JEPARA (SUARABARU.ID) — Festival Memeden Gadhu 2026 kembali digelar di Dukuh Karang Sari RT 04 RW 05 Desa Kepuk, Bangsri, Jepara pada 22–24 Mei 2026. Festival budaya berbasis kampung ini menghadirkan berbagai pertunjukan seni, lokakarya budaya, workshop kreatif, hingga ruang kolaborasi komunitas yang melibatkan masyarakat lintas generasi.
Festival ini menjadi ruang bersama untuk merawat tradisi Memeden Gadhu, sebuah tradisi rakyat yang tumbuh dari kehidupan masyarakat agraris dan masih hidup di tengah warga hingga hari ini.

Berbagai kegiatan diselenggarakan selama festival berlangsung, mulai dari Wiwitan atau pembukaan tradisi, Tari Tani Kolosal, Wayang Kampung Gadhu, Lokakarya Memeden Gadhu, praktik pembuatan Memeden Gadhu, workshop Wayang Anime untuk anak, lapak baca Forum TBM Jepara, hingga pentas seni budaya dan bazar kreatif warga.
Selain itu, festival juga menghadirkan mini workshop dan ruang kreatif dari berbagai komunitas kolaborator. Ada pula produksi zine independen yang membuka ruang ekspresi bagi anak muda dan komunitas literasi.
Salah satu agenda yang menarik perhatian pengunjung adalah pameran lukisan bertajuk “Fragmen Jerami dan Kehampaan Modern” karya seniman visual Tino Jones. Melalui karya-karyanya, Tino Jones menghadirkan refleksi tentang kehidupan masyarakat desa, perubahan sosial, dan keterasingan manusia modern melalui simbol jerami dan ruang-ruang agraris.

Ketua Program festival, Den Hasan, mengatakan bahwa Festival Memeden Gadhu bukan sekadar acara hiburan, tetapi ruang budaya yang mempertemukan masyarakat dengan tradisi, ingatan kampung, dan solidaritas sosial.
“Festival ini adalah ruang berkumpul dan ruang belajar bersama. Tradisi bukan hanya dipertontonkan, tetapi juga dirasakan, dipelajari, dan dirawat bersama-sama,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi budaya memiliki hubungan erat dengan gerakan literasi masyarakat. Literasi tidak hanya tentang membaca buku, tetapi juga membaca kehidupan sosial, budaya, dan pengetahuan lokal yang hidup di masyarakat.
Selama festival berlangsung, suasana gotong royong sangat terasa. Warga terlibat aktif dalam persiapan hingga pelaksanaan kegiatan, mulai dari menyiapkan tempat, konsumsi, dekorasi, hingga membantu kebutuhan teknis acara.
Festival Memeden Gadhu juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk lebih dekat dengan budaya lokal melalui pendekatan kreatif dan partisipatif.
Melalui festival ini, masyarakat berharap tradisi kampung tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi terus hidup dan berkembang bersama generasi hari ini.
Festival Memeden Gadhu terbuka untuk umum dan menjadi salah satu ruang budaya alternatif di Jepara yang menghubungkan tradisi, seni, literasi, dan kehidupan masyarakat secara lebih dekat.
Hadepe -Septiana Wibowo













