blank
Ilustrasi tanpa tedheng aling-aling. Reka: wied/SB.ID

blank

BERKAITAN dengan postingan Tanpa Awer-Awer minggu lalu, bacalah kata tedheng di atas  seperti Anda mengucapkan bebek atau cewek. Adapun arti tedheng ialah apa-apa sing dianggo nutupi apa wae supaya ora ketok, kepanasan, utawa kudanan; barang apa pun dipakai untuk menutup agar tidak kelihatan, kepanasan, atau pun kena hujan. Itulah aling-aling. Sedang awer-awer sudah jelas minggu lalu: dinggo nutupi awak supaya ora katon wuda; menutupi badan.

Mengapa ungkapannya menjadi tedheng aling-aling, kata-kata mirip/sama tetapi disejajarkan padahal artinya sama? Itulah bahasa, yang kadang-kadang mengandung ungkapan menyangatkan. Lihat saja gagah perkasa, lemah lunglai, dan lain-lainnya. Bukankah kata gagah itu mirip arti dengan perkasa?

Ungkapan lengkapnya menjadi tanpa tedheng aling-aling, dan ungkapan ini sama makna dengan ora tedheng aling-aling. Dan ungkapan ini sangat dikenal dalam percakapan sehari-hari; bermakna ngeblak, blaka, bares.

Cablaka, Ngeblak

Teman-teman logat Banyumasan akan mengatakan cablaka. Artinya, bagaikan pintu terbuka, semuanya ngeblak, terbuka, kelihatan, angin, orang, kucing dan lainnya pun bisa masuk. Dalam konteks kejujuran, seseorang disebut berkata  tanpa tedheng aling-aling manakala ia berkata apa adanya, lugas, blaka suta, cablaka.

Baca juga Tanpa Awer-Awer

Dalam urusan laporan keuangan misalnya, orang seperti itu disebut bares, karena ia melaporkannya tanpa tedheng aling-aling, tidak ada yang ditutupi atau dirahasiakan, sesuai dengan  kondisinya.

Jelaslah, ungkapan  ini contoh jelas makna tanpa sama dengan semakna dengan ora tedheng aling-aling

Aktualkah?

Dewasa ini, amankah bila seseorang atau banyak orang berkata tanpa tedheng aling-aling? Sebutlah misalnya mengatakan: “Ohhh. Bapak Suta itu ternyata korupsi.” Atau ada yang berkata: “Program meluruskan sungai itu ternyata  dilaksanakan tidak lurus, malah banyak bengkok-bengkoknya?”

Dan banyak contoh lain dapat disebutkan bahwa berkata cablaka, bares, tanpa tedheng aling-aling ternyata dapat mengandung resiko. Salah satu resikonya, sebutlah tidak aman.

Mengapa? Berterus terang tentang segala sesuatu ternyata tidaklah terus membawa terang, bisa-bisa membawa kegelapan karena pihak-pihak yang di-terusterang-i mungkin merasa tidak nyaman, tidak suka, tersinggung, merasa tertuduh, dan sebagainya. Tidak seorang pun mau entah rahasianya, entah pula kegagalannya (jika gagal), entah juga kelakuannya dibuka ngeblak bagaikan pintu.

Tanpa tedheng aling-aling, ungkapan dan celoteh anak kecil karena kelugasannya, dan itu sangat jujur, lucu, apa adanya; ternyata  menjadi sangat tidak lugas seiring dengan perkembangan umur, apalagi perkembangan karir orang.

Ungkapan tanpa tedheng aling-aling bisa menjadi “musuh” bagi mereka yang mati-matian ingin memertahankan jabatannya, syukur bisa naik terus jabatannya. Alhasil, kehidupan orang semakin banyak menyimpan rahasia seiring dengan pertambahan umurnya. Dan ………… –jika semua orang mau jujur–  hal semacam inilah yang selalu membawa kecemasan bagi mereka yang menjabat. Cemas, jangan-jangan ada pihak-pihak yang cablaka, ada pihak-pihak yang tanpa tedheng aling-aling mengorek pekerjaan saya.

Resep

Bagi Anda yang cemas jangan-jangan rahasia atau kegagalan pekerjaan dan jabatanku  terkorek, hendaklah Anda jangan bertindak kasar, apalagi lalu “membungkam” upaya-upaya orang yang mau berkata tanpa tedheng aling-aling.

Baca juga Tanpa Tandhing

Biarkan saja mereka itu, tetapi Anda, ikutilah nasehat dan praktek produser film Inggris J. Arthur Rank berikut ini. Ia memiliki strategi jitu mengatasi kecemasannya, yakni dengan cara membuat “Kotak Kecemasan Rabu.” Apa saja yang ia cemaskan, ia tulis dalam secarik kertas, lalu dimasukkan ke kotak itu.

Pada setiap hari Rabu, ia buka kotak itu bersama-sama dengan anak buahnya yang juga menuliskan hal-hal yang dicemaskan. Semua yang tertulis dibacanya ramai-ramai. Biasanya, setiap kali membuka kotak itu, beberapa hal yang pernah dicemaskan ternyata sudah tidak menyemaskan lagi.

Dan jika ada hal yang masih belum beres, tulisan itu dimasukkan lagi ke dalam kotak untuk dibuka lagi hari Rabu berikutnya. Setelah  selesai membuka kotak dan membaca seluruh isinya, mereka lalu pesta minum bersama-sama. Dengan jalan seperti ini, Arthur Rank dan teman-temannya menyembuhkan diri dari kecemasannya.

Para pejabat yang sedang cemas takut programnya “dibuka orang” tanpa tedheng aling-aling , belajarlah menyembuhkan rasa cemasmu dari Arthur Rank. Hindarkan dirimu dari bertindak kasar atau marah-marah karena ada saja yang tanpa tedheng aling-aling menyebutkan ini mengatakan itu. Katakan “Siappppp” atas nasihat ini, eh nasihat Arthur Rank dhing.

Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan  budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng