blank
Ilustrasi, hancur berkeping-keping. Foto: Rea SB.ID

blank

PERNAH dengar kata-kata: Kutu-kutu walang antaga? Bagi Anda pecinta pertunjukan wayang kulit, atau minimal pernah melihat pertunjukan ki dhalang, kata-kata ini pasti terdengar dari mulut ki dhalang.

Ketika dhalang sedang  sampai dalam adegan janturan, yaitu sedang menceriterakan sebuah kerajaan berikut karakter masing-masing tokoh kerajaan itu; kata-kata kutu-kutu walang antaga ini pasti terucap.

Intinya, kerajaan itu dicandra, dikisahkan dalam kondisi aman, tentram, sejahtera, adil; dan pemimpinnya bersikap bijaksana penuh belas kasih sayang. Sampai-sampai semesta pun mendukung, mulai dari segala jenis tanaman sampai binatang pun serba tunduk kepada sang raja.

Segala macam binatang kecil yang melata berkeriapan pun, mengabdi dan mendukung kesejahteraan kerajaan itu. Kutu-kutu walang antaga itu maksudnya kabeh kewan gremet lan rumangkang, semua hewan melata, menjalar, berkeriapan mendukung hadirnya kerajaan yang adil makmur sejahtera itu.

Walang

Walang, belalang, kita semua tahu jenis-jenisnya; seperti walang sangit, walang jati, coro, dan lain-lain. Binatang termasuk walang ini, ada yang bisa terbang, melata (gremet), bahkan semut pun termasuk dalam himpunan walang antaga tadi.

Baca juga Sakdadine

Berbagai jenis walang ini memiliki peri-kehidupannya masing-masing, ada yang bisa hidup bertahun-tahun, tetapi juga hanya berbulan-bulan saja. Malahan tidak kurang masa hidupnya hanya dalam hitungan hari. Hidup walang berada dalam kondisi rentan, bukan saja karena mudah punah atau mati, tetapi tubuhnya pun rimpi, gampang pecah, rusak, remuk, atau hancur.

Itulah nasib walang yang mudah remuk atau hancur. Bayangkan saja kondisi bawaan lahirnya saja sudah rentan, dan menjadi seperti apa manakala walang itu “dihancurkan.” Dalam Bahasa Jawa, kondisi semacam itu disebut remuk dadi sawalang-walang, hancur-remuk berkeping-keping. Bagaikan walang yang bawaan lahirnya saja sudah rentan, apalagi masih ditambah lagi dihancurkan. Ancur……..Djum!!!

Perang

Melukiskan dampak perang Iran-Israel-AS, di pihak mana pun yang terkena ledakan rudal, bom, nuklir, dll, pastilah semuanya hancur-remuk dadi sawalang-walang. Bangunan apa pun dan di pihak mana pun bila  kena bom, pasti hancur berantakan.

Apalagi yang terkena itu manusia, binatang, pohon-pohonan; semuanya dadi sawalang-walang, hancur, remuk, porak-poranda. Seperti itulah jahatnya perang (peperangan), yakni selalu jatuh kurban baik bagi pihak yang diserang lebih-lebih, maupun pihak yang menyerang.

Mengapa pihak yang menyerang juga bisa porak-poranda? Pihak yang diserang, pasti membalaslah; namanya perang, peperangan, ya pasti balas-membalas, serang-menyerang. Balung gereh, deh, ngeriiiii……………..

Kebijakan

Kehancuran secara fisik-material karena perang memang mengerikan; maka seyogyanya perang segera harus diakhiri, di mana pun. Dan, yang bisa hancur berantakan bukan saja barang-barang fisik-material. Kebijakan lewat berbagai program pembangunan pun sangat mungkin saja (rentan??) bisa hancur, bisa dadi sawalang-walang.\

Baca juga Dadi …. lan Apike

Rasanya tidak mengada-ada jika contoh berikut ini ditampilkan untuk memberikan gambaran tentang program/kebijakan yang remuk dadi sawalang-walang itu. Mari kita lihat pembangunan ruko, rumah toko di berbagai tempat di wilayah kita ini. Berbagai bangunan ruko itu, entah kebijakan siapa itu, sebagian besar mangkrak, ora payu; dan kalau pun ada yang eksis di sejumlah tempat, tidak semua dagangan yang dijual, laris.

Tentu kita bertanya: Mengapa pembangunan ruko marak di mana-mana, padahal tidak semuanya laku, atau eksis? Jawabannya, karena sedang nge-trend. Apa pun, jika sedang nge-trend (saat itu atau pun saat kini),  ya dibangun marak di mana-mana.

Alasan utama selain nge-trend mengapa ada saja sejumlah pembangunan mangkrak, ialah karena sangat lemahnya studi kelayakan dilakukan sebelum kebijakan itu dieksekusi. Tentang pembangunan ruko tadi, di mana pun ruko itu dibangun, dapat dipastikan tidak ada studi kelayakannya.

Studi kelayakan adalah pilar utama budaya pembangunan, maka jika studi kelayakan ini tidak dilakukan semestinya, bakal mangkraklah, cepat atau lambat, pembangunan fasilitas apa pun itu.

Apakah hanya pembangunan ruko yang dapat diambil sebagai contoh terkait dadi sawalang-walang tadi?  Tidak. Saat sekarang ini pun, di mana-mana sedang dibangun sejumlah fasilitas dengan tujuan masing-masing. Pantas ditanyakan: Adakah dilakukan studi kelayakan untuk pembangunan itu? Piye Djum………..?

Ingat narasi ki dhalang ketika nyandra sebuah kerajaan” Kutu-kutu walang antaga dadi rewang wujuding negara kang tata-titi-tentrem gemah ripah loh jinawi: Mestakung, semesta mendukung jika ada studi kelayakan yang semestinya. Jika tidak, ………piye Djum?

JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah Pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran