blank
Ilustrasi 'Dadi Aneh'. Gambar: reka wied/SB.ID

blank

SEJAUH berkenan mencatat (sekurangnya dalam hati), berapa “mantan” teman Anda yang setelah memiliki jabatan tertentu, ia lalu berubah sikapnya, cara bicaranya, bahkan cara pendekatannya, pasti menarik? Ternyata, rata-rata terjadi begitu, semakin merasa tinggi jabatannya, semakin orang itu (teman itu) berubah dalam sejumlah halnya.

Perubahan umum yang mudah dijumpai, ialah kini berubah lewat/dengan  cara “mengambil jarak,” semakin ja’im, jaga image. Cara yang ditempuh bermacam-macam: Ada yang model sok sibuk, penuh sesak kesibukan sehingga tidak ada waktu sedikit pun untuk hal-hal yang dianggap remeh temeh.

Ada juga berubah lewat cara berpakaian, seperti misalnya,  karena merasa terlalu sering ada “acara resmi” kemana-mana bos itu harus tampil dan berpakaian serba resmi.

Baca juga Wong-Wong Ela-Elu

Di dalam mobilnya tergantung beberapa jas dan dasi, bahkan mungkin juga asesoris lainnya. Dan yang sering bikin gemes, perubahan itu terjadi lewat cara ia mengambil kebijakan.

Mengapa?

Mengapa jabatan membawa serta perilaku seseorang dadi aneh? Ambil contoh saja, keputusan dan/atau kebijakan seorang gubernur dan seorang walikota di wilayah provinsi itu terkait dengan pengadaan kendaraan dinas. Atas nama “menjaga marwah provinsi” ada gubernur yang membeli sebuah mobil dinas seharga di atas 8 miliar rupiah.

Apa “marwahnya?” Ternyata, demi gengsi daerah maka mobil dinas itu harus ada demi menjemput/menjamu tamu nasional maupun tamu internasional. Malu dan kurang bergengsi jika ada tamu nasional atau internasional dijemput dan dijamu dengan mobil yang biasa-biasa saja.

Sekaitan dengan contoh itu, seorang wali kota di wilayah itu bukannya tidak kurang aneh, karena ia menyewa mobil mewah dan membayar sewanya 160 juta rupiah per bulannya dan harus disewa minimal selama tiga tahun. Untuk apa sewa mobil mewah itu? Untuk kendaraan dinasnya, dan pasti “untuk tamu.”

Pertanyaannya seperti telah disebutkan: Mengapa dadi aneh? Sangat jelas salah satu jawabannya, demi gengsi (daerah). Menjadi pejabat, oleh sejumlah person,  dipersepsi sebagai penjaga gawang gengsi dan harga diri daerah atau wilayahnya. Harga diri dan gengsi dipresentasikan lewat hospitalitas, keramahtamahan dan kendaraan.

Baca juga Wong-Wong Kesilep

Semakin “wahhhhhh” kendaraan yang menjemputnya dan mengakomodasikannya, pejabat itu merasa semakin bangga. Apakah setiap hari ada tamu nasional atau internasional? Pasti tidak, dan pada saat tidak ada tamu itulah kendaraan “wahhhh” itu dipakainya.

Nunut kamukten, nebeng muliakah? Mungkin awalnya merasa nebeng bermewah-mewah; namun lama kelamaan yaahhhhh ……..”aku je, inilah saya.” Inilah gubernurmu, inilah walikotamu.

Dadi aneh

Ada sembilan arti kata dadi, dan ketika kata dadi ini digandengkan dengan kata lain, seperti contohnya aneh, lalu muncullah yang disebut tembung entar, kata perumpamaan: dadi aneh.  Arti dadi dan aneh berubah dari arti semula, dan  dadi aneh lalu bermakna mengumpamakan, menyangatkan, sepertinya begitu, atau lho….kok ngana?

Seperti diketahui, aneh artinya ora lumrah, tidak sewajarnya; dan dadi aneh bermakna nyimpang saka kalumrahan, nganeh-anehi. Arti kata aneh disangatkan ketika menjadi tembung entar, dadi aneh. Seseorang atau siapa pun pasti tidak senang apabila disebut aneh, apalagi nganeh-anehi, karena orang itu dianggap bertindak atau berkebijakan tidak sewajarnya. Aneh-aneh wae.

Tetapi ……………, lagi-lagi terkait jabatan, memang sering terjadi betapa dulunya sih lumrah-lumrah wae, wajar-wajar wae. Sekarang, mengapa setelah menjabat suatu jabatan tertentu si Janaka itu berubah menjadi aneh-aneh, dadi aneh?  Pasti Anda memilik contoh Janaka-Janaka lainnya yang tidak kurang aneh-anehnya.

Contoh ekstrem

Di suatu kampung, -maaf seribu maaf para ibu-, ada seorang emak-emak sangat suka bikin gosip aneh-aneh pokoke. Kepada setiap ibu yang ditemuinya, ia bercerita bahwa bapak Anoman setiap malam memarkir mobilnya di depan rumah bu Arimba. “Pasti ada sesuatu antara pak Anom dan bu Arimba.” dan gossip itu menyebar bagaikan virus covid-19.

Pak Anoman tahu gosip itu, dan diam-diam ketika ia pulang agak malam, diparkirnya mobilnya tepat di depan rumah emak-emak penggosip itu. Begitu pula malam berikutnya, mobil itu diparkir di situ sampai beberapa malam. Nah………. hebohlah emak-emak seisi kampung. (Aneh-aneh…………………..cunthel)

JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran