KUDUS (SUARABARU.ID) – Aliansi mahasiswa UIN Sunan Kudus menggelar konsolidasi untuk membahas berbagai persoalan nasional yang dinilai berdampak langsung terhadap masyarakat. Dalam forum yang digelar di area kampus, Rabu (17/6/2026), mahasiswa menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah, potensi kenaikan harga BBM, tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Kegiatan yang berlangsung secara sederhana dengan konsep lesehan di samping perpustakaan kampus tersebut dihadiri puluhan mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan. Diskusi berlangsung serius sejak sore hingga petang dengan menghadirkan sejumlah pandangan kritis terkait kebijakan pemerintah pusat.
Hadir memimpin jalannya konsolidasi, Ketua Senat Mahasiswa UIN Sunan Kudus Abdul Jabbar dan Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Sunan Kudus Ahmad Thoyyib Sertiansyach.
Dalam forum tersebut, para mahasiswa menilai sejumlah kebijakan pemerintah perlu dievaluasi agar tidak menambah beban masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang dinilai semakin berat.
Ketua Senat Mahasiswa UIN Sunan Kudus Abdul Jabbar mengatakan, salah satu isu utama yang menjadi perhatian adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dinilai berpotensi memengaruhi berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Selain itu, mahasiswa juga menyoroti wacana kenaikan harga BBM non-subsidi yang dikhawatirkan berdampak pada meningkatnya harga kebutuhan pokok dan biaya transportasi.
“Kalau berbicara soal BBM, dampaknya akan dirasakan semua lapisan masyarakat. Harga bahan pokok dan biaya transportasi bisa ikut naik sehingga rakyat yang paling merasakan akibatnya,” ujar Jabbar.
Tak hanya persoalan ekonomi, mahasiswa juga menyoroti pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran. Menurut Jabbar, implementasi program tersebut perlu dievaluasi agar sesuai dengan tujuan awal yang disampaikan kepada publik.
Ia menilai, saat masa kampanye program MBG digambarkan akan melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah. Namun dalam pelaksanaannya, mahasiswa melihat masih terdapat persoalan tata kelola yang perlu diperbaiki.
“Dana yang sangat besar dari APBN untuk program ini harus dievaluasi bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat dan sesuai dengan tujuan awal,” katanya.
Sementara itu, Ketua DEMA UIN Sunan Kudus Ahmad Thoyyib Sertiansyach menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah harus menjadi perhatian serius pemerintah karena memiliki dampak luas terhadap perekonomian nasional.
Menurutnya, melemahnya rupiah dapat berpengaruh terhadap harga barang, biaya produksi, hingga daya beli masyarakat.
“Kami menilai pelemahan rupiah harus menjadi perhatian khusus pemerintah. Karena dampaknya tidak hanya pada sektor tertentu, tetapi juga berimbas pada kondisi ekonomi masyarakat secara umum,” ujar Thoyyib.
Selain itu, pihaknya meminta pemerintah mencari langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi tanpa harus menaikkan harga BBM.
“Kalau BBM naik, dampaknya akan melebar ke berbagai sektor. Aktivitas ekonomi masyarakat akan ikut terpengaruh,” katanya.
Dalam konsolidasi tersebut, mahasiswa juga mengkritisi besarnya anggaran yang dialokasikan untuk sejumlah program nasional seperti MBG dan koperasi desa. Mereka meminta pemerintah melakukan evaluasi serta penataan ulang program agar lebih efisien dan tepat sasaran.
“Yang kami dorong adalah bagaimana anggaran negara dapat digunakan secara efektif, efisien, dan memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat,” imbuhnya.
Sebagai tindak lanjut, aliansi mahasiswa berencana menggelar forum-forum diskusi lanjutan untuk memperdalam kajian terhadap berbagai persoalan yang mereka soroti. Hasil kajian tersebut nantinya akan dirumuskan menjadi petisi dan disampaikan kepada pemerintah melalui jalur audiensi.
Mahasiswa mengaku masih mengedepankan dialog sebagai langkah awal dalam menyampaikan aspirasi. Namun apabila upaya audiensi tidak mendapatkan respons, mereka membuka kemungkinan melakukan aksi turun ke jalan.
“Kami akan terus mengkaji berbagai persoalan yang telah dibahas. Jika aspirasi tidak mendapat ruang melalui audiensi, maka kami siap menyampaikannya melalui aksi yang lebih luas,” tegas Thoyyib.
Ali Bustomi













