blank
Ilustrasi. Foto: Dok. Masruri

blankKERABAT saya, saat sedang mengaji, ketika sampai bagian terakhir juz tujuh, oleh ustad, disuruh berhenti, dan oleh guru disuruh untuk menghafalnya.  Ketika bacaannya dianggap sudah baik, Guru meminta esok malam Jumat untuk menemuinya.

Saat menghadap guru, dia   disuruh membaca amalan itu tiga kali sambil menjabat tangan gurunya. Selanjutnya, setiap menjelang pergantian waktu, sore ke malam, dan fajar ke pagi agar membaca secara rutin.

Saat dia bertanya kepada guru, amalan yang dibaca itu untuk keperluan apa? Guru menjawab singkat, “Untuk keselamatan.”

Karena Guru tidak memberi tahu, dia bertanya kepada teman yang lebih senior, dan dijawab amalan itu untuk keselamatan, termasuk menutup pandangan orang yang berniat jahat, sesuai artinya: “Tidak bisa dicapai dengan penglihatan mata.”

Analisis dia mendekati kebenaran  saat bertemu teman yang  mengamalkan amalan yang sama, yaitu bagian dari kunci  untuk keselamatan, terutama yang berkaitan “menutup” padangan orang yang berniat tidak baik.

Ayat itu di kalangan para ahli hikmah, diyakini untuk menutup pandangan mata, terutama orang yang berniat jahat. Sesuai artinya, “Dia tidak bisa dicapai dengan penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dialah yang Mahahalus lagi Maha-Mengetahui.”

Bagi pelaku metafisik yang cerdas, amalan ini dapat divisualisasikan untuk banyak hal. Dianaranya, untuk siker (pagar gaib) agar suatu lokasi: Kantor, rumah, kebun, dsb., insya Allah aman dari gangguan tangan-tangan jahil.

Serbuan Massa ke Kampung

Pengalaman yang pernah dialami rekan yang lain, ketika ada massa akan menyerbu kampungnya, saat dia keluar dan menyongsong massa sambil membaca amalannya, dan dia tidak terlihat oleh massa yang beringas.