
KATA ora itu artinya tidak, sebuah ungkapan penolakan, negasi, bahkan bisa juga berupa penyangkalan, denial; kosok balen, berlawanan. Namun, ora juga dapat bermakna sebuah keharusan, dapat juga bernada saran atau pun kritik. Berbagai arti itu sangat bergantung kepada kata yang menyertai ora. Nah, kali ini kita berbincang tentang “ora nglegewa”
Sakit hati yang bertahan lama, bisa bertahun-tahun lho, adalah sakit hati karena diapusi, ditilap oleh orang yang paling dicintai atau dipercaya. Sakit hatinya ada yang menjadi-jadi karena carane ngapusi, cara orang itu menipu, lewat berbagai taktik sampai-sampai orang ora nglegewa. Nah…… tentang ora nglegewa inilah topik bahasan dengan tokoh utamanya, sebutlah dengan nama panggilan: Pak Dhadap Waru.
Nglegewa harus dicari akar katanya pada legewa. Namun, seperti biasa, ucapkan legewa ini seperti Anda mengatakan legenda, atau bendera; dan jangan keliru dengan legawa.
Arti legewa ialah duwe panyana marang liyan amarga meruhi pratingkahe; menduga-duga orang/pihak lain lewat melihat tingkah lakunya. Maksudnya, misalnya seseorang tiba-tiba bertindak berbeda dari biasanya, nah ……… pihak yang melihat Naya bersiul-siul sepanjang pagi, menduga-duga kemungkinan Naya sedang jatuh cinta nih. Atau sekurang-kurangnya sedang penuh suka cita.
Baca juga Ora Mitayani
Dari tingkah laku seseorang, apalagi dari perubahan tingkah lakunya, dapatlah ditengarai: Ada apa ini? Lalu diduga-duga, wahhhhh Suta klecam-klecem sepanjang hari full senyum. Dapat warisan kelihatannya. Itulah legewa, itulah panyana, dugaan-dugaan.
Nah……..ora nglegewa menjadi jelas artinya, ora nyana ora ngira, tidak pernah punya dugaan apa pun, tidak pernah punya bahkan firasat apa pun; ehhhhhhh…….jebul mak cempulik Pak Dhadap Waru ngapusi, misalnya. Padahal selama ini Pak Dhadhap Waru ini dipersepsikan oleh tetangga sebagai orang baik, tulus, apa anane. Lha kok jebul ngapusi melek-melekan, menipu terang-terangan. Tak seorang pun nglegewa tentang triknya menipu. “Jan, ora nglegewa tenan, aku!!” komentar Suta dan Naya penuh rasa heran tidak percaya
Isih doyan sega
Apus-apuse Pak Dhadhap Waru yang tidak diduga seperti itu, ora nglegewa, menandakan betapa sapa wae sing isih doyan sega, siapa pun asal masih membutuhkan nasi dan lauk pauknya, apa pun pangkat dan kedudukannya, ternyata tetap ada naluri menipu atau melakukan pelanggaran. Isih manungsa, arane, masih bernama manusia.
Cerita kuna pengusaha kaya raya berikut ini dapat menjadi contoh bagus tentang ora nglegewa yang sangat bagus. Pengusaha kaya raya sudah tua, mengumpulkan tiga anak laki-lakinya, katanya: “Saya tidak akan membagi warisan keadamu. Harta bernda kekayaanku, akan dimiliki oleh siapa paling cerdas menjawab tantanganku. Saya beri kalian uang masing-masing satu juta rupiah. Pergilah, dan belilah barang apa pun yang bisa memenuhi ruangan ini penuh-penuh, dialah yang akan memiliki harta kekayaan papa.”
Mereka cepat-cepat keluar. Sulung segera membeli banyak sekali pohon dengan semua cabang rantingnya, dibawa pulang, dan dimasukkan ke ruangan itu. Tetapi ternyata baru separoh ruangan terisi. Anak kedua membawa pulang beberapa truk bermuatan jerami, rumput dan segala macam. Setelah diisikan ruangan itu, masih sepertiga dari ruangan itu kosong, tidak terisi apa pun.
Anak ketiga, ketika keluar dari rumah, tidak pergi jauh-jauh, hanya ke tempat doa yang tidak jauh dari rumah ayahnya.-Di sana ia melihat sebuah lilin yang masih menyala. Ia terinspirasi, ora nglegewa, pada lilin itu. Lalu ia segera ke warung yang tidak jauh dari tempat itu. Ia beli beberapa lilin kecil, lalu dibawa pulang.
Baca juga Ora Kainan
Ketika malam tiba, si bungsu cerdik ora nglegewa itu meminta ayahnya ke ruangan itu dalam keadaan gelap. Ia nyalakan satu lilin, ruangan itu berubah menjadi agak terang. Ia nyalakan lilin lainnya, ruangan semakin terang. Lima lilin kecil dinyalakan semua, dan ia bertanya kepada ayahnya: “Papa, masihkah ada yang tidak diterangi oleh sinar lilin-lilin kecil itu?” Ayahnya menggeleng, meneteskan air mata, karena ora nglegewa juga anaknya secerdas itu.
JC Tukiman Tarunasayoga, Dosen pascasarjana dalam matakuliah Pengembangan Masyarakat (UNS, Surakarta), dan Filsafat Ilmu (SCU, Semarang)













