Oleh: Amir Machmud NS
// terkadang kita resapi/ rasa yang berbeda/ ungkapan kemenangan/ luap kebahagiaan/ euforia yang tak sama/ karena ada percik/ yang memicu gejolak jiwa//
(Sajak “Euforia di GBK”, Maret 2025)
KEMENANGAN 2-0 atas Arab Saudi pada November tahun lalu tentu jauh lebih bersejarah, tetapi sukses tim nasional mengalahkan Bahrain 1-0 di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa 25 Maret 2025 lalu terasa menciptakan getar euforiatika yang berbeda.
Mengapa?
Kita bisa menandainya dari tiga segi. Pertama, lima hari sebelum itu, Jay Idzes dkk kalah telak 1-5 dari Australia di Sydney, di tengah ekspektasi yang begitu tinggi dalam peralihan pelatih dari Shin Tae-yong ke Patrick Kluivert.
Kedua, Garuda menghidupkan kembali harapan untuk menjaga peluang lolos ke Piala Dunia 2026. Walaupun tidak dalam status sebagai runner up Grup C Pra-Piala Dunia Zona Asia, setidak-tidaknya meniupkan impian untuk melanjutkan langkah dalam persaingan sebagai peringkat ketiga atau keempat.
Ketiga, debut Kluivert membutuhkan pemicu yang memberi kepercayaan diri. Setelah babak belur di Sydney — dan, keminiman waktu persiapan dijadikan salah satu justifikasi — laga melawan Bahrain di Jakarta adalah momentum yang pas untuk membuktikan. Bisa dibayangkan, apabila kemarin Garuda kembali kalah, semua akan lebih menyulitkan bagi PSSI.
Indonesia masih menyisakan dua pertandingan Grup C, Juni mendatang, yakni menjadi tuan rumah melawan Cina, dan bertandang ke Jepang. Kedua laga ini menentukan langkah lanjut Marselino Ferdinan dkk, yang juga akan bergantung pada hasil tim-tim lain. Garuda untuk sementara berada di peringkat keempat di bawah Jepang (yang sudah memastikan lolos), Australia, dan Arab Saudi. Kalkulasinya, tiket lolos langsung tampaknya bakal diperebutkan antara Aussie dan Saudi. Indonesia akan berebut tiket ketiga dengan status sebagai peringkat ketiga atau keempat, lewat babak kualifikasi berikutnya.
Dalam sisa jadwal Grup C, tiga angka penuh ditargetkan bisa diraih ketika menghadapi Cina di Jakarta. Dan, bukan berarti bersikap pesimistis untuk pertandingan terakhir saat bertandang ke Jepang. Di Jakarta kita kalah 0-4, dan Pasukan Merah-Putih patut menetapkan target realistis, yakni bgaimana mematangkan permainan dan tampil sebagus mungkin di Jepang.
Samurai Biru yang sudah memastikan lolos diperkirakan tidak mengejar kemenangan, namun Kaoru Mitoma cs bakal menjaga reputasinya sebagai tim terbaik Asia.
Mematangkan Chemistry
Menuju Juni nanti, Patrick Kluivert akan mencari formula untuk mematangkan chemistry pemain. Saat dikalahkan Australia 1-5, keterbatasan waktu untuk berkumpul — yang hanya dua hari — menjadi justifikasi, yang menyebabkan ada kelemahan dalam kesalingpahaman.
Dalam realitas timnas sekarang, pemusatan latihan jangka panjang memang tidak lagi menjadi pilihan. Para pemain, yang notabene adalah milik klub dari berbagai liga di dunia, baru dilepas untuk memperkuat timnas beberapa hari sebelum bertanding, jadi tidak punya waktu lama untuk berkumpul dan disatukan dalam training center jangka panjang.
Realitas ini pulalah yang dihadapi oleh Timnas Indonesia. Sebelum ini, Shin Tae-yong juga mengalami. Jadi time line pemaduan skema taktik oleh tim Kluivert antara lain juga terkait dengan tuntutan kecepatan adaptasi. Termasuk menghadapi dua laga pamungkas Juni nanti, tim pelatih tentu sudah menyusun tahapan penyatuan chemistry itu.
Dari laga melawan Australia dan Bahrain, kita belum sepenuhnya melihat implementasi filosofi Kluivert. Yang tergambar baru skema, kemampuan teknis individu, dan adaptasi pemain terhadap instruksi pelatih; namun kita makin bisa memastikan, sejumlah nama telah menjadi pilar di posisi tertentu, bahkan boleh dibilang tak tergantikan.
Mulai dari sektor kiper, bek tengah, bek sayap, gelandang, hingga penyerang. Marten Paes, Jay Idzes, Justin Hubner, Rizky Ridho, Calvin Verdonk, Kevin Diks, Thom Haye, Joey Pelupessy, Marselino Ferdinan, Ragnar Oratmangun, dan Ole Romeny.
Ricky Kambuaya, Ivar Jenner, dan Sandy Walsh, menjadi nama tak kalah penting, yang masuk dari bangku cadangan.
Harapan Jangka Panjang
Dari awal, saya termasuk yang berpendapat, proyek naturalisasi pemain dengan memberikan kewarganegaraan kepada para pemain diaspora, seharusnya hanya dijadikan pemicu pembinaan dalam jangka panjang.
Benar, bahwa secara instan kita mendapatkan keuntungan untuk timnas, dengan mengumpulkan para pemain berdarah Indonesia yang berkualitas. Kritik bahwa proyek ini bisa menghambat perkembangan kualitas pemain produk “lokal” sejatinya bukan risiko yang boleh dianggap remeh.
Pengaruh yang harus diarahkan untuk diraih, proyek naturalisasi ini merupakan pemicu pengembangan kompetisi liga. Dalam membangun timnas, jangan hanya bersandar pada pemain diaspora, tetapi memaksimalkan potensi-potensi yang bisa dieksplorasi dari Liga Indonesia.
Maka, ini justru harus dijadikan picu untuk secara komprehensif memperbaiki mutu liga. Semua aspek harus meningkat: manajemen klub, tata kelola kompetisi, perwasitan, pengaturan jadwal, kualitas pelatih, dan upaya membangun kultur persuporteran.
Bagaimanapun, kita patut menyimak kritik pelatih Bahrain, Dragan Talajic. Dalam konferensi pers menjelang pertandingan di GBK, dia mengaku bingung dengan bertambahnya pemain baru Indonesia, yang selalu berasal dari Belanda.
“Saya sudah banyak menyaksikan pertandingan Indonesia. Setiap kali saya melihat ada dua-tiga pemain baru, tetapi bukan dari Indonesia. Mereka dari Belanda dan dari Inggris,” katanya.
Sindiran Talajic itu memang tidak mengenakkan, tetapi bukankah itu adalah realita?
Bukan tidak mungkin, ketika Juni nanti menghadapi Cina dan Jepang, kita akan menambah lagi jumlah pemain diaspora. Dan, jika kita tidak mulai bergerak ke arah pembenahan kualitas kompetisi, proyek ini akan terus berlangsung sebagai sesuatu yang pada sisi lain justru berpotensi menyuramkan gairah bersaing pemain lokal.
Kita melihat para pemain yang secara khusus bisa berjajar dengan nuansa transfer of technology di antara para diaspora. Rizky Ridho, Marselino Ferdinan (yang mengenyam pengalaman di Liga Eropa di Belgia dan Inggris), Ricky Kambuaya, bahkan Ramadan Sananta menjadi bagian dari tim yang secara euforiatik mengalahkan Bahrain di GBK.
Jumlahnya memang minoritas di tengah para pemain diaspora, namun setidak-tidaknya bisa memberikan kesimpulan bahwa Liga Indonesia pun bisa melahirkan produk sekualitas mereka.
Sementara, mari menikmati euforia kemenangan di GBK sebagai penyejuk, setelah sebelumnya kita diluruhkan oleh kekalahan 1-5 dari Australia. Selanjutnya, kita tunggu bagaimana Patrick Kluivert menyiapkan tim menuju dua pertandingan terakhir, Juni mendatang.
Apakah lolos ke Piala Dunia 2026 sekadar menjadi impian, atau benar-benar bisa diwujudkan…
— Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah —