Sembur adalah kemampun seseorang untuk mengobati penyakit baik secara fisik maupun psikis. Foto: Ilustrasi

IDEALNYA dalam kehidupan ini kita bisa bermanfaat bagi sesama. Untuk mampu melakukan itu, kita perlu memiliki  tiga -atau setidaknya- dua atau satu hal, di antaranya: Pitutur, wuwur, dan  sembur.

PITUTUR adalah kemampuan menasihati. Untuk itu, seseorang perlu berilmu agar bisa berperan sebagai tempat bertanya. Pitutur itu bisa dalam bentuk motivasi yang menyebabkan orang lain menjadi lebih baik dan berkembang.

WUWUR adalah kemampuan materi yang disertai kepedulian terhadap sesama. Orang itu pintar menasihati, terampil nge-dalil, jika ekonominya pas-pasan, atau dia kaya namun pelit, nilainya pun menjadi berkurang. Orang pelit itu dibenci Tuhan, juga dibenci manusia.

SEMBUR adalah keahlian mengobati penyakit fisik, psikis, atau metafisik. Memiliki keahlian itu menyebabkan banyak orang terbantu sekaligus  menempatkan dirinya sebagai sosok yang diperlukan lingkungan masyarakatnya.

Jika ketiga hal itu dimiliki, atau minimal salah satunya, bersyukurlah. Jalan rezeki selalu ada, bahkan dia bisa dikategorikan sebagai sebaik-baik ciptaan, karena bermanfaat bagi sesamanya.

Orang yang memiliki kemampuan penyembuhan, biasanya disebut sesepuh.  Jenis   sesepuh itu ada tiga macam, yaitu, tua tinuwuh (orang tua mumpuni) dalam kaweruh ilmu batin. Tua tinuwuh, yang memiliki pengalaman hidup dan menjadi tempat mengadu orang yang sedang bermasalah.

Sedangkan orang tua yang tidak memiliki ilmu batin dan tidak punya pengalaman yang layak  disuguhkan sesama, disebut tua uyah, yang kurang bermaanfaat bagi kehidupan, dan ketika usianya makin bertambah, hanya merepotkan kelurga.

“Bertapa”

Dalam tradisi lama, konsep tapa atau mengolah sisi batin itu dilakukan dengan cara ngenthung” layaknya kepompong ulat saat akan berproses menjadi kupu. Melalui olah batin, “bertapa” melaparkan diri layaknya ulat, maka yang semula menjijikkan, berjalan merayap, kemudian berubah menjadi kupu indah dan bisa terbang tinggi.

Maka, dia yang semula hanya makan daun, dipandang menjijikkan, dipegang gatal, setelah berproses kemudian berubah menjadi sosok makhluk yang indah dipandang dan dapat terbang tinggi. Dia  yang semula makan daun, kemudian “ganti menu” sari bunga yang harum.

Hikmah tirakat dalam perspektif  lain adalah metode mengubah mindset, dan menanamkan sugesti positif dalam pikiran bawah sadar. Melalui pengondisian gelombang alpha – theta dan afirmasi. Dalam tirakat, logika dinonaktifkan,  agar sugesti dan afirmasi lebih mudah masuk secara sempurna.

Dalam tirakat, terjadi pengondisian batin, terlebih lagi jika tirakat itu minimal puasa 40 hari plus laku batin lain :  wirid, “mantra” yang diyakini, dan hasilnya lebih maksimal dan program batin akan lebih mudah terjadi karena izin-Nya.

Sebuah afirmasi baru bisa bekerja secara sempurna jika dilakukan sedikitnya 21 hari, jika menggunakan standar 40 hari, hasilnya lebih maksimal. Konsep tirakat batin adalah metode pemberdayaan diri ala tradisional.

Konsep Awam

Di kalangan awam, mengolah batin sering berpedoman angka 40 hari. Itu berkaitan tradisi para utusan Tuhan. Konsep menyepi 40 hari itu banyak dikisahkan sejak  Nabi Adam dan Hawa. Adam berpuasa tiga hari setiap bulan sepanjang tahun.

Adam juga berpuasa 40 hari 40 malam dan setiap tahun mendoakan putra-putrinya dan puasa hari Jumah untuk mengenang peristiwa dijadikan oleh Allah dan hari diturunkan ke bumi, dan diterima tobatnya. Nabi Nuh berpuasa tiga hari setiap bulan sepanjangg tahun, seperti puasanya Nabi Adam.

Nabi Ibrahim AS berpuasa saat akan menerima wahyu. Puasa menurut agama Ibrahim dilakukan Ismail, putranya yang taat beribadah. Puasa Ibrahim diikuti Ishaq (putra Ibrahim dari Sarah). Nabi Yaqub gemar puasa untuk keselamatan keturunannya.

Nabi Yusuf berpuasa ketika dalam penjara. Kebiasaan berpuasa ini juga dilakukan ketika menjadi menteri ekonomi, karena khawatir jika dia kenyang, nanti melupakan perut fakir miskin. Nabi Yunus berpuasa saat dalam perut ikan, kemudian berbuka setelah dimuntahkan. Untuk berbuka, Yusuf memakan buah di pantai.

Nabi Ayyub saat hidup kekurangan dan sakit beberapa tahun, hingga berakhirnya ujian itu. Nabi Suaib termasuk orang tua yang banyak berpuasa demi takwa kepada Allah. Nabi Musa berpuasa 40 hari 40 malam sebelum menerima wahyu di Bukit Sinai, begitu juga Nabi Ilyas ketika akan ke Gunung Horeb untuk menerima wahyu, dan Nabi Isa AS ketika awal kali akan tampil untuk menyatakan diri sebagai Rasul.

Sedangkan Nabi Daud berpuasa berselang, sehari puasa dan sehari tidak. Nabi Daud berpuasa tujuh hari saat putranya sakit, demi kesembuhannya dia mengurung diri dalam kamar sambil menangis. Pada hari ketujuh, putra itu meningggal.

Dalam konsep kekinian, motivasi hidup tak lagi soal makan.” Melainkan bagaimana mengokohkan kemandirian. Jika dulu berpedoman “Makan tidak makan yang penting kumpul”,  sekarang saatnya berubah : ”Ditakdir melarat kudu betah tirakat (ditakdirkan melarat harus tahan tirakat atau prihatin), ditakdir miskin, dadio jalma sing kuat batin (ditakdir miskin, jadilah orang yang kuat olah batin).

Berawal dari kuat laku batin, jika lulus uji, insya Allah memiliki kemampuan, sehingga yang  adoh kerogoh, cedhak kecandhak (Yang jauh dan dekat pun kena) karena tenaga batin itu mampu menembus apapun tanpa sekat, sehingga jagad saisine gumulung ana ciptaningsung (dunia dan isinya dilipat dalam daya ciptanya).

Saya berteman dengan orang hidupnya berkelimpahan. Dia pernah jatuh miskin ketika gagal saat Pilkades. Aset banyak terjual, hutang  menumpuk. Untuk menenangkan diri, dua tahun dia sembunyi sambil berguru ilmu kesepuhan.Untuk bertahan hidup, pagi jualan sayur, siang hingga sore jadi merbot masjid dan malam mengolah sisi batin.

Pulang dari  “persembunyian” dia menjadi manusia baru. Hasil olah rohani berbuah bonus. Mata batinnya jebol dan dia memiliki pandangan mata kasyif (waskita) hingga banyak tamu dari kalangan atas sowan ke kediamannya.

Buntutnya, walau tidak pasang tarif, mereka yang terbantu, dengan suka rela memberi hadiah. Dia yang semula dari dikalangan bawah, kemudian naik kelas dengan klien orang gedean. Pernah saat saya ke kediamannya bertemu tamunya,  pejabat yang sering diekspos televisi.

Tuan rumah itu berkata, ”Kang, andaikan dulu saya jadi lurah, untuk menemui orang-orang yang biasa kesini, itu harus melalui ajudan, itupun belum tentu diterima. “Sekarang ketika mereka mau datang ke rumah, saya yang mengatur jadwal mereka.”

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati