Ringkasan Cerita Lalu:

Sungguh di luar dugaan, Arya Pandan harus menghadapi lawan yang sama sekali tak diperhitungkan.  Kembang Manggis, pendekar perempuan di Padepokan Gelagah Abang diumpankan Ki Guru Dhamarjati untuik melawannya. Akankah Arya Pandan meladeni secara sungguh-sungguh Kembang Manggis, atau bahkan sebaliknya? – red.

 

***

Keduanya masih berhadap-hadapan, Arya Pandan dan Kembang Menggis, Namun sejak tadi Kembang Manggis tidak segera mendekat maju, padahal Pandan sudah bersiap-siap menerima hantaman atau tendangan. Ia sudah menakar, kelak jika Manggis mengeuarkan jurus melompat, seperti dulu ketika keduanya berlatih kuda di Sungai Kopen, Pandan tak akan mengimbangi.

Ternyata tidak, Manggis hanya berdiam saja di tempatnya. Tangannya yang bersedeku dengan hadangan mata sejurus melihatnya tajam.

Tiba-tiba tubuh Manggis bergeser sedikit ke arah kiri, seperti menghimpun angin, sekumpulan anakan badai bergulung-gulung di sekitar tubuhnya. Seketika itu juga angin berputar-putar menuju ke arahnya, menghantam tubuh Arya hingga terhuyung jatuh ke tanah. Tubuh Manggis hanya bergeming menatapnya.

Ketika Arya Pandan tersungkur, tepuk-sorak para murid Padepokan yang berada di depannya terdengar riuh. Mereka memberi semangat atas keberhasilan Kembang Manggis dalam menjatuhkan Pandan.

Jurus Angin Berputar-putar Terbang, Jurus Angin Berputar-putar Terbang. Jurus wajib yang diajarkan Ki Guru. Lawan !!” Terdengar seseorang berteriak, kembali memberi semangat pada Manggis.

Baru tahu Arya Pandan kalau hantaman yang baru dihantamkan padanya adalah Jurus Angin Berputar-putar Terbang. Ia menatap sekilah pada Ki Guru Dhamarjati Wasesa, dengan tenangnya Ki Guru hanya mengangguk kecil sambil terkekeh.

Tak banyak pikir panjang, Arya Pandan menghalau arah angin yang tadi menyerangnya. Serta-merta juga ia berusaha bangkit, dan mencoba menghimpun serangan juga.

“Maafkan aku, Manggis. Terpaksa harus kukeluarkan ilmu tenaga dalamku juga untukmu,” teriaknya.

Kembang Menggis mengangguk, rupanya ia sudah siap menghadapi apapun.

“Lakukanlah, Pandan!”

Dan, ketika Arya Pandan berusaha mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya dengan menghempaskan segala kekuatan nafas, saat itu juga ada  semacam tenaga besar yang mendorong tubuh Kembang Manggis tiada terhitung. Kemudian menghantam tubuhnya sehingga tidak hanya terjengkang, tetapi malah terlempar sampai ke atap, dan jatuh tidak bertenaga.

Seketika itu juga Arya Pandan menghampiri arah di mana tubuh Manggis terpelanting ke atas langit-langit. Sebelum tubuh itu terjatuh ke tanah, terlebih dahulu Arya Pandan mengejarnya, menangkap tubuh itu dalam pelukannya. Seperti baru saja terbang bersma, Arya Pandan membawa tubuh Kembang Manggis kembali mendarat, persis seperti letak berdiri sebelumnya. Tidak kurang, tidak lebih. Masih berada dalam pelukannya, Arya Pandan membisikkan sesuatu ke telinga Manggis, “Yang ini Jurus Angin Asmara Menghantam Hatimu, Manggis.”

Seperti menanggung rasa malu, Kembang Manggis secepatnya menepis Arya Pandan dari pelukan. “Hentikan ulahmu, Pandan !” katanya.

Di mata banyak orang, baru saja Manggis dan Pandan telah melakukan jurus kesaktian yang luar biasa. Mereka bertepuk tangan, bahka Ki Guru tertawa terkekeh-kekeh sesudahnya.

“Ha ha ha, sudahlah. Arya Pandan sudah menunjukkan dirinya sebagai pendekar ilmu tenaga dalamnya,” kata Ki Guru, sambil berjalan menghampiri Kembang Manggis.

“Saya dipermalukannya, Ki Guru,” kata Manggis.

“Tidak usah malu, nanti kau akan tahu siapa sbenarnya Kisanak ini.”

Berkata begitu, lantas Ki Guru menyudahi pertemuan menjelang siang ini di Paseban. Seluruh yang hadir merasa takjub luar biasa.

Hanya seseorang yang tidak merelakan Kembang Manggis diperlakukan demikian. Tiada lain adalah Lindhujati. Pendekar padepokan yang satu ini terus bersungut dan menatap panuh dendam pada Arya Pandan. “Kapan-kapan ilmu tenaga dalamku harus juga kau rasakan, Pandan,” geramnya.

Ketika seluruh punggawa padepokan dan para murid meninggalkan Paseban, Ki Guru tidak serta-merta membubarkan pinarakannya (duduknya) di tempat itu. Ia memerintahkan agar Arya Pandan menemuinya sehabis matahari tegak lurus dengan langit di sebuah tempat yang ditentukan.

“Kita harus bicara siang ini. Segeralah makan, sesudah itu pergilah seorang diri menuju ke tepi Sungai Kopen.”

“Sendiri atau bersama Manggis, Ki Guru?”

“Bukankah kau sudah tahu tempatnya, Kisanak? Mengapa harus bersama Kembang Manggis lagi?”

Arya Pandan pun terdiam seketika. Kalau Ki Guru sudah berkata demikian, ini berarti bukan lagi sedang bercanda. Dirinya harus sudah tahu diri, karena Ki Guru saat ini sedang bersungguh-sungguh.

“Baik Ki Guru, saya akan segera berkuda ke tempat yang Ki Guru maksud.”

Ki Guru mengngguk tanpa melihat lagi dirinya.

“Sebaiknya, setelah istirahat makan siang, segeralah menuju ke Sungai Kopen. Kapanpun kau sampai, saya sudah berada di sana.”

“Baik, Ki Guru.”

Seketika itu juga Arya Pandan berpamitan kepada Ki Guru dari Paseban. Ia menuju pada Jayeng sang kuda, sambil sebelum itu tangannya meraih beberapa buah jambu air langsung dari pohonnya. Dengan segera ia memakan satu – dua buah, sambil kemudian melepaskan tali kuda.

“Kita berangkat lagi ke sungai yang kemarin, Jayeng,” bisiknya sambil meloncat naik ke punggung si kuda. Maka berangkatlah keduanya dengan bergegas meninggalkan Padepokan.

***

Matahari mulai condong ke barat, sebagaimana sore yang sudah-sudah, berpuluh murid Padepokan memanfaatkan waktu senggang itu untuk berbincang.Ada juga yang bemain-main sambil bercanda di bawah pohon besar yang tumbuh di tanah lapang.

Kembang Manggis hanya sendiri menggendong tenggoknya menuju ke perkebunan di samping lahan latihan. Ia memang ingin memetik beberapa buah palawija dan sayur-sayuran guna persiapan bediang (membuat bakaran dari tumpukan kayu kering untuk mengusir nyamuk) malam hari. Bersama-sama Cipluk dan Arumsari, malam nanti ketiganya berencana hendak bediang di  halaman gubug penginapan. Sambil membakar kayu, biasanya mereka menumpuki satu-dua batang ubi, hingga matang dan dimakannya bersama-sama.

Suara jeritan para murid dari kejauhan, semakin tak terdengar. Perhatian Kembang Manggis kini sedang pada beberapa tanaman ketela pohon yang dirasa telah membesar batang pohonnya. Ketika dengan susah-payahnya Kembang Manggis berusaha mengangkat batang pohon ketela pohon itu keluar dari tanah, sebuah tangan besar mendadak ikut menariknya. Tangan itu bertenaga sangat kuat, sehingga tidak perlu lagi harus menunggu agar tanah di sekitar terlebih dahulu melemah.

Ketika satu pohon yang cukup besar berhasil terangkat keluar, Kembang Manggis menoleh ke wajah siapa yang sedang membantunya. Lindhujati sambil menyeka keringat telah menyeringai dan menatapnya.

“Kakang Lindhujati…”

“Sepertinya kau tampak kepayahan untuk mengangkat ubi-ubi itu dari tanah,” katanya sambil meremehkan.

“Nanti pasti akan kudapatkan, sambil mencari keringat di sore hari,” jawab Manggis.

“Janganlah sungkan-sungkan meminta tolong padaku untuk mencari sekadar palawija di kebun ini.”

“Terima kasih, Kakang Lindhu. Kau sangat baik.”

“Sejak dulu aku selalu ingin baik padamu, tapi dirimu selalu menjauh dan menghindariku.”

Kembang Manggis membiarkan sepasang tangan besar itu menarik beberapa pohon lagi, hingga dirasa telah cukup, iapun memintanya untuk berhenti.

“Itu tidaklah benar. Buktinya aku membiarkan Kakang membantu mengangkat palawija sore ini di kebun.”

“Bukan itu maksudku…”

“Aku tak tahu apa maksud pembicaraanmu, Kakang Laindhu?”

Kembang Manggis berdiri tegak, menatap lurus ke wajah Lindhujati. Yang ditatap seperti itu tak kuasa menerimanya. Segera Lindhu mengalihkan pandangannya ke arah lain. “O, iya. Mana lagi yang harus kau inginkan? Ubi jalar jugakah?”

Kembang Manggis tidak menjawab dengan kata-kata, namun anggukan lemahnya cukup memberi jawaban harus bagaimana Lindhujati mencari beberapa pohon ubi jalar yang tak jauh dari tempatnya.

“Sejak dulu Kakang Lindhu selalu bersikap baik terhdap setiap orang padepokan. Dan aku tidak pernah menghindari kebaikanmutu , Kakang.”

Sambil menarik beberapa pohon yang menjalar, muka Lindhujati masih menyeringai, seolah sedang menertawakan dirinya sendiri.

“Apa yang sedang Kakang pikirkan??”

“Aku selalu memikirkanmu, Manggis”

Satu pohon dengan berapa buah ubi jalar berhasil keluar dari tanah oleh tarikan tangan kuat Lindhujati.

“Kakang sedang berpikir apa tentangku?”

Sambil juga berdiri, kali ini Lindhujati mencoba memberanikan diri untuk menatap Kembang Manggis yang bergaris bola mata indah dengan sorotnya yang tajam.

“Berpikir tentang dirimu, Manggis.”

“Ada apa dengan diriku?”

“Akulah yang sedang ada apa-apa terhadapmu. Sudah sangat lama bahkan. Aku ingin kau selalu berada di dekatku, dan tidak sejengkal tanahpun pergi dariku.”

“Kakang Lindhu…”

Perasaan hati Kembang Manggis sontak seperti sedang digoyang. Seberani-berani seorang perempuan sepertinya, yang diharap Ki Guru akan menjadi pendekar perempuan digdaya dari padepokan ini, merasa takut juga ketika harus menghadapi yang seperti ini.

“Maafkan aku, Manggis. Mungkin ini sebuah kelancangan bicara yang tak kau kehendaki. Tapi sejak kepergianmu malam-malam bersama Arya Pandan iu, aku merasa sangat khawatir akan dirimu. Meski itu perintah pertama Ki Guru terhadap seorang prajurit perempuan dalam mengawal seorang tamu asing ke tempat jauh.”

“Percayalah Kakang, aku dalam keadaan baik. Arya Pandan adalah seorang anak muda yang belum seberapa kemampuannya daripada kemampuan ilmu kudaku,” bantah Kembang Manggis.

Kali ini Laindhujati seperti benar-benar ingin mengingatkan pada Kembang Manggis tentang siapa sebenarnya Arya Pandan. Namun ia masih kebingungan dengan cara mengatakannya.

“Tahukah Manggis, apa arti kesedihan sebatang pohon jati di musim kering? Sebatang pohon jati akan selalu takut kehilangan terhadap beberapa lembar daunnya yang jatuh di musim kering, meski serat pohonnya sendiri sangat kuat.”

“Apa arti dari perumpamaan itu, Kakang?”

“Mungkin aku serupa sebatang pohon jati itu dan kau adalah salah satu daunku yang suatu kali akan meninggalkanku.”

“Semoga kita tetap bersama-sama di padepokan ini.”

“Tapi usia akan bertambah dan masing-masing kita akan memilih jalannya sendiri.”

“Apa salahnya? Selamanya kita akan menjadi saudara, apa salahnya untuk saling berkabar dan mengunjungi?”

“Ijinkan untuk tidak saling menjadi saudara, Manggis. Karena aku ingin menjadi pelindungmu untuk selamanya. Aku ada perasaan untuk menyayangimu.”

Sampai pada kata-kata itu, Manggis tak berani berkata-kata lagi. Hatinya menjadi kacau luar biasa, karena bukan ini yang dikehendaki. Namun Manggis juga tidak tega mengatakan kata hatinya, bahwa ia sama sekali tidak bisa menerima rasa sayang Lindhujati padanya.

“Sudah sangat sore, Kakang. Biarkan pohon-pohon jati di hutan sana, beristirahat dengan nyaman hingga esok hari berikutnya,” tutur Manggis mencoba mengalihkan pembicaraan.

***

(Bagaimana Lindhujati  akan menyikapi kata-kata Kembang Manggis tadi? Jawaban Mangis sama sekali belum menjawab terhadap yang baru saja diutarakannya. Tapi perjalanan Arya Pandan ke Sungai Kopen telah sampaikah? Benar-benar bertemukah ia dengan Ki Guru Dhamarjati Wasesa? Atau, jangan-jangan…? – BERSAMBUNG )