blank
Dalam setiap lakon ketoprak atau wayang pasti ada geger bahkan perang (Ilustrasi). Reka: SB.ID

blankHATI-HATI membaca kata geger ini. Kalau Anda mengucapkan kata ini seperti mengatakan “Seger bener air di kolam renang ini,” kata geger berarti punggung: geger gajah, punggung gajah.

Sementara, yang saya maksudkan dengan geger pada judul di atas; membacanya harus seperti: “Penari lengger itu sangat luwes gerak tubuhnya, gerakan lehernya luar biasa elastis.” Dadi geger.

Kata geger dibaca seperti mengatakan leher, kata geger memiliki tiga arti, yakni pertama, oreg, rame. Beberapa waktu lalu, ada pembicaraan hangat terkait maraknya sound horeg yang sangat spektakuler bunyinya di satu pihak; namun di pihak lain banyak orang sangat terganggu berhubung dentuman suaranya betul-betul bikin geger, seolah bumi ini horeg, rameeeeee banget.

Kedua, geger mengandung makna dahuru, yaitu seolah-olah ana perang, terjadi peperangan. Ada pihak-pihak yang ngraman, yaitu mengadakan kudeta terhadap kepemimpinan seseorang. Hati-hatilah dalam makna dahuru ini: Orang berkata-kata saja, namun karena kandungan kata-katanya dianggap “menyerang” kepemimpinan seseorang; ada yang mengategorikan orang itu sudah ngraman.

Baca juga Dadi Klilip

Sedang arti ketiga, nyaris sama dengan dahuru, ialah dauru, melakukan atau membuat kondisi oreg-oregan, gawe ora tentrem. Artinya, seseorang atau mungkin beberapa orang (kelompok?) sengaja membuat skenario agar terjadi suatu kondisi tidak tenteram, tidak nyaman. Caranya? Bermacam cara dapat ditempuh, sing/kanthi alus utawa kasar.

Dadi geger

Bicara tentang dadi geger, perhatian kita pasti  langsung ke Timur Tengah sana. Ada bunyi bom meledak, ada desingan peluru di mana-mana; ada drone berseluweran dan katanya siap diledakkan kapan diperlukan. Intinya, betul-betul sedang terjadi geger, perang di Iran dan negara-negara sekitarnya.

Pertanyaannya: Mengapa dadi geger, terjadi perang di belahan dunia itu?  Merujuk “Ramayana, Indonesian Wayang Show” (Sunardjo Haditjaroko, M.A. 1981) dadi geger sangat dimungkinan antara lain karena: “When at last the war-gongs sound, they began their ponderous advance, and the whole earth echoed to the tramp of marching feet.”(lihat hal. 69).

Dalam konteks pertunjukan dan cerita wayang ini, perang, dadi geger, sangat dimungkinkan karena para pihak sudah menunjukkan betapa sudah saling siap, sudah membunyikan genderang perangnya masing-masing; derap langkah para prajurit pun sudah bikin horeg.

Dadi geger mungkin saja berawal dari hal-hal kecil, sepele; namun kriwikan dadi grojogan, semula bagaikan air mengalir kecil saja, lama-kelamaan bertambah besar dan besar sehingga bagaikan air terjun. Hal itu terjadi karena (1) ada yang mengawali mincing-mancing secara kecil saja lewat suatu kejadian, lalu (2) dibalas oleh pihak yang merasa didahului tadi. Seanjutnya, (3) diperbesar pancingannya, demikian selanjutnya (4) diperbesar pula balasannya. Dan seterusnya, dan selanjutnya. Itulah perang, bermula sepele, namun banjur dadi gawe; dadi geger.

Siapa diuntungkan oleh perang? Sapa sing bathi amarga dadi geger? Kahlil Gibran (KG) menulis demikian ketika “Maju pula seorang wanita, yang meminta penjelasan tentang derita:” Dan Guru pun terdengar bertutur-kata: Pedihnya derita, adalah pecahnya peristiwa. Koyaknya kulit ari yang membungkus kesadaran pengertian. Sebagaimana biji buah mesti pecah, agar intinya terbuka merekah bagi curahan cahaya surya. Demikian pun bagimu, kemestian takterelakkan, mengenal derita serta mersakan kepedihan. ………….Maka derita pedih itu tiada kurang menakjubkan daripada kegirangan. (Sang Nabi, hal 72).

Baca juga Dadi Dhuwit

Sekali lagi, siapa diuntungkan oleh hal-hal yang dadi geger?  Sayup-sayup saya menangkap suara kebatinan KG yang akan mengatakan: Jangan-jangan pihak-pihak yang terlibat dalam perang itulah yang akan mengalami derita pedih, namun jangan lupa, jangan-jangan derita pedih itu tidak kalah menakjubkan daripada kegirangan dadi rame itu.

Dengan kata lain, rasanya tetap ada misteri di balik dadi geger itu, dan namanya misteri, baru akan terkuak entah berapa tahun lagi ketika mereka (para pihak) yang gegeran barangkali sudah lupa.

JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan pemerhati masalah pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran