blank

Oleh: Taufiq Nugroho N., M.Pd.

Viral di media sosial  lomba cerdas cermat (LCC) Empat Pilar MPR tingkat Provinsi Kalimantan Barat belum juga usai. Publik menyoroti adanya dugaan ketidakkonsistenan keputusan dewan juri ketika jawaban Grup C dianggap salah, sementara jawaban Grup B yang substansinya sama justru dibenarkan.

Protes pun disampaikan oleh peserta bernama Yosefa Alesandra, namun keberatan tersebut pada awalnya dimentahkan oleh pihak juri.

Peristiwa tersebut mengingatkan publik pada salah satu adegan dalam film Laskar Pelangi ketika tim SD Muhammadiyah Gantong yang diwakili Lintang, Ikal, dan Mawar dipersalahkan saat menjawab soal hitungan dalam lomba cerdas cermat.

Guru mereka memprotes keputusan juri karena perhitungan Lintang sebenarnya benar. Pada akhirnya, Lintang dengan penuh keberanian menjelaskan proses penghitungannya di depan dewan juri. Setelah mendengar penjelasan tersebut, juri mengakui kekeliruannya dan meminta maaf secara terbuka.

Di sinilah letak perbedaan penting antara dua peristiwa tersebut. Dalam film itu, dewan juri menunjukkan jiwa besar, sportivitas, dan keterbukaan untuk mengakui kesalahan. Sementara dalam kasus LCC Empat Pilar MPR, permintaan maaf baru muncul setelah persoalan viral dan mendapat teguran dari berbagai pihak. Padahal, dalam dunia pendidikan, keberanian mengakui kesalahan adalah bagian penting dari keteladanan moral dan intelektual.

Apa sebenarnya tujuan LCC? Mengapa perlombaan ini pernah menjadi kebanggaan dunia pendidikan Indonesia? Dan mengapa perlombaan semacam ini perlu dihidupkan kembali di tengah krisis literasi generasi muda saat ini? Secara terminologis, lomba cerdas cermat merupakan bentuk evaluasi pembelajaran berbasis kompetisi akademik. Menurut Nana Sudjana menjelaskan bahwa evaluasi dalam pendidikan tidak hanya bertujuan mengukur hasil belajar, tetapi juga melatih daya pikir, ketepatan, dan kemampuan mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

Dalam konteks ini, LCC dapat dipahami sebagai metode pembelajaran kompetitif yang menguji kemampuan peserta dalam memahami, mengingat, menganalisis, dan menjawab pertanyaan secara cepat dan akurat. LCC juga menjadi media pengembangan kemampuan literasi, numerasi, komunikasi, dan kerja sama kelompok. Dalam proses berpikir dan pemecahan masalah. Sedangkan menurut teori konstruktivisme dari Jean Piaget, pengetahuan akan lebih kuat ketika siswa membangun sendiri pemahamannya melalui pengalaman, interaksi, dan tantangan intelektual.

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, LCC adalah salah satu perlombaan paling populer di sekolah. Perlombaan ini diselenggarakan mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi hingga nasional. Penulis sendiri pernah merasakan atmosfer perlombaan tersebut, meski belum berhasil menjadi juara. Namun pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam tentang pentingnya belajar, membaca, dan berpikir cepat.

Secara umum, prosedur LCC terdiri atas beberapa babak. Babak pertama biasanya berupa pertanyaan wajib untuk setiap regu, sekitar lima hingga sepuluh soal. Babak kedua adalah pertanyaan lemparan yang dapat dijawab oleh kelompok lain jika peserta utama tidak mampu menjawab. Sedangkan babak ketiga merupakan babak rebutan, yaitu peserta yang paling cepat menekan tombol berhak memberikan jawaban. Sistem ini melatih konsentrasi, kecepatan berpikir, sekaligus kecermatan dalam mengambil keputusan.

Materi yang diujikan biasanya mencakup mata pelajaran sekolah dan pengetahuan umum. Dengan demikian, LCC sesungguhnya memadukan unsur literasi dan numerasi secara seimbang. Literasi terlihat dari kemampuan memahami informasi, membaca, dan menjelaskan konsep. Sementara numerasi tampak dalam kemampuan berhitung, menganalisis logika, dan menyelesaikan persoalan secara sistematis.

Selain itu, LCC juga memiliki tujuan pendidikan yang sangat penting. Pertama, menumbuhkan budaya membaca dan belajar. Kedua, melatih keberanian berbicara di depan umum. Ketiga, membentuk mental kompetitif yang sehat dan sportif. Keempat, membangun kerja sama tim antara peserta. Kelima, meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan cepat dalam situasi tertentu. Oleh sebab itu, LCC bukan hanya tentang kecerdasan individu, tetapi juga tentang karakter, etika, dan kedewasaan komunal.

LCC hadir untuk menjawab keprihatinan dunia pendidikan Indonesia saat ini. Apalagi ada fenomena schoolling without learning, Sebuah fenomena fisik hadir di sekolah namun tak terjadi proses belajar yang sebenarnya. Berbagai survei menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi anak Indonesia masih memerlukan perhatian serius. Ironisnya, di era teknologi digital dan smartphone yang hampir setiap hari berada di tangan anak-anak, budaya membaca dan berpikir kritis justru semakin melemah. Padahal, smartphone sejatinya adalah jendela ilmu pengetahuan yang luar biasa luas. Sayangnya, banyak anak lebih akrab dengan permainan, hiburan singkat di media sosial daripada pengetahuan umum.

Karena itu, penulis berpandangan bahwa sekolah perlu kembali menghidupkan budaya lomba cerdas cermat secara lebih kreatif dan modern. LCC dapat menjadi sarana edukatif yang menyenangkan sekaligus menantang. Sekolah dapat memanfaatkan teknologi digital untuk membuat bank soal interaktif, kuis daring, hingga kompetisi literasi berbasis aplikasi. Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga alat pembangun kecerdasan generasi muda.

Akhirnya, LCC bukan sekadar perlombaan mencari juara. Lebih dari itu, LCC adalah ruang pembentukan karakter intelektual bangsa. Dari sana lahir keberanian, ketelitian, daya pikir kritis, kerja sama, dan sportivitas. Dunia pendidikan membutuhkan generasi yang tidak hanya pintar menjawab soal, tetapi juga berani mengakui kesalahan, menghargai kebenaran, dan menjunjung tinggi kejujuran. Sebab pendidikan sejati bukan hanya tentang menang dan kalah, melainkan tentang membangun manusia yang berilmu sekaligus beradab. “Keberhasilan bukan milik orang pintar, Keberhasilan adalah milik mereka yang senantiasa berusaha”, Kata BJ Habibie

Penulis adalah Guru SMP N 3 Welahan-Jepara, Alumni S2 Pendidikan Bahasa Inggris UPGRIS Semarang.