blank
Ilustrasi, seorang perempuan menutupi tubuhnya dengan daun "senthe". Foto: Freepik/wied

blank 

BACALAH awer-(awer) sebagaimana Anda mengatakan minum dhawet seraya makan apem. Thema tanpa awer-awer sangat penting kita bahas saat ini, mengingat ada hal-hal yang sering terjadi nyaris ingin membuat orang malu atau dipermalukan luar dalam.

Awer-awer maknanya ialah apa wae kang dinggo nutupi awak supaya ora katon wuda;  benda atau barang apa pun yang dapat dipakai untuk menutup tubuh orang agar tidak ketahuan (sedang) telanjang. Dalam keadaan khusus atau terpaksa, sangat mungkin seseorang itu telanjang atau minimal berpakaian kurang lengkap. Bila tiba-tiba ada orang lain di dekatnya, segeralah orang berpakaian kurang lengkap itu mengambil apa pun untuk menutupinya.

Itulah awer-awer. Bisa jadi ia menarik taplak meja, atau ambil koran, daun pisang, malah mungkin ember pun bisa juga dipakai untuk upaya menutupi “setengah telanjangnya.”

Tanpa awer-awer

Apakah awer-awer sama arti dengan aling-aling? Beda. Seperti telah disebutkan, awer-awer ini berkaitan langsung dengan upaya orang menutupi keadaannya yang tidak lengkap berpakaian. Aling-aling berkaitan sesuatu, -orang pun bisa-,  yang ingin ditutupi.

Khusus aling-aling untuk orang, kondisi orang itu bukan karena sedang tidak berpakaian lengkap, tetapi aling-aling untuk mencegah agar tidak kena angin, atau agar tidak kelihatan dari jarak tertentu. Dan orang sangat mungkin berpakaian lengkap.

Baca juga Tanpa Tandhing

Jika ada ungkapan tanpa awer-awer, itu berarti orang sedang dalam keadaan telanjang. Penyebab ketelanjangan itu bermacam-macam, namun pasti orang yang bersangkutan akan malu jika terlihat oleh orang lain. Tanpa awer-awer yang tentu saja sangat memalukan terjadi apabila orang itu sengaja “ditelanjangi” oleh orang/pihak lain.

Tanpa awer-awer dalam arti berada dalam keadaan tanpa busana, atau pun sengaja ditelanjangi pihak lain, bukan hanya bermakna harafiah seperti itu;  namun dapat menjadi kiasan zaman. Jika kita tidak hati-hati, sebutlah direm lewat payung regulasi, ada saja kemungkinan seseorang yang sedang dadi lakon, “ditelanjangi”  sedemikian rupa sehingga tanpa awer-awer. Namanya sedang dadi lakon, dalam waktu sekejap saja seseorang sangat mungkin  baik masalah pribadi maupun kehidupannya “ditelanjangi” nyaris habis-habisan.

Etika

Ada upaya sederhana menjelaskan makna etika dilakukan oleh seorang motivator,  demikian: “Jika Anda penjual rokok di sebuah kios, dan ada seseorang membeli satu bungkus rokok  seraya mengulurkan uang lima puluh ribu rupiah. Namun ternyata bukan hanya satu lembar, ada dua lembar saling lengket. Saat itulah pertanyaan etika harus muncul: Haruskah saya memberitahu pembeli itu, ataukah diam saja pura-pura tidak tahu?”

Penjual itu, sangat bertindak etis jika ia memberitahu bahwa uangnya terdiri dari dua lembar, lalu diulurkan satu lembaran lima puluh ribuan  berikut kembalian dari lima puluh ribu satunya. Ketika itu katakana: “Tadi ada dua lembar lima puluh ribuannya.”

Etika itu muncul bersamaan dengan suara hati yang berbisik jujur: katakan sejujurnya apa faktanya, bukan apa opininya. Nah ………… “zaman” sekarang, ketika ada bahaya orang “ingin menelanjangi” orang lain  hanya karena suatu sebab; sering tidak didasari oleh etika yang benar. Yakni tidak secara jujur mengatakan faktanya, namun hanya beropini atau berasumsi lalu bres…..bres…….bres…… bertindak. Jangan begitu. Tirulah penjual rokok di kios yang mengatakan: “Tadi ada dua lembar lima puluh ribuannya.” Tindakan etis itu pasti disertai pengakuan jujur, bukan menuduh atau menipu; bersikap terbuka apa adanya bukan mengada-ada. Dan karena itu, sebaiknya hindarkan diri dari upaya mempermalukan orang (siapa pun itu); lalu baru puas jika menjadikan orang itu tanpa awer-awer lagi. Jangan!!! Mari kita junjung etika kehidupan Bersama. Namun, jangan juga menggunakan alasan etika untuk awer-awer menutupi seseorang.

Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng