MELIHAT foto atau tayangan video ribuan kayu glondongan di berbagai sudut tempat akibat banjir dan longsor di Sumatera, pasti tidak seorang pun tidak komentar. Ada komentar bernada misuh: Edan tenan. Bahkan pasti ada yang lebih kasar lagi: Dasar asu. Pun komentar miris: Ngerinya rusaknya hutan negriku. Dan pasti ada juga semacam paduan suara bergema: Aduhhhhhh…….!!!!
Intinya berbagai komentar, sumpah serapah, gumaman, bahkan nyinyiran pasti muncul melihat fakta seperti itu. Akan tetapi, pasti tidak kurang wong-wong blangkemen, speakless seraya hanya geleng-geleng kepala atau bahkan kamitenggengen.
Tahu kan kamitenggengen? Matanya melihat terus namun nanar, bibir mulutnya mungkin komat-kamit, seluruh tubuhnya diam sejuta bahasa.
Bencana Sumatra baru-baru ini memang luarbiasa membikin kamitenggengen. Kerusakan alam lingkungan dapat dilihat antara lain dari ribuan glondongan kayu. Kerusakan tempat tinggal penduduk di mana-mana.
Blangkemen
Belum lagi kerusakan fasilitas umum, sarana prasarana lainnya. Dan jangan lupa, jumlah korban manusia: meninggal, hilang, luka, mengungsi, dsb. Benar-benar membikin blangkemen.
Bacalah blangkemen seperti Anda sedang berkata-kata: Aku dhemen banget masakan pedas; Aku seneng banget. Seperti sudah disebutkan, blangkemen itu semakna dengan speakless; namun kamus Jawa lebih khas lagi menerangkannya.
Blangkemen itu artinya kumudu arep guneman, ananging ora bisa ngucap. Mulut ini ingin mengucapkan sesuatu, namun tidak keluar sepatah kata pun. Ada dorongan hati dan pikir untuk berucap sesuatu atau bahkan banyak kata; namun mulut tidak (mampu?) mengeluarkannya. Tentu ada pertanyaan: Mengapa begitu?
Wong-wong blangkemen, orang, tiba-tiba menjadi tidak mampu berkata-kata, karena, pertama, kaget atau jengkel banget. Sapa wonge ora blangkemen, siapa pun pasti tidak mampu berkata-kata, melihat kayu-kayu glondongan itu bertumpuk dan berserakan. Jelas tampak potongan-potongan itu terjadi karena dipotong atau digergaji. Ada peran manusia dan mesin, bukan? Itu berarti dilakukan secara sengaja, bukan? Itu berarti ratusan bahkan mungkin ribuan pohon yang ditebangnya, bukan? Blangkemen.
Kedua, wong blangkemen karena ora ngira, tidak menyangka bahwa akan terjadi, atau akan ketahuan. Orang se kabupaten blangkemen ketika mendengar berita: Pak Bupati kena OTT. Ora ngira, kan baru saja memimpin apel pagi? Intinya, suatu kejadian yang tidak pernah diperhitungkan atau diduga, kok tiba-tiba terjadi, nah ……kabeh blangkemen.
Ketiga, orang tiba-tiba tidak kuasa berkata-kata, blangkemen, karena perkiraan atau perhitungannya meleset jauh. Tidak sesuai skenario, bikin melongo. Mau contoh? Banyaklah. Melongo karena sukses besar, atau melongo karena gagal total. Baik ketika berhadapan dengan fakta sukses atau fakta gagal seperti itulah, blangkemen, mlongo dan gumun, heran.
Pejabat blangkemen?
Sebagai pejabat (pemerintahan), wajarlah jika ada beberapa orang yang benar-benar nampak blangkemen menghadapi fakta bencana Sumatra. Ada juga yang maunya total lahir-batin, namun ungkapannya justru “senjata makan tuan.” Ini membikin ada makna blangkemen versi lain.
Adakah blangkemen versi lain itu? Ada, dan ini makna keempatnya, yakni orang menjadi tidak mampu berkata-kata lagi karena kena skak. Ada yang bilang, berpolitik itu layaknya bermain catur, terutama bagaimana sedapat mungkin mematikan langkah-langkah lawan lewat strateginya.
Namun, jangan dikira lawan nirstrategi. Maka, terjadilah saling adu strategi. Salah strategi, sebutlah salah berkata-kata saja, Anda justru akan kena skak. Matikah/kalahkah? Belum tentu, tetapi paling tidak bikin blangkemen. Asyikkkk memang.
Seorang peternak sapi sangat rajin ikut kebaktian pagi di gerejanya. Pagi itu hujan lebat, dan hanya dia sendiri hadir. Pemimpin ibadat mendekati peternak itu dan berkata: “Kita berdua akan tetap beribadat, atau pagi ini batal?”
Peternak itu menjawab: “Saya ini hanya peternak, namun pada saatnya memberi makan, saya pasti memberinya meski hujan deras pun.” Pemimpin ibadat itu agak jengkel, lalu segera pergi ke mimbar memimpin ibadat. Sangat lama ia memimpinnya, tidak seperti biasa.
Selesai ibadat, ia menghampiri peternak itu, berkata: “Puas kan, Pak?” Peternak itu sambil bersiap pulang, memberi jawaban: “Saya ini hanya peternak saja, selalu memberi makan sapi-sapiku secukupnya. Karena jika berlebihan, sisanya akan terinjak-injak saja.” Lalu pamit.
Pemimpin ibadat itu blangkemen, kaget, ora ngira, kena skak-mat; Gusti nyuwun kawelasan!
Belajar dari cara berfikir peternak itu jauh lebih menarik dan berhasil baik, ternyata. Ora usah macem-macemlah, tiwas blangkemen.
Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng













