blank
Ilustrasi. Reka: Wied

blankJC Tukiman Tarunasayoga

POLITIK praktis itu, -sekedar mengamati saja- , ternyata termasuk seni peran, yakni bagaimana orang (politisi dan parpolnya) harus pandai-pandai berperan. Seni, kata orang, dan memang sangat mungkin membikin banyak orang senewen manakala orang itu belum katam berkiprahnya.

Ada saatnya mereka itu (para aktor) bermain rebut dhisik, yakni banter-banteran ngarah dhisiki; beradu kencang supaya dapat mendahului lawannya. Bareng mlayu tenan, ehhhhhh jebul lawan gliyak-gliyak  bae; ternyata tidak ada satu lawan pun yang ikut berlari. Apa jadinya? “Nun di sana” dia nunggu kalau-kalau ada lawan yang tergoda ikut berlari. Itulah rebut dhisik.

Tembung atau kata rebut memiliki  dua makna, yakni jupuk kanthi peksa, mengambil (barang orang lain atau kesempatan) dengan cara memaksa; dan arti kedua ialah unggul-unggulan, golek unggul. Contoh parpol yang mlayu dhisik tadi, menggambarkan dengan sangat jelas bahwa ia bermain unggul-unggulan atau golek unggul.

Bahwa jebule tidak ada lawannya, maksudnya parpol lain jalan lambat-lambat saja (dalam hal pencapresan, misalnya),  itu namanya resikone wong kesusu.  Memang embuh mlayu dhisiki, embuh mlaku alon-alon, masing-masing  ada risikonya. Tanggungen dhewe, silahkan ditanggung sendiri risiko itu.

Kata rebut ini dalam percakapan sehari-hari  lalu berpasangan dengan kata lain, dan sekurang-kurangnya terbentuk  delapan pasangan seperti rebut dhisik tadi. Ada juga rebut cukup, rebut unggul; dan untuk yang mlayu dhisiki tadi ada ungkapan khasnya, yakni rebut dhucung.

Mau contoh lain? Ada, yaitu rebut urip, maksudnya padha ngungsi murih bisa urip; berebut memeroleh kehidupan (layak?) dengan cara mengungsi. Ketika terjadi bencana misalnya; atau pergi transmigrasi ke tempat lain karena ada peluang untuk berjuang memeroleh kehidupan lebih layak.

Baca juga Mardika kang Mardikani amrih Mardikengrat

Gejala umum yang sangat sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita ialah rebut bener, yakni orang padha pepadon golek menang, bertengkar untuk merasa benar atau pun untuk menang. Akankah  proses pemilu kita saat ini kearah rebut bener ini? Seyogianya jangan!!

Rebut Keri

Bacalah keri seperti Anda mengucapkan happy atau merry; dan maksud rebut keri ini berlawanan dengan rebut dhisik seperti telah disebut di atas. Mari lihat proses pilpres saat ini. Sosok yang telah dicapreskan, -mungkin nanti masih akan ada yang menyusul- , kurang lebih sudah ada; namun sosok siapa akan dicawapreskan dengan siapa.

Nah ……………… semua parpol sedang “gencatan senjata” rebut keri. Istilah yang sering terdengar ialah masih saling intip, saling nguping, termasuk saling manas-manasi dengan cara ada yang minta agar cawapresnya segera dipilih/diumumkan; ada yang menyebut nama sekedar sebagai jajak-jajak ombak. Seni pokoknya, namun sing ora kuwat akan senewen bahkan stres.

Rebut keri maksudnya ingin menjadi “yang terakhir” dalam konteks menyebutkan nama cawapresnya. Pertanyaannya: Mengapa ada yang rebut dhucung dan rebut dhisik, tetapi akhirnya juga mau menempuh rebut keri? Lagi-lagi inilah seninya, -untuk tidak mengatakan: Piye to iki-?

Rebut keri ditempuh konon karena ada beberapa alasan, katanya (1) cawapres diumumkan the last minutes untuk “ngunci” lawan berhubung saatnya memang benar-benar terakhir. Alasan (2) menghindari cawapres itu “dikuliti” atau di-bully karena waktunya memang sudah tidak memungkinkan lagi.

Baca juga Eling Ancasmu

Dengan kata lain, agar percawapresannya lancar, aman, dan tidak menghabiskan energi karena berkurangnya kesempatan untuk di-bully. Sedangkan alasan (3) sebagai kejutan politis, baik bagi masyarakat calon pemilih maupun bagi parpol atau koalisi pesaing.

Kapan the last minutes atau rebut keri itu harus terjadi paling tepat? Masing-masing pihak memiliki perhitungan sendiri, namun jadwal menyebutkan bahwa ada 38 hari (19 Oktber 23 – 25 November 23) dialokasikan sebagai tenggang waktu untuk pendaftaran dan penetapan capres/cawapres. Jadi, kapan Lurrrrr?  Silahkan saja ditebak-tebak.

Ajaran moral Jawa memang mengatakan: Banter-banter ngoyak apa, rindhik-rindhik ngenteni sapa. Artinya, mengajarkan cara berkeputusan dan bertindak penuh kehati-hatian dan perhitungan: Grusa-grusu bakal kliru; sareh bakal oleh. Nah, …………  dia atau mereka yang serba tergesa akan kecewa, sebaliknya bagi dia atau mereka yang penyabar, bakal mengakar.

Ujian mental, Lurrrrr!!

JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Soegijapranata Catholic University