blank
Ilustrasi, ketika proses cakak pepadun berlangsung, mantan Presiden Jokowi menginjak kepala kerbau. Foto: Ist

Oleh R. Widiyartonoblank

PRESIDEN ke-7 RI, Joko Widodo pekan lalu menerima gelar yang diberikan dalam prsesi adat Lampung dalam prosesi adat di Lampung yang berlangsung di Kedatun Keagungan, Jalan Sultan Haji, Kota Bandar Lampung.
Joko Widodo menerima gelar “Baginda Pemuka Bangsa”, kemudian dalam rangkaian acara tersebut ada prosesi Joko Widodo dengan pakaian adat khas setempat, duduk di kursi sambil menginjak kepala kerbau.

Tokoh adat Lampung, Mawardi Rahma Harirama yang bergelar Sultan Seghayo Dipuncak Nur, menyampaikan bahwa, pemberian gelar adat atau muakhi ini sudah menjadi tradisi budaya yang dijalankan Masyarakat Lampung sejak ribuan tahun lalu.

Disebutkan, pemberian muakhi atau gelar adat ini merupakan bagian dari penerapan piil pesenggiri, falsafah budaya Lampung yang mengedepankan nemui nyimah atau silaturahmi.

Pemberikan gelar adat pada Joko Widodo ini dilakukan pada saat melakukan safari politik perdananya bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Lampung. Prosesi budaya yang menunjukkan adanya saat Joko Widodo menginjak kepala kerbau, sontak menjadi viral dan perbincangan masyarakat.

Tradisi injak kepala kerbau, memang benar ada dalam budaya Masyarakat Lampung, yang merupakan bagian dari tradisi Begawi Cakak Pepadun. Upacara inimerupakan ritus adat tertinggi masyarakat Lampung Pepadun yang dalam pelantikan seseorang menjadi pemimpin adat (punyimbang) atau menganugerahkan gelar kehormatan (seperti Suttan, Rajo, atau Ratu).

Jadi Riuh Rendah

Video dan foto Jokowi menginjak kepala kerbau menjadi viral tersebar di seluruh plafform media sosial dan media mainstream. Ya wajarlah, karena yang menjadi berita adalah mantan Presiden RI dua periode, yang sampai saat ini masih banyak diperbincangkan, bahkan masih banyak yang mempersoalkan dirinya.

Bermula dari tradisi budaya, kemudian merembet ke mana-mana, terutama berkaitan dengan masalah politik. Ya jelas berkaitan dengan politik, karena Jokowi sedang melakukan safari politik, yang perdana pula bersama partainya.

Tetapi sundulan politik yang lain pun nimbrung. Joko Widodo yang menginjak kepala kerbau, kemudian ditafsirkan macam-macam. Ada yang menyebut itu sindiran pada PDI Perjuangan, Jokowi ditafsirkan sedang menginjak kepala banteng. Ada yang menulis “gajah menginjak banteng”. Ya, kita kan tahu PSI berlogo gajah yang sedang berjingkrak dan PDI Perjuangan berlogo kepala banteng.

Makin ramai peristiwa ini, makin riuh-rendah di media sosial maupaun media mainstream. Para kreator konten pun memanfaatkannya, karena ini mengundang viewers. Politisi dan para pengamat pun berkomentar, dan makin ramailah suasana.

Cakak Pepadun

Terlepas dari tafsir dan tanggapan masyarakat yang beraneka ragam, tradisi injak kepala kerbau ini memang ada, yang dilakukan oleh masyarakat adat Lampung Pepadun.

Lampung Pepadun merupakan kelompok masyarakat adat di pedalaman Lampung yang meliputi daerah Lampung Tengah, Lampung Utara, Way Kanan, Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, dan Lampung Timur. Masyaraiat ini dikenal dengan sistem sosialnya yang egaliter dan demokratis.

Pemberian gelar adat atau juluk adok diperoleh melalui musyawarah dan prosesi cacak pepadun (duduk di singgasana kayu adat), menjunjung tinggi falsafah gotong royong dan keterbukaan.

