BANDUNG – SUARABARU.ID : Kerap disebut Paris Van Java merupakan kota yang terletak di Provinsi Jawa Barat. Kali ini Saya akan menjelajahi Jalan Braga yang berada di Kota Bandung. Braga merupakan tempat ikonik yang ada di Kota Bandung, yang katanya gak afdol kalau ke Bandung tetapi tidak ke Braga. Cerita ini dimulai, pada awal tahun 2024 lalu, ketika Saya dan Ibu Saya mengunjungi sepupu saya, yang tinggal di Ujung Berung. Kami melakukan perjalanan dari Tangerang pada Jumat pagi dengan menggunakan bus. Tiket bus dihargai sebesar 90 ribu perorang.
Kami sampai di Bandung saat bulan menampakan dirinya, pada pukul 9 malam. Setibanya kami di Bandung, kami disambut dengan hujan deras. Dari tempat pemberhentian bus terakhir, kami memilih menggunakan gocar menuju rumah bibi saya. Perjalanan menuju rumah bibi saya memakan waktu 45 menit karena macet di beberapa titik Kota Bandung.
Keesokan harinya, pada siang hari, saya, ibu saya, sepupu saya dan bibi saya memutuskan untuk membeli beberapa pakaian di Pasar Gede Bage. Kami ke Pasar Gede Bage menggunakan satu motor dengan sistem antar jemput. Di Pasar Gede Bage, saya membeli tiga kemeja untuk dipakai saat kuliah. Lanjut kami makan siang di Pasar Gede Bage. Kami memesan dua porsi bakso dan dua porsi sate padang. Hari mulai petang, kami mengakhiri kegiatan belanja tersebut dan pulang ke rumah.
Perjalanan dilanjut seusai waktu magrib dengan destinasi selanjutnya, yaitu Braga. Namun pada perjalanan kali ini saya hanya bersama sepupu saya. Jarak rumah sepupu dengan Braga ditempuh dalam waktu 40 menit. Kala itu, cuaca sedang hujan. Saya dan sepupu saya menerobos jalanan bandung dengan motor, serta menggunakan jas hujan. Setibanya saya di Jalan Braga, keadaan masih sedikit gerimis. Walau cuacanya sedikit gerimis, tak menghentikan suasana ramai di Braga. Orang-orang berlalu-lalang mencari apa yang mereka inginkan. Sama halnya dengan saya.
Dengan sapaan rintik hujan, saya menelusuri Jalan Braga yang sangat padat oleh wisatawan. Hal pertama yang saya lakukan adalah melakukan selfphoto studio bersama sepupu saya yang berada di dalam Braga City Walk. Selfphoto studio tersebut merogoh kocek sebesar 40 ribu. Mereka menyediakan berbagai macam aksesoris untuk sesi foto. Persesinya mendapatkan waktu selama 8 menit bebas foto
dengan hasil dua foto cetak dan seluruh soft copy hasil dari sesi foto.
“Mut foto studio yuk” ajak sepupu saya
“Dimana ay? Mahal nggak ay?” tanya saya
“Di Itoya, ada di dalem Braga City Walk. Nggak sih satu orangnya Cuma
20 ribu” jawab sepupu saya
“Yaudah boleh deh”
Puas mengabadikan momen, saya kembali menyusuri Jalan Braga. Saya
memutuskan untuk mencicipi dessert viral yang tengah ramai diperbincangkan di media sosial, yaitu Tiramisusu Snow Mountain Cimory. Tiramisusu Snow Mountain Cimory dibanderol dengan harga 48 rb rupiah. Untuk mendapatkannya,
saya harus mengantre selama 30 menit.
Setelah pesanan disajikan, saya menuju lantai dua yang telah disediakan untuk mencicipi makanan tersebut. Tiramisusu Snow Mountain adalah kue dengan rasa kopi yang diatasnya dipadukan oleh es krim dan ditaburkan dengan milk crumbles. Menurut saya, rasanya enak, kombinasi pahit dari kue kopi dengan manisnya es krim dan milk crumbles sangat pas, akan tetapi jika dikonsumsi secara berlebihan akan membuat saya merasa mual.
Tak hanya menjual dessert tersebut, Cimory juga menjual berbagai macam oleh oleh khas cimory. Mereka juga menjual berbagai macam makanan, yaitu tiramisusu, moo-moo roll, pie crispy brownie, krispiii, mini cho-o-bar, dan lain
sebagainya dengan harga yang bervariasi. Makanan tersebut hanya tersedia di Chocomory by cimory yang berada di cabang Bandung. Banyaknya pilihan yang ada, membuat saya bingung ingin membeli yang mana. Setelah perang batin, saya memutuskan untuk membeli dua pack pie susu dengan rasa coklat dan stroberi sebagai buah tangan.
Kembali menyusuri Jalan Braga, saya tertarik dengan Mumuso, toko ritel
serba ada, seperti Miniso dan Oh Some! Seperti perempuan pada umumnya, saya tergiur untuk melihat-lihat koleksi yang ditawarkan oleh Mumuso. Saya tergoda oleh suatu barang, namun karena uangnya habis duluan, saya hanya clbk (Cuma liat beli kaga) dan berujung foto-foto di kaca cembung yang tersedia. Sering terjadi, siklus umum perempuan kalo di tempat lucu, pas sampai di rumah check out shopee.
Keluar dari Mumuso, semakin larut Braga malah semakin ramai. Mungkin
karena faktor malam minggu juga, Braga sangat ramai oleh wisatawan luar kota. Terbukti dari plat kendaraan B yang memadati Braga malam itu. Umumnya warga plat B ke Bandung untuk menikmati suasana sejuknya dan kuliner yang ditawarkan. Jika diperhatikan, ketika kita berjalan di Braga, maka Braga menawarkan berbagai macam kulinernya, dari makanan berat, dessert, hingga minuman. Umumnya di Braga banyak caffe untuk tempat santai.
Suasana Braga saat malam sehabis hujan sangat artistik. Terdapat semacam badut horror yang meramaikan Braga pada malam itu. Kami kembali mengabadikan
momen lewat kamera hp saya. Ada beberapa spot yang dapat digunakan untuk foto. Seperti plang jalan braga dan jam braga. Kami bergantian untuk memotret satu sama lain. Kami juga melakukan foto 0,5 sebagai kenangan untuk kami berdua.
Malam semakin larut, kami mengakhiri perjalanan pada pukul 11 malam. Saat itu hujan telah berhenti. Kami melewati jalan Asia-Afrika dan ikon I Love Bandung. Dalam perjalanan menuju rumah, kami merasa lapar. Akhirnya, kami mampir ke gacoan. Kami membeli 3 porsi mi dan 2 udang keju. Sesampainya di rumah kami langsung makan dan tidur.
Penulis : Meutia Zahra (Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media SV IPB University)













