blank
Ilustrasi, Bagong jadi klilip. Foto: REka wied SB.ID

blank

SESEKALI mengikuti penggalan pidato pejabat, -termasuk pidatonya bapak presiden karena paling sering ditampilkan-, dapatlah dipahami bila kadang-kadang muncul kata-kata “keluhan,” atau bahkan semacam “ancaman” berhubung jengkel.

Ada saja orang sing dadi klilip, entah karena komentar-komentarnya; entah pula karena sikapnya yang dirasakan bikin jengkel. Wajar bikin jengkel pejabat. Pada sisi lain, terutama pada saat hati para pejabat itu lagi bungah, sering bahkan berulangkali berkata: “Beri kami masukan, kami tidak antikritik, karena kami membutuhkannya.”

Harus dimaklumi bersama, perasaan orang (siapa pun dia atau pun jabatannya) tidak selalu berada dalam kondisi stabil. Ada kalanya bergelombang bergulung-gulung; ada kalanya landai,  anteng, stabil, mesam-mesem, bahkan sangat mungkin joged-joged.

Hal yang sama terjadi pada para pengritik. Suasana kebatinan mereka pun tidak selalu stabil juga. Kadang mampu berpikir cerah-cerdas, namun tidak mustahil suatu saat meledak-ledak karena gemes, getem-getem, dan gela.

Baca juga Dadi Daging

Tiga G itu menggambarkan suasana kebatinan yang pengin nyolek (gemes), perasaan jengkel (getem-getem), dan kecewa (gela). Dari tiga G itu, muncullah analisis atau komentar yang oleh pihak “sana” berkembang dadi klilip.

Klilip(en)

Setiap orang pasti pernah mengalami klilipen, kebangetan kalau belum pernah. Ada barang kecil, entah debu, entah serangga kecil, entah pula barang lainnya,  tiba-tiba masuk ke mata kita. Itulah klilipen, dan karena itu mata terasa perih, pedas, sakit, atau tidak bisa melek. Jika mengalami klilipen seperti itu,  hati-hatilah untuk tidak mengucek-kucek mata.

Tegasnya, meski terasa gatal atau ganjal, janganlah mata dikucek-kucek. Kalau ada air, usaplah mata bagian luar itu dengan air, siapa tahu mereda gatal atau sakitnya. Mengapa mata tidak boleh diucek-kucek pada saat klilipen?

Benda yang masuk mata itu, debu misalnya, apalagi pasir lembut, mungkin bisa “mengiris-iris” bagian dari biji mata kita. Resiko kan? Mungkin gatalnya hilang, tetapi kalau ada bagian dari biji mata menjadi tergores sekali pun kecil, resiko kan?

Jadi intinya, jika klilipen, janganlah mata diucek-kucek. Pertolongan pertama model kuna, ialah minta tolong orang lain untuk berkenan ndamu mata sing klilipen kuwi, yaitu meniupi mata itu kuat-kuat agar selumbar itu keluar.

Dadi klilip

Beda klilipen, beda juga dadi klilip. Ada makna menarik atas tembung entar dadi klilip ini yakni, apa utawa sapa wae sing jalari ora seneng: Apa pun dan siapa pun dia yang membuat (saya) tidak senang, itulah dadi klilip.

Baca juga Dadi Dhuwit

“Saya bupati, kok Bambang Gentholet (BG) kae saben-saben ngritik kebijakan-kebijakan saya, nahhhh…….. wajar kalau saya tersinggung, mungkin marak. Di mataku, BG itu klilip. Semakin BG menjadi-jadi kritiknya, dadi klilip bagi pemerintahanku.”

Lalu saya bisa saja berucap: “Bupatine kuwi aku, dudu kowe BG, bupatinya bukan loe !!!

Dalam perkembangan hidup sehari-hari, sing dadi klilip (bagi pejabat???)  itu umumnya orang, entah seseorang secara pribadi entah kelompok orang. Benda atau barang mungkin saja dadi klilip ketika ada proyek besar mangkrak, lalu berulangkali dijadikan contoh kegagalan.

Nahh….. barulah benda semacam itu dadi klilip, meski sangat mudah ditepis dengan berkata: “Itu bukan zaman saya dibangunnya.”

Seseorang atau kelompok orang bisa dadi klilip pejabat, pada umumnya, manakala orang itu dianggap wis kebangeten omongane, kata-kata atau ungkapannya itu sudah kelewat batas.

Memang ada persoalan, yaitu batasnya di mana atau sampai mana? Sampai mana sebuah kritik itu sudah dianggap kelewat batas, dan sampai mana masih wajar-wajar saja?

Di sinilah kesulitan utama untuk  menemukan titik temunya. BG merasa wajar-wajar wae apa yang ia ungkapkan (karena faktanya begitu, kilahnya); sementara saya sebagai bupati wis abang kupingku, sudah memerah telinga saya berhubung dituduh macam-macam oleh BG.

Pertanyaan lain muncul, yaitu mungkinkah orang seperti BG dan banyak BG-BG lainnya menganggap seorang pejabat itu klilip? Dengan kata lain, jika pejabat dimungkinkan memberi label BG dan BG-BG lainnya itu  dadi klilip; apakah bisa sebaliknya, rakyat atau masyarakat yang mengganggap seseorang pejabat atau mantan pejabat  dadi klilipe?

Ini pertanyaan tidak gampang untuk dijawab, membutuhkan permenungan cukup lama seraya menunggu bukti-bukti lapangan.

JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan pemerhati masalah Pendidikan dan budaya Jawa