
KETIKA melantik kader barunya, -di antaranya ada seorang perempuan motivator kondhang terlantik- , seorang ketua umum partai berkata: dalam politik itu bisa terkandung rasa kejam, karena reputasi bertahun-tahun bisa “dihabisi lawan politik” hanya dalam hitungan jam atau hari saja.
Ungkapan jujur-realistis seperti itu jika memuncak dan/atau disertai tindakan tertentu oleh lawan, orang yang bersangkutan (ybs) dalam ungkapan Jawa disebut kepencil.
Bagaimana mungkin bisa kepencil? Ia, baik karier atau bahkan mungkin sampai nama baiknya, akan dikuliti habis-habisan. Keluarga atau lingkungan terdekatnya pun akan diklinteri, dilacak, dikepung, dimata-matai. Tujuan utamanya “habisin.”
Baca juga Wong-Wong Sungkan
Siapa dapat bertindak seperti itu? Sangat mungkin “lawan politik” itu dari luar, namun tidak mustahil lawan itu dari dalam atau dari teman/lingkungan sendiri.
Kepencil
Seseorang, tidak selalu di kancah politik lho, disebut kepencil ketika pada akhirnya ia sendiri yang menanggung atau mengerjakannya. Orang menjadi kepencil karena dia tanpa rowang, tiada teman lagi yang menemani, mendekati, membela, menghibur, dsb.
Ia kijenan (akar katanya ijen, sendiri). Untuk sementara waktu, tragisnya bisa jadi berlama-lama, tidak seorang pun dating atau dekat padanya. Benar-benar kijenan, benar-benar kesepian, tersudut, terpojok.
Mari kita lihat staf atau pejabat jujur di suatu lingkungan kantor. Punya teman banyakkah dia di lingkungan itu? Teman sekerja banyak jumlahnya, namun dalam konteks bersikap jujur, sangat-sangat mungkin dia kepencil, kijenan. Sampai-sampai terdengar jujur ajur, siapa jujur “hancurlah dia.”
Apakah betul-betul hancur lebur? Pasti tidak, namun ia pasti akan dijauhi teman pada saat-saat mereka mau bertindak tidak jujur. Orang jujur itu besar kemungkinannya akan ditinggal ora diajak rembugan, dilangkahi jika dia punya jabatan. Intinya, benar-benar diperlakukan istimewa yaitu dengan cara tidak diajak membahas dan bertindak.
Baca juga Wong-Wong Sekuthon
Orang dapat tiba-tiba kepencil manakala ia kakehan usul, terlalu banyak ide, usul, atau gagasan. Mengapa begitu? Ia sendiri pasti yang akan ditunjuk untuk melaksanakan gagasannya itu.
Ungkapan Jawa yang fasih diucapkan dan dihafal ialah usul mikul; barangsiapa mengusulkan, dia pulalah yang harus mengerjakannya atau menanggungnya.
Jika akhirnya dia mengerjakan sendiri usulnya itu, ada ungkapan khususnya dalam bahasa Jawa, yakni kependir, kepeksa nindakake dhewe apa sing diusulke: terpaksa harus mengerjakan sendiri atas usulnya. Itulah mengapa, banyak orang trima mingkem wae, banyak orang lebih memilih diam.
Dipencil
Ada yang lebih tragis dari kepencil, yakni dipencil. Mengapa tragis bahkan sadis? Singkat ceritanya begini: Sebelum terjadi seseorang itu kepencil, bahkan sangat sadis lagi ketika sudah kepencil, orang itu pasti sudah diincar, dijadikan target dengan berbagai cara dan oleh banyak orang/pihak.
Dikepung. Pada saat yang tepat-cepat, orang itu pasti akan ditemui sendiri. Dalam pertemuan “sendiri” itulah mungkin saja orang itu ditantang, langsung dituding. Itulah dipencil, yang dalam bausastra Jawa dijelaskan: diajak ketemu ijen, utawa dipethukake banjur diajak kerengan.
Terjemahan lurusnya, ialah seseorang itu diajak bertemu sendirian, atau justru pada saat sendirian sengaja ditemui, lalu diajak berkelahi. Tragis-sadis gak kalau seperti itu?
Kehidupan sosial mengandung sisi tragis sadis seperti itu, ternyata. Artinya, tidak selalu baik-baik saja adanya. Kalau dalam politik sering nyaring terdengar: Tidak ada teman sejati, sebab yang paling sejati dalam politik itu hanyalah kepentingan, lalu diperjuangkannya.
Kalau dalam memperjuangkan kepentingan itu harus “habisin,” atau “sikat,” yah…… Siap laksanakan!! Bicara tentang kepentingan taiada habisnya, sangatlah menarik-meluas, karena dapat berupa kepentingan sendiri/diri, kelompok, atau siapalah.
Seorang petani, nampak jelas dari cara berpakaiannya, setelah barang jualannya habis, pergi ke warung makan di sudut pasar. Setelah memesan, ia duduk di pojok lalu berdoa.
Orang-orang di sekelilingnya komentar meledek setelah petani itu selesai berdoa dan akan memulai menyuap. “Ngapain berdoa, Pak? Di gunung sana, di tempat bapak tinggal, apakah semua orang berdoa seperti itu sebelum makan?”
Setelah selesai mengunyah suapan terakhir, bapak petani itu menjawab: “Maaf baru menjawab pertanyaan tadi. Ohhh tidak Mas, ayam dan bebek-bebek saya langsung saja nyosor ketika saya berikan makan.”
Nah……… jangankan di dunia politik dan lainnya; orang berdoa ketika mau makan saja bisa kepencil.
JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah Pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran













