blank
Ilustrasi, para korban banjir yang mendadak jadi miskin kehilangan aset dan kehilangan perhatian. Fot: Reka: SB.ID

blank

BENCANA alam, tepatnya banjir dan longsor Sumatera, sontak membawa serta ribuan orang dalam tempo yang sesingkat-singkatnya menjadi kapiran total. Kesrakat banget. Kemarin-kemarin hepi-hepi, tidak mengalami kekurangan makanan atau pun makan; karena  terlanda banjir dan longsor, ribuan orang itu tidak memiliki apa pun lagi.

Pakaian pun hanya yang tersisa menempel di tubuh. Selebihnya, embuh ora ngerti di mana atau kemana. Benar-benar kapiran. Itulah realita hidup akibat banjir dan longsor.

Kejadiannya begitu  cepat, dan secepat itu pulalah ribuan orang kapiran semakin susah mengingat pasti ada sanak saudaranya yang meninggal, hilang, luka-luka sakit, dsb. Benar-benar kesrakat dadakan.

Kapiran = Kesrakat?

Hidup ini adalah kesempatan, dan kesempatan itu sering datang/terjadi begitu indah, lancar, aman-aman saja. Namun adakalanya datang/terjadi  tak terduga. Ketika yang terjadi itu tiba-tiba  atau tidak terduga seperti banjir dan longsor itu, nahhhh………inilah saat menjadi kapiran tiba.

Kapiran itu maknanya ialah  (1) ora kopen, dan (2) ora dirembug babar pisan. Ora kopen itu penjelasannya sangat sederhana, yakni bagaikan tanaman di pot, ia tidak pernah disiram  air, tidak pernah diperhatikan. Karena itu tumbuh begitu saja.

Orang atau kelompok orang yang terkena banjir dan longsor contohnya, secara tiba-tiba memang menjadi sangat menderita, dan untuk beberapa saat mungkin memang benar-benar ora kopen.

Bagaimana mungkin akan bisa ngopeni secepatnya jika kondisi jalan rusak, bahkan terputus. Mana mungkin segera dating bantuan jika hamper semua fasilitas dan akses umum rusak. Ora kopen untuk beberapa lama, meski pun upaya untuk membantu  juga sudah berusaha maksimal dan inginnya secepat mungkin. Maafkan bila tidak secepat yang diharapkan.

Dalam hal kapiran dalam arti ora dirembug blas, pastilah itu tidak terjadi bagi saudara-saudara kita yang terkena banjir dan longsor Sumatra. Sangat banyak pihak segera mengambil keputusan dan tindakan. Dan hal itu pasti diawali dengan membahasnya cepat-tepat.

Apakah kapiran dalam arti seperti itu, maknanya sama dengan kesrakat?  Orang atau kelompok orang disebut kesrakat manakala  mereka nandhang mlarat banget. Orang itu, atau kelompok orang itu benar-benar dalam kondisi sangat miskin, menderita sekali. Contohnya kelaparan berlama-lama.  Atau tidak memiliki akses rejeki lagi. Kesrakat.

Korban Banjir dan Longsor

Masih tetap membahas korban banjir dan longsor Sumatera; ungkapan apa yang tepat  untuk melukiskan kondisi  mereka saat ini: Mereka itu kapiran ataukah kesrakat?  Harus saya katakan lebih dahulu: Maafkan bila uraiannya nanti kurang tepat, mengingat saya memandangnya dari jarak yang sangat jauh, dan hanya mendasarkan  informasi dari media yang saya baca atau lihat.

Melihat datangnya berbagai bantuan dari berbagai pihak dalam bentuk barang dan uang yang terus mengalir kepada mereka; saya beranggapan betapa saudara-saudara korban banjir dan longsor Sumatera itu saat ini dalam kondisi ora kapiran. Artinya, mereka kopen, terurus, terpelihara; meskipun memang tidak seluruh kebutuhannya sudah terpenuhi. Tetapi intinya, mereka kopen, ora kapiran.

Kalau pun ada yang masih belum terjangkau sepenuhnya, jumlah yang kapiran pastilah semakin sedikit/menipis. Syukur pada Allah. Pertanyaannya sekarang, mereka sebagian besar wis ora kapiran karena sudah terurus; namun mereka sejatinya kesrakat ora? Tegasnya, apakah orang-orang yang sudah terurus itu masih kesrakat?

Dalam waktu pendek saat ini, besar kemungkinannya korban banjir dan longsor yang sudah kopen itu pasti tidak dalam kondisi kesrakat. Namun, hidup mereka dan keluarganya ke depan masihlah panjang; sementara bantuan pasti akan semakin menipis atau setidaknya berkurang.

Harus kita ketahui, para korban banjir dan longsor pasti banyak yang kehilangan aset, mata pencaharian, anggota keluarga, dsb. Mereka harus mulai hidup baru dengan kondisi yang belum pulih dari berbagai aspeknya.

Apa itu artinya?  Penderitaan mereka belum selesai, belum hilang; bahkan malahan mungkin saja ada yang bertambah entah karena apa. Artinya, ke depannya, gambaran akan kesrakat itu sangat mungkin akan terjadi.

Simpulannya, dalam waktu dekat ini wong-wong kapiran akibat bencana banjir dan longsor Sumatra jumlahnya akan semakin sedikit. Semoga semuanya segera dapat terurus dengan baik. Amin. Meski pun begitu, dalam waktu panjang (??) ke depannya, ada kemungkinan sebagian dari para korban itu akan kesrakat entah untuk berapa lama.

Kehilangan asset sehingga sangat berpengaruh besar  terhadap usaha ekonomi rumahtangga, kiranya  merupakan problem besar mereka ke depan.  Mulai hidup baru dengan segala sesuatunya  serba “baru,” pastilah aka nada saja yang automatis kesrakat.  Semoga saja, periode kesrakat itu tidak terlalu lama, dan tidak diperparah karena menjadi kapiran (lagi) berhubung bantuan-bantuan pasti tidak akan seterusnya  ada.

Dua orang pramugari pesawat jarak jauh sedang santai mengobrol di sebuah ruang hotel sebelum nanti mereka masuk kamar masing-masing untuk tidur. Pramugari A bertanya: “mBak, Anda itu cantik dan menarik sekali. Bagaimana cara sukses mBak menangkal setiap godaan laki-laki iseng?”

Pramugari B langsung menjawab: “Pertanyaan ini terlalu sering saya dengar; dan saya selalu menjawab dengan lima kata kunci. “Pramugari A penasaran: “Apa maksud lima kata kunci itu, mBak?” Saya selalu menjawab: “Apakah Anda ingin terus selamat?”

Saudara-saudaraku yang terkena banjir dan longsor, untuk menghalau agar kesrakat segera berakhir nantinya, pakailah lima kata kunci itu untuk penyemangat: Apakah saya ingin terus selamat? Ikut prihatin saat ini, dan teruslah tetap semangat.

Selamat Natal dan tahun Baru: Masih dalam keprihatinan imbas banjir dan longsor

Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng