blank
Dalam menyambut perayaan Bakda Syawal, yang berlangsung H+7 setelah Hari Raya Lebaran Idul Firtri, banyak pembuat selongsong ketupat yang menjajakannya di pasar-pasar tradisional.(Dok.Ist)

BAKDA KUPAT, lazim dirayakan oleh masyarakat Muslim Nusantara, sepekan setelah Hari Raya Lebaran Idul Fitri. Untuk Tahun 1445 H/2024 M sekarang, perayaan Bakda Kupat jatuh pada Hari Rabu Tanggal 17 April 2024. Ini didasarkan pada hitungan H+7 setelah Sholat Ied.

Penyertaan kupat pada Bakda Syawal, ternyata memiliki sejarah panjang. Berdasarkan Buku Makna Ketipat dalam Upacara Telung Bulan di Denpasar, Karya Ni Made Yuliani dan I Ketut Wardana Yasa (2020), ketupat telah diperkenalkan sejak Zaman Hindu-Budha. Penyebutan kupat, akupat, dan khupat-kupatan tercantum dalam Kakawin Kresnayana, Kakawin Subadra Wiwaha, dan Kidung Sri Tanjung.

Nusantara sebagai Negeri Agraris, pada zaman Hindu-Budha, telah menyertakan ketupat menjadi bagian dari bentuk pemujaan terhadap Dewi Sri. Dewi Sri, adalah Dewi tertinggi dan terpenting bagi masyarakat agraris.

Kemudian terjadi desakralisasi dan demitologisasi saat Dewi Sri tidak lagi dipuja sebagai Dewi Kesuburan dan Pertanian, tetapi hanya sebagai lambang dengan dipresentasikan dalam bentuk ketupat. Hingga akhirnya ketupat merupakan perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Terlepas dari sejarah kupat di Nusantara tersebut, Budayawan Jawa peraih Anugerah Bintang Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, perayaan Bakda Kupat atau Kupatan, juga disebut sebagai Bakda Syawal (Sawal). Pranoto yang Abdi Dalem Keraton Surakarta ini, menyebutkan, waktu penyelenggaraan Bakda Kupat atau Bakda Syawal, berlangsung pada Tanggal 8 Bulan Syawal.

Simbol

Dalam Buku ”Bauwarna Adat Tata Cara Jawa” karya Drs R Harmanto Bratasiswara (Yayasan Suryasumirat, Jakarta 2000), paling sedikit ada dua makna kupat dalam Bakda Sawal. Pertama, pesta lebaran dengan menyajikan menu kupat beserta lauk pauknya (opor ayam, sambel goreng, krupuk). Disajikan dalam pesta Kupat (Kupatan) untuk keluarga, kelompok komunitas yang menggelar silaturahmi.

Kedua, menjadi lambang (simbol) laku ibadat untuk menggambarkan tuntunan empat ibadat. Terdiri atas orang yang merayakan Idul Fitri wajib melakukan puasa Ramadan, membayar zakat, melaksanakan sholat Ied dan saling maaf memaafkan.

Sejarah Bakda Kupat, telah ditradisikan sejak Abad Ke-16, semasa Kasultanan Demak Bintara, Ini erat kaitannya dengan Wali Sanga, saat menyebarkan Agama Islam di Tanah Jawa. Disebutkan, Sunan Kalijaga memperkenalkan dua hari raya yang di Bulan Syawal. Yakni Hari Raya Idul Fitri atau Bakda (bakda berarti setelah) Lebaran dan Bakda Kupat (Tanggal 8 Syawal). Tradisi yang berkembang sampai sekarang ini, diyakini sebagai bentuk menyampaikan rasa syukur setelah Idul Fitri.

Menyertakan kupat (anyaman terbuat dari janur) yang di dalamnya diisi beras untuk dimasak, dipahami sebagai lambang laku papat atau empat tindakan. Yakni lebaran, luberan, leburan dan laburan. Lebaran dimaknai akhir dari Ramadan. Luberan, berati melimpah untuk saling membagi rezeki kepada sesama.

Selanjutnya, leburan, dimaknai melebur atau menghilangkan dosa yang diwujudkan lewat tindakan saling meminta dan memberi maaf. Kemudian laburan, berasal dari kata labur (kapur) untuk memutihkan dinding. Artinya, sebagai insan manusia harus senantiasa menjaga kejernihan (memutihkan) lahir dan batinnya.
Bambang Pur