blank
Rumini, saat melakukan demo mengukir di Pameran Seni Ukir di Halaman Pendopo Kabupaten Jepara. Foto: Hadepe

JEPARA, (SUARABARU.ID) – Di tengah semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap seni ukir, Rumini tetap teguh memegang pahat yang telah menemaninya selama puluhan tahun. Kesetiaan perempuan yang tinggal di RT 4 RW 2 Desa Senenan  Jepara terhadap warisan budaya leluhurnya,   mengantarkan ibu dua anak ini  menjadi salah satu tokoh perempuan pelestari seni ukir yang diperhitungkan di Kabupaten Jepara.

blank
Rumini saat demo mengukir di hadapan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Foto: Dok Pribadi

Sosok perempuan yang lahir  4 Juli 1978 dikenal sebagai seorang yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia ukir. Sejak lulus sekolah dasar, ia memilih belajar mengukir untuk mengikuti tradisi keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya yang memang dikenal sebagai kampung para pengukir.

Sebab karena keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk berkarya. Ia memilih menekuni seni ukir sebagai jalan hidup, bahkan ketika berbagai peluang pekerjaan lain yang menawarkan penghasilan lebih besar datang menghampiri.

blank

Setelah menikah dengan Sutrisno,  Rumini mengaku tidak pernah benar-benar tertarik meninggalkan dunia ukir. Baginya, mengukir bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari identitas dan kecintaannya terhadap budaya Jepara.

“Kalau saya bekerja di bidang lain, mungkin hasilnya lebih besar. Tapi saya memang sudah terlanjur mencintai ukir. Ukir menjadi nafas kehidupan saya,” ungkapnya.

blank
Rumini saat mendampingi Wakil Menteri HAM Mugiyanto mengukir di halaman belakang pendopo Kabupaten Jepara April 2026. Foto: Hadepe

Kesetiaan dan ketekunannya selama lebih dari tiga dekade membuahkan hasil. Kemampuan mengukir Rumini terus berkembang hingga dikenal memiliki kualitas di atas rata-rata. Berbagai karya ukir yang dihasilkannya mendapat apresiasi dari sesama pengrajin, pelaku usaha mebel, hingga pemerintah daerah.

Perjalanan prestasinya mulai mendapat sorotan ketika mengikuti Lomba Ukir Kategori Perempuan dan berhasil meraih Juara II yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestari Ukir Jepara dalam rangka peringatan Hari Ukir Nasional pada tahun 2022 di alun-alun Jepara

blank
Rumini bersama Wakil Ketua MR RI Lestari Moerdijat saat memberikan dikungan pada pengajuan seni ukir sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Foto: Hadepe

Prestasi tersebut menjadi titik balik yang menumbuhkan rasa percaya dirinya untuk tampil di ruang publik. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2024, ia kembali mengikuti ajang yang sama dan berhasil menyabet Juara I Lomba Ukir Perempuan yang diselenggarakan  oleh  Yayasan Pelestari Ukir Jepara di Benteng Fort Jepara.

Keberhasilan tersebut semakin mengukuhkan namanya sebagai salah satu pengukir perempuan terbaik di Jepara. Pengakuan terhadap dedikasinya terus berdatangan. Hingga pada Mei 2025, Rumini menerima Penghargaan Kartini Awards sebagai Perempuan Pelestari Seni Ukir, sebuah penghargaan yang diberikan kepada perempuan inspiratif yang berkontribusi dalam pelestarian budaya dan pembangunan daerah. “Penyerahan penghargaan dilakukan di Pendopo RA Kartini Jepara oleh Bapak H. Pawoko,” kenang Rumini.

blank
Kartini Award dilakukan di Pendopo RA Kartini Jepara oleh H. Pawoko. Foto: Hadepe

Tak hanya itu, ia juga menerima Penghargaan Bupati Jepara H. Witiarso Utomo sebagai Perempuan Pelestari Ukir. Penghargaan ini merupakan  bentuk apresiasi atas konsistensinya menjaga keberlangsungan seni ukir Jepara di tengah berbagai tantangan zaman.

