blank

blankATAS  tulisan Tanpa Upama minggu lalu, ada pembaca mengkritisi seraya memberikan komentar: “Bukankah tanpa upama ini sama saja dengan tanpa tandhing?” Mengapa tidak dijelaskan, begitu?” Terima kasih atas tanggapan bagus ini, dan pada tayangan sekarang ini, tanggapan itu saya jawab: Betul, ada kemiripan, namun mari kita telusuri lebih jauh nuansa perbedaannya.

Alkisah, tiga teman karib bersahabat lalat buah, kura-kura, dan keledai diskusi tentang usia mereka masing-masing. Lalat buah memulainya penuh gundah gulana: “Kalian tahu usia saya hanyalah 24 jam saja: lahir, tumbuh, bersenang atau mungkin susah payah diusir-usir, menua; lalu mati setelah dua puluh empat jam.”

Keledai langsung menyahut, seolah membesarkan hati lalat buah: “Memang benar katamu, teman. Tetapi tahukah kamu, saya sebenarnya ingin hidup hanya 24 jam saja; namun semuanya akan saya buat serba manis kehidupan ini.”

Mendengar apa kata lalt buah dan keledai, kura-kura yang sudah berusia 50 tahun berkata: “Saya tidak paham apa yang kalian percakapkan. Dalam usia saya lima puluh tahun ini, ada banyak pengalaman suka duka yang tidak gampang saya ceriterakan. Dulu, sewaktu usiaku 30 tahun, saya memang pernah berharap segera selesai hidup ini.”

Baca juga 

Sambil berkata begitu, kura-kura menoleh kepada keledai dan berkata: “Saya iri kepadamu.” Dan kepada lalat buah kura-kura itu berkata: “Saya kasihan dan menaruh simpati kepadamu.”

Apa sergah keledai? Ia segera berkata:  Mendengar ceriteramu, kalau begitu saya tidak berkeberatan hidup lebih dari lima puluh tahun lagi. Akan saya buat seindah mungkin hidup berlama-lama itu. Cihuiii……. Alangkah indahnya.” Keledai itu lalu menyeringai beberapa kali, berandai-andai.

Tanpa tandhing  

Mereka bertiga sepakat pergi ke guru spiritualnya,  yakni laba-laba. Kesepakatan itu dicapai setelah tidak menemukan titik temu karena mereka masing-masing mengukur hidupnya dengan jam mereka masing-masing.

Bahkan ada yang menghendaki hidupnya melebihi kodratnya (entah lebih pendek, entah lebih panjang). Setelah saling melaporkan diskusi tiada hasil kepada laba-laba; suasana hening untuk beberapa saat.

Laba-laba berkata perlahan: “Saudaraku kura-kura, berhentilah mengeluh karena usiamu mungkin akan bisa lebih dari ratusan tahun. Banyak pengalaman yang pasti kamu alami penuh keindahan dan kenangan. Siapa memiliki pengalaman seluas dan sedalam engkau?” Kura-kura itu terdiam, lalu mengangguk.

Kepada lalat buah, laba-laba berkata penuh wibawa: “Temanku lalat, berhentikan juga gundah gulanamu. Memang usiamu pendek, tetapi siapa memiliki keindahan terbang ke sana, terbang kemari seperti engkau? Maka nikmati saja penuh suka cita.” Lalat itu terbang meliuk-liuk bergaya sejenak.

Suasana kembali hening, tetapi tiba-tiba keledai berkata: “Apa saranmu kepadamu?”  Laba-laba terdiam cukup lama, baru berkata: “Saya tidak bisa memberimu nasihat, temanku keledai. Mengapa? Karena kamu menginginkan atau hidup pendek sependek lalat buah, atau hidup panjang sepanjang hidup kura-kura. Itu tidak mungkin, kamu bodoh karena kalian bertiga itu tanpa tandhing siji karo sijine. Kalian bertiga tidak bisa dibanding-bandingkan dalam hal umur.”

Tandhing, itu maknanya ialah (1) padha, sejajar, imbang , yaitu memiliki kesamaan, seimbang. Dan (2) tandhing itu berarti babag, padha kekuatane. Jika petinju, sesama krlas bantam lawannya juga kelas bantam, nah….. itu tandhing Namanya. Tetapi, kalau klas bantam ditarungkan dengan klas bulu, itu namanya ora tandhing, tanpa tandhing.

Jadi, tanpa tandhing bermakna tidak seimbang kekuatannya; maka tidak mengherankan kalau yang kuat pasti menang; sedang tanpa upama, sebagaimana minggu lalu dijelaskan, menegaskan betapa seseorang atau sesuatu yang tidak ada sing madhani. Kekuasaan seorang presiden jelas tidak ada yang bisa madhani, tidak ada yang dapat menyamai.

Tanpa tandhing juga dapat bermakna menang tanpa harus berjibaku, sebut misalnya dalam pertandingan bulutangkis. Mengapa tidak perlu berjibaku? Pihak lawan mundur dengan alasan sakit misalnya.

Bagaimana halnya tanpa tandhing dalam konteks korupsi?  Wahhhh…….. sekarang ini besaran nominal uang yang dikorupsi jor-joran dan sudah bukan M…M…an lagi karena telah menginjak T…T….an. Jan ….. tanpa tandhing tenan. Menggunakan kosakata saat ini, para korutor pasang Gas Polllll tenan.

Mungkin ada di antara mereka yang gas poll itu  terinspirasi kata-kata ini: “Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan saya, (didahului) siapa lagi? Kalau bisa besar/banyak, mengapa hanya sedikit?”

JC Tukiman Tarunasayoga, pengaman dan penulis terkait Pendidikan dan kebudayaan Jawa tinggal di Ungaran, Jawa Tengah