Ilustrasi

DI BALIK kesulitan ada kemudahan,  di balik musibah ada hikmah. Tidak percaya? Simak kisah ini. Ketika Buya Hamka ditahan rezim Orde Lama, selama dalam tahanan beliau menulis tafsir Al-Azhar yang kemudian fenomenal. Belakangan Buya mengakui, hal itu tidak akan pernah terwujud jika beliau tidak menyendiri dalam sel.

Kadang kita menginginkan apa yang kita mau itu harus terkabulkan, namun Tuhan lebih tahu mana yang terbaik bagi hamba-Nya. Karena apa yang kita anggap baik, belum tentu itu yang terbaik bagi kita.

Ada kisah yang dialami sahabat saya. Saat krismon 1998 dia di-PHK dari jabatan manajer, dia back to basic sesuai ilmu saat kuliah. Dia kemudian jadi lawyer, sering keliling dunia dan secara finansial bisa dibilang super.

Kisah teman lain, saat dia masih calon menantu sangat disayang calon mertuanya. Setelah menikah dan tinggal di rumah mertua, baru tiga bulan mulai diungkit-ungkit karena penghasilannya tak menentu.

Keluarga baru itu lalu pindah ke rumah kos. Dia rajin bekerja dan menabung. Dua tahun kemudian sudah bisa membeli rumah. Dia bersyukur. Andaikan dia terus disayang mertua, saat itu belum punya rumah.

Hikmah, atau kebajikan tersembunyi di balik suatu peristiwa yang pahit sekalipun, adalah “kado indah” bagi kita, karena itu apapun yang terjadi, jika itu bukan imbas dari perilaku negatif, sikapi dengan berbaik sangka.

Saya menemukan “dunia baru” sebagai penulis itu juga berawal dari “kegagalan” di perantauan. Saat itu sedang krisis moneter yang menyebabkan order desain grafis dan lukisan “terjun bebas”.

Saya mencoba melamar di beberapa advertising yang dulu saya sering dapat order freelance dari situ. Semua doa sudah saya panjatkan agar dapat pekerjaan, namun doa itu tidak terkabulkan.

Dalam kondisi terdesak, saya memperbanyak riyadhah (olah batin). Suatu malam, dalam kondisi trance, antara sadar dan tidur, saya merasa di sebuah ketinggian dan saya melihat ada bangunan indah dengan arsitektur perpaduan antara gedung dan masjid.

Saat saya mendekati bangunan itu, saya bertemu teman main semasa kanak-kanak. Saya lalu mendekat. Dalam pertemuan itu tidak ada pembicaraan. Dia hanya memberikan pena emas bertuliskan “Lufthansha” dan setelah itu kami berpisah.

Berdasarkan “ilmu titen” suatu impian yang tidak diangan-angan sebelumnya, dan impian itu melekat kuat dalam ingatan,  itu diyakini petunjuk Tuhan.

Dalam kondisi nganggur, saya pulang kampung dan mengisi waktu dengan melatih beladiri. Suatu kebetulan, saat itu tenaga dalam sedang booming. Media banyak menulis tentang beladiri “gaya baru” dengan khasnya, pukulan jarak jauh.

Mulai Menulis

Saya mulai mengenal dunia menulis juga tidak sengaja. Dalam suasana lebaran, saya bertemu teman yang lebih dulu aktif di dunia jurnalistik. Saat jagong itu kami berbincang tentang tenaga dalam yang sedang booming.

Dia menilai artikel yang ditulis kalangan perguruan yang dikirim ke redaksi lebih kuat pesan sponsor perguruannya. Sedangkan redaksi lebih menginginkan tulisan yang netral. Syukur  jika ada tulisan yang memberi penyeimbang dari yang ditulis internal perguruan.

Kesempatan baik itu saya manfaatkan.

Tulisan pertama saya berjudul “Sejarah Perkembangan Perguruan Tenaga Dalam” dan edisi berikutnya saya mulai buka-buka “rahasia perusahaan”. Media merespon baik adanya informasi penyeimbang yang lebih  mencerahkan, hingga tulisan saya menjadi kolom atau rubrik.

Pindah Buku

Ketika tulisan sudah tayang yang ke-40, ada penerbit berminat menerbitkannya dalam bentuk buku dengan prosesnya yang mudah. Yaitu, saya cukup mengirim fotokopi guntingan koran saja. Untuk penulisan naskah dan lain-lain, urusan penerbit.

Dan dalam satu bulan, buku sudah beredar di pasaran. Setelah buku pertama terbit, ada tiga penerbit yang minta saya mengirim naskah ke penerbitnya. Dari tiga penerbit itu, saya pilih penerbit Solo.

Pertimbangannya, direkturnya berikrar, setiap kali saya  mengirim SMS judul naskah yang akan ditulis, Rp 1 Juta langsung masuk rekening saya. Tentu saja, untuk harga naskah, beda lagi tarifnya.

Rahasia Hikmah

Setelah menekuni profesi penulis, banyak hal saya dapatkan. Karena setelah buku pertama cetak ulang, penerbit meminta saya terus menulis naskah, bahkan meteri tulisan dan judul pun, sepenuhnya dipasrahkan penulisnya.

Apa yang saya alami itu memberikan inspirasi bahwa berdoa itu jangan “memaksa” Tuhan untuk mengabulkan apa yang diinginkan.  Cara Tuhan itu super istimewa. Andaikan saat itu doa saya dikabulkan untuk tetap bekerja di Jakarta, saat ini saya belum menulis  80-an judul buku, dan di kolom.

Dari rangkaian kejadian itu, saya ambil hikmahnya. Karena Tuhan Maha tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya, maka tidak setiap doa harus dikabulkan. Dan doa yang sering saya ucapkan adalah doa yang rangkai sendiri, berdasarkan pengalaman saya.

Yaitu: ” Ya Allah, saya ikhlas doa-doaku tidak Engkau kabulkan, karena saya yakin Engkau akan mengganti dengan pemberian yang jauh lebih baik dan lebih berkah.”

Kemudian ditutup doa Sapu Jagat  “Rabbana atinaa fiddunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qina ‘adzaaban nar. (“Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka.”)

Belakangan saya sadari, andai dulu doa saya untuk tetap bekerja di Jakarta itu dikabulkan, belum tentu saya bisa menulis buku, rubrik, dan memiliki banyak sahabat.

Masruri, penulis buku praktisi dan konsultan metafisika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here