blank
Kenyamanan penumpang di Trans Jateng sangat diutamakan. Foto: Dishub

GUBERNUR Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menciptakan inovasi layanan transportasi murah, aman, dan nyaman, lewat kehadiran Bus Rapit Transit (BRT) Trans Jateng. Hal itu seperti dikatakan Plh Kepala Dinas Perhubungan Jateng, Syurya Deta Syafrie.

Deta mengatakan, Ganjar berhasil membangun BRT Trans Jateng, dengan standar pelayanan yang memenuhi keamanan, keselamatan, kenyamanan, kesetaraan, dan keterjangkauan. Bus yang pertama kali beroperasi pada 2017 ini, mampu menghubungkan wilayah aglomerasi perkotaan.

”Pendekatan bidang transportasi Jateng lebih bersifat regionalisasi, khususnya angkutan aglomerasi. Introduksi BRT Jateng adalah mendorong konektivitas wilayah (urban-rural lingkages),” kata Deta dalam keterangannya di Semarang, Sabtu (22/10/2022).

BACA JUGA: Ini Alasan Kawali Jepara Tolak Tambak Udang di Karimunjawa

Terlebih lagi, imbuhnya, Ganjar menggagas inovasi aplikasi layanan penumpang Trans Jateng bernama ‘Si Anteng’. Melalui aplikasi ini, calon penumpang dapat mengetahui lokasi halte terdekat, dan waktu Bus Trans Jateng yang akan ditumpangi tiba di halte.

”Inovasi ‘Si Anteng’ pernah mendapatkan penghargaan dalam Inovasi Daerah dalam Tatanan Normal Baru, yang digelar Kemendagri Tahun 2020,” ungkapnya.

Deta juga menyampaikan, melimpahnya layanan transportasi publik yang diusung Ganjar ini, akhirnya membuat masyarakat beralih ke angkutan umum. Deta menyebut, hal itu berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 2021 lalu.

BACA JUGA: BNN Musnahkan Ladang Ganja, Total Tahun 2022 hingga September 24 Hektar

”Hasil survei 2021 terhadap 1.412 responden terkait tingkat kebermanfaatan BRT, menunjukkan sekitar 46,39 persen atau 665 orang, yang tadinya menggunakan kendaraan pribadi, beralih ke transportasi umum. Selain itu, sebanyak 50,71 persen atau 716 penumpang yang berpindah dari angkutan umum ke Trans Jateng,” tuturnya.

Secara tidak langsung, kehadiran BRT Trans Jateng berbiaya murah ini, juga berkontribusi dalam mengentasan kemiskinan masyarakat. Deta menjabarkan, penghematan biaya transportasi rata-rata penumpang tiap bulannya adalah Rp 103.321.

”BRT Trans Jateng juga meneguhkan pengarusutamaan gender, yang semula angkutan lain tidak terlalu memberikan perhatian terhadap perempuan, Trans Jateng justru 75 persen adalah perempuan,” beber Deta.

BACA JUGA: Persatuan Tenis Pengayoman Semarakkan G20 dengan Menggelar Turnamen 

blank
Konsep kesetaraan dalam halte Trans Jateng. Foto: Dishub

Sementara itu, Ketua Komunitas Peduli Transportasi Semarang (KPTS), Theresia Tarigan, mengapresiasi upaya Ganjar, atas keberadaan Trans Jateng yang memiliki kualitas pelayanan yang baik. Apalagi konsep Trans Jateng juga mengarah ke aglomerasi untuk pengembangan ekonomi wilayah.

Menurut Theresia, Trans Jateng adalah solusi alternatif, saat angka kecelakaan dan kepemilikan kendaraan pribadi masih tinggi. Theresia pun mendorong Ganjar dan jajaran Pemprov Jateng, untuk terus berkolaborasi dengan banyak pihak.

”Ukuran keberhasilan angkutan umum adalah, persentase warganya yang menggunakan angkutan umum. Memang, untuk mencapai 60 persen pengguna angkutan umum tidaklah mudah,” sebutnya.

BACA JUGA: Destana Damarwuan Libatkan Ahli Metafisika Cari Mbah Ngarji

Namun, lanjut Theresia, jika upaya ini berkolaborasi dengan pemerintah pusat terkait kebijakan leasing kendaraan pribadi, subsidi BBM, SOP SIM yang lebih ketat, pajak kendaraan pribadi, kebijakan parkir, maka lebih mudah mendapatkan skala ekonomi angkutan umum.

Saat ini, BRT Trans Jateng sudah memiliki enam koridor, dengan total 98 armada. Layanan rutenya meliputi Semarang-Bawen, Purwokerto-Purbalingga, Semarang-Kendal, Purworejo-Magelang, Solo-Sragen, dan Semarang-Grobogan.

Trans Jateng akan membuka Koridor 7, dengan rute Solo-Wonogiri, yang bakal direalisasi pada 2023 mendatang. Titik awal perjalanan koridor Trans Jateng rute itu, dari Terminal Tirtonadi Solo sampai dengan Terminal Tipe C Wonogiri, di sebelah utara Pasar Wonogiri Kota.

Tim SB