
DELAPAN hari lalu dilantik oleh Menteri, kini terkena OTT KPK. Begitulah dinamika hidup yang sedang dialami oleh seseorang pegawai bea cukai di Jakarta Utara. Penuh tragika bukan? Habis moncer, jebule kesilep (HMJK).
Hanya satu orang itukah yang mengalami HMJK? Pasti tidak. Ada banyak contoh; baru kemarin bergaya juwawa serba moncer, tidak berapa lama lagi kesilep. Kemarin-kemarin seragam keky penuh tanda pangkat, hari ini pakai seragam rompi oranye, HMJK.
Siapa saja saat ini terbilang wong-wong moncer? Banyak. Perwira menengah lebih moncer dari perwira tinggi: ada. Orang-orang sekitar usia 40 tahun, mak- clingkrik moncer dadi “orang istana” mengalahkan pejabat karir yang sejatinya sudah mintip-mintip dan jauh berpengalaman: banyak.
Silep-kesilep
Itulah gambaran moncer, bisa sangat cepat naik, tetapi demi ingat HMJK, bisa juga sangat cepat kesilep. Hal senada ternyata terjadi juga: Kemarin-kemarin idu geni, apa yang dikatakan atau diminta, terjadilah dan terpenuhilah. Jebul saiki tangisan karena “sekolah maneh” di suatu sudut kamar berjeruji. Kesilep, wis ta.
Kesilep berakar kata silep; dan kata silep sendiri bermakna dua; yaitu klelep, artinya masuk ke air, tenggelam gelagepan; dan arti kedua ialah daun pisang yang ditutupkan di atas nasi yang masih ditanak. Tujuannya, ada aroma lebih gurih dan enak pada nasi itu nanti ketika disantap.
Baca juga Wong-Wong Kepencil
Dari silep, ditambah ater-ater ke lalu terbentuklah kata kesilep; maknanya bertambah banyak, yakni lima. Pertama, ambles ing banyu utawa embel, orang tenggelam ke dalam air atau pun lumpur. Jika orang yang bersangkutan tidak pandai mengatasinya, ia pasti dalam keadaan bahaya.
Kedua, kesilep artinya ora katut dietung, swarane ilang; orang, bisa juga kelompok orang yang tidak diperhitungkan, suaranya pun tidak didengarkan. Ketiga, sengaja ora dicungulake marga cetha ora ana paedahe; sengaja tidak dimunculkan Namanya karena jelas tidak berarti. Keempat, wis ora dinggo maneh, entah barang entah orang yang tidak dimanfaatkan lagi.
Makna keempat inilah yang sering membuat banyak orang sakit hati, merasa “habis manis, sepah dibuang” (HMSD). Bisa jadi orang-orang HMSD ini akan membentuk barisan sakit hati (BSH). Nah….. kompletlah, ada HMJK, ada HMSD, ada juga BSH.
Makna kelima, kesilep itu dapat lebih menyakitkan lagi, yaitu karena wis kalah karo liyane. Orang-orang gaek di atas 60 tahun sadarlah betapa kita itu sarwa kalah karo sing enom-enom: Dalam aspek apa pun kita orang gaek ini kalah berhadapan dengan mereka yang muda-muda. Kalah gesit, kalah lincah trengginas, kalah terampil digitalistiknya; pokoke sarwa kalah. Paling pol kita akan berkata: Menang pengalaman. Namun, apa artinya pengalaman lampau menghadapi kemajuan zaman yang pesat ini. Tetep kalah, tetep kesilep.
Tukang sepatu
Ada kisah menarik di tahun 80-an, demikian: Seorang tukang sepatu sangat rajin menggeluti profesinya, hasilnya pun bagus. Seorang muda dua tiga kali datang untuk memperbaiki sepatunya. Dalam percakapan sambal menunggu, diketahuilah bahwa orang mud aitu adalah seorang pastor, dan tukang sepatu itu dulu bercita-cita ingin menjadi pastor namun gagal.
Baca juga Wong-Wong Sungkan
Pada suatu hari, ketika orang muda itu datang untuk maksud yang sama, tukang sepatu menjawab: “Maaf pastor, sepatu ini baru bisa beres tiga hari lagi. Bagaimana?” Pastor itu mengiyakan.
Tiga hari berikutnya, pastor muda itu datang lagi untuk mengambil sepatunya. Ia kaget mendapatkan dua pasang sepatu salah satu pasangnya sepatu kulit, baru. “Maksud bapak, saya harus membeli sepatu baru inikah?” Tukang sepatu itu terbata-bata berkisah: “Pastor, saya ini umat juga. Dulu, saya pernah bercita-cita menjadi pastor, tetapi tidak tercapai. Pakailah sepatu baru itu ketika pastor mempersembahkan misa di mana pun. Saya sudah pasti akan bangga karena sepatu buatanku sempat menginjak lantai altar yang saya impikan. Biarlah saya kesilep, tetapi karyaku dimuliakan.”
Tukang sepatu yang hebatttttt. Ia sadar kesilep, tetapi tidak berkepanjangan, bahkan merasa bangga karena karyanya dimuliakan oleh orang yang statusnya pernah dia impikan.
Wahai orang-orang kesilep, wahai wong-wong kesilep, janganlah menjadi dan merasa HMSD apalagi lalu menjadi BSH. Tetaplah berkarya sedapat mungkin, siapa tahu hasil karyamu akan dimuliakan oleh orang yang posisinya pernah Anda impi-impikan.
JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran.













