<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>unika Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/unika/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 25 Nov 2024 23:57:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>unika Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Peringatan 25 Tahun Meninggalnya Romo Mangun, Rektor SCU: Kini Kita Sulit Dapat ‘Role Model’</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/11/25/peringatan-25-tahun-meninggalnya-romo-mangun-rektor-scu-kini-kita-sulit-dapat-role-model</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Nov 2024 12:27:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Semarang Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Burung-Burung Manyar]]></category>
		<category><![CDATA[Romo Mangun]]></category>
		<category><![CDATA[SCU]]></category>
		<category><![CDATA[Soegijapranata Catholic University]]></category>
		<category><![CDATA[unika]]></category>
		<category><![CDATA[Wastu Citra]]></category>
		<category><![CDATA[YB Mangunwijaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=448654</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG (SUARABARU.ID) – Soegijapranata Catholic University (SCU) atau yang dulu dikenal sebagai Unika Soegijapranata menggelar acara peringatan 25 tahun meninggalnya Romo Y.B. Mangunwijaya di Ruang Teater Gedung Thomas Aquinas, kampus Bendan Duwur Semarang, Senin 25 November 2024. Pengingatan 25 tahun meninggalnya Rom Mangunwijaya ini digelar dalam bentuk seminar yang menghadirkan seminar dengan tiga topik yaitu [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/11/25/peringatan-25-tahun-meninggalnya-romo-mangun-rektor-scu-kini-kita-sulit-dapat-role-model">Peringatan 25 Tahun Meninggalnya Romo Mangun, Rektor SCU: Kini Kita Sulit Dapat ‘Role Model’</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG (SUARABARU.ID) – </strong>Soegijapranata Catholic University (SCU) atau yang dulu dikenal sebagai Unika Soegijapranata menggelar acara peringatan 25 tahun meninggalnya Romo Y.B. Mangunwijaya di Ruang Teater Gedung Thomas Aquinas, kampus Bendan Duwur Semarang, Senin 25 November 2024.</p>
<p>Pengingatan 25 tahun meninggalnya Rom Mangunwijaya ini digelar dalam bentuk seminar yang menghadirkan seminar dengan tiga topik yaitu kemanusiaan, arsitektur, dan pendidikan.</p>
<p>Ronmo Mangun Wijaya adalah sastrawan dengan karya monumental novel <em>Burung-Burung Manyar, </em>Trilogi <em>Genduk Duku, Lusi Lindri, Roro Mendut, Ikan-Ikan Hidu, Ido, Homa, </em><em>Burung Rantau, Romo Rahadi, Durga Umayi, dll.</em></p>
<p>Juga karya arsitektur di berbagai gereja, bangunan Makodam IV/Diponegor di Watugong, kompleks Gua Maria Sendangsono, serta buku tentang arsitektur <em>Wastu Citra.</em></p>
<p>Narasumber dengan topik pendidikan budayawan Mohammad Sobary yang hadir secara daring, topik arsitektur Dr Robert Rianto Widjaja Dekan Fakultas Arsitektur dan Desain SCU, dan topik pendidikan Romo Carolus Borromeus Mulyatno pengelola Sekolah Eksperimental Mangunan.</p>
<p>Juga menghadirkan tiga penanggap, yaitu Bahrudin kata Ahmad Bahruddin, Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Qaryah Thayyibah, dari Polteka Mangunwijaya Semarang, dan arsitek alumnus SCU.<br />
<strong>Role Model</strong></p>
<p>Rektor SCU Dr Ferdinandus Hindiarto dalam sambutannya mengatakan, saat ini kita sulit mencari <em>role model </em>untuk anak-anak muda milenial dan gen-Z. “<em>Role model </em>yang paling gampang adalah <em>behavior modelling. </em>Meniru sosok yang pantas ditiru. Tetapi sosok itu sulit dicari sekarang,” kata Dr Ferdi.</p>
<figure id="attachment_448656" aria-describedby="caption-attachment-448656" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img class="size-full wp-image-448656" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/REKTUR-SCU.jpg" alt="" width="681" height="454" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/REKTUR-SCU.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/REKTUR-SCU-400x267.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/REKTUR-SCU-150x100.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-448656" class="wp-caption-text">Rektor SCU Dr Ferdinandus Hindiarto memberikan sambutan dalam peringatan 25 tahun meninggalnya Romo Mangun. Foto: R. Widiyartono</figcaption></figure>
<p>Dia pun menyebut nama serang pesohor yang kini jadi pejabat negara. “Apakah sosok seperti dia yang harus menjadi <em>role model? </em>Atau sosok seperti … (menyebut nama yang kini jadi menteri) untuk menjadi <em>role model?</em>” ujar penggemar olahraga badminton ini.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/11/25/peringatan-25-tahun-meninggalnya-romo-mangun-rektor-scu-kini-kita-sulit-dapat-role-model">Peringatan 25 Tahun Meninggalnya Romo Mangun, Rektor SCU: Kini Kita Sulit Dapat ‘Role Model’</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BEM USM Gelar Seminar Legal Training 3.0</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/05/24/bem-usm-gelar-seminar-legal-training-3-0</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 May 2024 11:53:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Semarang Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Suara USM]]></category>
		<category><![CDATA[Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Hukum (FH)]]></category>
		<category><![CDATA[Legal Training 3.0]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[UIN walisongo]]></category>
		<category><![CDATA[Undaris]]></category>
		<category><![CDATA[unika]]></category>
		<category><![CDATA[Unisbank]]></category>
		<category><![CDATA[Unissula]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Semarang (USM)]]></category>
		<category><![CDATA[Untag]]></category>
		<category><![CDATA[Unwanas]]></category>
		<category><![CDATA[Upgris]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=415941</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG (SUARABARU.ID)– Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum (FH) Universitas Semarang (USM), belum lama ini menyelenggarakan Seminar Legal Training 3.0 (LT) 2024, dengan mengusung tema &#8216;Alternatif Penyelesaian Sengketa dalam Proses Mediasi serta Pembuatan Akta Perdamaian&#8217;, di Gedung V Lantai 6 USM. Kegiatan ini diikuti 150 peserta, yang merupakan mahasiswa FH dari berbagai kampus, seperti Unissula, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/05/24/bem-usm-gelar-seminar-legal-training-3-0">BEM USM Gelar Seminar Legal Training 3.0</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG (<a href="http://SUARABARU.ID">SUARABARU.ID</a>)</strong>– Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum (FH) Universitas Semarang (USM), belum lama ini menyelenggarakan Seminar Legal Training 3.0 (LT) 2024, dengan mengusung tema &#8216;Alternatif Penyelesaian Sengketa dalam Proses Mediasi serta Pembuatan Akta Perdamaian&#8217;, di Gedung V Lantai 6 USM.</p>
<p>Kegiatan ini diikuti 150 peserta, yang merupakan mahasiswa FH dari berbagai kampus, seperti Unissula, Untag, Unika, Unwanas, Undaris, Upgris, Unisbank, dan UIN Walisongo. Ketua Panitia, Dimas Satya Ramadhika mengatakan, legal training merupakan salah satu kegiatan yang dibutuhkan mahasiswa FH.</p>
<p>Dekan FH USM Dr Amri Panahatan Sihotang SS SH MHum mengatakan, kegiatan ini bermanfaat bagi mahasiswa FH, khususnya berkaitan dengan penyelesaian sengketa dalam proses mediasi dalam pembuatan akta perdamaian.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2024/05/24/komunitas-belajar-cerdik-sdn-1-guyangan-kuatkan-keterampilan-public-speaking">Komunitas Belajar Cerdik SDN 1 Guyangan Kuatkan Keterampilan Public Speaking</a></strong></p>
<p>&#8221;Legal Training ditujukan untuk menjembatani kesenjangan, antara pendidikan hukum normatif dan kebutuhan pengetahuan akan praktik hukum secara riil. Dengan demikian, kegiatan pelatihan ini menyediakan perpaduan materi antara teori, hukum positif dan praktik,&#8221; katanya.</p>
<p>Pemateri lain, Dr Supriyadi SH MKn menambahkan, peran mediasi dalam penyelesaian sengketa keperdataan sangat penting. Karena membantu pihak yang bersengketa untuk mencapai kesepakatan secara damai, dan menghindari proses peradilan yang panjang dan mahal.</p>
<p>&#8221;Mediator bertindak sebagai pihak netral, yang membantu memasilitasi komunikasi antara kedua belah pihak, dan membantu mereka menemukan solusi yang saling memuaskan. Ini mempromosikan kerja sama, mempercepat penyelesaian, dan mengurangi beban sistem peradilan,&#8221; ujarnya.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2024/05/24/kasus-perempuan-dibunuh-di-tegowanu-grobogan-polisi-ungkap-motif-tersangka">Kasus Perempuan Dibunuh di Tegowanu Grobogan, Polisi Ungkap Motif Tersangka</a></strong></p>
<p>Sementara itu, Advokat Sutrisno SH MH menyatakan, mengidentifikasi sengketa adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk mencari, menemukan, meneliti, mencatat data dan informasi, guna merumuskan masalah, cara pemecahan masalah, dan menemukan konklusi hukumnya, serta solusi hukumnya dari suatu sengketa hukum yang terjadi.</p>
<p>Sedangkan Hakim PN Semarang Atep Sopandi SH MH menyebutkan, mediasi merupakan salah satu proses penyelesaian sengketa yang lebih cepat dan murah. Selain itu, dapat memberikan akses yang lebih besar kepada para pihak, untuk menemukan penyelesaian yang memuaskan dan memenuhi rasa keadilan.</p>
<p>&#8221;Dasar hukum mediasi, Pasal 24 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,&#8221; ungkapnya.</p>
<p><em><strong>Riyan</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/05/24/bem-usm-gelar-seminar-legal-training-3-0">BEM USM Gelar Seminar Legal Training 3.0</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kalah Cacak, Menang Cacak</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/02/25/kalah-cacak-menang-cacak</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Feb 2024 15:02:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[kalah cacak menang cacak]]></category>
		<category><![CDATA[lingsir]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<category><![CDATA[unika]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=401157</guid>

					<description><![CDATA[<p>JC Tukiman Tarunasayoga HASIL pemilu 14 Februari 2024 lalu, saat ini sudah ada gambaran siapa menang/terpilih dan siapa kalah/tidak terpilih. Memang mungkin nanti akan  ada fase “gugatan” dan akan terjadi kemungkinan yang selama ini disebut kalah akan menjadi menang, atau pun yang selama ini disebut-sebut menang, akan menjadi kalah. Peluang itu ada, meskipun kecil saja [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/02/25/kalah-cacak-menang-cacak">Kalah Cacak, Menang Cacak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JC Tukiman Tarunasayoga<img loading="lazy" class="alignright wp-image-357641 " src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-110x150.jpeg" alt="" width="225" height="307" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-110x150.jpeg 110w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-293x400.jpeg 293w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA.jpeg 492w" sizes="(max-width: 225px) 100vw, 225px" /></strong></p>
<p><strong>HASIL </strong>pemilu 14 Februari 2024 lalu, saat ini sudah ada gambaran siapa menang/terpilih dan siapa kalah/tidak terpilih. Memang mungkin nanti akan  ada fase “gugatan” dan akan terjadi kemungkinan yang selama ini disebut kalah akan menjadi menang, atau pun yang selama ini disebut-sebut menang, akan menjadi kalah.</p>
<p>Peluang itu ada, meskipun kecil saja jumlahnya. Jadi, memang sudah ada gambarannya siapa menang siapa kalah, namun semuanya masih menunggu keputusan final KPU. Itu berarti belum semuanya serba pasti.</p>
<p>Akan tetapi, satu hal yang sangat pasti ialah, ketika para calon itu menyatakan dirinya “maju.”  dalam arti <em>nyalon</em> (mencalonkan diri), semuanya pasti bermodalkan <em>paribasan</em> ini: <strong><em>Kalah cacak, menang cacak. </em></strong>Tentang peribahasa inilah topik bahasan kali ini,  di kala <em>sing menang seneng-seneng, sing kalah mesthi wae susah.<strong>; </strong></em>yaitu di saat mereka yang “menang” pasti merasa senang, dan mereka yang kalah, pastilah susah.</p>
<p><strong><em>Cacak</em></strong></p>
<p>Arti c<em>acak</em> itu ada tiga, yaitu (1) <em>piranti kanggo ngrajang tembako</em>, alat untuk merajang  lembaran daun tembakau sehingga menjadi lembut, (2) <em>coba-coba</em>, <em>jajal-jajal</em>; mencoba dan mencoba; dan (3) <em>caca</em>k juga berarti <em>pancen, mula nyata, </em>maksudnya, ungkapan menegaskan bahwa memang seperti itu keadaannya.</p>
<p>Nah ………peribahasa atau <em>paribasan kalah cacak, menang cacak</em>, terkait dengan arti kedua itu, yakni <em>kabeh apike kudu dicoba dhisik, apik apa elek, pikoleh apa ora; </em>hampir segala hal itu perlu pembuktian lewat dicoba dulu.</p>
<p>Makna terdalam yang terkait pemilu, kalah cacak, menang cacak artinya semua yang mencalonkan diri pasti mengawali dengan <em>coba-coba, begja-bejan, embuh tuna embuh bakal bathi; embuh menang, embuh kalah. </em>Siapa pun dapat dipastikan  bermodalkan untung-untungan, menang untung, kalah buntung.  Pastinya begitu.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2024/02/18/tamat-djum">Tamat, Djum!</a></strong></span></p>
<p><em>Paribasan</em> ini menegaskan dan tentu saja mengajarkan  bahwa tetap saja ada yang tidak atau belum pasti dalam hidup ini. Selalu ada misteri. Dalam hal mencalonkan diri dalam pilpres maupun pileg, bersikap kalah cacak, menang cacak tentulah sikap paling etis karena tidak jemawa, tidak mentang-mentang seraya berujar  “aku pasti menang/terpilih.”</p>
<p>Tetap ada misteri, embuh menang, embuh kalah, dan setelah melewati berbagai proses, tanda-tandanya sekarang semakin jelas, lalu dapat berucap: “Syukur pada Allah, aku terpilih.” Dapat juga sebaliknya: “Aku belum terpilih, <em>matur nuwun Gusti, kula  diparingi pitedah</em>; terima kasih Tuhan   saya diberi pelajaran berharga.</p>
<p><strong><em>Kalahan vs Menangan</em></strong></p>
<p>Kalah bermakna dua, yaitu <em>kasoran</em>, maksudnya <em>dadi asor</em>, menjadi di bawah; dan <em>isih diungkuli liyane</em>, masih ada yang lebih unggul. Dalam konteks arti ini, ada ungkapan <em>kalahan, </em>menggambarkan orang atau pihak yang <em>ajeg kalah terus, utawa tansah kalah; </em>sudah mencalonkan diri beberapa kali, tetapi slalu kalah.</p>
<p>Orang atau partai semacam inilah yang diebut <em>kalahan, tansah kalah </em> Pertanyaannya, bagaimana mungkin sudah sering kalah, kok masih saja mencalonkan diri? Barangkali orang atau partai seperti ini menarik untuk diteliti lebih lanjut dengan pertanyaan utama, misteri apa yang dihayatinya: <em>Kalahan kok ya isih nyalonnnnnn terus</em>?</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2024/02/11/lingsir">Lingsir</a></strong></span></p>
<p>Tentang <em>tembung menang</em>, juga bermakna dua, pertama, bisa ngalahake mungsuh(e), dapat mengalahkan musuhnya; dan arti kedua, <em>luwih unggul tinimbang …….. , </em>orang itu atau partai itu lebih unggul daripada ……….. (calon lain, atau partai lain). Orang semacam itu disebut <em>menangan, </em> <em>tansah  menang mungsuh sapa wae</em>; melawan siapa pun atau partai apa pun, ia selalu menang. Menangan.</p>
<p>Pertanyaannya tentu berbeda dari pertanyaan untuk yang k<em>alahan. </em>Bagi yang <em>menangan</em>, tentu siapa pun bertanya-tanya:  “Resepnya apa sih, kok dapat menang terus?</p>
<p>Selamat untuk semuanya. Bagi yang menang, selamat berjuang dan mengabdi negeri secara nyata dan legal secara yuridis, karena itu hukumnya wajib. Bbagi yang sedang mengalami kekalahan, silahkan menikmati kesedihanmu dulu, tetapi nanti segera move on nggih. Anda tetap punya hak untuk juga mengabdi negeri lewat apa pun. Tetap kita gaungkan lagu Bagimu Negeri.</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Soegijapranata Catholic University</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/02/25/kalah-cacak-menang-cacak">Kalah Cacak, Menang Cacak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rebut Keri</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/08/20/rebut-keri</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Aug 2023 14:39:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Rebut Keri]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<category><![CDATA[unika]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=361140</guid>

					<description><![CDATA[<p>JC Tukiman Tarunasayoga POLITIK praktis itu, -sekedar mengamati saja- , ternyata termasuk seni peran, yakni bagaimana orang (politisi dan parpolnya) harus pandai-pandai berperan. Seni, kata orang, dan memang sangat mungkin membikin banyak orang senewen manakala orang itu belum katam berkiprahnya. Ada saatnya mereka itu (para aktor) bermain rebut dhisik, yakni banter-banteran ngarah dhisiki; beradu kencang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/08/20/rebut-keri">Rebut Keri</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="alignright wp-image-357641 " src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-110x150.jpeg" alt="" width="220" height="300" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-110x150.jpeg 110w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-293x400.jpeg 293w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA.jpeg 492w" sizes="(max-width: 220px) 100vw, 220px" />JC Tukiman Tarunasayoga</strong></span></p>
<p><strong>POLITIK</strong> praktis itu, -sekedar mengamati saja- , ternyata termasuk seni peran, yakni bagaimana orang (politisi dan parpolnya) harus pandai-pandai berperan. Seni, kata orang, dan memang sangat mungkin membikin banyak orang senewen manakala orang itu belum katam berkiprahnya.</p>
<p>Ada saatnya mereka itu (para aktor) bermain rebut dhisik, yakni banter-banteran ngarah dhisiki; beradu kencang supaya dapat mendahului lawannya. Bareng mlayu tenan, ehhhhhh jebul lawan gliyak-gliyak  bae; ternyata tidak ada satu lawan pun yang ikut berlari. Apa jadinya? “Nun di sana” dia nunggu kalau-kalau ada lawan yang tergoda ikut berlari. Itulah rebut dhisik.</p>
<p><em>Tembung</em> atau kata <em>rebut</em> memiliki  dua makna, yakni <em>jupuk kanthi peksa</em>, mengambil (barang orang lain atau kesempatan) dengan cara memaksa; dan arti kedua ialah unggul-unggulan, <em>golek unggul</em>. Contoh parpol yang <em>mlayu dhisik</em> tadi, menggambarkan dengan sangat jelas bahwa ia bermain unggul-unggulan atau <em>golek unggul</em>.</p>
<p>Bahwa <em>jebule</em> tidak ada lawannya, maksudnya parpol lain jalan lambat-lambat saja (dalam hal pencapresan, misalnya),  itu namanya <em>resikone wong kesusu</em>.  Memang <em>embuh mlayu dhisiki, embuh mlaku alon-alon</em>, masing-masing  ada risikonya. <em>Tanggungen dhewe</em>, silahkan ditanggung sendiri risiko itu.</p>
<p>Kata <em>rebut</em> ini dalam percakapan sehari-hari  lalu berpasangan dengan kata lain, dan sekurang-kurangnya terbentuk  delapan pasangan seperti <em>rebut dhisik</em> tadi. Ada juga <em>rebut cukup, rebut unggul</em>; dan untuk yang <em>mlayu dhisiki</em> tadi ada ungkapan khasnya, yakni <em>rebut dhucung</em>.</p>
<p>Mau contoh lain? Ada, yaitu <em>rebut urip</em>, maksudnya <em>padha ngungsi murih bisa urip</em>; berebut memeroleh kehidupan (layak?) dengan cara mengungsi. Ketika terjadi bencana misalnya; atau pergi transmigrasi ke tempat lain karena ada peluang untuk berjuang memeroleh kehidupan lebih layak.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/08/14/mardika-kang-mardikani-amrih-mardikengrat">Mardika kang Mardikani amrih Mardikengrat</a></strong></span></p>
<p>Gejala umum yang sangat sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita ialah rebut bener, yakni orang padha pepadon golek menang, bertengkar untuk merasa benar atau pun untuk menang. Akankah  proses pemilu kita saat ini kearah rebut bener ini? Seyogianya jangan!!</p>
<p><strong>Rebut Keri</strong></p>
<p>Bacalah <em>keri</em> seperti Anda mengucapkan <em>happy</em> atau <em>merry</em>; dan maksud <em>rebut keri</em> ini berlawanan dengan <em>rebut dhisik</em> seperti telah disebut di atas. Mari lihat proses pilpres saat ini. Sosok yang telah dicapreskan, -mungkin nanti masih akan ada yang menyusul- , kurang lebih sudah ada; namun sosok siapa akan dicawapreskan dengan siapa.</p>
<p>Nah ……………… semua parpol sedang “gencatan senjata” <em>rebut keri.</em> Istilah yang sering terdengar ialah masih saling intip, saling nguping, termasuk saling manas-manasi dengan cara ada yang minta agar cawapresnya segera dipilih/diumumkan; ada yang menyebut nama sekedar sebagai jajak-jajak ombak. Seni pokoknya, namun <em>sing ora kuwat</em> akan senewen bahkan stres.</p>
<p><em>Rebut keri</em> maksudnya ingin menjadi “yang terakhir” dalam konteks menyebutkan nama cawapresnya. Pertanyaannya: Mengapa ada yang <em>rebut dhucung</em> dan <em>rebut dhisik</em>, tetapi akhirnya juga mau menempuh <em>rebut keri</em>? Lagi-lagi inilah seninya, -untuk tidak mengatakan: <em>Piye to iki-</em>?</p>
<p><em>Rebut keri</em> ditempuh konon karena ada beberapa alasan, katanya (1) cawapres diumumkan the last minutes untuk “ngunci” lawan berhubung saatnya memang benar-benar terakhir. Alasan (2) menghindari cawapres itu “dikuliti” atau di-<em>bully</em> karena waktunya memang sudah tidak memungkinkan lagi.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/07/31/eling-ancasmu">Eling Ancasmu</a></strong></span></p>
<p>Dengan kata lain, agar percawapresannya lancar, aman, dan tidak menghabiskan energi karena berkurangnya kesempatan untuk di-<em>bully</em>. Sedangkan alasan (3) sebagai kejutan politis, baik bagi masyarakat calon pemilih maupun bagi parpol atau koalisi pesaing.</p>
<p>Kapan <em>the last minutes </em>atau <em>rebut keri</em> itu harus terjadi paling tepat? Masing-masing pihak memiliki perhitungan sendiri, namun jadwal menyebutkan bahwa ada 38 hari (19 Oktber 23 – 25 November 23) dialokasikan sebagai tenggang waktu untuk pendaftaran dan penetapan capres/cawapres. Jadi, kapan Lurrrrr?  Silahkan saja ditebak-tebak.</p>
<p>Ajaran moral Jawa memang mengatakan: <em>Banter-banter ngoyak apa, rindhik-rindhik ngenteni sapa</em>. Artinya, mengajarkan cara berkeputusan dan bertindak penuh kehati-hatian dan perhitungan: <em>Grusa-grusu bakal kliru; sareh bakal oleh</em>. Nah, …………  dia atau mereka yang serba tergesa akan kecewa, sebaliknya bagi dia atau mereka yang penyabar, bakal mengakar.</p>
<p>Ujian mental, Lurrrrr!!</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Soegijapranata Catholic University</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/08/20/rebut-keri">Rebut Keri</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bangbang Wetan: Di Timur Matahari</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/12/26/bangbang-wetan-di-timur-matahari</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2022 17:26:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[SUARA Anda]]></category>
		<category><![CDATA[jateng]]></category>
		<category><![CDATA[Natal 2022]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<category><![CDATA[unika]]></category>
		<category><![CDATA[UNS]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=303014</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : JC Tukiman Tarunasayoga Teman-teman di timur sana masih saja ada yang protes terhadap ungkapan “dari barat sampai ke timur, berjajar pulau-pulau&#8230;” Bukankah matahari terbit dari timur, bukan dari barat? Seharusnya, mulailah segalanya dari timur ke barat, jangan sebaliknya dari barat ke timur. Seharusnya dari Merauke sampai ke Sabang, bukan seperti sekarang ini. Dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/26/bangbang-wetan-di-timur-matahari">Bangbang Wetan: Di Timur Matahari</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Oleh : JC Tukiman Tarunasayoga</strong></h4>
<figure id="attachment_303017" aria-describedby="caption-attachment-303017" style="width: 570px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-303017" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/7itukiman-1.jpg" alt="" width="570" height="400" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/7itukiman-1.jpg 570w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/7itukiman-1-400x281.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/7itukiman-1-150x105.jpg 150w" sizes="(max-width: 570px) 100vw, 570px" /><figcaption id="caption-attachment-303017" class="wp-caption-text">JC Tukiman Tarunasayoga</figcaption></figure>
<p>Teman-teman di timur sana masih saja ada yang protes terhadap ungkapan “dari barat sampai ke timur, berjajar pulau-pulau&#8230;” Bukankah matahari terbit dari timur, bukan dari barat? Seharusnya, mulailah segalanya dari timur ke barat, jangan sebaliknya dari barat ke timur.</p>
<p>Seharusnya dari Merauke sampai ke Sabang, bukan seperti sekarang ini. Dan tentang dari Sabang sampai Merauke ini, dalam hiruk pikuk piala dunia 2022 yang baru usai kemarin, ada yang memelesetkan  “dari Sabang sampai Maroko” berhubung orang itu menjagokan dan kagum terhadap kesebelasan Maroko.</p>
<h4><strong>Baca Juga: <a href="https://suarabaru.id/2022/12/19/bikin-marah-ngabangke-kuping">Bikin Marah, Ngabangke Kuping</a></strong></h4>
<p>Memang cukup beralasan mengapa baik jika “cara pandang” kita dimulai dari timur. Pola hidup menggunakan gelap dan terang, atau malam dan siang sebagaimana masyarakat kita “memisahkannya” hampir pasti ditandai dengan terbitnya matahari di pagi hari, -itulah yang disebut dengan <em>bangbang wetan</em>-, dan tenggelamnya sang surya itu di waktu petang, disebut <em>surup</em>.</p>
<p><strong>Matahari Merekah</strong></p>
<p>Selama dua belas jam di waktu malam dan dua belas jam di waktu siang memola sikap hidup kita yang kemudian cenderung berpikir hitam putih atas segala sesuatu dalam hidup ini.  Misalnya terjadi suatu masalah dalam hidup ini, warga masyarakat kita cenderung memecahkannya secara hitam putih, dan sangat sering kurang melihat aspek lain meski  terjadi ada aspek abu-abunya.</p>
<p>Berpikir hitam putih bukannya jelek, namun menutup pintu kreatifitas padahal pintu ke arah sana seringkali terbuka atau sekurang-kurangnya tidak terkunci. Alam memang sangat kuat pengaruhnya terhadap sikap hidup, dan siklus siang-malam telah banyak mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap “habis gelap, terbitlah terang,” dan berikutnya badai pasti berlalu.</p>
<h4><strong>Baca Juga:<a href="https://suarabaru.id/2022/12/11/ngabang-bironi-dalam-piala-dunia"> Ngabang Bironi dalam Piala Dunia</a></strong></h4>
<p>Inilah keunggulan kita dalam bersikap; malahan sering ada yang secara matematis mengotak-atik: Jika gelapnya sebulan, kelak terangnya juga sebulan; karena tidak mungkin hidup ini gelap&#8230; terus, pasti akan ada terang&#8230; juga.</p>
<p>Matahari merekah di (dari???) timur, ditandai dengan warna merah kejingga-jinggaan, atau jingga kemerah-merahan.  Itulah <em>bangbang wetan,</em> sebuah ungkapan sangat khas menyambut merekahnya sang surya.</p>
<p><em>Bangbang wetan</em> ialah <em>wayah esuk ngarepke srengenge mlethek, langite katon semburat abang; </em>menjelang matahari terbit (tampak), selalu ditandai dengan pancaran warna kemerah-merahan di ufuk timur sana. Dan dalam hitungan detik, setelah didahului pancaran warna merah itu, muncullah matahari: Di timur matahari, mulai bercahaya.</p>
<p>Karena indahnya semburat merah di timur itu, &#8211;<em>sun rise</em>&#8211; , sangat banyak wisata pagi dini, dan memang menarik. Orang yang menyambut pagi merekah pasti akan membawa kesegaran seluruh siang harinya.</p>
<p>Itulah ada nasihat nenek moyang kita, bangunlah pagi-pagi, apalagi sebelum ayam jantan berkokok, karena kesegaran pagi akan membawa aura positif nan indah sepanjang harimu. Sayangnya, dewasa ini banyak sekali orang yang menempuh ritme kehidupan secara terbalik: <em>awan dinggo turu, bengi dinggo melek</em>, siang justru dipakai untuk tidur, malam hari dipakai untuk begadang.</p>
<p><em>Bangbang wetan</em> membawa aura positif dan sehat; dan itulah mengapa, jika masih mungkin untuk memilih, pilihlah rumah sebagai tempat tinggal yang menghadap ke timur. Sambutlah cahaya, panas, dan energi pagi hari; bukalah jendela dan pintu rumahmu, sehingga cahaya, panas, dan energi pagi hari masuk ke dalam rumahmu. Sehat&#8230;segar.dan hangat….. Alangkah bahagianya hidup ini manakala setiap saat mengalami hal-hal yang sehat, segar, dan hangat. Inilah surga dunia.</p>
<p>Karena dahsyatnya aura matahari merekah di (dari?) timur, inilah maka ada ungkapan sangat menarik yang akan saya kupas, yakni <em>nyekel bangbang alum-aluming praja. </em>Sabar ya, baru minggu depan!</p>
<p><strong>Merayakan Natal itu maknanya menyambut bangbang wetan sang Emanuel, sang Allah yang menyertai umat-Nya. Selamat Natal 2022.</strong></p>
<h4><strong><em>(JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapranata, Semarang)</em></strong></h4>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>            </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/26/bangbang-wetan-di-timur-matahari">Bangbang Wetan: Di Timur Matahari</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bikin Marah, Ngabangke Kuping</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/12/19/bikin-marah-ngabangke-kuping</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2022 18:47:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[SUARA Anda]]></category>
		<category><![CDATA[bola dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[paala dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Tukiman Tarunasayoga]]></category>
		<category><![CDATA[unika]]></category>
		<category><![CDATA[UNS]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=301246</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga Akhirnya, kesebelasan negara Argentina juara dan peraih piala dunia 2022 Qatar. Muluskah memerolehnya? Tidak. Sangat berat dan berliku, termasuk keras juga permainannya baik sejak babak penyisihan sampai dengan final. Apakah semua sorak-sorak bergembira menyambut sang juara? Tidak juga, dan pasti ada saja yang masih marah, bahkan munculnya negara itu menjadi juara, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/19/bikin-marah-ngabangke-kuping">Bikin Marah, Ngabangke Kuping</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4 style="text-align: right;"><strong>Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga</strong></h4>
<figure id="attachment_301248" aria-describedby="caption-attachment-301248" style="width: 471px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class=" wp-image-301248" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/3dtaruna-1.jpg" alt="" width="471" height="353" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/3dtaruna-1.jpg 180w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/3dtaruna-1-150x113.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/3dtaruna-1-80x60.jpg 80w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/3dtaruna-1-100x75.jpg 100w" sizes="(max-width: 471px) 100vw, 471px" /><figcaption id="caption-attachment-301248" class="wp-caption-text">JC Tukiman Tarunasayoga</figcaption></figure>
<p>Akhirnya, kesebelasan negara Argentina juara dan peraih piala dunia 2022 Qatar. Muluskah memerolehnya? Tidak. Sangat berat dan berliku, termasuk keras juga permainannya baik sejak babak penyisihan sampai dengan final.</p>
<p>Apakah semua sorak-sorak bergembira menyambut sang juara? Tidak juga, dan pasti ada saja yang masih marah, bahkan munculnya negara itu menjadi juara, sangatlah mungkin ada saja pihak yang merasa kesebelasan itu <em>ngabangake kuping wae</em>; bikin marah saja.</p>
<p>Mengapa marah, mengapa telinga memerah; dan kepada siapa saja marahnya itu terlontar? Orang marah hampir selalu dalam posisi, pertama,  merasa sebagai pihak benar. Dalam konteks sepakbola piala dunia, pemain merasa dalam kondisi paling benar, dan wasit atau penjaga garislah yang salah sehingga “saya disemprit <em>offside</em>.”</p>
<p>Marahlah dia kepada wasit dan/atau penjaga garis. Kedua, orang marah karena merasa dicurangi atau disakiti oleh entah lawan entah kawan. Karena merasa dicurangi, marahlah. Ketiga, orang merah telingganya manakala merasa tersinggung, entah oleh perbuatan orang lain, perkataan, atau pun bahkan <em>gesture </em>tubuh pun bisa menynggung.</p>
<h4><strong>Baca Juga: <a href="https://suarabaru.id/2022/12/11/ngabang-bironi-dalam-piala-dunia">Ngabang Bironi dalam Piala Dunia</a></strong></h4>
<p>Dan keempat, <em>bisa ngabangake kuping</em>, dapat menjadi marah, manakala apa yang diharap-harapkan tidak tercapai, apalagi ketidaktercapaiannya itu disebabkan oleh pihak lain.</p>
<p>Dalam konteks piala dunia, pemain-pemain kelas dunia memang terhitung jarang marah-marah kepada sesama pemian (sekalipun ia diganjal sedemikian keras). Luapan kemarahannya, seperti di atas sudah disebutkan, kepada wsit, penjaga garis, atau mungkin kepada pelatihnya.</p>
<p>Lain pemain klas dunia, lain pula pemain klas belum/bukan dunia, yang luapan kemarahannya, bahkan cenderung mau berantem antar sesame pemain kesebelasan Abang terhadap pemain kesebelasan Biru.</p>
<p>Bahkan pertandingan belum klas dunia semacam itu, sering melibatkan secara langsung penonton unutk ikut-ikutan marah, seolah-olah penonton menyatu marahnya dengan tim yang didukungnya.</p>
<p>Kecenderungan marah-marah semakin menjadi-jadi Ketika ada saling lempar atau saling kejar; sampai-sampai wasit pun bisa dikejar-kejar entah pemain entah pula penonton karena mereka merasa marah, <em>abang kupinge</em>.</p>
<p><strong><em>Ngabangke Kuping</em></strong></p>
<p>Ini sebuah <em>pocapan</em> namun “secara terselubung” dalam cara menyampaikan maksudnya. Kalau secara langsung kan bilang: “<em>Aku nesu lho iki,”</em> tetapi karena secara tidak langsung, maka ungkapan atau pocapannya menjadi: “<em>Mbok aja ngabangke kuping,” </em>tidak perlu bikin telinga merahlah. Jangan bikin marahlah.</p>
<h4><strong>Baca Juga:<a href="https://suarabaru.id/2022/12/04/dinggo-abang-abang-lambe"> (Dinggo) Abang-abang Lambe</a></strong></h4>
<p>Pertanyaannya sekarang, adakah tindakan sengaja yang dilakukan oleh  seseorang atau sekelompok agar <em>ngabangke kuping</em> “lawan politiknya?”  Jawabannya, amat banyak; dan karena dunia medsos itu tidak sepenuhnya transparan atau masih saja dapat menyelubungi, komentar atau cuitan yang <em>ngabangke kuping</em> sangat sering terjadi. Dan besar kemungkinannya hal itu disengaja.</p>
<p>Nah …. karena besar kemungkinannya ada unsur kesengajaan <em>ngabange kuping, </em>pandai-pandai sajalah menyikapi komen atau cuitan yang disampaikan secara langsung namun tidak bertatap muka semacam itu. Hadapilah dengan tenang dan dingin, karena semakin benar-benar merah kuping Anda, semakin senanglah dia atau mereka yang sengaja <em>ngabangke kuping</em> tadi..</p>
<p>Kembali ke pihak-pihak yang <em>abang kupinge</em> berhubung tidak dapat menjadi juara piala dunia, sebaiknya tidak perlu <em>ngabangke kupinge</em> sang juara. Artinya, orang atau pihak yang marah-marah tetap usahakan jangan justru memancing pihak lain <em>(ngabangke kuping</em>) untuk juga marah.</p>
<p>Estafet marah-marah atau kemarahan harus distop.  Mengapa? Kemarahan sering memancing kemarahan lain; <em>abang kupinge</em>  seseorang, jika tidak dikelola dengan penuh rasa sabar, sering memancing kemarahan pihak lain.  Maka harus distop.</p>
<p>&#8211;Selamat sang Juara&#8211;</p>
<h4><strong><em>(JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapranata, Semarang)</em></strong></h4>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/19/bikin-marah-ngabangke-kuping">Bikin Marah, Ngabangke Kuping</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>(Dinggo) Abang-abang Lambe</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/12/04/dinggo-abang-abang-lambe</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2022 13:31:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[SUARA Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[unika]]></category>
		<category><![CDATA[UNS]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=297951</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga HIDUP ini memang harus warna-warni, penuh warna; jika tidak,  siapapun akan mudah bosan. Mengapa orang suka melancong, bepergian ke manapun? Jawabannya tentu karena orang akan dapat melihat warna-warni kehidupan, termasuk warna-warni semesta yang dominan ditampilkan oleh flora. Lain alam semesta, lain pulalah warna kehidupan manusia, yang warna-warni perilakunya menarik untuk dibahas. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/04/dinggo-abang-abang-lambe">(Dinggo) Abang-abang Lambe</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga</strong></h4>
<figure id="attachment_297965" aria-describedby="caption-attachment-297965" style="width: 355px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class=" wp-image-297965" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/3dtaruna.jpg" alt="" width="355" height="266" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/3dtaruna.jpg 180w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/3dtaruna-150x113.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/3dtaruna-80x60.jpg 80w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/3dtaruna-100x75.jpg 100w" sizes="(max-width: 355px) 100vw, 355px" /><figcaption id="caption-attachment-297965" class="wp-caption-text">JC Tukiman Tarunasayoga</figcaption></figure>
<p><strong>HIDUP</strong> ini memang harus warna-warni, penuh warna; jika tidak,  siapapun akan mudah bosan. Mengapa orang suka melancong, bepergian ke manapun? Jawabannya tentu karena orang akan dapat melihat warna-warni kehidupan, termasuk warna-warni semesta yang dominan ditampilkan oleh flora.</p>
<p>Lain alam semesta, lain pulalah warna kehidupan manusia, yang warna-warni perilakunya menarik untuk dibahas. Contohnya, tidak akan membosankankah manakala kita berhadapan dengan orang yang serba bersikap <em>mung kanggo abang-abang lambe</em> saja? Apa ini maksudnya?</p>
<p>Ungkapan <em>mung kanggo (dinggo) abang-abang lambe </em>mengandung arti sekedar pemerah bibir, hanya berkata-kata manis belaka tanpa harus ada kewajiban untuk membuktikannya. Kalaupun kata-katanya itu berupa janji, ya orang sekedar janji saja, sekedar mengucapkannya belaka namun nantinya tidak harus ada pembuktiannya<em>. Dinggo abang-abang lambe</em> juga bermakna <em>lamis, </em>manis di bibir tetapi lain di hati apalagi di kenyataan tindakannya.</p>
<p><strong>Mengapa?</strong></p>
<p>Mengapa ada saja pihak-pihak yang <em>omongane mung kanggo abang-abang lambe, </em>padahal dia yang omong itupun sadar betapa yang diomongkan itu tidak akan dilakukannya<em>? </em>Alasan pertama tentu saja karena omong sekedar pemanis mulut adalah hal yang paling gampang terkatakan dan dilakukan.</p>
<h4>Baca Juga:<a href="https://suarabaru.id/2022/11/28/abang-abang-ora-legi"> Abang-Abang Ora Legi</a></h4>
<p>Siapapun bisa dan mudah. “Jangan sekarang, tetapi kelak kalau aku mudik lagi, pasti aku singgah ke rumahmu. Pasti deh!” Apakah kata-kata penuh janji semacam itu menuntut harus ditepati? Tidak. Apakah mengandung sanksi manakala tidak terpenuhi? Tidak.</p>
<p>Apakah janji semacam itu mengandung suatu kebohongan? Tidak. Apakah teman yang dikasih janji semacam itu kelak merasa dilecehkan bila temannya tidak berkunjung? Tidak. Intinya, janji manis biarlah berlangsung terus, dan tidak akan ada efek apapun di masa depan.</p>
<p>Alasan kedua, omongan <em>mung kanggo abang-abang lambe </em>sering diluncurkan untuk “segera menyelesaikan urusan” saat itu. Katimbang berkepanjangan urusannya, sudahi saja dengan kata-kata manis pemanis bibir; dan biasanya pihak yang menerima kata-kata manis itu pun lalu mereda marahnya (jika saat itu marah), atau segera merasa terhibur (jika saat itu sedih).</p>
<p>Kelak kemudian hari, kata-kata manis model seperti ini sangat mungkin akan “ditagih” dan pemecahannya juga lewat kata-kata manis lainnya yang barangkali akan lebih manis&#8230; lagi. Estafet <em>abang-abang lambe.  </em></p>
<p>Alasan ketiga, kata-kata manis <em>mung dinggo abang-abang lambe </em>mudah meluncur (dan diderita) oleh dia atau mereka yang ingin terbebas hidupnya dari penderitaan yang terus menerus menimpanya.</p>
<p>Munculnya kata-kata manis dari individu semacam ini akan menjadi beda-beda tipis dengan halusinasinya. Orang halu sangatlah mungkin mudah meluncurkan ungkapan-ungkapan manis, serba <em>lip service </em>apalagi dilengkapi dengan lipstick tebal di bibirnya yang nan manis itu. Jenis ketiga ini sudah barangtentu sangat berbahaya, apalagi kalau diderita oleh orang-orang yang saat ini sedang “nyalon” atau “dicalonkan,” misalnya.</p>
<p>Mengapa berbahaya? <em>Abang-abang lambe model janji lip service</em>  semacam ini sering berkaitan dengan kepentingan hajad hidup orang banyak yang sudah barangtentu sangat diharapkan oleh orang banyak juga. Berdosalah <em>abang-abang lambe </em>model begini.</p>
<p><strong>Bagaimana Harus Berjanji?</strong></p>
<p>Dalam konteks pemilu contohnya, siapapun atau  lembaga manapun sering tidak dapat terhindar dari rencana ke depannya, pikiran-pikiran besar yang sedang dibangunnya, dan sebagainya. Dalam arus besar seperti itu, pasti perlu ada langkah-langkah yang akan dilakoninya, dan muncullah “janji.”</p>
<h4><strong><a href="https://suarabaru.id/2022/11/21/gajah-diblangkoni">Baca Juga: Gajah Diblangkoni</a></strong></h4>
<p>Janji itu akan terhindar dari <em>mung kanggo abang-abang lambe, ora dosa, </em>asal saja (a) janji itu tertulis dan terintegrasi ke dalam perencanaan makronya; (b) tidak menjadikan rakyat sebagai objek belaka; dan (c) tetulis juga langkah-langkah strategis yang akan dilakukannya kelak (manakala menang, misalnya).</p>
<p><em>Dinggo abang-abang lambe </em>rupanya akan semakin mendalam analisisnya kalau para pihak yang sebentar lagi akan kampanye berkaitan atau sesuai dengan fase-fase pemilu juga bersedia menguraikannya dari sisinya. Ayo&#8230; ramai-ramai mengulas ungkapan abang-abang lambe untuk “mengurangi dosa masal.”</p>
<h4><strong><em>(JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapranata, Semarang)</em></strong></h4>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/04/dinggo-abang-abang-lambe">(Dinggo) Abang-abang Lambe</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mari Menikmati Tahapan Para Calon: “Adol Kondhang, Golek Linuwih, lan Katon Mumpuni”</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/09/25/mari-menikmati-tahapan-para-calon-adol-kondhang-golek-linuwih-lan-katon-mumpuni</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2022 14:51:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[SUARA Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Capres]]></category>
		<category><![CDATA[cawapres]]></category>
		<category><![CDATA[Tukiman Tarunasayoga]]></category>
		<category><![CDATA[unika]]></category>
		<category><![CDATA[UNS]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=280842</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga  Mari kita nikmati saja betapa saat ini mereka yang “dicapreskan” ataupun “dicawapreskan,” sedang nedheng-nedhenge (lagi semangat) menempuh jalan-jalan “adol kondhang, golek linuwih, lan katon mumpuni.” Namanya juga usaha, maka harus kita lihat sebagai hal yang sangat-sangat wajar saja, manakala dalam rangka mencari terkenal, menunjukkan kelebihannya, ataupun biar kelihatan bijaksana, para [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/25/mari-menikmati-tahapan-para-calon-adol-kondhang-golek-linuwih-lan-katon-mumpuni">Mari Menikmati Tahapan Para Calon: “Adol Kondhang, Golek Linuwih, lan Katon Mumpuni”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<h4><strong>Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga</strong></h4>
<figure id="attachment_280847" aria-describedby="caption-attachment-280847" style="width: 320px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class=" wp-image-280847" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/6ctaruna1.jpg" alt="" width="320" height="240" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/6ctaruna1.jpg 180w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/6ctaruna1-150x113.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/6ctaruna1-80x60.jpg 80w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/6ctaruna1-100x75.jpg 100w" sizes="(max-width: 320px) 100vw, 320px" /><figcaption id="caption-attachment-280847" class="wp-caption-text">JC Tukiman Tarunasayoga</figcaption></figure>
<p><strong> </strong>Mari kita nikmati saja betapa saat ini mereka yang “dicapreskan” ataupun “dicawapreskan,” sedang nedheng-nedhenge (lagi semangat) menempuh jalan-jalan “adol kondhang, golek linuwih, lan katon mumpuni.”</p>
<p>Namanya juga usaha, maka harus kita lihat sebagai hal yang sangat-sangat wajar saja, manakala dalam rangka mencari terkenal, menunjukkan kelebihannya, ataupun biar kelihatan bijaksana, para “calon” itu melakukan apa saja. Asal saja ingat satu hal seperti di akhir tulisan ini akan dijelaskan.</p>
<p><strong>Kondhang</strong></p>
<p>Kondhang ini maksudnya terkenal, dan ternyata agar orang menjadi semakin terkenal, ada  cara atau pun fase-fase yang harus ditempuhnya, berikut juga target waktu kapan keterkenalannya itu booming.</p>
<p>Itulah yang disebut pansos (panjat sosial) menurut bahasa medsos. Begitu pas/tepat panjat sosialnya, tiba-tiba saja seseorang menjadi kondhang. Dengan kata lain,  pinter-pinter mencari momentum adalah syarat mutlak seseorang segera menjadi terkenal; sebaliknya lamban memanfaatkan momentum, hilang pulalah kesempatan untuk terkenal.</p>
<h4><strong>Baca Juga: <a href="https://suarabaru.id/2022/09/18/bergeserlah-cara-memaknai-gemblak-mesum-sedheng-lan-slingkuh">Bergeserlah Cara Memaknai Gemblak; Mesum, Sedheng, lan Slingkuh</a></strong></h4>
<p>Kondhang sebenarnya mempunyai tiga arti, yaitu (i) misuwur, yang sejak tadi disebut-sebut dengan terkenal itu; (ii) kalok, maksudnya gawe gumun, bikin orang tercengang dan lalu dengan cepat  mengenalnya; dan (iii) wuwuhan, rewang, pembantu. Seseorang disebut atau dapat menjadi kondhang ketika ia memang misuwur dan kalok tadi; entah wajahnya, entah suaranya cepat dikenal orang.</p>
<p><strong>Linuwih  lan Mumpuni</strong></p>
<p>Besar sekali atau cepat sekali peluang seseorang menjadi terkenal apabila ia memiliki kelebihan-kelebihan dibandingkan dengan orang lain. Seorang dalang wayang kulit menjadi terkenal karena ia memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan dengan dalang lainnya; misalkan kelebihan dalam kemampuan memainkan wayang (sabet), suara, lucunya, dst.</p>
<p>Itulah yang disebut linuwih, asal katanya luwih. Arti kata luwih ialah turah, berlebih; juga berarti punjul saka ing mesthine, yaitu ada sisa atau kelebihan dari yang seharusnya (standar); juga berarti ngungkuli, mengatasi atau lebih tinggi.</p>
<p>Jika kelebihan seseorang itu ada dalam hal ilmu pengetahuan (Jawa: kawruh), maka orang itu disebut linuwih, yaitu pinunjul ing kawruh, memiliki kehebatan atau kelebihan dalam hal ilmu pengetahuan.</p>
<p>Pada puncak seseorang berada dalam kondisi kondhang serta linuwih, dan hal itu dilihat atau disaksikan oleh mata kepala dan mata hati khalayak ramai; maka dari mulut ke mulut akan tersiarlah betapa si Badu, Suto, Noyo, ini memang benar-benar mumpuni.</p>
<p>Ada dua makna mumpuni yang sebaiknya dicermati masyarakat. Makna pertama, seseorang disebut mumpuni itu manakala ia darbeki, duweni, lan nguwasani tenan; maksudnya seseorang benar-benar memiliki atau betul-betul menguasai bidangnya. Pastilah seorang capres atau cawapres harus betul-betul teruji penguasaannya tentang kepemimpinan, kejujuran, integritas diri, dst. Bukan karbitan, contohnya.</p>
<p>Makna keduanya, seolah-olah semakin menukik dari makna pertama, mumpuni itu berarti seseorang harus pinter tenan ing sakehing kawruh; ia benar-benar pintar dalam berbagai ilmu pengetahuan. Orang semacam ini bukan saja orang karbitan, tetapi juga bukan orang yang “mendadak ketoke pinter,” orang yang mendadak kepinterannya.</p>
<p>Jadi, hai para calon atau yang dicalonkan: “Jika engkau benar-benar mau nyapres atau nyawapres, sebaiknya janganlah sekedar menempuh cara-cara (1) adol kondhang, yaitu berjualan seolah-olah dirinya itu terkenal; (2) golek linuwih, cari-cari atau memoles kelebihan diri; dan (3) katon mumpuni, seolah-olah terlihat arif, bijak, penyabar, pinter, dll.”</p>
<h4><strong>Baca Juga: <a href="https://suarabaru.id/2022/09/11/koruptor-itu-orangnya-korupsi-itu-tindakannya-pola-pikirnya-glathak-granyah-gragas-lan-srakah">Koruptor Itu Orangnya, Korupsi Itu Tindakannya, Pola Pikirnya: Glathak, Granyah, Gragas, lan Srakah</a></strong></h4>
<p>Mengapa jangan mengandalkan adol, golek, lan katon? Ketahuliah, kondhang, linuwih, lan mumpuni itu pasti muncul bukan tiba-tiba (mendadak), bukan karbitan juga. Ia harus asli, genuine, apa adanya, polos.”</p>
<p>Saat sekarang ini masyarakat sedang melihat itu semua, siapa saja yang benar-benar asli, polos, apa adanya dalam kehidupan sehari-harinya; siapa pula yang sebenarnya dipoles-poles, bahkan mungkin dikarbit agar cepat matang.</p>
<p>Dan satu pegangan etika yang perlu dijadikan senjata tempur Anda masing-masing para calon, ialah: Hindari dan karena itu janganlah main kasar dengan cara suka menuduh kepada pihak yang kauanggap rival.  “Ora slamet kowe” jika menebar tuduhan dan bersikap kasar terhadap pesaing.</p>
<p><strong>Selamat berjuang.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<h4><strong><em>(JC Tukiman Taruna, Ketua Dewan Penyantun Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapranata, Semarang)</em></strong></h4>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/25/mari-menikmati-tahapan-para-calon-adol-kondhang-golek-linuwih-lan-katon-mumpuni">Mari Menikmati Tahapan Para Calon: “Adol Kondhang, Golek Linuwih, lan Katon Mumpuni”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saat Seperti Inilah, Pejabat Harus Berani Tega, Tegel, Teges, lan Tuntas</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/09/04/saat-seperti-inilah-pejabat-harus-berani-tega-tegel-teges-lan-tuntas</link>
					<comments>https://suarabaru.id/2022/09/04/saat-seperti-inilah-pejabat-harus-berani-tega-tegel-teges-lan-tuntas#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Sep 2022 15:04:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[SUARA Anda]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Tukiman Tarunasayoga]]></category>
		<category><![CDATA[unika]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=276086</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga Seperti apa sih kondisi zaman (baca Negara) saat ini? Sejumlah orang memang senang menggunakan kosakata “sedang tidak baik-baik saja,” seolah-olah hendak menegaskan bahwa kondisinya sedang tidak enak badan (sakit). Benarkah sedang sakit? Saya memberanikan diri menjawab, tidak! Kondisi zaman tidak sedang sakit, melainkan tetap dalam kondisi sehat, cuma memang harus tetap hati-hati [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/04/saat-seperti-inilah-pejabat-harus-berani-tega-tegel-teges-lan-tuntas">Saat Seperti Inilah, Pejabat Harus Berani Tega, Tegel, Teges, lan Tuntas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga</strong></h4>
<figure id="attachment_276090" aria-describedby="caption-attachment-276090" style="width: 400px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-276090" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/19itar2-400x281.jpg" alt="" width="400" height="281" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/19itar2-400x281.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/19itar2-150x105.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/19itar2.jpg 570w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /><figcaption id="caption-attachment-276090" class="wp-caption-text">JC Tukiman Tarunasayoga</figcaption></figure>
<p>Seperti apa sih kondisi zaman (baca Negara) saat ini? Sejumlah orang memang senang menggunakan kosakata “sedang tidak baik-baik saja,” seolah-olah hendak menegaskan bahwa kondisinya sedang tidak enak badan (sakit). Benarkah sedang sakit? Saya memberanikan diri menjawab, tidak! Kondisi zaman tidak sedang sakit, melainkan tetap dalam kondisi sehat, cuma memang harus tetap hati-hati dan waspada.</p>
<p>Justru karena dalam kondisi baik-baik saja inilah seruan dan ajakan “hati-hati dan waspadalah” menjadi sangat relevan, mengingat ajakan dan seruan itu menjadi nyata betapa orang sehat memang harus hati-hati dan waspada agar jangan sakit.  Seruan dan ajakan hati-hati dan waspada jelas tidak relevan bagi orang yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Logis kan?</p>
<p><strong>Tega lan Tegel</strong></p>
<p>Bagaimana halnya dengan kondisi para pejabat kita, apakah saat ini para pejabat kita dalam kondisi “sedang tidak baik-baik saja,” ataukah “dalam kondisi baik-baik saja?” Saya memilih jawaban terakhir, yakni “sedang dalam kondisi baik-baik saja,” namun mereka justru saat-saat inilah harus benar-benar tampil sebagai pejabat yang tega, tegel, teges, lan tuntas.</p>
<p>Mengapa? Kondisi “baik-baik saja” seperti ini justru layak kalau dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menunjukkan kualitas prima pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa, dan Negara lewat sikap dan kebijakannya yang  <strong>&#8216;TEGAK LURUS&#8217;</strong>  dan karena itu harus tega, tegel, teges, lan tuntas dalam hal apa saja dan kepada siapa saja.</p>
<h4><strong>Baca Juga: <a href="https://suarabaru.id/2022/08/28/berjaga-jaga-dan-waspadalah-banyak-sambang-sambu-lan-sambodana">Berjaga-jaga dan Waspadalah: Banyak Sambang, Sambu, lan Sambodana</a></strong></h4>
<p>Tega, kalau dalam bahasa Jawa dibaca seperti Anda mengatakan lima, singa, kaca; sedang dalam bahasa Indonesia tidak seorang pun mengalami kesulitan membaca tega, lima, singa, dan kaca. Arti tega ada lima, yakni (a) wis ninggal kadonyan, yaitu orang yang sudah selesai dengan dirinya dan meninggalkan hal-hal duniawi;</p>
<p>(b) Pandhita tapa, seorang pertapa karena memang sudah meninggalkan urusan duniawi tadi; (c) ora duwe owel, tidak pelit, tidak ada rasa eman-eman; (d) tanpa uwas sumelang, tidak ada rasa khawatir sedikit pun; dan (e) tanpa welas, yakni tidak ada rasa kasihan, ora gampang mesakake. Dalam konteks para pejabat, jadilah dan berjiwalah tega terutama ketika harus memutuskan masalah pelik yang terjadi.</p>
<p>Ada tega, ada tegel (bacalah seperti Anda mengatakan pecel) yang mirip-mirip artinya terutama dengan (e). Namun tegel ini lebih menyangkut perasaan hati, yaitu (i) ora wigih-wigih, tidak ada perasaan ini itu jika harus memutuskan “pecat” meski pun dia itu teman seangkatan, (ii) ora jijik, tidak merasa jijik; dan (ii) mentala, tidak terganggu oleh belas kasihan dalam arti mesakake. Di zaman serba canggih ini, tuntutan pejabat untuk mengambil kebijakan secara tega dan tegel justru menjadi sangat penting.</p>
<p><strong>Teges lan Tuntas</strong></p>
<p>Pejabat di tingkat mana pun akan mampu bersikap dan mengambil kebijakan secara teges dan tuntas manakala ia telah mampu melampaui tega lan tegel. Yakinlah tentang hal ini! Teges, bacalah seperti Anda mengucapkan tegel tadi, mengandung arti apa yang ia ucapkan itu bermakna, bernas/berisi, mantap, dan menunjukkan wibawa.</p>
<p>Maka makna teges juga terungkap dalam ucapan, kebijakan, atau pun keputusannya itu terang, cetha, gampang dingerteni; jelas dan mudah dipahami oleh siapa pun.  Supaya bisa teges, tidak jarang orang berusaha neges dahulu, yakni melakukan refleksi diri, doa khusuk secara khusus agar mendapatkan penerangan/pencerahan.</p>
<h4><strong>Baca Juga: <a href="https://suarabaru.id/2022/08/21/mereka-sangat-menjengkelkan-publik-karena-dora-dorasembada-lan-doracara">Mereka Sangat Menjengkelkan Publik, karena: Dora, Dorasembada lan Doracara</a></strong></h4>
<p>Apabila pejabat dalam berkeputusannya (lebih-lebih ketika menghadapi masalah sangat pelik) telah mampu melewati tega, tegel, lan teges; maka tuntaslah sudah keputusannya nanti. Tuntas bermakna bermacam-macam, tetapi yang utama ialah (x) rampung, katekan kabeh, nganti rampung, artinya selesai secara mendasar, bukan hanya di permukaan saja; dan (xx) cetha sarta ganep anggone guneman, kabeh gagasan wis dilairake. Ini berarti semuanya sudah dijelaskan secara gamblang dan menyeluruh, tidak ada lagi yang tersisa atau ditutup-tutupi atau disembunyikan (lagi).</p>
<p>Jelaslah sudah wahai para pejabat, Anda didukung masyarakat dimana pun untuk membuat kebijakan dan keputusan (lebih-lebih di saat ada masalah-masalah pelik) kanthi tega, tegel, teges; dan itulah jalan terbaik untuk <strong>TUNTAS</strong>.</p>
<h4><em><strong>(JC Tukiman Taruna, Ketua Dewan Penyantun Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapranata, Semarang)</strong></em></h4>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/04/saat-seperti-inilah-pejabat-harus-berani-tega-tegel-teges-lan-tuntas">Saat Seperti Inilah, Pejabat Harus Berani Tega, Tegel, Teges, lan Tuntas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suarabaru.id/2022/09/04/saat-seperti-inilah-pejabat-harus-berani-tega-tegel-teges-lan-tuntas/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>5</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mahasiswi Unika Terjun dari Lantai 9, Diduga Masalah Percintaan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/09/02/mahasiswi-unika-terjun-dari-lantai-9-diduga-masalah-percintaan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ning Suparningsih]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Sep 2022 12:48:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Diduga]]></category>
		<category><![CDATA[Lantai 9]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswi]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah]]></category>
		<category><![CDATA[Percintaan]]></category>
		<category><![CDATA[Terjun]]></category>
		<category><![CDATA[unika]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=275723</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG (SUARABARU.ID) &#8211; Seorang mahasiswi cantik yang diketahui bernama Katherine Ann Saunders (19), ditemukan tewas terjatuh dari lantai sembilan Apartemen Alton Semarang, Jumat (2/9/2022). Peristiwa tersebut diketahui oleh warga dan penjaga apartemen, setelah mendengar suara keras benda jatuh. Dan saat didekati sumber suara tersebut berasal dari dekat taman belakang. Benar saja, di dekat taman tersebut [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/02/mahasiswi-unika-terjun-dari-lantai-9-diduga-masalah-percintaan">Mahasiswi Unika Terjun dari Lantai 9, Diduga Masalah Percintaan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG (SUARABARU.ID)</strong> &#8211; Seorang mahasiswi cantik yang diketahui bernama Katherine Ann Saunders (19), ditemukan tewas terjatuh dari lantai sembilan Apartemen Alton Semarang, Jumat (2/9/2022).</p>
<p>Peristiwa tersebut diketahui oleh warga dan penjaga apartemen, setelah mendengar suara keras benda jatuh. Dan saat didekati sumber suara tersebut berasal dari dekat taman belakang. Benar saja, di dekat taman tersebut ada seorang wanita muda tengkurap bersimbah darah.</p>
<p>Diketahui, wanita muda tersebut teridentifikasi sebagai penghuni apartemen, dimana kondisinya sudah tidak bergerak dan tidak mengenakan baju.</p>
<p>Kejadian tersebut lalu dilaporkan pihak pengelola apartemen ke polisi. Dari hasil penyelidikan sementara, Katherine Ann Saunders merupakan warga Taman Sari Persada Bogor, Jawa Barat.</p>
<p>Korban berstatus mahasiswa baru di Universitas Katolik (Unika) Soegijopranoto Semarang. Kemudian jenazahnya dievakuasi ke RSUP dr. Kariadi Semarang.</p>
<p>Korban tinggal di apartemen kamar nomor 922 lantai sembilan bersama kekasihnya yang diketahui bernama Muhammad Einstein, seorang mahasiswa baru di Universitas Diponegoro Semarang.</p>
<p>Dugaan sementara, korban mengalami depresi berat. Korban tidak mau putus hubungan dengan kekasihnya, sehingga nekat melakukan aksi bunuh diri.</p>
<p>Menurut Muhammad Einstein, ia terakhir ketemu pada pukul 08.00 WIB, sebelum dirinya berangkat kuliah. &#8220;Sekitar dua atau tiga hari lalu, sudah duduk-duduk di luar apartemen sambil minum obat,&#8221; katanya.</p>
<p>Muhammad Einstein mengaku sedang ada masalah. Selanjutnya polisi membawa Muhammad Einstein ke kantor polisi guna penyelidikan. Kini, kasus tewasnya mahasiwi cantik ini masih dalam penyelidikan pihak polisi.</p>
<p><em><strong>Ning Suparningsih</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/02/mahasiswi-unika-terjun-dari-lantai-9-diduga-masalah-percintaan">Mahasiswi Unika Terjun dari Lantai 9, Diduga Masalah Percintaan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>