Kepercayaan terhadap kapasitas dan pengalamannya semakin besar ketika ia dipercaya memimpin Paguyuban Pengukir Perempuan RA Kartini yang diinisiasi oleh Yayasan Pelestari Ukir Jepara. “Bahkan saya mendapatkan kepercayaan menjadi pembaca deklarasi pendirian Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini Jepara  bersama pengukir perempuan lain dihadapan Bapak Wakil Bupati Jepara, para pejabat dan ratusan pengukir yang sedang mengikuti Lomba Ukir Semarak Budaya di Pantai Kartini Jepara,” ujar Rumini  bangga

blank
Rumini dan anggota Paguyuban Pengukir Perempuan RA Kartini bersama Ketua Dekranasda Jateng Ny Taj Yasin dan Ketua Dekranasda Jepara Ny Ella Witiarso Utomo.. Foto: Hadepe

Melalui organisasi tersebut, Rumini aktif membangun jaringan perempuan pengukir, berbagi pengalaman, serta mendorong lahirnya generasi baru pelestari ukir Jepara. “Kami senang mendapatkan kepercayaan untuk menjadi  instruktur Pelajar Mengukir yang diadakan oleh Yayasan Pelestari Ukir Jepara di Galeri Jepara Wood Carving Jepara. Lebih dari 700 anak sudah berlatih ukir di tempat ini sejak diresmikan oleh Bapak Bupati Witiarso Utomo pada tanggal 6 November 2025,” ujarnya.

Dedikasinya terhadap seni ukir memang membawa Rumini terlibat dalam berbagai kegiatan pelatihan bagi pelajar. Ia sering menjadi instruktur dalam pelatihan ukir untuk siswa SD, SMP, hingga SMA sebagai upaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya Jepara. Juga tampil  dalam beberapa demo mengukir bersama para pengukir yang tergabung dalam Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini Jepara dan Paguyuban Pengukir Sungging Prabangkara.

blank
Rumini dan Paguyuban Pengukir Perempuan bersama Bupati dan Wakil Bupati Jepara. Foto: Hadepe

Seni Ukir Tepat untuk Perempuan

Menurut Rumini, perempuan memiliki posisi penting dalam pelestarian seni ukir. Selain mampu menghasilkan karya berkualitas, perempuan juga dapat mengerjakan ukiran dari rumah sambil tetap menjalankan peran sebagai ibu dan pengelola keluarga.

“Ukir itu cocok untuk perempuan karena bisa dikerjakan dari rumah. Sambil mengurus keluarga tetap bisa berkarya dan berpenghasilan,” ujarnya.

blank
Rumini saat menerima hadiah juara 1 Lomba Ukir Jepara Bangkit Tahun 2024 dari Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara, Hadi Priyanto. Foto: Dok

Pengalaman dan reputasi yang dimilikinya bahkan mengantarkan Rumini menjadi salah satu pengrajin ukir yang terpilih mengikuti Pameran Tatah di Jakarta pada akhir April 2026. Dalam kegiatan tersebut, karya ukir yang dibuatnya dipamerkan bersama karya-karya terbaik lainnya sebagai representasi kekayaan seni ukir Jepara di tingkat nasional.

Bagi Rumini, pencapaian demi pencapaian yang diraihnya bukanlah tujuan akhir. Ia justru melihatnya sebagai amanah untuk terus memperjuangkan keberlangsungan seni ukir Jepara.

blank
Rumini saat dialog di acara Obsesi Radio R Lisa Jepara

Ia berharap pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat memberikan perhatian lebih kepada para pengukir, terutama terkait kesejahteraan dan regenerasi pengrajin. Menurutnya, tanpa adanya generasi penerus, seni ukir yang menjadi identitas Jepara berpotensi kehilangan pelestarinya di masa depan.

blank
Rumini saat shoting acara Festival ANTV Rame. Foto: Hadepe

Dari seorang anak kampung yang belajar mengukir karena keadaan ekonomi, Rumini kini menjelma menjadi sosok inspiratif yang membuktikan bahwa ketekunan, kesetiaan pada profesi, dan kecintaan terhadap budaya dapat mengantarkan seseorang pada berbagai penghargaan dan pengakuan. Lebih dari itu, ia menunjukkan bahwa seni ukir bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan yang harus terus dijaga untuk generasi mendatang.

Diyan Ni’matus Sa’asah