
KALAU Anda mengganti huruf hidup pada kata wadal, misalnya a diganti u atau e; kata wadal berubah menjadi wadul, bisa juga berubah menjadi wudel. Kita tahu wadul itu artinya melapor dengan nuansa merajuk, bahkan mengadu dan mengaduh.
Kalau anak buah lapor kepada pimpinan, tindakannya itu dapat dipastikan tidak masuk kategori wadul. Akan tetapi, ketika segera setelah selesai melaporkan sesuatu, anak buah itu lalu cerita agak bisik-bisik tentang teman seruangannya yang nyambi judi online di tengah-tengah bekerjanya; nah……..itu namanya wadul.
Sedang tentang wudel, Anda semua pasti tahu maknanya, pun ketika ada yang mengibaratkan teman sekerjanya seperti kuda, tidak mengenal cape ketika bekerja. “Wong ora duwe wudel.”
Wadal Dadi Geger
Kata wadal termasuk jarang diucapkan dalam percakapan sehari-hari; memiliki sekurangnya tiga makna; yaitu (1) dhuwit minangka gantine pegawean, ongkos atau uang yang dibayarkan untuk menggantikan kewajiban ikut bekerja gotong-royong, misalnya.Ungkapannya lalu berbunyi: “Kula bayar wadal, nggih Pak RT” berhubung tidak dapat ikut kerja bakti. Makna (2) wadal itu pajeg marang ratu, rakyat membayar upeti kepada raja.
Baca juga
Mengapa harus bayar upeti? Sebab, tanah yang dikerjakan atau pun pekarangan rumah yang ditempati itu milik kerajaan. Dan (3) wadal itu berarti apa-apa kang dianggo blanten (korban) marang pihak sing baureksa: Benda apa pun atau uang yang dipakai sebagai kurban silih, dan dipersembahkan kepada “penunggu,” atau pun kepada pihak yang berkuasa di wilayah itu.
Makna ketiga inilah yang relatif masih banyak dikenal di masyarakat. yakni di beberapa tempat dimaknai sebagai tumbal, kurban yang sengaja dilakukan demi suatu tujuan tertentu.
Dalam percakapan sehari-hari, tidak mustahil muncul celetuk: “Ohhhh, sengaja dia dijadikan tumbal dalam kasus itu untuk menutup perkaranya supaya tidak melebar ke mana-mana.” Celetukan dapat juga berkata begini: “Bambang Gentholet itu memang sengaja dinggo blanten (beberapa tempat mengatakan banten), dinggo wadal pimpinane. Ning ya kuwi, keluargane kopen.”
Korban silih
Istilah atau pengertian tentang korban silih dikenal dalam hidup ini, termasuk dalam penghayatan agama/iman pun ada praktik-praktik ritual yang menggambarkan tentang kurban silih itu. Sangat banyak terjadi, ritual kurban silih, materinya bukan berupa uang, melainkan barang atau pun hewan. Awas, pasti bukan orang atau manusia.
Baca juga Dadi Klilip
Dalam sebuah ensiklopedi, kurban diartikan penyerahan hanya kepada Allahyang dilambangkan lewat sebuah pemberian yang kelihatan (kasat mata), berupa entah hewan, darah, roti, anggur, wangi-wangian, air, dll. Kurban dilakukan secara ritual sebagai bukti dan bakti hormat tertinggi kepada Allah. Dalam arti lebih luas, kurban juga bermakna pemberian bebas dari segala sesuatu yang halal (suci) demi/kepada Allah.
Nah …………. apakah wadal itu berupa kurban silih? Pasti bukan. Kurban silih terkandung di dalamnya niat suci, luhur, bermartabat dan terhormat; sedangkan wadal boleh dikatakan sebaliknya dari maksud suci itu. Karena itu apa yang dialami Bambang Gentholet sebagai wadal, harus dikatakan “Dadi wadal, kowe, mBang.”
Sebuah cerita dari Desa Antah-berantah demikian: Suatu hari Minggu, setelah selesai kebaktian, pemimpin agama itu mengumpulkan sepuluh emak-emak di suatu ruang pertemuan.
Mereka diminta duduk melingkar seraya bergandengan tangan. Setelah itu, ibu-ibu itu diminta menadahkan kedua telapak tangan masing-masing. Pemimpin agama itu menghitung ada tujuh ibu jari-jari tangannya terpotong; ada yang dua jarinya, malah ada yang tiga dari sepuluh jarinya yang terpotong.
“Ibu-ibu,” tiba-tiba pemimpin agama itu berkata lirih: “Hentikan menyiksa diri dengan memotong jari Anda sendiri. Protes terhadap ketidakadilan yang ibu-ibu rasakan tetap harus terjadi; namun protesnya jangan dengan cara memotong ibu jari. Jangan mau jadi tumbal atau pun dadi wadal dengan cara menyakiti dan menyiksa diri. Itu bukan suatu kurban yang kudus.” Lalu pertemuan bubar.
Masih saja ada cara memaknai dadi wadal lewat menyiksa dirinya sendiri, padahal jelas itu tindakan sia-sia. Cara orang mencari pesugihan, contohnya (jangan-jangan juga cara orang mencari jabatan dan pangkat???); konon masih ada saja yang melakukannya dengan cara “mengorbankan” salah satu anggota keluarga.
Mengorbankan anak buah pun jangan-jangan masih marak terjadi ketika seseorang ingin naik pangkat atau duduk dalam suatu jabatan. Di beberapa tempat, pindah agama demi pangkat atau kedudukan, menjadi isu selentingan yang dikait-kaitkan dengan gelem dadi wadal tadi. Wah………… trima ora melu-melu, aku.
JC Tukiman Tarunasayoga pengamat dan pemerhati masalah pendidikan dan budaya Jawa.













