blank
Kerusuhan suporter dalam laga Persebaya vs arema di Stadion Kanjuruhan Malang. Foto: MPI/Avirista

 

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

blank
JC Tukiman Tarunasayoga

SEPAK BOLA, mengapa sangat menghipnotis terutama bagi laki-laki sehingga banyak orang, -seperti fakta tragedi Kanjuruhan Malang (awal Oktober 22)- , mengalami campur aduk antara klenger, kesengsem, keladuk, lan wuru?

Padahal untuk sebagian besar perempuan, olahraga atau pun pertandingan sepakbola itu sering dipertanyakan: Serunya di mana sih satu bola diperebutkan oleh 22 orang pemain? Ada lho yang sepanjang pertandingan satu dua pemain hanya lari sana lari sini tanpa pernah kakinya bersentuhan dengan bola.

Coba perhatikan pertandingan sepakbola antarkampung (tarkam), dari 22 pemain itu, mungkin setengah dari pemain saja yang benar-benar tendang sana oper sini; sementara yang lain hanya teriak-teriak mulu karena tidak pernah “menguasai” bola.

Baca Juga: Di Sini Gembos, di Sana Gembos karena Kakehan Pokal, Pokil, Pokrol, lan Pukrul

Terkait malapetaka Kanjuruhan, konon pihak kepolisian telah menetapkan enam tersangka, yakni direktur PT LIB, Ketua Panitia Pelaksana Pertandingan, Security officer, Kabag Ops Polres, Brimob Polda, dan Kasat Samapta Polres.

Kita serahkan saja kepada para penegak hukum penyelesaian masalah-masalah hukumnya; dan memang kita masih berhadapan dengan masalah-masalah sosial yang menyertainya sebagaimana telah disebutkan di atas di seputar: klenger, kesengsem, keladuk, lan wuru.

Klenger

Atas malapetaka Kanjuruhan ada ratusan orang (mungkinkah ribuan?) yang klenger. Tragisnya, di samping yang klenger, bahkan ada banyak yang meninggal dunia.

Sangat menyedihkan dan memprihatinkan. Mengapa banyak sekali orang klenger menyertai peristiwa sangat tragik itu? Ada yang klenger karena berdesak-desakan, karena terinjak-injak, karena pengaruh gas yang membuatnya sulit bernafas, karena kelelahan, dan segala pemicu di lapangan itu.

Tetapi, pasti ada juga anggota keluarga yang di rumah mengalami klenger karena mendengar berita sangat mengagetkan penuh tragika menyangkut anggota keluarga atau sanak saudaranya. Intinya, akeh kang klenger!

Apa itu klenger? Orang disebut klenger itu manakala ia atau mereka itu ora eling, semaput. Yakni ketika orang tiba-tiba lemas atau terjatuh karena pingsan dan tidak inga tapa pun dan siapa pun.

Untuk berapa lama orang pingsan atau klenger seperti itu? Tergantung pemicunya. Dalam konteks malapetaka Kanjuruhan, orang-orang yang mengalami semaput pasti relatif cukup lama.

Mereka yang meninggal pun besar kemungkinannya diawali oleh klenger lebih dahulu, dan karena tidak segera mendapatkan pertolongan, bahkan terinjak-injak, ya sudah semakin menyangatkan kondisi klenger it uterus menjadi sebuah kematian. Sekali lagi tragis!

Keladuk Kesengsem

Apabila kita runut ke belakang, mengapa ribuan orang berada di dalam stadion Kanjuruhan saat itu?

Jawabannya ialah karena ribuan orang itu keladuk kesengsem marang bal siji sing dinggo rebutan kuwi; cinta setengah mati terhadap sepak bola, apalagi yang main adalah tim kesayangannya.

Orang disebut keladuk karena ia berkelebihan dalam bersikap dan berkata-kata, kakehan banget dhemene; berlebihan sayangnya. Karena apa? Karena orang-orang itu kesengsem. Arti kesengsem ialah seneng banget marang, keladuk seneng, berlebihan senangnya.

Dengan ungkapan lain, orang yang keladuk kesengsem ini disebut juga wong kedanan orang yang sangat tergila-gila karena saking cintanya. Dampak orang kedanan semacam ini ialah menjadi wuru.

Baca Juga: Mari Menikmati Tahapan Para Calon: “Adol Kondhang, Golek Linuwih, lan Katon Mumpuni”

Apa itu wuru? Orang wuru tingkatannya lebih “gawat” dari sekedar kedanan, karena orang wuru itu sudah mengarah kepada mendem (bacalah seperti Anda mengucapkan merem atau serem), yaitu karena (a) krasa gliyer amarga dayane inuman keras, pusing-pusing dan goyang akibat pengaruh minuman keras; (b) kebangeten enggone seneng, sedang sangat tergila-gila, dan (c) kumudu-kudu diurmati, orang yang gila hormat dan minta dihormati di mana pun serta oleh siapa pun.

Lengkaplah alur mengapa orang sampai klenger karena alam pikirnya semata-mata dipenuhi oleh kecintaan yang mendalam sehingga kumudu-kudu (harus dan harus) menang dalam konteks pertandingan sepakbola.

Mereka yang klenger pasti bukan hanya “pihak penonton” atau fans sepakbola; sebab ternyata pihak petugas keamanan pun juga terkena klenger. Panitia pelaksana juga klenger, pun direktur liga. Jadi, ternyata amat banyak yang menjadi klenger

Terhadap fakta klenger, keladuk, kesengsem, dan wuru khususnya yang terkait dengan malapetaka Kanjuruhan, amat banyak orang yang marah-marah nyaris tak terkontrol. Intinya, psikologi orang marah pasti cenderung menyalahkan banyak pihak, sampai-sampai ada saja yang mengungkapkan: “Orang Indonesia memang ….bla…..bla…..bla…..”

Lupa bahwa dia yang ngomong itu termasuk di dalamnya, karena dia orang Indonesia, hehehehe.

(JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapranata, Semarang)