blank
Pemandu wisata Kota Batam, Oky (kiri) memberikan arahan mengenai angel atau sudut pengambilan foto dengan latar belakang tulisan Wellcome to Batam.(SB/Bambang Pur)
BATAM (SUARABARU.ID) – Saat terlibat percakapan di sebuah hotel bertingkat sembilan, seorang Encik dari Malaysia, menjawab bahwa dirinya ke Kota Batam bukan karena urusan bisnis. ”Untuk holiday, bermain golf,” ujarnya singkat.

Barangkali pengakuan Encik dari Malaysia ini, menjadi bukti bahwa pembangunan sektor pariwisata di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), diminati oleh wisatawan manca negara. Ini menjadi salah satu daya dukung tumbuh berkembangnya pariwisata di Kota Batam.


Batam, diibaratkan menjadi surganya orang Malaysia dan Singapura. Ini memungkinkan bagi mereka, karena letaknya relatif dekat. Kurs ringgit dan dolar Singapura begitu tinggi terhadap mata uang rupiah. Saat ini, Satu Ringgit setara dengan Rp 4.463,17. Satu dollar Singapura, sekarang mencapai Rp 13.400,-,. Wartawan Bambang Pur yang pada Tahun 2009 pernah tugas jurnalistik ke Singapura, saat itu nilai kurs baru mencapai Rp 9 ribu.

Jarak geografis Batam dengan Singapura hanya 20 Kilometer (KM) atau 12,4 mil laut, bisa ditempuh dengan kapal ferry 45 menit. Karena dekat, dalam bahasa canda, Singapura sering dianggap sebagai ”kecamatan ke 13” bagi Kota Batam. ”Orang Singapura suka belanja barang-barang branded di Batam, karena harganya dianggap lebih murah,” jelas Kepala Dinas Komunikasi Informatika (Diskominfo) Kota Batam, Rudi Panjaitan.

Disebutkan, pariwisata, menjadi salah satu dari empat pilar prioritas pembangunan di Kota Batam. Disamping sebagai pusat penguatan ekonomi melalui sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), prioritas investasi industri dan daya saing.

Upaya memacu sektor pariwisata, diharapkan mampu menaikkan APBD melalui Pendapatan Aseli Daerah (PAD) Kota Batam. Itu bukan sesuatu yang jauh panggang dari api. Terbukti, bahwa APBD Kota Batam sekarang mencapai Rp 4,7 Triliun dan PAD-nya Rp 2,7 Triliun.

Long Stay

Angka kunjungan wisatawan kini meningkat menjadi 2 sampai 2,3 juta per tahun. Mampu menempatkan Batam sebagai destinasi wisata nasional di peringkat kedua, setelah Bali dan Jakarta. Rata-rata lama kunjungan (long stay) wisatawan di Batam sekitar 2 sampai 3 hari. Yang masing-masing wisatawan, rata-rata membelanjakan uangnya di Batam sekitar Rp 5 juta sampai Rp 7 juta per orang.

Kota Batam, maju pesat karena diibaratkan layaknya satu perahu yang memiliki dua mesin penggerak, yakni Pemkot dan Badan Otorita. Untuk memfasilitasi investasi, dilakukan dengan mempermudah prosedur dan menyediakan sarana bagi investor.

Di pilar daya saing, berupaya meningkatkan promosi dan keunggulan kompetitif Kota Batam, yang didukung oleh infrastruktur strategis, industri dan sektor perdagangan serta jasa. Prioritas pembangunan ini, bertujuan memaksimalkan posisi geografis strategis Batam di jalur internasional.

blank
Wisatawan yang rekreasi ke Batam, tengah membuat foto kenang-kenangan dengan latar belakang Jembatan Balerang yang ikonik dengan wisata Batam.(SB/Bambang Pur)


Pemandu wisata, Oky, mengajak Rombongan Pimpinan DPRD Wonogiri bersama awak media yang melakukan studi banding ke Batam, untuk menyempatkan membuat foto kenangan dengan latar belakang Monumen ”Welcome to Batam” di Bukit Clara, Batam Centre. Karena dapat menjadi kenangan bahwa pernah berkunjung ke Batam.

Monumen Welcome to Batam,  dibangun pada Tahun 2010 dengan biaya APBD sekitar Rp 472 juta. Tujuannya, untuk menyambut kedatangan para wisatawan, termasuk yang dari dari Singapura dan Malaysia. Monumen Welcome to Batam, sepanjang 120 meter dan menjadi simbol ikonik ini, dibangun dengan inspirasi gaya Hollywood Sign yang mendunia di Amerika Serikat (AS).

Balerang

Tulisan berukuran raksasa Wellcome to Batam, terletak di lokasi strategis, yakni di Bukit Clara, Teluk Tering, Kota Batam. Monumen ini, berada di ketinggian 52 Meter (M) dari permukaan laut (dpl), dan menghadap ke Pelabuhan Feri Internasional Batam Center. Masing-masing huruf, memiliki ukuran 10×5 Meter (M) dengan berat bervariasi masing-masing antara 3 hingga 4,5 ton.Keberadaannya, menjadi ikon penyambutan utama kedatangan bagi wisatawan.

Tapi, berkunjung ke Batam, rasanya tidak lengkap manakala tidak memiliki dokumen foto dengan latar belakang Jembatan Balerang. Ini seperti saat berwisata ke Singapura, tidak berswafoto (selfie) di depan Patung Merlion yang legendaris di Negara Singa tersebut.

Jembatan Barelang, adalah rangkaian 6 jembatan dengan berbagai tipe yang dibangun pada tahun 1997. Menghubungkan jalur darat di gugusan Pulau Batam, Pulau Galang dan Pulau Rempang sepanjang 52 Kilometer (KM). Sering disebut sebagai Jembatan Habibie, karena diprakarsai oleh BJ Habibie (Presiden Ketiga RI) pada Tahun 1990-an, untuk menghubungkan jalur industri dan wisata.

Pulau Batam, pertama kali dihuni oleh Orang Melayu dengan sebutan Orang Selat sejak Tahun 231 Masehi (M). Pulau yang pernah menjadi medan perjuangan Laksamana Hang Nadim dalam melawan penjajah, ini digunakan oleh pemerintah pada dekade 1960-an sebagai basis logistik minyak bumi di Pulau Sambu.Pariwisata di Pulau Batam menawarkan kombinasi menarik antara wisata pantai, destinasi buatan, wisata sejarah, wisata kuliner dan wisata belanja. Batam juga punya Taman Rusa Sekupang seluas 9 Hektare (Ha), Panbil Natute Reserve sebagai kawasan wisata alam dan konservasi. Objek wisata sejarah, di Kampung Vietnam (Galang), yang merupakan bekas kamp pengungsi Vietnam dengan situs sejarah yang terjaga. Juga memiliki Maha Vihara Duta Maitreya, yang menjadi salah satu vihara terbesar di Asia Tenggara.(Bambang Pur)