blank

Oleh: Khoirul Manan

Tahun Baru Hijriyah sering kali dimaknai sebagai pergantian angka dalam kalender Islam. Padahal, makna yang terkandung di baliknya jauh lebih besar daripada sekadar pergantian waktu. Tahun Hijriyah mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, sebuah momentum yang menjadi titik balik lahirnya peradaban Islam.

Menariknya, ketika para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA menyusun sistem penanggalan Islam, mereka tidak memilih tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW ataupun tahun turunnya wahyu pertama sebagai awal kalender Islam. Mereka justru menetapkan peristiwa hijrah sebagai permulaan tahun.

Pilihan tersebut mengandung pesan mendalam bahwa kemuliaan Islam tidak hanya ditandai oleh lahirnya seorang nabi atau turunnya wahyu, tetapi juga oleh keberanian melakukan perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Hijrah menjadi simbol transformasi, dari kelemahan menuju kekuatan, dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari tekanan menuju kebebasan dalam menjalankan nilai-nilai agama.

Karena itu, setiap datangnya Tahun Baru Hijriyah, umat Islam tidak cukup hanya mengucapkan selamat tahun baru atau mengenang peristiwa sejarah. Momentum ini seharusnya menjadi sarana muhasabah untuk menilai sejauh mana perubahan diri telah dilakukan selama setahun terakhir.

Pertanyaan yang penting bukanlah, “Tahun berapa sekarang?” melainkan, “Sudahkah saya menjadi pribadi yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya?”

Hakikat hijrah dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadis pertama Arbain Nawawi yang diriwayatkan Umar bin Khattab RA, “Sesungguhnya setiap amal itu  tergantung pada niatnya. Dan setiap orang itu hanya akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya keapda Allah dan Rasul-Nya. Namun barang siapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya akan memperoleh pahala hijrah yang sesungguhnya. Sebaliknya, orang yang berhijrah demi kepentingan duniawi hanya akan mendapatkan apa yang menjadi tujuannya.

Hadis ini menegaskan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan perubahan orientasi hidup. Hijrah adalah perpindahan dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari kehidupan yang kurang bernilai menuju kehidupan yang lebih bermanfaat.

Tantangan di Era Digital

Jika pada masa Rasulullah SAW tantangan hijrah berupa ancaman fisik dan tekanan sosial, maka tantangan hijrah pada era digital hadir dalam bentuk yang berbeda. Tantangan terbesar saat ini adalah kemampuan mengelola waktu, perhatian, dan pola hidup di tengah derasnya arus teknologi informasi.

Teknologi digital sejatinya merupakan nikmat besar yang memudahkan manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan mengakses ilmu pengetahuan. Namun pada saat yang sama, teknologi juga menghadirkan berbagai distraksi yang menggerus produktivitas.

Tidak sedikit orang yang menghabiskan berjam-jam setiap hari untuk menjelajahi media sosial tanpa tujuan yang jelas, menonton video pendek secara berulang, atau mengikuti berbagai tren yang silih berganti. Aktivitas tersebut sering kali terasa ringan, tetapi jika diakumulasikan dapat menghabiskan waktu yang sangat besar dalam satu tahun.

Padahal Allah SWT telah mengingatkan:”Wal ‘ashr. Innal insaana lafii khusr.” “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr: 1-2)

Surah yang sangat singkat ini mengandung pesan yang luar biasa. Kerugian terbesar manusia bukanlah kehilangan harta atau jabatan, melainkan kehilangan waktu yang tidak pernah dapat kembali.

Fenomena tersebut juga menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk para pegiat literasi dan pendidikan. Di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Jepara, upaya peningkatan literasi digital terus dilakukan agar generasi muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi mampu memanfaatkan teknologi untuk belajar, berkarya, dan menciptakan manfaat bagi masyarakat.

Tantangan yang lebih serius bahkan terlihat pada anak usia dini. Saat ini tidak sedikit anak yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar gawai sejak usia sangat muda. Dalam banyak kasus, gawai digunakan untuk menenangkan anak ketika rewel atau saat orang tua sedang sibuk.

Padahal masa kanak-kanak merupakan fase emas perkembangan manusia. Pada masa inilah kemampuan bahasa, emosi, sosial, dan kognitif berkembang sangat pesat. Anak membutuhkan interaksi langsung, percakapan, permainan, perhatian, dan kasih sayang yang nyata.

Para ahli tumbuh kembang anak mengingatkan bahwa penggunaan gawai yang berlebihan tanpa pendampingan dapat mengurangi kesempatan anak untuk berlatih berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Karena itu, kehadiran orang tua tetap menjadi faktor utama dalam pembentukan karakter dan kemampuan sosial anak.

Dalam perspektif Islam, keluarga adalah madrasah pertama. Di sanalah nilai-nilai agama, akhlak, dan kepribadian dibangun. Maka hijrah keluarga pada era digital adalah mengembalikan rumah sebagai pusat pendidikan, komunikasi, dan penanaman nilai-nilai keislaman.

Anak-anak tidak membutuhkan layar yang lebih canggih. Mereka membutuhkan perhatian yang lebih tulus, dialog yang lebih hangat, dan kehadiran orang tua yang lebih utuh.

Di sinilah makna hijrah menemukan relevansinya pada zaman modern. Hijrah digital bukan berarti menjauhi teknologi, melainkan mengubah cara memanfaatkannya. Dari budaya konsumsi menuju budaya produksi. Dari budaya pasif menuju budaya kreatif. Dari kebiasaan menghabiskan waktu menuju kebiasaan menghasilkan karya.

Memasuki Tahun Baru Hijriyah 1448 H, sudah saatnya setiap Muslim melakukan evaluasi diri. Sudahkah ibadah kita semakin baik? Sudahkah hubungan kita dengan keluarga semakin harmonis? Sudahkah waktu yang Allah titipkan digunakan untuk hal-hal yang bernilai?

Peristiwa hijrah yang menjadi dasar penanggalan Islam mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari niat yang benar dan keberanian untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu, hijrah yang paling dibutuhkan hari ini bukanlah perpindahan tempat, melainkan perpindahan karakter: dari manusia yang sibuk menghabiskan waktu menjadi manusia yang sibuk menebarkan manfaat.

Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah. Semoga setiap pergantian tahun menjadi momentum memperbarui niat, memperbaiki diri, memperkuat keluarga, dan menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas bagi umat, bangsa, dan peradaban.

Penulis adalah Mahasiswa Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Unisnu Jepara yang Mengikuti Program Magang di SUARABARU.ID