Tri Susilo, Plt Kadinas Pertanian didampingi oleh Heru Cahya Nugraha, Kepala Bapeltan Dispertan Jateng dan Nur Widiastuti, Kabid Hortikultura Dispertan Grobogan saat membuka Bimbingan Teknis Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian Angkatan XII di Desa Tanggirejo, (23/11/2021). Foto : Dok Istw

GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Plt Kepala DSinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah Tri Susilo mengatakan, pengolahan produk-produk pertanian, dapat meningkatkan nilai jual hasil pertanian, dibandingkan dengan penjualan produk pertanian langsung tanpa diolah.

Plt Kadinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah Tri Susilo mengatakan hal itu saat membuka Bimbingan Teknis Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian Angkatan XII yang diselenggarakan oleh Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Dinas Pertanian Jawa Tengah pada 23-25 November 2021, di Balaidesa Desa Tanggirejo, Kecamatan Tegowanu Kabupaten Grobogan, Selasa (23/11/2021).

Dicontohkan oleh Tri Susilo, produk pengolahan singkong yang ada di Kota Salatiga, yang terkenal dengan kampung singkong. Dengan mengolah singkong mentah menjadi SSG (singkong siap goreng). Maka harga jualnya bisa mencapai 10 kali lipat dari harga mentah yang hanya seribu rupiah per kilonya.

“Pengalaman saya saat beli SSG, bisa antre hingga 1 jam lebih. Artinya setelah diolah dapat meningkatkan pembeli dan harga jualnya,” jelas Kadinas Pertanian mewakili Wakil Gubernur Jawa Tengah, didampingi oleh Heru Cahya Nugraha, Kepala Bapeltan Jateng dan Nur Widiastuti,

Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan.

Dalam pelatihan yang diikuti oleh 30 peserta dari Kelompok Tani Sehati, Desa Tanggirejo tersebut, oleh panitia difasilitasi lebih kepada praktek kerja lapangan dalam pengolahan hasil-hasil pertanian.

Mulai dengan pengolahan jagung mejadi keripik jagung, bawang merah manjadi bawang goreng dan singkong diolah menjadi singkong krispi.

Harapannya, dengan pelatihan praktikum dalam mengolah hasil pertanian tersebut, dapat memotivasi anggota kelompok tani untuk dapat menciptakan produk-produk yang dapat meningkatkan ekonomi keluarga.

Absa