blank
Ilustrasi lakon dalam panggung wayang dan pejabat yang jadi lakon kena OTT. Foto: Reka wied SB.ID

blankSIAPA belum pernah melihat pertunjukan wayang kulit? Entah hanya sekilas, entah pula memang hobi menonton, pertunjukan wayang kulit pasti berkaitan langsung dengan yang disebut lakon, yakni cerita, kisah, topik, tema, atau judul pertunjukan.

Kalau sang dhalang itu bernama Pak Manteb, pertanyaan khasnya, ialah: “Mangkih lakone napa, Pak Manteb?” Tema pertunjukannya nanti apa, Pak Mantep?

Lakon wayang kulit, konon sekurangnya terbagi dua, yaitu lakon baku (pakem) , dan lakon carangan, ialah lakon buatan/kreasi sang dhalang. Pentasnya,  baik lakon baku atau pun lakon carangan, biasanya bergantung atas permintaan penanggap/pengundang.

Lakon baku yang memang sesuai pakem-nya (teks aslinya), dapat ditemukan dalam Ramayana dan Mahabarata; sedangkan lakon carangan ada puluhan versi sesuai dengan daya kreasi dhalang, atau bahkan mungkin kreasi pengundang.

Ramayana

Merujuk tulisan Sunardjo Haditjaroko, M.A (penerbit Djambatan. 1962) “Ramayana, Indonesian Wayang Show” dalam lakon Ramayana ada 30 episode yang dapat dipentaskan dalam satu malam suntuk.

Baca juga Dadi Wadal

Namun, sangatlah mungkin  berdasarkan narasi inti masing-masing episode itu, lakon Ramayana dapat dipertunjukkan ke dalam beberapa malam/kali pertunjukan. Sehingga, sangat mungkin ada lakon sendiri berjudul “Anoman Obong,” bisa juga “Rahwana Tambak” dsb.

Pemain utama dalam Ramayana terdiri dari 19 tokoh/karakter, terbagi dalam tiga kerajaan, yakni: kerajaan Kosala, ada enam tokoh/karakter seperti Prabu Dasarata, Rama, Sinta, dst; kerajaan Alengka dengan tokoh-tokohnya Rahwana atau Dasamuka, Kumbakarna, Wibisana, dll; serta kerajaan Gua Kiskendha dengan tokoh Sugriwa, Anoman, dst.

Di luar pemain/tokoh utama itu, ada puluhan tokoh pendukung dengan nama masing-masing seturut versi sang dhalang. Tampillah tokoh-tokoh penghibur seperti Limbuk, Cangik, Semar, Gareng, Petruk, Bagong, dan lain-lain sesuai “kesukaan” ki dhalang.

Disebut tokoh penghibur karena mereka ditampilkan sebagai atau dalam adegan-adegan selingan, humor, atau kisah-kasih nyrempet-nyrempet porno; karena seni pertunjukan itu  pada hakekatnya perlu ada aspek selingan/hiburannya.

Dadi lakon

Semua tokoh/karakter itu dipertunjukkan peranannya oleh dhalang, dan biasanya ada tokoh/karakter tertentu yang diprimadonakan oleh dhalang. Ki dhalang A suka memrimadonakan tokoh-tokoh kesatria sedemikian rupa sehingga penonton pun terbawa dan mengidolakan tokoh itu. Lain pula ki dhalang H yang menjadikan buta (raksasa) sebagai tokoh primadonanya. Begitu seterusnya.

Lakon, disebut juga dalam bahasa Jawa lampahan, memiliki empat arti/ makna; yakni (a) wektu dinggo mlaku, durasi waktu yang dibutuhkan untuk ditempuh dengan jalan kaki; (b) crita, cerita atau kisah; (c) beja-cilaka kang tinemu, untung atau malang yang dialami orang, dan (d) pangkat utawa pakaryan sing dilakoni, jabatan yang sedang dilakukan atau dicapai oleh seseorang.

Untuk pertunjukan wayang kulit, jelas bahwa arti lakon terkait (b), yaitu cerita. Untuk para pejabat yang saat ini sedang merasa hepi-hepi di kursi jabatannya, makna paling cocok ya (d). Maaf seribu maaf, bagi para “mantan” pejabat yang sekolah lagi karena kena OTT misalnya, makna beja-cilaka kang tinemu paling cocok. Lagi dadi lakon, saiki.

Baca juga Dadi Geger

Ungkapan lagi dadi lakon menggambarkan dengan sangat jelas betapa si SutaNaya yang kemarin-kemarin berkecak pinggang di kantornya karena sedang berkuasa, kini di dalam penjara hanyalah si tukang pijet bagi sesama temannya di penjara itu.

Ora gelem mijeti, dikampleng; menolak dan tidak mau memijat, tahu sendiri resikonya. Dadi lakon menggambarkan si SutaNaya itu saat ini sedang menjalani nasibnya sebagai PBB, penghuni baru, bui; yang harus mau mengerjakan apa saja atas perintah “seniornya.”

Itu contoh dadi lakon di penjara. Contoh dadi lakon di kehidupan sehari-hari di masyarakat banyak banget; mulai dari kena sangsi sosial oleh masyarakat setempat> Bisa juga dadi lakon lewat dadi omongane wong akeh, menjadi bahan omongan atau tertawaan banyak orang  karena salah ucap tentang hemat kompor gas: Kalau sudah matang, jangan lupa matikan kompor. Salah ucap, sertamerta tiba-tiba dapat dadi lakon.

Jika kepada ki dhalang pertanyaannya: Lakone napa, Pak Sena?; kepada pejabat yang sedang dadi lakon, juga bisa bertanya: “Sekarang SutaNaya kena OTT, benjang sinten malih, nggih?

JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran