blank
Semut yang berarak merambat ke tembok, biasanya merupakan fenomena "rongeh". Semut melakukan hal yang tak biasa ini, menjadiisyarat akan datangnya banjir. Foto: Reka: SB.ID

blank

BACALAH rongeh sebagaimana Anda berucap: “Pak Sholeh berulangkali menoleh ke belakang, seolah mencari seseorang.”  Ternyata, pak Sholeh hendak memberi kode kepada istrinya untuk membeli oleh-oleh bagi para tetangga.

Nah …… seperti itulah mengucapkan rongeh, topik menarik saat ini. Betapa tidak menarik?  Hanya dengan melihat seeorang itu rongeh atau tidak, sebenarnya kita tahu orang itu “sedang ada apa-apa,” atau tidak ada apa-apa.

Alam sekitar menyediakan sinyal-sinyal atau pertanda apa pun bagi kehidupan ini. Kalau tiba-tiba melihat rombongan burung terbang ke arah tertentu, lalu rombongan burung yang sama itu terbang ke arah yang lain, itulah tanda-tanda alam(-iah) sedang atau akan terjadi sesuatu.

Masalahnya memang, kita belum tentu melihat kejadian itu sebagai tanda-tanda alam(iah); dan kalau pun bergumam ada apa itu, belum tentu juga kita lalu mencari tahu lebih mendalam.

Baca juga Wong-Wong Kapiran, Wong-Wong Kesrakat?

Binatang, apa pun jenisnya atau pun namanya, biasanya paling peka terhadap sesuatu dan binatang itu pulalah yang pertama kali akan memberikan tanda-tanda lewat sikapnya yang rongeh. Kalau tiba-tiba, semula kucing itu diam saja, lalu ia rongeh seraya lari ke sana ke sini sambal ekornya mengibas-ibas, besar kemungkinan ada sesuatu dilihatnya.

Burung di sangkar pun dapat tiba-tiba rongeh seraya terbang sana sini; dan ketika si empunya menyadari hal itu, ia pasti akan segera melihat-lihat apa yang sedang terjadi. “Ohhhh…. ternyata ada tikus mendekati sangkar.”

Rongeh

Masyarakat yang tinggal di kaki gunung berapi, pasti sudah sangat hafal dan segera bersiap-siap bila mengetahui sejumlah hewan liar mulai turun, atau mulai berkeliaran di pemukiman penduduk. Turun gunungnya  hewan liar itu memberi tanda-tanda.

Binatang disebut rongeh jika hewan itu ora anteng, tansah polah wae. Maksudnya, di luar dari kebiasaannya, binatang itu kok kelihatan gelisah, obah terus, bersuara terus, dan polah-polah lainnya. Jika rongeh seperti itu terjadi, sekali lagi, dapat dipastikan ada apa-apa di sekitar itu, atau akan terjadi sesuatu dalam waktu dekat.

Pertanyaannya, apakah rongeh hanya milik binatang saja?  Bukan. Justru manusialah si pemilik atau si empunya sikap rongeh yang  lebih dari seribu macam jumlahnya. Manusia justru paling kaya dengan ke-rongeh-an yang bermacam ragam.

Karena itu, sebenarnya, dari rongehnya manusia yang bermacam ragam itulah khalayak sudah dapat mulai menengarai ada apa-apa sedang terjadi. Namun karena manusia pulalah yang paling pandai “menutupi” atau berupa-pura; tidaklah mustahil sedang ada apa-apa tadi tidak kelihatan oleh orang lain.

Contoh

Ora bisa anteng, tansah polah wae, rongeh, para pejabat tentu saja paling jelas terlihat karena mereka itu orang publik (public figure). Ada yang tidak bisa betah berlama-lama atas jabatan anak buahnya, maka sering melakukan mutasi. Jika rongehnya seperti ini, telitilah, ada apa di balik mutasi-mutasi itu, jangan-jangan ada apa-apa.

Jika rongeh itu ditunjukkan lewat suka membuat kebijakan atau aturan baru, apalagi aturan yang terkesan mengada-ada; pastilah sedang ada sesuatu terjadi pada dirinya.

Baca juga Wong-Wong Blangkemen

Tidak kurang pejabat rongeh lewat mempersoalkan fasilitas jabatan, mulai dari soal pilihan warna sampai merk misalnya; atau minta semua perabotan lama di ruang kerjanya diganti baru. Ke-rongeh-an semacam itu sudah jelas menggambarkan ada sesuatu di balik rongeh-nya itu.

Apakah mereka yang sudah pensiun terbebas dari sikap rongeh?  Konon ada adagium: “Semakin tua seseorang, semakin sulit atau menyulitkanlah dia.” Apa itu artinya? Yah……. pasti sangat terkait dengan rongeh tadi, dan dari sanalah bait nyanyian ini nyaring: “Angel temen tuturanmu; angel temen, tuturanmu……..”

Seorang ahli mistik di usia tuanya seolah menyesali masa mudanya. Ia berkata, seandainya  doaku sejak muda dulu seperti yang saya doakan saat ini; pastilah saya tidak merasakan sia-sia.  “Doaku sewaktu muda: Tuhan, mohon berkatMu, saya mengubah dunia dengan segala isinya.” Sampai dengan usiaku separuh-baya, tidak satu pun yang berhasil saya ubah.

Lalu, saya mengganti doaku di usia paruh-baya: “Tuhan, saya harus berhasil mengubah istriku, anak-anakku, dan tetanggaku; mohon berkatMu.” Sampai usia tuaku, tidak juga ada yang berhasil saya ubah, meski itu anakku. “Sekarang doa kakek apa?” tanya muridnya. “Doaku sekarang dan yang membuatku sangat tenang-nyaman, ora rongeh, tidak merasa sia-sia:   Tuhan, ajarkan aku mengubah diriku sedikit demi sedikit.”

Jebul, orang berdoa pun sangat mungkin rongeh.

Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan  budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng