blank
Ini suasana mudik tahun 1990-an. Ketidakteraturan sangat terasa, dan calo gentayangan di mana-mana. Foto: Dok: Goodnews

blankRITUS mudik Lebaran baru saja lewat. Masih ada juga yang belum kembali ke tempat merantau, yang kepulangan secara massalnya disebut “arus balik”. Ini cerita tentang mudik, bukan mudik masa sekarang, tetapi mudik zaman dulu.

Tahun 1081, ,enjelang Idul Fitri, bersama teman satu kampung, saya mudik dari terminal Pulo Gadung. Sebelum beli tiket, kami ke musala. Setelah salat, teman satu perjalanan saya, berbisik, tadi saat wudhu dia melihat ada bapak sepuh plastik berisi uang jatuh lalu diambil tukang semir.

Spontan, saya menggeledah kotak semir, dan segebok uang dalam plastik saya temukan lalu saya serahkan petugas informasi. Setelah beberapa kali diumumkan, menyusul panggilan agar  yang menemukan uang itu ke ruang informasi.

Saya lalu dipertemukan dengan Bapak sepuh pedagang kopiah asal Pekalongan. Saking bersyukurnya uang yang hilang ada yang menemukan, Bapak itu menangis haru karena uang hasil jualan tiga bulan akhirnya kembali.

Trah Ribut

Setelah urusan selesai, kami naik bus Jakarta – Semarang. Walau sudah tertera tarif resmi, masih tetap saja ada yang tidak beres. Penarikan tiket dilakukan saat bus sudah berjalan dan dilakukan para calo.

Harga tiket dinaikan dua kali lipat. Cara menarik tiketnya, bus berhenti di pinggir jalan sepi dekat lokasi sawah. Saya protes dengan keyakinan penumpang lain mendukung saya. Ternyata, dugaan saya meleset, penumpang lain hanya menonton.

Karena saya tetap ngeyel, oleh kawanan calo saya diajak ke tengah sawah, sekitar 40 meter dari jalan raya. Mereka mengajak saya kompromi,  jika saya mau diam, dapat tiket gratis. Karena permintaan itu saya tolak, bus lalu putar balik ke Pulo Gadung, dan penumpang pun telantar.

Dalam kondisi kalut saya menuruti kata hati, berjalan ke arah timur dan pada jarak 150 meter saya ketemu peronda malam. Saya lalu bertanya apakah dekat lokasi itu ada warga yang Polisi?

Saya lalu diantar ke rumah anggota polisi. Saat ketemu, saya jelaskan kronologinya. Pak Polisi lalu berkomunikasi dengan walkie talkie, dan satu jam kemudian datang bus pengganti dan kami bisa meneruskan perjalanan sampai Kudus.

Pemalang, Semarang

Mudik tahun berikutnya, kena masalah lagi. Saya naik bus dari terminal yang sama. Oleh calo yang mencari penumpang disebut jurusan Semarang, namun bus berhenti di Pemalang. Saya dan sebagian penumpang protes.

Dan awak bus bersikukuh yang dia katakan di Pulogadung itu Pemalang, bukan Semarang. Merasa dipermainkan, saya ada ide.  Saya ambil kamera dari tas,  lalu bus, sopir, nomor polisi bus, kernet dan penumpang yang telantar saya foto.

Awak bus dan calo saya intimidasi,  jika bus tidak sampai Semarang, akan saya tulis di koran, -maksud saya di surat pembaca- dan mereka ketakutan, mungkin saya dikira wartawan. Yang bikin saya tertawa itu, kamera yang saya buat action itu kosong, filmnya sudah habis.

Andaikan boleh memilih, rasanya lebih nyaman jika kemana pun pergi  ketemu dengan suasana yang nyaman dan damai. Namun pada lebaran tahun berikutnya, masih juga ketemu masalah yang serupa.

Tabungan Amal Baik

Setelah pulang kampung dan alih profesi sebagai penulis, saat mewawancari kiai yang ahli hikmah,  dan saya kisahkan masa lalu saya yang sering kali ketemu masalah. Beliau menghibur saya, “Ujian manusia disesuaikan keilmuannya”.

“Karena yang Anda geluti itu berkaitan kanuragan, maka Tuhan juga sering  mempertemukan yang berkaitan dengan adu power. Dan itu alamiah, namun hakikatnya Tuhan sedang mengisi tabungan energi kepada Anda.”

Ahli hikmah yang juga penulis itu pernah berkisah tentang pemuda Ashabul Kahfi yang terjebak dalam gua. Mereka berdoa bergantian dengan menyebut amal baiknya agar datang pertolongan-Nya.

Beliau menyarankan saya agar  kisah-kisah dramatik pada masa lalu itu bisa dimanfaatkan sebagai wasilah pada saat ada keruwetan atau bahaya, dan insya Allah nanti bisa datang pertolongan dari-Nya.

Dilihat dari sisi lain, manusia tidak jauh dari apa yang sering dipikirkan, diucapan dan apa yang dilakukan. Bisa jadi, orang yang  dalam kesehariannya akrab dengan beladiri, “ajian” atau mantra, maka kehidupannya juga memberi ruang untuk mempraktikkan apa yang diucapkan.

Karena pikiran, tubuh dan jiwa adalah satu kesatuan, maka sebelum mengamalkan sesuatu, yang berkaitan dengan metafisik, perlu pertimbangkan dulu apakah kita sudah siap dengan “bonus” dan menu lain yang menyertainya.

Ketika saya sudah pulang kampung, sesekali saya mendatangi acara di Jakarta yang berkaitan  dengan pelatihan metafisika, juga buku-buku yang saya tulis. Jika dulu saya masuk terminal Pulo Gadung perlu tengok kiri – kanan, sehingga belakangan lebih nyaman.

Bersambung