blank
Ilustrasi. Reka: wied SB.ID

blank

MENGAPA korupsi harus dimusuhi oleh banyak pihak? Jawaban singkat dari sudut kultural, ialah karena hasil korupsi kuwi dipangana ora bakal dadi daging; kalau pun bisa dimakan yaahh ….. maaf mung dadi tahi, jadi kotoran saja.

Kalau korupsi itu berupa uang, yahhh………. bakal konangan juga karena alat deteksi semakin canggih. Kalau korupsimu berupa barang/bangunan/tanah, yahhhh………. bojomu, anak turunmu, termasuk sedulur-sedulurmu bakal ikut menanggung bebannya, kelak.

Ada banyak contoh tentang hail ini; terakhir sebuah hotel besar di kota besr juga yang akhir-akhir ini viral.

Cekak aose, sudahlah jangan korupsi karena secara internal ora bakal dadi daging kanggo anak, bojo, lan keturunanmu; membawa beban berkepanjangan bagi segenap anggota keluarga. Dan secara eksternal membawa kerugian banyak pihak. Dosamu tumpuk-tumpuk.

Daging

Arti daging dalam ulasan ini, ialah (i) keklumpukane serat-serat ing awaking manungsa utawa kewan; gumpalan-gumpalan pertemuan urat-urat dalam tubuh manusia atau hewan; (ii) peranganing wowohan sing empuk sangisoring kulit,  bagian yang lunak/empuk pada buah-buahan, berada di bawah kulit buah itu; dan (iii) makna khas Jawa,  daging itu diidentikkan dengan iwak, maka sering disebutkan dengan iwak daging, atau daging iwak.

Baca juga Dadi Dhuwit

Tentang makna ketiga ini, banyak seloroh ketika santap bersama penuh lauk daging: “Ayooooo, iwake iki didhahar…. Ayam kampung ini, tapi empuk, tidak a lot.” Tuan rumah menawarkan potongan-potongan ayam gorengnya, dan ungkapan khasnya: Ini iwak pitik, lho.

Wong Jawa sadar betul bahwa yang disebut iwak itu ikan, segala macam ikan. Namun, percakapan sehari-hari selalu mengatakan sepotong ayam goreng itu iwak pitik goreng. Jika seseorang ketika tiba di meja makan, bertanya: “Lawuhe iwak apa?” itu artinya lauk makan saat ini apa saja.

Segala macam lauk, kadang-kadang disebutnya iwak. Jika saat itu disuguhkan bandeng goreng, misalnya, sangat mungkin saja muncul celetuk: “Iwak bandeng goreng, …………enakkkkk” (Selalu kata “iwak” muncul ketika suguhan itu hampir semuanya ikan: gurami, lele, bandeng, dsb).

Dadi daging

Ada ungkapan menarik dari mertua pihak perempuan kepada menantu lelakinya pada hari pertama anaknya akan diboyong ke rumah pihak laki-laki itu, ungkapannya: “Nak, bapak ibu nitipake daging saerep marang sliramu, ya.”  Sangat mungkin kata-kata itu disertai hik….hik….hik…..; dan maknanya tidak kurang tidak lebih berupa masrahake anake wadon marang sing ngepek bojo. Anak itu (daging saerep)  dipasrahkan, dipercayakan kepada suaminya secara baik-baik.

Langkah baik-baik seperti contoh mertua memasrahkan anak perempuannya kepada pihak suaminya,  itu menunjukan betapa sangat berharganya martabat manusia itu. Daging manusia ini sangat berharga, sangat bermartabat, bukan saja harus dihormati dan dihargai; tetapi harus benar-benar bersih.

Oleh karena itu asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia, juga harus bersih, juga harus bermartabat, juga harus berharga. Ungkapan khas Jawani ialah kudu dadi daging. Di awal tulisan ini sudah sangat jelas, betapa makanan, uang, harta lain hasil dari korupsi menjadi asupan kotor bagi tubuh manusia, ora dadi daging karena hanya akan menjadi kotoran belaka.

Dadi daging maknanya sangat mendalam, yakni apa pun yang menjadi asupan bagi tubuh dan hidup ini, seyogianya benar-benar bermanfaat bagi kesehatan raga dan jiwa.

Hasil korupsi bukan satu-satunya asupan buruk bagi raga dan jiwa, sebab masih ada banyak hal lain yang juga ora dadi daging. Intinya, kita harus benar-benar dapat melakukan seleksi ketat atas asupan-asupan untuk kepentingan raga dan jiwa  kita sendiri. Bahkan makanan sehari-hari yang ditawarkan lewat berbagai media promosi pun perlu kita seleksi agar benar-benar dadi daging.

Baca juga Dadi Aneh

Seseorang bermaksud mengejek dan menguji seorang guru spiritual, katanya: “Daripada Bapak cerita macam-macam yang tidak jelas, coba beri contoh yang praktis kepada kami,  apel surgawi itu seperti apa.”

Sang guru spiritual terdiam sejenak, lalu mengambil sebuah apel yang ada di atas meja. Lalu apel itu diberikan kepadanya, seraya berkata: “Ini apel surga yang kamu kehendaki itu, tetapi sedikit keriput di beberapa bagiannya; padahal apel surga harusnya sempurna.”

Orang itu tertawa mengejek, berkata: “Mana mungkin apel surgawi seperti ini. Bapak bohong.” Guru spiritual itu menjawab: “Memang apel surgawi itu sempurna; tetapi mengingat kemampuanmu yang masih serba keriput seperti apel itu; maka inilah apel yang paling mendekati apel surgawi yang bisa Anda lihat.”

Ajakan dan ajaran moralnya: Dapatkah melihat apel surgawi dengan mata yang tercemar oleh asupan kotor? Dapatkah asupan-asupan kita dadi daging ketika yang kita lakukan tidak bersih?

JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan pemerhati masalah pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran.