blank
Cerobong asap bekas pabrik gula Pecangaan Kulon.

Oleh: Ridi Mahafian

Cerobong asap setinggi 60 meter itu masih saja gagah berdiri di tengah pemukiman. Tepatnya di Desa Pecangaan Kulon, Kabupaten Jepara. Cerobong asap bekas pabrik gula pada masa Hindia Belanda ini menjadi saksi bisu kekejaman sistem tanam paksa culturstelsel pasca perang Diponegoro.

blank
Prasasti di cerobong asap bekas Pabrik Gula Pecangaan.

Cerobong pabrik gula yang sekarang berada di dalam pabrik karung PT Dasaplast Nusantara ini menjadi salah satu industri gula terbesar pada masanya. Sejarah mencatat bahwa wilayah PT Dasaplast Nusantara yang kita lihat saat ini, dahulu adalah lokasi Pabrik Gula Pecangaan (S.F. Petjangakan) milik pemerintah Kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1836.

Pabrik gula ini menjadi salah satu jejak cultuurstelsel (tanam paksa) yang diberlakukan pemerintah Kolonial Belanda di Jepara. Tujuannya jelas untuk mengisi kembali perbendaharaan pemerintah kolonial yang kosong setelah Perang Diponegoro. Kebijakan tersebut berimbas pada sawah-sawah milik pribumi yang harus ditanami tanaman komoditas ekspor seperti tebu, kopi, tembakau, dll.

Pengangkutan hasil bumi yang semula menggunakan gerobak kerbau atau sapi, kemudian digeser oleh pembangunan jalur kereta api (trem) untuk mempermudah proses ekspor. Tidak hanya membangun pabrik pengolahan gula, pemerintah Kolonial Belanda juga membangun kantor dan perumahan untuk para pejabat pabrik gula dan bawahannya.

Rasa penasaran saya pun tak terbendung untuk menjelajahi sisa-sisa pabrik gula yang tersebut. Tercatat, setidaknya ada sekitar tujuh pabrik gula di Jepara pada masa kolonial. Ditemani Angga, seorang karyawan PT Dasaplast, saya pun diajak berkeliling melihat-lihat bangunan tua era kolonial. Pandangan saya langsung tertuju pada lokasi cerobong asap. Saya terpukau ketika melihat lubang tungku bagian bawah cerobong dengan tinggi sekitar 4 m.

Di dalamnya terlihat struktur bata khas kolonial yang terkenal kokoh. Di bagian bawah cerobong asap, saya melihat prasasti berbahasa Belanda yang bertuliskan masa pembangunan cerobong asap yakni Mei 1927 – September 1927. Saat itu yang menjadi administrator pabrik adalah H.E.W. Hendrikz. Di sebelah utara cerobong ini, terdapat tiga makam yang dipagar.

“Dulu makam ini tidak terlihat karena terkubur dan rimbun, namun setelah lokasi ini dibersihkan dan dilakukan pengerukan, barulah terlihat bangunan makam, di mana salah satu di antaranya terkena alat berat” ujar Angga.

Di sebelah barat cerobong asap ini, terdapat bangunan tua yang kini tinggal puing-puingnya saja dan dalam kondisi rimbun. “Selain itu ada juga bekas jembatan lori yang besinya masih asli” tambah Angga.

blank
Bekas jembatan lori di belakang Pabrik PT Dasaplast.

Ketika saya cek dari luar pabrik, ternyata pondasi jembatan lori ini masih asli. Perjalanan saya berakhir di sekitar Pasar Burung (sebelah utara PT Dasaplast). Disini, saya melihat bangunan perumahan bekas Pabrik Gula Pecangaan yang sudah tidak lagi berpenghuni.

Dalam perjalanannya, industri yang memproduksi gula ini, mencapai masa keemasannya sekitar tahun 1910 sampai 1920-an. Pada tahun 1927, dilakukan pengembangan pabrik dengan adanya pembangunan stoom (cerobong asap). Namun Perang Dunia I yang berlangsung pada tahun 1914 – 1918, akhirnya berdampak pada situasi krisis ekonomi yang menghantam Hindia Belanda.

Krisis yang  berlangsung mulai dari tahun 1929 sampai 1939 ini, menandai berakhirnya kejayaan industri tebu di Hindia Belanda. Krisis tersebut membuat sebagian besar pabrik gula Kolonial Belanda gulung tikar, termasuk Pabrik Gula Pecangaan yang ditutup pada tahun 1934. Pabrik ini kemudian beralihfungsi menjadi Pabrik Karung Goni (PK Pecangaan) yang diresmikan tahun 1968. Selanjutnya pabrik ini bertransformasi menjadi pabrik karung plastik dan lahirlah PT Dasaplast.

Cerobong asap tua yang biasa saya lihat dari kejauhan ini, bukan hanya bangunan yang berfungsi sebagai pembuangan asap saja, melainkan bangunan yang menjadi ikon arsitektur kolonial di Pecangaan. Cerobong asap yang masih kokoh berdiri ini, juga menjadi saksi kejayaan sekaligus kebangkrutan industri gula di Jepara.

Saya berharap bangunan cagar budaya berupa cerobong asap berusia 99 tahun ini, nantinya lebih banyak dikenal lagi sejarahnya oleh masyarakat Jepara. Saya juga berharap di Jepara sering diadakan seminar yang mengangkat tema tentang sejarah lokal Jepara, agar nantinya dapat tumbuh kesadaran bersama akan pentingnya melestarikan peninggalan sejarah lokal.

(Penulis adalah pegiat dan pemerhati sejarah Jepara, tinggal di Jepara)