Oleh : Miqdad Syafiq Husaini
Setiap malam, utamanya akhir pekan, Jepara terlihat berbeda jika dibandingkan dengan tahun- tahun sebelumnya. Bukan hanya alun-alun Jepara yang dipenuhi warga, tetapi berkembang ke jalan Kartini dan jalan Pemuda usai kedua jalan protokol itu dibangun sebagai pedestrian dan sekaligus memberikan ruang bagi berkembangnya perekonomian dan aktivitas warga.
Sepanjang jalan Pemuda dan jalan Kartini menjadi deretan coffee shop dan pedagang kopi keliling. Tempat ini kemudian menjadi tempat nongkrong muda-mudi sembari menikmati kelezatan kopi. Kursi-kursi hampir tak pernah kosong.
Pemandangan ini adalah suatu fenomena yang menarik perhatian karena terjadi di tengah berbagai kabar kurang sedap mengenai perlambatan ekonomi, naiknya harga BB,, naiknya harga kebutuhan pokok, sulitnya mencari lapangan pekerjaan serta meningkatnya tekanan hidup yang dikeluhkan oleh banyak masyarakat.

Namun anehnya, coffee shop dan gerobak kopi keliling di Jepara tetap penuh. Tak ada satu pun yang sepi dari serbuan muda-mudi. Dari sudut-sudut kota pesisir ini, anak muda datang berbondong-bondong, membawa rupiah yang katanya sedang susah dicari, lalu menukarnya dengan segelas kopi.
Di satu sisi, kebiasaan nongkrong sambil menikmati secangkir kopi sering dianggap sebagai bagian dari gaya hidup generasi muda. Namun di sisi lain, ada realitas yang lebih dalam dari sekadar tren. Bagi sebagian orang, secangkir kopi bukan hanya sebatas minuman, melainkan ruang jeda untuk menenangkan pikiran, tempat beristirahat dari rutinitas yang melelahkan, dan cara paling sederhana untuk tetap bertahan menghadapi kehidupan yang semakin tidak meyakinkan.
Pertanyaannya: apakah ini semata-mata soal gaya hidup yang dipaksakan, atau ada sesuatu yang lebih dalam.

Budaya minum kopi sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kopi telah mengalami transformasi dari sekadar kebutuhan konsumsi menjadi bagian dari identitas sosial. Coffee shop bukan lagi hanya tempat membeli minuman, melainkan ruang pertemuan, tempat bekerja, berdiskusi, hingga mencari ketenangan.
Di Jepara sendiri, pertumbuhan coffee shop dan kopi keliling menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap ruang sosial semakin tinggi. Menariknya, fenomena ini tetap bertahan bahkan di tengah kondisi ekonomi nasional yang sedang menghadapi berbagai tantangan. Pertanyaan yang kemudian mencul, mengapa anak-anak muda masih rela mengeluarkan uang untuk segelas kopi ketika banyak kebutuhan lain yang juga mendesak?
Sosiolog Amerika, Ray Oldenburg dalam bukunya The Great Good Place (1989), memperkenalkan konsep third place atau “tempat ketiga”. Menurutnya, manusia membutuhkan tiga ruang dalam hidup: rumah sebagai tempat pertama, tempat kerja atau sekolah sebagai tempat kedua, dan ruang sosial sebagai tempat ketiga.

Coffee shop menjadi salah satu bentuk dari ruang ketiga yang memungkinkan seseorang berinteraksi, berbagi cerita, atau sekadar menikmati kesendirian tanpa tekanan.
Teori ini menjelaskan mengapa banyak anak muda memilih menghabiskan waktu di coffee shop. Sebenarnya yang mereka beli bukan sebatas secangkir kopi, tetapi juga membeli suasana, rasa nyaman, dan kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Di sisi psikologi, aktivitas minum kopi sering dikaitkan dengan ritual sederhana yang memberikan efek ketenangan. Rutinitas kecil seperti memegang gelas hangat, menghirup aroma kopi, atau berbincang santai dengan teman dapat membantu mengurangi stres dan memberikan rasa kontrol terhadap kerasnya kehidupan.
Fenomena ini juga dapat dipahami melalui konsep self reward, yaitu kecenderungan masyarakat memberikan hadiah kecil kepada diri sendiri di tengah tekanan ekonomi dan bahakan tekanan hidup. Ketika membeli barang-barang mewah dan liburan ke tempat indah terasa semakin sulit dijangkau, secangkir kopi menjadi bentuk kemewahan yang masih bisa dinikmati. Harganya relatif terjangkau, tetapi mampu memberikan kepuasan emosional yang cukup besar.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian aktivitas nongkrong juga dipengaruhi oleh gaya hidup dan kebutuhan eksistensi sosial. Di era media sosial, coffee shop sering menjadi latar foto, simbol pergaulan, bahkan penanda identitas. Seperti yang dikemukakan oleh Jean Baudrillard, masyarakat modern tidak hanya mengonsumsi barang karena manfaatnya, tetapi juga karena makna simbolik yang melekat pada barang tersebut.
Meskipun demikian, menganggap semua aktivitas ngopi hanya sebagai gaya hidup tentu terlalu menyederhanakan suatu persoalan. Banyak orang datang ke coffe shop bukan untuk terlihat keren, melainkan untuk mencari ruang bernapas.
Seorang mahasiswa mungkin datang untuk menyelesaikan tugas karena rumahnya terlalu bising. Seorang pekerja mungkin memilih duduk sendirian sambil memandangi secangkir kopi setelah seharian menghadapi tekanan pekerjaan. Bahkan ada yang datang hanya untuk merasa bahwa dirinya tidak sendirian.
Di Jepara, fenomena ramainya coffee shop dan kopi keliling juga memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal. Banyak pelaku UMKM tumbuh dan berkembang karena budaya ngopi yang semakin kuat. Mulai dari petani kopi, barista, pemilik kedai, hingga pedagang kopi keliling memperoleh manfaat dari aktivitas ekonomi yang terus berputar. Dengan kata lain, secangkir kopi tidak hanya menghangatkan pelanggan, tetapi juga menghidupi banyak insan.
Karena itu, mungkin kita perlu melihat fenomena ini dengan sudut pandang yang lebih luas. Tidak semua yang tampak sebagai gaya hidup sebenarnya adalah pemborosan. Terkadang, seseorang tidak sedang membeli kopi melainkan sedang membeli waktu untuk dirinya sendiri.
Pada akhirnya, ramainya coffee shop dan kopi keliling di Jepara bukan sekadar cerita tentang tren anak muda atau budaya nongkrong. Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia selalu mencari ruang untuk beristirahat dari kerasnya kehidupan. Di tengah ekonomi yang terasa pahit bagi sebagian orang, secangkir kopi menjadi simbol sederhana tentang harapan dan ketenangan.
Tentu saja, menikmati kopi perlu dilakukan secara bijak dan sesuai kemampuan finansial. Namun kita juga tidak perlu terburu-buru menghakimi mereka yang memilih menghabiskan waktu di coffe shop. Sebab terkadang, yang mereka cari bukanlah gengsi atau eksistensi, melainkan kesempatan untuk menenangkan pikiran yang sedang dilanda kegalauan .
Karena pada akhirnya, tidak semua orang datang ke kedai kopi untuk mengikuti gaya hidup. Boleh saja menjadikan kopi sebagai sebuah pelarian, tetapi jangan sampai kita justru tenggelam dalam ilusi gaya hidup yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Sebab menyelamatkan hidup bukanlah tentang berapa banyak gelas yang kita habiskan, melainkan tentang seberapa jernih pikiran kita dari setiap tegukkan.
Penulis adalah Mahasiswa Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Unisnu Jepara yang Magang di SUARABARU.ID












