Ilustrasi.

HIKMAH bisa dipahami sebagai kejadian “tersembunyi” yang dapat menjadi pelajaran baik dikemudian hari. Banyak kejadian yang pada suatu saat dianggap negatif -kesialan, hukuman- dikemudian hari, berbuah kebaikan.

Misalnya, ditahannya Buya Hamka oleh rezim Orde Lama, menyebabkan beliau mampu menulis Tafsir Al-Azhar yang fenomenal. Belakangan diakui, hal itu tidak akan pernah terjadi jika Buya tidak menyendiri  dalam sel tahanan.

Baca juga BPBD Jateng Berharap Semua Desa di Grobogan Tangguh Bencana

Kisah saya menulis buku pun berawal dari “kegagalan” di perantauan. Saat krisis moneter, karena kepepet, dan semua doa saya panjatkan agar dapat pekerjaan baru, namun doa saya tak terkabulkan, hingga akhirnya pilih pulang kampung.

ilustrasi

Nah, saat menganggur di kampung itu ada ide menulis secara freelance di sebuah harian, karena saat itu sedang “demam” tenaga dalam, tulisan itu kemudian menjadi rubrik. Belakangan ketahuan hikmahnya, andaikan dulu doa saya di perantauan dikabulkan untuk tetap kerja di Jakarta, mungkin saat ini belum menulis buku.

Baca juga Kecamatan Pakis-Candimulyo Bakal Terhubung Jembatan Gantung

Dalam kehidupan, selalu ada hikmah di balik kegagalan. Allah Mahatahu mana yang terbaik bagi kita.  Terkadang logika kita itu “mendikte” takdir, padahal Tuhanlah yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Banyak hal yang menurut logika kita baik, namun belum tentu baik dikemudian hari. Maka, andai doa saya dulu dikabulkan, sampai kini belum menulis buku dan memiliki banyak teman.

Hal yang sama dialami teman lain. Dia berkata,”Andaikan dulu saya tidak di-PHK perusahaan, belum tentu hari ini sudah punya perusahaan sendiri. Ada teman saat krismon 1998  diberhentikan dari jabatan manajer. Dia  lalu back to basic sesuai  keilmuannya, sebagai lawyer.

Ada teman setelah pendidikan S2, dia minta saya bantu melobi bisa gabung di perusahaan yang owner-nya sahabat saya. Karena prestasi akademiknya istimewa, oleh presdirnya disetujui apalagi profesi itu diperlukan.

Sayangnya, berkas yang dikirim nyelip, hingga prosesnya tersendat dan saat diminta membuat lamaran ulang, lamaran nyelip lagi. Teman itu kesal. Namun ada keajaiban. Ada perusahaan yang lebih bonafid memanggilnya untuk menempati posisi yang ditinggalkan karyawan lama yang sedang pendidikan keluar negeri.

ilustrasi

Hikmah Dendam

Teman sekolah saya waktu SLTP ikut orang tuanya transmigrasi. Suatu hari dia datang dan mengadu keluarga istrinya memperlakukan dirinya layaknya pembantu. “Mas, saya minta ilmu gendam, biar nanti saya bisa ngeseti (“meginjak, menjadikan keset”) kepala istri saya,” pintanya.

Karena niatnya buruk, saya mengarahkan berdoa yang lain. Saya beri dia doa Nabi Nuh AS saat terombang-ambing di atas perahu dan tidak tahu ke mana perahu itu akan mendarat. Doa itu lalu diamalkan. Namun yang terjadi, keluarga istrinya malah semakin galak, hingga berujung perceraian. Dia lalu protes melalui handphone, “Walah… ngelmu  sampeyan tidak manjur.”

Lain hari dia datang lagi. Kebetulan kedatangannya itu bersamaan pembaca buku, wanita, yang walau telat usianya lebih tua sedikit, namun lebih mapan. Singkatnya, saya jadi mak comblang, dan berlanjut ke pernikahan.

Saat saya hadir dalam syukuran kelahiran anak pertamanya, saya bisiki, “Coba kalau dulu kamu pakai gendam, mungkin kamu bisa memengaruhi mertuamu, tetapi kerjamu masih menyangkul. Sekarang kamu lebih bersih, kerja dimodali, hidup bahagia dan sejahtera.”

Karena itu, ketika ikhtiar dan doa sudah maksimal dan belum atau tidak dikabulkan, yakini itu bentuk kasih sayang-Nya. Karena karakter dari doa itu beragam. Ada yang dikabulkan seketika, ada yang ditunda sesaat, ada yang tidak dikabulkan, tetapi diganti bentuk pemberian yang lebih baik.

Meyakini hikmah atau kebaikan tersembunyi di balik suatu peristiwa, yang pahit sekalipun, adalah “hiburan” terbesar bagi manusia, karena itu bagian dari berbaik sangka kepada-Nya.

Diusir Mertua

Tentang “hikmah dibalik musibah” teman saya, saat masih calon menantu sangat disayang calon mertua. Namun setelah menikah dan tinggal di rumah mertua, baru dua bulan, mertuanya sudah mulai mengungkit pemberian hingga suasana harmonis pun berubah.

Dia lalu amalkan doa “Rabbi anzilnii munzalam-mubarokaw-wa anta khoirum munzilin”.  (Ya Tuhanku! Tempatkanlah aku pada tempat berlabuh yang diberkati. Dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat’. (Q.S Al-Mukminun : 29).

Anehnya, semakin kuat doa itu diamalkan, mertuanya malah semakin “galak”. Hingga akhirnya dia nekat membeli (dengan cara mengangsur) rumah kecil yang sekaligus untuk usaha. Dan belakangan dia bersyukur. “Andaikan saya terus disayang mertua, mungkin saat ini belum punya rumah,” katanya.

Hikmah bisa dipahami sebagai “falsafah untung” dan orang Jawa dikenal paling bisa menghibur diri dengan filosofi ini, karena apapun yang terjadi diterima dengan baik sangka dan menghibur diri.

Misalnya, saat rumah dibobol maling, masih bersyukur tidak jadi korban kekerasan. Bahkan saat ada berita duka, kerabat meninggal dalam kecelakaan di luar kota, mereka masih menghibur diri, “Untung bawa KTP, andai tidak…?”

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati

-->