JEPARA, (SUARABARU.ID) – Di tengah semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap seni ukir, Rumini tetap teguh memegang pahat yang telah menemaninya selama puluhan tahun. Kesetiaan perempuan yang tinggal di RT 4 RW 2 Desa Senenan Jepara terhadap warisan budaya leluhurnya, mengantarkan ibu dua anak ini menjadi salah satu tokoh perempuan pelestari seni ukir yang diperhitungkan di Kabupaten Jepara.

Sosok perempuan yang lahir 4 Juli 1978 dikenal sebagai seorang yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia ukir. Sejak lulus sekolah dasar, ia memilih belajar mengukir untuk mengikuti tradisi keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya yang memang dikenal sebagai kampung para pengukir.
Sebab karena keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk berkarya. Ia memilih menekuni seni ukir sebagai jalan hidup, bahkan ketika berbagai peluang pekerjaan lain yang menawarkan penghasilan lebih besar datang menghampiri.

Setelah menikah dengan Sutrisno, Rumini mengaku tidak pernah benar-benar tertarik meninggalkan dunia ukir. Baginya, mengukir bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari identitas dan kecintaannya terhadap budaya Jepara.
“Kalau saya bekerja di bidang lain, mungkin hasilnya lebih besar. Tapi saya memang sudah terlanjur mencintai ukir. Ukir menjadi nafas kehidupan saya,” ungkapnya.

Kesetiaan dan ketekunannya selama lebih dari tiga dekade membuahkan hasil. Kemampuan mengukir Rumini terus berkembang hingga dikenal memiliki kualitas di atas rata-rata. Berbagai karya ukir yang dihasilkannya mendapat apresiasi dari sesama pengrajin, pelaku usaha mebel, hingga pemerintah daerah.
Perjalanan prestasinya mulai mendapat sorotan ketika mengikuti Lomba Ukir Kategori Perempuan dan berhasil meraih Juara II yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestari Ukir Jepara dalam rangka peringatan Hari Ukir Nasional pada tahun 2022 di alun-alun Jepara

Prestasi tersebut menjadi titik balik yang menumbuhkan rasa percaya dirinya untuk tampil di ruang publik. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2024, ia kembali mengikuti ajang yang sama dan berhasil menyabet Juara I Lomba Ukir Perempuan yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestari Ukir Jepara di Benteng Fort Jepara.
Keberhasilan tersebut semakin mengukuhkan namanya sebagai salah satu pengukir perempuan terbaik di Jepara. Pengakuan terhadap dedikasinya terus berdatangan. Hingga pada Mei 2025, Rumini menerima Penghargaan Kartini Awards sebagai Perempuan Pelestari Seni Ukir, sebuah penghargaan yang diberikan kepada perempuan inspiratif yang berkontribusi dalam pelestarian budaya dan pembangunan daerah. “Penyerahan penghargaan dilakukan di Pendopo RA Kartini Jepara oleh Bapak H. Pawoko,” kenang Rumini.

Tak hanya itu, ia juga menerima Penghargaan Bupati Jepara H. Witiarso Utomo sebagai Perempuan Pelestari Ukir. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas konsistensinya menjaga keberlangsungan seni ukir Jepara di tengah berbagai tantangan zaman.
Kepercayaan terhadap kapasitas dan pengalamannya semakin besar ketika ia dipercaya memimpin Paguyuban Pengukir Perempuan RA Kartini yang diinisiasi oleh Yayasan Pelestari Ukir Jepara. “Bahkan saya mendapatkan kepercayaan menjadi pembaca deklarasi pendirian Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini Jepara bersama pengukir perempuan lain dihadapan Bapak Wakil Bupati Jepara, para pejabat dan ratusan pengukir yang sedang mengikuti Lomba Ukir Semarak Budaya di Pantai Kartini Jepara,” ujar Rumini bangga

Melalui organisasi tersebut, Rumini aktif membangun jaringan perempuan pengukir, berbagi pengalaman, serta mendorong lahirnya generasi baru pelestari ukir Jepara. “Kami senang mendapatkan kepercayaan untuk menjadi instruktur Pelajar Mengukir yang diadakan oleh Yayasan Pelestari Ukir Jepara di Galeri Jepara Wood Carving Jepara. Lebih dari 700 anak sudah berlatih ukir di tempat ini sejak diresmikan oleh Bapak Bupati Witiarso Utomo pada tanggal 6 November 2025,” ujarnya.
Dedikasinya terhadap seni ukir memang membawa Rumini terlibat dalam berbagai kegiatan pelatihan bagi pelajar. Ia sering menjadi instruktur dalam pelatihan ukir untuk siswa SD, SMP, hingga SMA sebagai upaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya Jepara. Juga tampil dalam beberapa demo mengukir bersama para pengukir yang tergabung dalam Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini Jepara dan Paguyuban Pengukir Sungging Prabangkara.

Seni Ukir Tepat untuk Perempuan
Menurut Rumini, perempuan memiliki posisi penting dalam pelestarian seni ukir. Selain mampu menghasilkan karya berkualitas, perempuan juga dapat mengerjakan ukiran dari rumah sambil tetap menjalankan peran sebagai ibu dan pengelola keluarga.
“Ukir itu cocok untuk perempuan karena bisa dikerjakan dari rumah. Sambil mengurus keluarga tetap bisa berkarya dan berpenghasilan,” ujarnya.

Pengalaman dan reputasi yang dimilikinya bahkan mengantarkan Rumini menjadi salah satu pengrajin ukir yang terpilih mengikuti Pameran Tatah di Jakarta pada akhir April 2026. Dalam kegiatan tersebut, karya ukir yang dibuatnya dipamerkan bersama karya-karya terbaik lainnya sebagai representasi kekayaan seni ukir Jepara di tingkat nasional.
Bagi Rumini, pencapaian demi pencapaian yang diraihnya bukanlah tujuan akhir. Ia justru melihatnya sebagai amanah untuk terus memperjuangkan keberlangsungan seni ukir Jepara.

Ia berharap pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat memberikan perhatian lebih kepada para pengukir, terutama terkait kesejahteraan dan regenerasi pengrajin. Menurutnya, tanpa adanya generasi penerus, seni ukir yang menjadi identitas Jepara berpotensi kehilangan pelestarinya di masa depan.

Dari seorang anak kampung yang belajar mengukir karena keadaan ekonomi, Rumini kini menjelma menjadi sosok inspiratif yang membuktikan bahwa ketekunan, kesetiaan pada profesi, dan kecintaan terhadap budaya dapat mengantarkan seseorang pada berbagai penghargaan dan pengakuan. Lebih dari itu, ia menunjukkan bahwa seni ukir bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan yang harus terus dijaga untuk generasi mendatang.
Diyan Ni’matus Sa’asah













