti sekarang ini. Dan tentang dari Sabang sampai Merauke ini, dalam hiruk pikuk piala dunia 2022 yang baru usai kemarin, ada yang memelesetkan  “dari Sabang sampai Maroko” berhubung orang itu menjagokan dan kagum terhadap kesebelasan Maroko.</p>
<h4><strong>Baca Juga: <a href="https://suarabaru.id/2022/12/19/bikin-marah-ngabangke-kuping">Bikin Marah, Ngabangke Kuping</a></strong></h4>
<p>Memang cukup beralasan mengapa baik jika “cara pandang” kita dimulai dari timur. Pola hidup menggunakan gelap dan terang, atau malam dan siang sebagaimana masyarakat kita “memisahkannya” hampir pasti ditandai dengan terbitnya matahari di pagi hari, -itulah yang disebut dengan <em>bangbang wetan</em>-, dan tenggelamnya sang surya itu di waktu petang, disebut <em>surup</em>.</p>
<p><strong>Matahari Merekah</strong></p>
<p>Selama dua belas jam di waktu malam dan dua belas jam di waktu siang memola sikap hidup kita yang kemudian cenderung berpikir hitam putih atas segala sesuatu dalam hidup ini.  Misalnya terjadi suatu masalah dalam hidup ini, warga masyarakat kita cenderung memecahkannya secara hitam putih, dan sangat sering kurang melihat aspek lain meski  terjadi ada aspek abu-abunya.</p>
<p>Berpikir hitam putih bukannya jelek, namun menutup pintu kreatifitas padahal pintu ke arah sana seringkali terbuka atau sekurang-kurangnya tidak terkunci. Alam memang sangat kuat pengaruhnya terhadap sikap hidup, dan siklus siang-malam telah banyak mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap “habis gelap, terbitlah terang,” dan berikutnya badai pasti berlalu.</p>
<h4><strong>Baca Juga:<a href="https://suarabaru.id/2022/12/11/ngabang-bironi-dalam-piala-dunia"> Ngabang Bironi dalam Piala Dunia</a></strong></h4>
<p>Inilah keunggulan kita dalam bersikap; malahan sering ada yang secara matematis mengotak-atik: Jika gelapnya sebulan, kelak terangnya juga sebulan; karena tidak mungkin hidup ini gelap&#8230; terus, pasti akan ada terang&#8230; juga.</p>
<p>Matahari merekah di (dari???) timur, ditandai dengan warna merah kejingga-jinggaan, atau jingga kemerah-merahan.  Itulah <em>bangbang wetan,</em> sebuah ungkapan sangat khas menyambut merekahnya sang surya.</p>
<p><em>Bangbang wetan</em> ialah <em>wayah esuk ngarepke srengenge mlethek, langite katon semburat abang; </em>menjelang matahari terbit (tampak), selalu ditandai dengan pancaran warna kemerah-merahan di ufuk timur sana. Dan dalam hitungan detik, setelah didahului pancaran warna merah itu, muncullah matahari: Di timur matahari, mulai bercahaya.</p>
<p>Karena indahnya semburat merah di timur itu, &#8211;<em>sun rise</em>&#8211; , sangat banyak wisata pagi dini, dan memang menarik. Orang yang menyambut pagi merekah pasti akan membawa kesegaran seluruh siang harinya.</p>
<p>Itulah ada nasihat nenek moyang kita, bangunlah pagi-pagi, apalagi sebelum ayam jantan berkokok, karena kesegaran pagi akan membawa aura positif nan indah sepanjang harimu. Sayangnya, dewasa ini banyak sekali orang yang menempuh ritme kehidupan secara terbalik: <em>awan dinggo turu, bengi dinggo melek</em>, siang justru dipakai untuk tidur, malam hari dipakai untuk begadang.</p>
<p><em>Bangbang wetan</em> membawa aura positif dan sehat; dan itulah mengapa, jika masih mungkin untuk memilih, pilihlah rumah sebagai tempat tinggal yang menghadap ke timur. Sambutlah cahaya, panas, dan energi pagi hari; bukalah jendela dan pintu rumahmu, sehingga cahaya, panas, dan energi pagi hari masuk ke dalam rumahmu. Sehat&#8230;segar.dan hangat….. Alangkah bahagianya hidup ini manakala setiap saat mengalami hal-hal yang sehat, segar, dan hangat. Inilah surga dunia.</p>
<p>Karena dahsyatnya aura matahari merekah di (dari?) timur, inilah maka ada ungkapan sangat menarik yang akan saya kupas, yakni <em>nyekel bangbang alum-aluming praja. </em>Sabar ya, baru minggu depan!</p>
<p><strong>Merayakan Natal itu maknanya menyambut bangbang wetan sang Emanuel, sang Allah yang menyertai umat-Nya. Selamat Natal 2022.</strong></p>
<h4><strong><em>(JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapranata, Semarang)</em></strong></h4>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>            </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/26/bangbang-wetan-di-timur-matahari">Bangbang Wetan: Di Timur Matahari</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>