WONG Jawa tidak mungkin bersikap (dan bersifat) ekstrem: tidak mungkin bisa menjadi esktem kanan atau ekstrem kiri. Sangat sulit bagi wong Jawa untuk ekstrem optimis atau ekstrem pesimis; sangat sulit untuk bersikap ekstrem minimalis atau ekstrem maksimalis.
Wong Jawa selalu ingin bersikap (dan bersifat) di tengah-tengah: tidak sangat optimis, namun tidak pula sangat pesimis; tidak sangat minimalis, namun juga sulit untuk sangat maksimalis.
Benarkah begitu? Ya benar, dan lihatlah salah satu tali-kendali (pengendalinya) ada pada ungkapan sangat singkat ini: Sak. Jangan heran jika suatu saat terdengar ungkapan seperti ini: “Gawean ini garapen, sak-isamu;” kerjakan/selesaikan pekerjaan ini sebisamu.
Atau ungkapan agak jengkel: “Ya wis yen emoh dikandhani, sak-karepmu,” sudahlah kalau memang tidak mau dinasehati, terserahlah. Sangat mungkin terdengar nasihat arif demikian: “Dadi wong kuwi apike sak-madya wae,” jadilah pribadi (pejabat, dsb) yang wajar-wajar saja.
Sak
Tembung sak dalam bahasa Jawa bermakna (a) kanthongan klambi utawa celana, saku, baik yang terpasang pada baju atau pun celana. “Dhuwite disaki wae,” maksudnya uang sebaiknya dimasukkan saku baju atau celana saja, tidak usah ditaruh di dalam tas, misalnya.
Baca juga Dadi …. lan Apike
Sering juga kita mendengar ungkapan ini: “Ahhh, nama-nama calon menteri untuk reshuffle ke depan sudah ada di kantong Presiden.” Wis disak bapak presiden. Makna (b) sak itu ialah saat itu atau seketika itu juga, sak-iki ya, sekarang ini juga; atau bisa juga sak-kala (sering disingkat sak-kal), seketika, segera, sekarang ini juga, dan jangan ditunda-tunda.
Sak juga bermakna (c) waton, asal wae, angger: asal-asalan saja, seolah-olah, tampaknya …….”Bocah lunga sak-paran-paran” seseorang pergi tanpa tujuan, asal pergi saja. “Wis, sak-sake wae, sing penting ana” sudahlah, yang penting ada wujud barangnya. Dan (d) sak juga berarti sumangga, terserah saja.
Ungkapan-ungkapan berikut sangat khas tumrap wong Jawa: “Sak-karepmu,” terserah apa maumu; “Nyumbang sak-duweku, ya,” semampuku ya. Ada juga “Sak-anane wae. ora usah ngaya,” seadanya saja, jangan memaksakan diri.
Sakdadine vs Utilitas
Mengapa ada saja bangunan yang cepat rusak? Besar kemungkinannya, bangunan itu dulunya dibangun asal dibangun, ungkapan khas Jawa-nya sak-dadine. Apa maksudnya?
Yah…….. dibangun tergesa-gesa, misalnya karena mengejar target. Sangat mungkin kualitas bahannya juga kurang baik, dan control atas proses pembangunannya juga lemah, misalnya. Intinya, wis ta, sak-dadine; asal jadi sajalah.
Tegasnya, dalam ketergesaan, atau pun karena lemah di perencanaan, pengawasan, atau pun pemeriksaan kualitas barang, pembangunan dapat berlangsung sak-dadine, asal berdiri.
Mentalitas sak-dadine seperti itu menegaskan bahwa pendorong utamanya ialah sing penting ana wujud bangunan; yang terpenting bangunan ini ada, berdiri. Dalam dorongan kudu cepet, harus cepat-cepat seperti itu, tidaklah mustahil terlupakan (abai??) berpikir matang-matang tentang utilitasnya. Misalnya, apakah kelak bangunan itu akan benar-benar bermanfaat atau dimanfaatkan baik-baik?
Baca juga Dadi Lakon
Mempertimbangkan kemanfaatan bangunan, utilitasnya, pasti bukan sekedar hanya memenuhi tuntutan sesaat saat itu.
Dengan kata lain sak-dadine, waton ana, jangan menjadi pendorong utama sesaat, agar di kelak kemudian tahun, bangunan itu justru semakin bermakna karena benar-benar dimanfaatkan semestinya.
Utilitas berkelanjutan sering dipikir keri, baru dipikirkan belakangan. Ada saja contoh, setelah mangkrak beberapa lama, baru dirancang pemanfaatannya kemudian. Di sini, tidak mustahil lalu terjadi pergeseran kemanfaatan lewat rehab atau juga renov atas bangunan-bangunan mangkrak itu.
Pertanyaan mendasar selanjutnya atas mentalitas sak-dadine seperti ini, ialah: Kapan cara berfikir sak-dadine ini akan ditinggalkan? Jawabannya, saat inilah waktu terbaiknya; saat inilah momentumnya. Yakni, di saat kita menggelorakan (??) efisiensi saat ini, maka ayo berhentilah mentalitas sak-dadine.
Efisiensi mengajak semua pihak, lebih-lebih para pengambil kebijakan untuk berfikir jauh. Jangan miopi. Para pejabat jangan terjangkit miopi. Penegasan ini penting sebab sejumlah pejabat ada saja yang hanya berfikir pendek saja: “Ahh…….. sing penting selama periodeku ada/muncul banyak gagasan dan bangunan. Sak-dadine.”
Pada sikap terakhir ini, sak-dadine dimaknai: Iki lho ……. di zamanku, terbangunlah sekian ribu atau sekian ratus……. bla…… bla…. bla. Dan ketika ada pertanyaan: Semua bermanfaat, Pak/Bu kelak? Jawabannya: Itu urusan pengganti saya he…. he …. he ….
JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran













