Saya duduk sesuai dengan arahan ibu tadi. Baru setelah Rektor berpidato, saya tahu di samping saya ternyata mantan Rektor USM Mas Andi Kridasusila, putra Pak Jutata Hadi Hardaya, dalah satu pendiri USM, kemudian ada putra Prof. Mulyono S. Trastotenojo mantan Rektor Undip. Di depan saya ada Ibu Mulyono S. Trastotenojo dan Mbak Santi putri Prof. Soedarto, S.H. mantan Rektor Undip.

Baru ngeh lagi ketika yang duduk di deretan terdepan dan urutan kursi saya adalah penerima penghargaan. “Wah, apa saya tidak salah kursi,” batin saya.

Dalam pidatonya, Rektor juga menyebut memberikan penghargaan kepada perumus sesanti “Sing sapa nandur pari ora bakal ngundhuh alang-alang”, dan nama saya disebut.

Lho benar, saya baru ngeh kalau hari ini mendapatkan kehormatan dan penghormatan luar biasa dari USM.

Saya terharu, dan merasa sangat bahagia, bahwa tulisan kecil saya itu menjadi sesanti bagi universitas yang dibangun oleh alumni Undip melalui Yayasan Alumni Undip ini. Saya bangga sebagai alumni Undip, karena Yayasan Alumni Undip berhasil membangun universitas membanggakan kini.

Matur nuwun Mas Rektor Supari, matur nuwun Pak Soeharsojo, Matur nuwun Pak Sudharto P. Hadi. Selamat ulang tahun ke-35, lustrum VII Uversitas Semarang. USM Jaya!

Widiyartono R., pemerhati masalah kebudayaan dan pariwisata, pemimpin redaksi suarabaru.id