blank

Oleh : Fahrudin

Tak perduli reggae lahir dimana, karena apa, reggae kini telah menjadi musik dunia. Menghentak perasaan dan pikiran siapa saja.

Seperti juga seluruh wajah dan dada dunia, Jepara memiliki alasan serupa tapi tak benar benar sama dalam meneriakkan pikiran dan perasaan generasinya. Generasi reggae yang sepintas nampak artificial.

Seringkali memang  seniman-seniman reggae terlalu masuk pada budaya massa yang membanjiri pikiran. Sepintas kehilangan otentisitas dan kedalaman renungan. Arus permukaan menutupi ceruk-ceruk sunyi hati manusia. Alienasi dilengkapi dengan fenomena baru bernama AI. Seragam menjadi hantu yang menggerus kedalaman renungan seseorang.

Reggae selayaknya agama dipandang anak-anak jaman ini juga sebagai “ageman” sandangan atau mode belaka. Musik yang lahir dari kepulauan Karibia (Jamaica) hanyalah sebuah gaya untuk mengucapkan keresahan, juga sukacita anak Indonesia, anak anak Jepara Bumi Kartini, putra putri Kalingga. Anak semua bangsa.

Entah bagaimana awalnya reggae bersimbiosis hampir sempurna dengan komunitas Vespa.(apa yang saya temukan di Jepara). Solidaritas dan kreatifitas adalah nafas dari anak anak muda dan orang orang tua yang berjiwa muda dalam ibadah touring (pilgrimed touring) yang merupakan ritual kaum jalanan yang compang camping dan penuh perlawanan.

Di era dunia yang (seharusnya) semakin menghormati perbedaan, komunitas reggae pun menempuh jalan, menemukan artikulasinya sendiri. Reggea menjadi semacam kidung suci dari para penyembah kebebasan. Nabi nabi Reggea lahir  mengabarkan ayat ayat suci, puja puji pada alam semesta, juga perlawanan terhadap segala bentuk penindasan manusia atas manusia lainnya(exploitation de l’homme par l’homme).

Di sini Reggea menjadi musik yang melahirkan satu massa, kaum dengan kultur tandingan atas super culture yang telah dianggap mapan. Reggea sebagai sub culture menolak kemapanan dalam hal hal krusial dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa, bernegara dan sebagainya.

Apakah uraian di atas juga setidaknya sedikit menjelaskan tentang Reggea Jepara? Barusan saya merenungkannya dari jarak tertentu sebagaimana diri saya pribadi memposisikan sebagai pengamat kesenian Jepara yang hanya bisa mencatat sedikit irisan komunitas Reggea Jepara dengan gerak keseluruhan kesenian di Jepara. Bisa jadi harapan saya yang sangat besar akan peran strategis dan signifikan Reggea Jepara menjadikan pengamatan saya cenderung emosional.

Tapi apa yang bisa dirasakan lebih dari pada emosi.?

Spiritualitas?

Di Jepara musisi reggae bermunculan. Band band Reggea seperti Rastasky,Kopi Ireng, Ramesty, Skawan, Kastafara dll mulai mereggeakan Jepara.Mereka berkompetisi sekaligus berkolaborasi dalam menemukan jatidiri, otentisitas dan “perjuangan” nya masing masing. Banyak cara ditempuh, sebagian dengan terus mendendangkan liturgi Reggea dari nabi nabi reggea nasional dan internasional. Sebagian gigih mencari langgam reggea Jepara yang based on konteks geo cultural Jepara dengan seluruh sejarah Bumi Kartini  dan manusianya.

Dari kacamata ideologi kiri seperti marxisme misalnya, anak anak Reggea Jepara harus mengenal apa yang oleh Ivan Illich di dogmakan sebagai:”you have to distinguish between want and need”.Setidaknya untuk diri sendiri, syukur syukur bagi kemaslakhatan bersama. Tema ini menurut hemat saya akan menjadi tantangan yang menjanjikan bagi content reggea Jepara di hari hari yang akan datang. Tentu saja kita menolak keseragaman, karena hakikat kita adalah keberagaman. Saya berharap anak anak Reggea Jepara mampu menyerap kegelisahan kultural ini dan menemukan langgam Reggea Jepara yang khas, unik dan emosional.

Reggea : satu jalan menuju kemerdekaan.

Kita sering mendengar sebuah pepatah,  “banyak jalan menuju Roma”.Jika Roma di sini adalah Kebebasan, Kemerdekaan, Perdamaian Abadi dan Keadilan sosial, maka mengandaikan Reggea sebagai sebuah jalan,atau kendaraan yang kita tempuh dan kendarai menuju ” that fucking holly destination”, bukanlah sebuah utopia yang jauh panggang dari api.

Bob Marley telah mencatat gejolak perlawanan sejarah. Suara tokoh tokoh penting dunia (ketiga) bergema lantang di atmosfer reggea dunia. Menyusup sampai ke gang gang sempit kota kota yang dikepung kemiskinan. Di gunung,lereng lereng, lembah, semak perdu pedesaan.

Di Indonesia Reggea malu malu kucing mengeong di ruang gelap kekuasaan. Lainnya memuja alam nusantara yang cantik jelita. Nama nama seperti Tony Q,Shaggydog, Steven & Coconut Treez, Souljah, Ras Muhammad tentu nama yang tidak asing di komunitas  Reggae Jepara.

Apakah Reggea, Rastafarian sekalipun mampu menjadi media yang melahirkan kesadaran untuk mempertanyakan makna kehidupan.?

Indonesia dari kacamata Reggae adalah rahmad yang Maha Kuasa dan didorongkan oleh keingginan luhur untuk memuji puja pada alam semesta nan elok amat kita cinta.Dengan segala bentuk penjajahan dan penindasan yang berlangsung abadi sepanjang sejarahnya.Yang tentu saja semua itu adalah ide dan cerita yang tidak ada habisnya untuk diucapkan,dikhotbahkan,dinyanyikan dengan detak detak irama reggae yang cendak dan rancak.

Wallahua’lam bishawab!

Karimunjawa.

Sembilan bulan sepuluh hari,

bersamu di Karimunjawa

Seperti dilahirkan kembali

bagai kisah Adam dan Hawa.

 

Aku dan kamu..

pasir dan lautan….

deburan ombak

dan kehangatan…

 

Setiap hari

kejar kejaran

aku dan kamu

seperti awan.

 

Sembilan bulan sepuluh hari

bersamamu di Karimunjawa

seperti dilahirkan kembali

bagai kisah adam dan hawa.

 

aku dan kamu

pasir dan lautan

deburan ombak

dan kehangatan…

 

Bukit nan biru

pancuran bambu

di situ

kita bertemu rindu……….

.

Jepara,6 Juni 2026

 

Fahrudin yang juga akrab disapa De Brodin.

sebuah repertoar yang dibacakan di acara “Jepara Jamaican Sound #1”

Penulis adalah budayawan yang tinggal di Jepara