(Ilustrasi) M Iskak Wijaya (Jepara) ketika menampilkan monolog ''Para Ruh'' bersama pemahat patung Dwi Tunggak.(Foto:SN/dok-hp)

Oleh : Aliva Rosdiana

Teater, menurut Goenawan Mohammad, yaitu keterampilan seorang aktor diperhitungkan ketika ia memahami, menghayati, dan memainkan peran dalam menghidupkan panggung menjadi suatu realitas pertunjukan teater. Khususnya dalam teater monolog, merupakan hal yang signifikan.

Teater monolog atau monoplay memiliki wilayah permainan yang menuntut kekhasan tantangan. Seorang aktor tak boleh menunjukkan kelemahannya jika tak ingin dianggap gagal dalam sebuah pertunjukan. Maka, penguasaan elemen-elemen permainan teater mutlak diperlukan dalam stadium maksimal. Sebab aktor adalah pusat dalam pertunjukan.

Seorang aktor hanya cukup menguasai keterampilan dalam sebuah permainan teater monolog (atau monoplay) agar terkesan hidup dan penuh variasi, sehingga penonton yang hadir seakan melebur dalam ruang dan waktu. Penguasaan panggung seorang aktor terampil berteater tak ubahnya menjadi sebuah realitas di mana tak ada lagi batas sang aktor sebagai subyek penggulir permainan dengan penonton sebagai obyeknya. Sebagai obyek, penonton dibuat takjub dan merasakan seolah mereka juga bagian dari adegan permainan.

BACA JUGA Rendahnya Animo Pencinta Sastra Terhadap Kritik Sastra

Sebagai subyek, seorang aktor berperan sebagai penggerak dan penghidup, bahkan dapat dikatakan pencipta, semesta atas tontonan. Seorang aktor, bukan sebuah ornamen, atau sekadar penyampai pesan, melainkan jembatan penghubung antara imajinasi naskah dengan realitas panggung dan ruang yang mengitari pertunjukan.

Di negeri ini, aktor teater tak banyak yang berhasil memainkan model teater monolog. Bahkan dapat dikatakan sedikit sekaliaktor teater yang mampu memainkan teater monolog. Sebutlah sejumlah nama seperti Imam Sholeh (Bandung), Butet Kertaradjasa (Yogya), dan Meimura (Surabaya) yang oleh banyak pengamat teater dikatakan berhasil memainkan permainan teater model monolog.

Penguasaan keterampilan bermain teater saja tidaklah cukup tanpa didukung penguasaan kontrol diri dalam bermain. Sebab menjaga seorang aktor dalam keadaan sadar dalam permainan agar tidak melintasi batas-batas permainan yang telah disepakati merupakan hal yang sangat krusial. Stanivalsky pernah berkata bahwa dalam pengontrolan diri, yang paling buruk dari seorang aktor adalah ketika ia memerankan orang tidur, ia benar-benar tertidur pulas. Namun, sebagai seorang aktor seyogyanya bermain dengan penuh kesadaran dan bukannya serta-merta larut dalam sebuah permainan.

Goenawan Mohammad menyepakati bahwa masalah seni teater, apa pun bentuknya, adalah bagaimana cara tubuh meletakkan diri di ruang dan waktu dalam menanggapi kehadiran orang lain. Kehadiran permainan dapat hadir dalam pemaknaannya, bukan muncul sebagai fenomena yang membawa publiknya pada ketidakpahaman dan kebosanan tontonan.

Penulis dosen Pendidikan Bahasa Inggris Unisnu dan Wartawan Suarabaru.id.