blank
Ilustrasi. Reka: wied SB.ID

blank

APA yang saat ini paling ditakuti oleh para pejabat, mungkin termasuk oleh presiden sekalipun? Jawabannya singkat: postingan viral. Meskipun mungkin postingan itu hanya beberapa detik, bahkan kurang dari satu detik pun, tetapi kata-kata, atau foto, atau video, atau tiktok, atau siaran televisi, atau apa pun wujudnya; pasti sudah membikin “kalang-kabut” pejabat.

Apalagi kalau yang viral itu menyangkut instansi atau nama baiknya. Ia akan bergerak sangat cepat melebihi gerak cepatnya badan penanggulangan bencana menangani bencana; atau melebihi gerak cepatnya dinas kebakaran mengatasi kebakaran pasar, misalnya.

Mengapa begitu “takutnya,” dan apa yang menyebabkan sangat takut? Para pejabat itu (dan siapa pun sebenarnya), sangat takut dadi gunem wong akeh, takut menjadi bahan pembicaraan masyarakat. Oleh karena itu segera ingin “dikejarnya lalu di-stop,” seolah-olah moda kendaraan yang bisa dikejar dan dihentikan.  Bisakah dan mungkinkah?

Lurung lan Gurung

Ada paribasan dalam Bahasa Jawa: Sakdawa-dawane lurung, isih dawa gurung; sepanjang/sejauh apa pun sebuah jalan, masih kalah Panjang dibandingkan dengan tenggorokan. Lurung itu jalan relatif kecil/sempit di perdesaan, sedang gurung itu tenggorokan manusia.

Baca jugaDadi Slilit 

Omongan orang jauh lebih cepat menyebar kemana-mana, mengalahkan lajunya kendaraan. Ibaratnya seperti itu untuk menggambarkan betapa kata-kata verbal antar manusia sangat cepat persebarannya.

Itu zaman dulu, zaman sebelum dunia digital menguasai dunia. Zaman now berbeda, karena yang berkuasa saat ini bukan lagi gurung, yaitu yang serba verbal, melainkan yang serba visual.

Gunem

Apakah sebaran sebuah berita viral  itu secara verbal atau pun secara visual, dalam kenyataan hidup,  semuanya itu sejatinya berkaitan langsung dengan akselerasi cara berkomunikasi masyarakat.

Di zaman kongkow……. kongkow di pos ronda RT dulu, cara berkomunikasi masyarakat juga sangat cepat. Gosip-gosip apa pun cepat juga waktu itu persebarannya. Memang saat sekarang ini kecepatannya sangat drawasi, mengawatirkan karena begitu klik saja, terjangkaulah orang di mana pun yang ingin dijangkaunya.

Mengapa banyak pihak takut jadi bahan omongan masyarakat? Satu hal yang pasti, tentulah menakutkan jika hal itu menyangkut sisi negatif, kekurangan, cela, kegagalan, merusak nama baik dsb. Hal-hal semacam itu memang sangat cepat menyebar lewat berbagai media katimbang hal-hal baik. Sementara banyak hal-hal baik, sukses, disodor-sodorkan pun belum tentu ada yang mem-viral-kan.

Begitulah model komunikasi massa kita, kabeh sing dadi gunem sangat menarik; apa saja atau siapa saja yang kiranya dapat menjadi bahan omongan gosip-gosip, menariklah. Gunem, sering disebut juga ginem, memiliki beberapa makna; yakni (a) catur, wicara, (b) rembug, berbicara, berdiskusi, dan (c) omongan. Intinya sama karena berkaitan dengan apa saja yang dapat menjadi bahan pembicaraan antar person. Omon-omon, begitulah singkatnya.

Dadi gunem, -tembung entar-, bermakna: sesuatu atau seseorang yang menjadi bahan pembicaraan khalayak ramai pada suatu kesempatan tertentu. Viral, begitulah kata singkat saat ini. Karena itu jika sesuatu atau seseorang itu disebut viral, nah ………………. apa kata dunia?? Sekali lagi perlu ditegaskan, jika viralnya itu menyangkut sukses dan baik, seneng-seneng wae. Tetapi, jika viralnya itu berkaitan dengan kejelekan, kegagalan, dan sejenis itu, aduhhhhh………… dikejarnya sampai gaktahu di mana.

Baca juga (Guyonan) Dadi Tangisan

Ada diskusi singkat namun menarik antarguru spiritual dengan muridnya. Murid itu rajin bertanya apa saja, dan guru selalu berusaha menjawabnya. Tanya murid: “Guru, di dunia ini ada banyak agama. Tunjukkan kepada saya, mana agama yang baik itu?”

Guru spiritual itu terdiam beberapa saat, dipandanginya murid itu penuh kesejukan. Lalu berkata: “Baik atau buruk itu terletak pada dampaknya. Apa saja atau siapa saja, termasuk agama,  disebut baik jika membawa kegembiraan, bukan ketakutan.” Murid itu pulang sambil menghitung jari tangan kanannya seraya komat-kamit: Baik……….. buruk ……… baik…….. buruk: gembira…….. takut; gembira……. takut.

Ajarannya: viral itu baik atau buruk tergantung gembira…….. takut……. gembira…… takut; gembira…… takut……

JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah pendidikan dan kebudayaan Jawa tinggal di Ungaran