Jadi pemberian gelar adat kepada Joko Widodo sudah barang tentu melalui proses musyawarah masyarakat adat di sini. Jokowi yang duduk di Singgasana kayu (pepadun) menjadi lambang kehormatan dan status sosial.  Adapun gelar yang diberikan kepada Joko Widodo adalah “Baginda Pemuka Bangsa.

Mengenai kepala kerbau yang menjadikan pemberian gelar adat itu menjadi viral dan jadi perbincangan di mana-mana, memang itu bagian dari prosesi. Prosesi menyentuhkan atau menginjak kepala kerbau yang disebut mesol kibau, mengandung makna tanggung jawab, keberanian, dan pengorbanan dalam memimpin.

Jadi ketika Jokowi mendapatkan gelar dan menginjak kepala kerbau ini, tentu saja masyarakat ada Lampung Pepadun menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah memikul tanggung jawab dan berkorban sebagai pemimpin. Tanda penghormatan gelar ini, menjadi simbol penghargaan atas pengabdian Jokowi sebagai Presiden ke-7 RI.

Kenapa Riuh Rendah

Ini peristiwa budaya, yang harus diakui bersenggolan dengan peristiwa politik. Joko Widodo presiden dua periode, dan namanya masih selalu diperbincangkan  meski sudah tidak menjabat. Jokowi sudah bukan lagi anggota PDI Perjuangan yang membawanya menjadi presiden. Dan, antara Jokowi dengan PDI Perjuangan, harus diakui, ada suasana yang kurang baik, relasi antara keduanya sudah sangat berbeda, dan cenderung saling bertentangan.

Terlebih lagi ketika Jokowi menginjak kepala kerbau, kemudian banyak yang menafsirkan bahwa itu memang kepala kerbau tetapi kerbau kan punya tanduk. Kemudian ditafsirkanlah bahwa sebenarnya yang dimaksud adalah banteng.

Padahal banteng dan kerbau itu jelas berbeda, banteng lebih erat kekerabatannya dengan sapi. Tanduk banteng lebih pendek dan mengarah cenderung ke depan, tanduk kerbau lebih panjang melengkung ke dalam.

Tetapi yang namanya politik, hal semacam ini jadi asyik untuk dijadikan isu. Tafsir bahkan yang liar pun menjadi sah. Misalnya, kenapa safari perdana itu ke Lampung, bukan yang lain. Karena di Lampung ada tradisi cakak pepadun, ada injak kepala kerbau. Biar asyik, partai yang logonya pakai hewan bertanduk biar kepanasan.

Dan, pasti tafsir semacam itu tidak bisa disalahkan apalagi dibawa ke masalah hukum sebagai penghinaan atau pencemaran nama baik. Lha yang diinjak kepala kerbau, apa logonya kepala kerbau? Kenapa marah? Nah!

Orang Indonesia memang banyak terikat pada simbol, apalagi orang Jawa. Dan, simbol itu menimbulkan banyak tafsir, meskipun sudah ada tafsir pastinya. Tetapi biar ramai, ya dibuatlah tafsir-tafsir baru, dilebarluaskan.

Dalam prosesi cakak pepadun di Lampung, mantan Presiden Joko Widodo dengan pakaian kebesaran adat setempat menginjak kepala kerbau ada lah peristiwa budaya. Proses semacam itu sudah berlangsung ribuan tahun.

Tetapi apakah ini melulu peristiwa budaya? Tentu bisa muncul banyak tafsir, bahwa pelakunya adalah orang politik, yang sedang bersafari politik, pasti peristiwa ini sangat politis.

Namun yang harus dilihat, yang diinjak memang kepala kerbau bukan kepala banteng, sapi, rusa, atau kambing yang sama-sama bertanduk. Bahwa ada tafsir politis, ya sah saja. Kalau nggak gini, nanti nggak ramai. Nah!

R. Widiyartono, wartawan SuaraBaru.Id, pemerhati masalah Bahasa dan budaya