
PADA zaman serba digital sekarang ini, hidup kita sangat terbantu dalam hal segala sesuatunya nyaris serba jelas, tak ada apa pun yang tersembunyi. Pergerakan warga RT setiap detiknya terpantau jelas karena di iingkungan RT itu dipasang CCTV. Jangankan di lingkungan RT, di setiap rumah pun sekarang ini semua yang terjadi dapat dipantau.
Sangat membantu, meski memang dalam perkembangannnya akhir-akhir ini, di banyak RT atau pun rumah-rumah (kantor jugakah?) CCTV tidak lagi ngefek apa pun.
Bagi yang sudah memasang, tidak lagi terawat baik karena pihak pemantau semakin malas, alatnya juga semakin aus. Lalu dibiarkan begitu saja. Bagi yang akan pasang baru, semakin kurang tertarik juga karena, lagi-lagi efeknya tidak nendang lagi seperti awal-awal dulu.
Hidup manusia terbukti memang mung ela-elu dalam banyak hal; dan memang zaman digital saat ini sangat menegaskan berapa banyak orang yang bener-bener mung ela-elu, dan berapa gelintir saja yang tidak terbawa arus ela-elu itu.
Rubuh-rubuh gedhang
Tumbuh kembangnya bayi sampai menjadi anak balita, misalnya, sebagian besar berdasarkan naluri meniru(kan) orang dewasa. Meniru dan menirukan. Semua bermula dari meniriu dan menirukan ini; dan bila secara massal terjadi serba meniru dan menirukan, yang terjadi adalah ritual rubuh-rubuh gedhang.
Baca juga Wong-Wong Kesilep
Pohon pisang, pada saat terserang hama akan roboh nyaris hampir bersamaan, baik pohon-pohon yang telah lebih tua, apalagi anakannya.
Gejala alami ini dipakai sebagai unen-unen (kata-kata pengingat) untuk menjelaskan betapa kehidupan massal manusia pun banyak yang mung rubuh-rubuh gedhang, melu-melu, ikut-ikutan saja.
Ela-elu = Follower
Melu-melu berkembang menjadi ela-elu karena dalam bahasa Jawa dikenal terjadi perubahan huruf atau kata dalam pengucapannya ketika diulang. Ini disebut dwilingga salin swara, dua kata yang berubah suara dan pengucapannya: Ela-elu, gojag-gajeg, mesam-mesem, guya-guyu; dan contoh dalam bahasa Indonesia: mondar-mandir.
Mengapa perlu diulang kata-kata itu? Karena dilakukan berulang juga tindakan itu, seraya memerhatikan keindahan pengucapannya. Ela-elu menegaskan maknanya sebagai mung manut ombyaking wong akeh, ikuti saja arus yang sedang bergerak entah kemana. Sekali lagi di zaman digital saat ini, semakin jelas siapa saja massa yang hanya manut ombyaking wong akeh sebagai followers.
Dan seperti kita tahu, para followers ini hanya mengikuti saja kontener (pembuat konten) yang sedang ngetrend. Pada sisi lainnya, para kontener itu sangat mungkin berada di balik/bawah komando orang kuat atau sekurang-kurangnya pro terhadap orang itu. Semakin jelas tegas, dan arus zaman seperti ini tidak mungkin terhindarkan oleh siapa pun. Pinter-pintere saja.
Mengapa suka?
Pertanyaannya, mengapa banyak orang (massa?) suka sekedar menjadi followers, ela-elu saja, dan kurang termotivasi untuk menjadi kontener? Jawabannya ada dua; pertama, memang secara alamiah massa yang massal cenderung ikuti arus saja karena memang mudah terbawa.
Diam saja pun pasti terbawa arus, apalagi lagi ada respon untuk ikut. Kedua, seleksi untuk menjadi kontener dapat dipastikan tidaklah mudah, hanya orang-orang teruji saja akan terseleksi dan lolos.
Baca juga Wong-Wong Kepencil
Kira-kira seperti apa seleksi untuk menjadi kontener itu? Menduga-duga saja, mungkin salah satunya seperti cerita berikut ini: Seorang ahli ekonomi diminta ceramah di depan para pengusaha. Dia mengawali ceramahnya dengan menempel selembar kertas lebar, lalu membuat lingkaran kecil warna hitam di salah sudut kertas itu. “Apa yang Anda lihat?” pertanyaan pertamanya. Bapak A menjawab lingkaran hitam kecil; bapak H menjawab yang sama; sampai ke bapak W pun juga menjawab lingkaran hitam kecil.
Penceramah itu diam sejenak, lalu bersuara penuh wibawa: “Memang betul di situ ada lingkaran hitam kecil; tetapi mengapa tidak seorang pun berkata: Ada kertas putih lebar, padahal inilah topik besar yang akan saya ceramahkan.”
Kontener harus melihat laut, dan semakin luas yang ia lihat, ketahuilah, semakin luas laut itu, ombak yang akan ditimbulkan pasti akan semakin bergulung-gulung. Kontener harus berpikir makro, dan jangan larut dengan ada sepuluh siswa keracunan tempe goreng, misalnya. Kecillllllll itu.
Semakin luas kontennya, ombak massa nanti akan semakin bergulung-gulung. Siapa tidak suka bergulung-gulung seperti ombak di pantai nan luas, dan semakin asyiklah wong-wong ela-elu tadi. Nyanyian berjudul Ela-elo (Koes Plus??) rasanya kontekstual: Ela-elu cah bodho ngaku pinter, ela-elu …………..dst. dst.
JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah Pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran













