blank
Ilustrasi arca (Foto:wikipedia).

Oleh: Ulil Abshor

Sekembalinya Wahyu dari merantau sikapnya tiba-tiba berubah. Dia lebih sering bicara soal agama, lebih banyak membuka buku-buku kajian yang berisi tentang bagaimana seharusnya menjadi Islam yang kaffah. Dia lebih banyak mengkritik praktek keagamaan yang sudah dilakukan masyarakat kampungnya secara turun temurun. Prilaku warga kampungnya yang menurutnya syirik, bid’ah, takhayul, churafat, itulah yang sering disampaikan Wahyu ketika sedang mnegobrol bersama teman-temanya.

Gaya berpakainnya pun juga berubah, tiap hari dia selalu mengenakan jubah serta sorban, keningnya tampak menghitam. Orang tua Wahyu yang bernama Kang Blonot dan Yu Jum juga kaget dengan perubahan anaknya yang beberapa tahun merantau di sebuah kota di Jawa Barat itu.

Bahkan, kedua orang tuanya tersebut sering kali ditegur oleh Wahyu saat ikut Mbah Woro, sesepuh desa, untuk membersihkan arca-arca serta memberi sesajen berupa menyan dan kembang tujuh rupa di atas bekas reruntuhan bangunan tempat pemujaan umat Hindu di masa lalu yang memang masih banyak bertebaran di dalam hutan.

Mulai saiki rak usah melu-melu Mbah Woro Mak, iku perbuatan syirik sing menyekutukan pengeran”, tegur Wahyu suatu hari, saat kedua orang tuanya hendak membersihkan serta memberi sesajen di arca-arca yang terletak di dalam hutan di atas bukit Dusun Saptorenggo.

Yu Jum hanya menatap Wahyu dengan mengelus dada. Padahal setahu Yu Jum, Wahyu pamit merantau beberapa tahun yang lalu bekerja sebagai kuli bangunan, lha pulang-pulang kok berubah total.

Cah iki kesambet nopo Gusti…”, batin Yu Jum melhat perubahan anak semata wayangnya itu.

Cara berpakainnya pun aneh.

Koyo walang kadung”, gumam Yu Jum kemudian.

Padahal, sejak kecil, Wahyu mendapat pendidikan agama yang baik di kampung. Mulai ngaji di madrasah diniyah, sekolah formal di Madrasah Ibtida’iyah, Madrasah Tsanawiyah, hingga Madrasah Aliyah. Malamnya pun ngaji Quran di langgar Mbah Woro bersama anak-anak sebayanya.

Selepas dari Madrasah Aliyah, Mbah Woro menyarankan Wahyu untuk mondok di pesantren di Jawa Timur. Meskipun saran itu diikuti oleh Kang Blonot dan Yu Jum, namun hanya bertahan sebulan Wahyu berada di pondok, Wahyu boyong ke rumah katanya tidak betah. Wahyu kabur dari pondok tanpa pamit pengasuh pesantren.

Mbah Woro sebagai sesepuh desalah yang dulu mulai mengajar ngaji orang-orang di kampung, dengan kitab sederhana cetakan Menara seperti fasholatan, Albarzanzi, ratiban, hingga tahlilan. Langgar sederhana yang berada di kampung itu juga menjadi saksi perubahan keyakinan masyarakat dari Islam Kejawen, Islam abangan, hingga menjadi Islam yang taat.

Kampung  yang berada di lereng gunung Muria ini memang dikenal dengan banyaknya peninggalan-peninggalan Hindu-Budha. Arca-arca serta reruntuhan candi masih dirawat warga kampung dengan baik, meskipun mayoritas warga kampung sudah lama memeluk Islam.

Memang, tradisi dan budaya masyarakat di kampung masih sangat kuat, misalnya sedekah bumi tiap tahun dengan do’a bersama di punden desa. Haul Mbah Kasan, leluhur kampung Saptorenggo yang babat alas desa, hingga membangun kampung Saptorenggo hingga menjadi pemukiman, serta perayaan maulid atau sering disebut muludan yang digelar di langgar tiap bulan Rabiul Awal.

Hal ini atas ajaran Mbah Woro yang tidak mau ajaran Islam mencerabut akar tradisi dari masyarakat setempat. Mbah Woro juga tidak mau ajaran Islam yang penuh rahmat ini tiba-tiba merubah watak masyarakat Saptorenggo menjadi fanatik agama. Salah satunya dengan melarang warga menghancurkan arca-arca yang banyak berada di atas bukit.

Mbah Woro jelas paham dengan meniru dakwah ala Walisanga, masyarakat dengan sendirinya mau mengikutinya tanpa paksaan. Langgar yang dibangun Mbah Woro pun masih banyak peinggalan Hindu-Budha. Terlihat di depan teras langgar berdiiri kokoh batu andesit berupa llingga yoni. Sebuah simbol kesuburan bagi orang Hindu. Tidak hanya di depan langgar, di samping pengimaman pun terdapat arca nandi yang berbentuk sapi. Arca nandi beberapa ditemukan saat warga menggali sumur untuk langgar.

Mbah Woro merupakan generasi ketiga dari Mbah Kasan yang konon masih keturunan dari salah satu wali dari Jawa, yaitu Sunan Kalijaga. Namun hal itu tidak diketahui banyak orang mengingat orang-orang kampung tidak paham dan tidak mempedulikan soal nasab. Yang dilihat dari Mbah Woro adalah orang yang prilakunya baik terhadap sesama.

Suatu hari usai sholat Isya’ di langgar kampung, Wahyu mengumpulkan teman-teman sebayanya untuk mendengarkan ceramahnya. Wahyu membacakan buku-buku kajian yang dibawanya dari merantau. Dalam buku tersebut banyak disebutkan praktek-praktek ibadah masyarakat yang dianggap menyimpang. Wahyu juga banyak sekali membawa tabloid-tabloid Islam yang berisi tentang jihad.

“Arca dan bangunan candi yang berada di kampung sama dengan berhala, hukumnya wajib kita hancurkan. Karena itu bagian dari perbuatan syirik yang menyekutukan Allah”, kata Wahyu di hadapan teman-temanya.

“Coba kalian lihat, para orang tua kita, bahkan Mbah Woro yang kita anggap sebagai sesepuh desa dan paham agama saja sering kali menaruh sesajen di arca-arca tersebut apalagi di hari-hari tertentu yang dianggap hari keramat, apa itu bukan yang namanya menyekutukan Tuhan”, ujar Wahyu berapi-api.

“Itu sudah melenceng dari ajaran Islam, bahkan bisa merusak aqidah kalau perbuatan menyembah berhala itu kita biarkan. Kita harus bertindak!”, ujar Wahyu geram.

Mbah Woro yang sedari tadi masih menunaikan zdikir selepas sholat Isya’ mendekat ke Wahyu dan teman-temannya. Sambil terus memutar tasbih yang ada di tangannya, Mbah Woro ikut gabung dalam percakapan di langgar. Wahyu tiba-tiba terbungkam setelah kehadiran Mbah Woro.

“Le, nek kowe pengen ngejur braholo neng kampungmu, aku persilahkan. Asal kamu tau Le, aku tidak pernah mengajarkan kepada masyarakat untuk menyembah arca-arca yang masih ada. Namun, aku pun melarang mereka menghancurkan peninggalan leluhur kita”, ujar Mbah Woro dengan tegas. Matanya menatap satu persatu pemuda-pemuda kampung Saptorenggo, mereka menunduk.

Sambil menyalakan rokok kretek kesukaanya, Mbah Woro melanjutkan, “Orang Jawa itu sangat paham bagaimana memperlakukan arca atau patung-patung yang selama ini menjadi tetenger”, ujar Mbah Woro.

“Kenapa aku mengatakan tetenger Le, itu bukti bahwa di sini telah ada peradaban jauh sebelum kita. Bukan berarti kita harus menghilangkan sejarah dengan menghancurkan peninggalan para leluhur!”

Orang Jawa juga paham, bahwa patung itu tidak mempunyai daya dan upaya Le, patung kui  benda mati bukan untuk disembah Le”, ujar Mbah Woro sambil meghisap rokok kreteknya dalam-dalam.

“Konsep berhala yang ada di Jawa dan di Arab jelas berbeda Le. Kalau di Arab zaman jahiliah dulu ada arca yang bernama Latta, Uzza dan Hubal. Mereka menjadikan berhala itu sebagai sesembahan karena dianggap anak Tuhan, tapi leluhur kita di Jawa tidak”, lanjutnya.

“Leluhur kita orang Jawa sangat paham, bahwa mereka membuat arca itu bukan untuk disembah. Berbeda dengan orang Arab yang meyakini bahwa patung-patung itu mempunyai kuasa atas kehidupan mereka, karena dianggap anak Tuhan”, suara Mbah Woro meluncur tanpa mampu ditepis Wahyu.

“Kamu tahu, bagaimana Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala yang dibuat ayahnya sendiri. Jelas konsep berhala yang ada di Jawa itu berbeda Le, Cah Bagus”, suara Mbah Woro mengalir dengan deras tanpa diduga-duga.

“Tapi Mbah….”, Wahyu mencoba menyela.

“Apa namanya kalau tidak menyembah, dengan memberikan sesajen kembang-kembang dan menyan”, kejar Wahyu.

“Di dunia ini ada dua alam yang harus sama-sama dihormati, dua alam yang harus dijaga keseimbangannya, alam ghaib dan alam nyata. Kamu tahu kan, keberadaan jin dan manusia di dunia ini, nah dua alam ini yang menjadi tugas kita untuk menjaganya”, tegas Mbah Woro.

“Sebagai manusia jangan merasa sombong, jangan merasa menjadi sebagai makhluk yang paling sempurna di hadapan Tuhan. Keberadaan yang ghaib tetap harus kita hormati”.

“Makanya, leluhur kita selalu menyalakan menyan dan wewangian berupa kembang untuk selalu menghargai adanya yang ghaib, karena jenis jin atau yang disebut barang ghoib itu paling suka bersemayam di tempat-tempat seperti itu”, terang Mbah Woro sambil terus menatap anak-anak muda di langgar yang terdiam.

Wahyu membisu. Wajahnya merah padam mendengar penuturan Mbah Woro. Anak muda yang sedang mencari jati diri itu tidak pernah menemukan ajaran-ajaran Jawa dalam buku kajiannya. Buku panduan untuk menjadi Islam yang kaffah tidak pernah mengajarkan tentang harmonisasi dua alam yang nyata dan ghaib. Tidak pernah mengajarkan apa yang namanya keberkahan.

Wahyu pamit pulang. Semenjak kejadian itu, Wahyu kembali merantau namun masih saja menyimpan dendam bahwa ajaran Islam yang ada di kampungnya sudah melenceng, ajaran leluhur kampung Saptorenggo harus diluruskan dan dimurnikan. Batin Wahyu.

Sebelum kembali merantau Wahyu mengajak dua orang temannya untuk naik ke atas bukit dengan membawa peralatan berupa palu besar (bodem). Wahyu bertekad untuk mengancurkan arca-arca yang menurut dia adalah berhala sebagai sumber kemusyrikan warga kampung Saptorenggo.

Tepat tengah malam Wahyu dan kedua temannya berangkat menaiki bukit kampung Saptorenggo. Sinar bulan purnama tampak terang menyinari kampung, sehingga Wahyu tidak perlu mengeluarkan senter yang dibawanya.

Arca pertama yang didapati Wahyu adalah arca berbentuk Dwarapala. Arca yang biasa ditempatkan sebagai penjaga pintu masuk candi itu tampak diam kaku dan membisu. Dengan gada yang terangkat, wajah seramnya dengan mata melotot seolah menantang Wahyu dan kedua temannya. Wahyu tampak ragu untuk mengayunkan bodemnya. Kedua temannya kelihatan sangat ketakutan ketika terdengar langkaah-langkah kaki menginjak daun dan ranting kering.

Aroma asap rokok klobot yang khas tiba-tiba tercium menusuk hidung. Mbah Woro tiba-tiba muncul dari rerimbunan pohon bambu yang berada tepat di belakang arca dwarapala tersebut. Wahyu dan ketiga temannya tidak menyangka akan ada seseorang yang muncul. Seketika tiga pemuda tersebut lari terbirit-birit tanpa tau siapa yang muncul dari balik bambu. Senter dan bodem Wahyu tertinggal.

*****************************************

Hingga pada suatu hari warga kampung Saptorenggo digegerkan dengan adanya foto Wahyu dan ketiga temannya yang terpampang dengan jelas di salah satu surat kabar nasional. orang-orang kampung berbondong-bondong menuju Balaidesa untuk melihat surat kabar tersebut dan memastikan bahwa itu benar-benar Wahyu.

Kang Blonot tampak masygul mendapati anaknya dengan keadaan seperti itu. Yu Jum tiba-tiba pingsan setelah memastkan di foto tersebut adalah Wahyu. Surat kabar yang ada di balaidesa memuat foto Wahyu bersama ketiga temannya sedang berada di sebuah negara Timur Tengah, sedang bergabung dengan pasukan ISIS. Sebuah kelompok yang dipimpin oleh Abu Bakar Al-Baghdadi. Namun kemunculan Wahyu di surat kabar karena Wahyu menjadi salah satu WNI yang tidak bisa pulang kembali ke tanah air. Karena secara resmi ikut kelompok ISIS.

Sialnya, kelompok ISIS yang selama ini dianggap Wahyu sebagai kebangkitan umat Islam dan akan akan mencapai cita-cita untuk mendirikan Khilafah Islamiyah di seluruh dunia tidak sesuai harapanya. ISIS mengalami kekalahaan, pasukan yang selama ini begitu kuat memporak porandakan beberapa negara Arab tampak kocar-kacir. Beberapa pasukan ISIS yang tertangkap terancam dieksekusi, tidak terkecuali Wahyu dan ketiga temannya.

Hujan mengguyur kampung Saptorenggo, aroma tanah yang lama kering tercium dengan aromanya yang khas. Mata air sungai akan melimpah membuat anak-anak kampung akan beramai-ramai mandi di kali sore setelah menyelesaikan ngaji di madrasah diniyah. mereka akan membawa kail atau ekrak untuk menyeser ikan-ikan wader yang mulai bunting.

Malam hari usai sholat maghrib di langgar, Mbah Woro mengajak warganya untuk mendo’akan Wahyu dan ketiga temannya agar bisa kembali dengan selamat di kampung Saptorenggo. Yu Jum tampak kurus memikirkan nasib anaknya yang terjebak di negara antah berantah ratusan kilometer dari kampung Saptorenggo. Kang Blonot tak henti-hentinya menitikan air matanya memanjatkan do’a-do’a kepada Allah SWT. Warga kampung khusyu’ mengikuti Mbah Woro. Suasana kampung tampak begitu syahdu dan damai tanpa ada rasa dendam sedikitpun kepada warganya yang bernama Wahyu.

(Penulis adalah Wartawan di Suarabaru.id dan Pegiat Sejarah Kebudayaan Jepara)