Bagian Porkopim Pemkab Wonogiri, mengabarkan, dalam festival makan bakso gratisan sebanyak 5.000 porsi tersebut, digelar dalam ikut memeriahkan perayaan peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonogiri Ke-285 Tahun 2026. Bersama itu, juga disediakan mie ayam gratis sebanyak 500 porsi.
Festival makan bakso gratis ini dibuka Bupati Wonogiri Setyo Sukarno. Diawali dengan senam sehat massal. Ditandai pula dengan penyerahan bantuan dana pemugaran Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni) dari Palang Merah Indonesia (PMI) dan pemberian bantuan sumur pantek kepada petani.
Menurut Ketua Paguyuban Bakso Wonogiri, Maryato, festival makan bakso gratis massal, ini digelar sebagai momentum penting untuk memperkenalkan bakso Wonogiri, sebagai identitas kuliner daerah yang memiliki potensi mendunia. Bakso Wonogiri, bukan hanya sekedar makanan khas, tapi menjadi bagian dari kekuatan ekonomi kreatif dan pariwisata daerah.
Selain membagikan ribuan porsi bakso gratis, panitia juga melibatkan masyarakat dalam edukasi pembimbingan praktik membuat pentol bakso. Kegiatan ini, menjadi simbol kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat Wonogiri. Yang ini identik dengan tema peringatan Hari Jadi Ke-285 Kabupaten Wonogiri, yang dikemas dalam “Manunggal Sedya.”
Tema tersebut bermakna menyatukan seluruh elemen masyarakat, demi mewujudkan Wonogiri yang maju, sejahtera dan berdaya saing. Utamanya dalam ikut mendorong pengembangan sektor informal dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) serta sektor pariwisata di Kabupaten Wonogiri.
Dinasti Ming
Wartawan Bambang Pur yang pernah dua kali melakukan tugas jurnalistik ke Cina (Tahun 1990 ke Beijing dan Guangxu, kemudian Tahun 2007 ke Naning), memperoleh informasi bahwa bakso memiliki sejarah panjang. Keberadaannya dimulai sejak Dinasti Ming (1368-1644). Ini bermula dari seorang pemuda bernama Meng Bo yang ingin memasakkan daging empuk dan lembut, untuk sang ibu. Ia terinspirasi dari Kue Mochi, camilan yang terbuat dari ketan yang ditumbuk agar halus, sehingga makanan ini terasa lembut.
Meng Bo, menumbuk daging yang alot, untuk membentuk bulatan-bulatan kecil. Kemudian dimasak dengan dilengkapi bumbu rempah-rempah yang membuat rasa lezat, yang kemudian dihidangkan bersama kaldu hangat. Berawal dari daging tumbuk ini, kemudian populer ke seluruh Kota Fuzhou hingga ke seluruh Tiongkok. Makanan ini, secara turun-temurun mewaris dari satu generasi ke generasi bangsa Tiongkok.
Bakso diperkirakan masuk ke Nusantara pada Abad 17, melalui para imigran dari Tiongkok. Nama Bakso, berasal dari kata Bak-So. Yang dalam Bahasa Hokkien, secara harfiah berarti daging yang digiling. Namun, di Nusantara, bahan baku bakso tidak menggunakan daging daging. Tapi memakai daging sapi, kambing, ayam atau kerbau.
Bakso berkembang hingga ke seluruh pelosok Tanah Air, karena rasanya yang nikmat dan cocok dengan lidah masyarakat Nusantara. Akulturasi budaya pun terjadi, hingga terdapat berbagai variasi-variasi resep bakso menyesuaikan lokasi. Kemunculan beragam varian masakan bakso di Indonesia, karena Nusantara sangat kaya akan bumbu-bumbu rempah yang membuat bakso semakin sedap.
Kiranya bukan sesuatu yang berlebihan, bila Wonogiri bertekad menjadikan bakso dapat menjadi kuliner yang mendunia. Sebab, banyak warga Wonogiri yang sukses merantau ke berbagai kota besar di Indonesia dengan berjualan bakso.
Contohnya, Bakso Lapangan Tembak Jakarta yang terkenal dan juga digemari oleh para pejabat, termasuk diantaranya Wakil Presiden Hamengku Buwono (HB) Ke-IX, itu milik Widiyanto asal Desa Sendang Ijo, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Bakso Titoti yang legendaris, itu milik Slamet Riyanto warga asal Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri.(Bambang Pur)













