SEMARANG (SUARABARU.ID)– Dosen Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang, B Retang Wohangara SS MHum, kini berhak menyandang delar Doktor Ilmu Lingkungan, usai menyelesaikan Ujian Promosi Doktor.
Pria asal Sumba NTT itu, pada Kamis (21/5/2026), menjalani Ujian Promosi Doktor pada Program Doktor Ilmu Lingkungan, dengan disertasi berjudul ‘Model Ketangguhan Budaya dan Pengetahuan Ekologis Tradisional: Pengembangan dan Penerapan Indikator Kualitatif di Sumba Timur’.
Dalam keterangannya sesaat sebelum menjalani ujian yang digelar di Gedung Teater Thomas Aquinas, Kampus 1 SCU ini, Retang menjabarkan panjang lebar disertasinya pada sejumlah awak media. Diungkapkan dia, penelitian ini menyusun indikator kualitatif tentang Ketangguhan Budaya (KB).
BACA JUGA: Melalui Jurnaling Refleksi Mahasiswa Undip Bantu Salurkan Emosi Narapidana
Retang pada paparannya menyebutkan ada enam KB yang ada di wilayah Sumba. Enam KB itu terdiri dari Identitas dan Pewarisan Budaya, Kapasitas Adaptasi dan Inovasi, Kohesi dan Jejaring Sosial, Tata Kelola Sumber Daya Alam Berbasis PET, Institusi dan Kepemimpinan Budaya, serta Interaksi dengan Dukungan Kekuatan Eksternal.
”Keenam indikator itu kami gunakan untuk menakar, bagaimana tiga komunitas tradisional di Sumba Timur, Kamanggih, Mondu, dan Kambata Wundut, mempertahankan budaya. Khususnya pengetahuan ekologis mereka di tengah tantangan global, perubahan sosial, dan krisis ekologis saat ini,” terang dia.
Dijelaskan juga, penelitian itu didorong kesadaran bahwa berbagai bencana sosial dan lingkungan yang terjadi, seperti perubahan iklim, kerusakan lingkungan, krisis pangan dan air, hingga ekspansi ekonomi ekstraktif, memberi dampak kepada semua orang.
Menurutnya, kondisi itu berimbas langsung, khususnya pada masyarakat tradisional (adat), yang memiliki hubungan historis, kultural, dan spiritual yang sangat kuat dengan bumi, air, hutan, dan tanah leluhur mereka.
Bagi komunitas-komunitas itu, alam bukan sekadar sumber pemenuhan kebutuhan hidup, melainkan juga sumber identitas, spiritualitas, nilai-nilai budaya, ingatan kolektif, dan keberlanjutan kehidupan lintas generasi.
”Karena itu, kerusakan lingkungan tidak hanya berarti hilangnya sumber daya alam, tetapi juga ancaman terhadap eksistensi, keberlanjutan budaya, dan cara hidup komunitas tradisional itu sendiri,” papar di lebih lanjut.
BACA JUGA: Warga Gadungsari Berfoto Bersama Kasdam IV/Diponegoro, sebagai Wujud Syukur Sumur Bor Rampung
Disampaikan juga, temuan penelitian di lapangan menunjukkan, kohesi dan jejaring sosial merupakan pilar paling kuat, dalam menopang ketangguhan budaya masyarakat tradisional di Sumba Timur.
”Nilai-nilai solidaritas seperti ‘ta pa kalembingu (kita berkeluarga), sistim kekerabatan kabihu, serta praktik gotong royong, jadi fondasi penting bagi keberlanjutan komunitas,” sebutnya.
Secara metodologis, disertasi ini menawarkan inovasi melalui integrasi antara Telaah Pustaka Sistematis dan mini-etnografi, dalam kajian Ketangguhan Budaya. Secara praktis, model indikator yang dihasilkan, dapat digunakan sebagai kerangka analitis untuk memahami dan memperkuat ketangguhan komunitas budaya (adat) di berbagai wilayah lain di Indonesia maupun dunia.
Riyan













