Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, menghadiri seminar online bertajuk 'Membentuk Pemimpin yang Mumpuni, Ngopeni, lan Ngladeni', Kamis (11/11/2021). (doc/ist

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Menjadi pemimpin harus mumpuni, mampu ngopeni atau merawat rakyat, serta memberikan pelayanan dengan baik. Pemimpin harus memiliki tanggung jawab terhadap anak buah atau rakyatnya, baik tanggung jawab lahir maupun batin.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat membuka seminar online bertajuk ‘Membentuk Pemimpin yang Mumpuni, Ngopeni, lan Ngladeni’ di ruang kerja wakil gubernur, Kamis (11/11/2021).

Ia menjelaskan, mumpuni (kompeten), ngopeni (merawat), lan nglayani (dan melayani) harus dimiliki semua pemimpin untuk  diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mumpuni atau kompetensi yaitu menguasai bidang tugasnya. Tidak hanya menguasai teori tetapi juga cakap, terampil dalam mengaplikasikannya.

“Orang yang mumpuni itu biasanya juga mrantasi, sembada, lan sumbut. Selain itu tak sekadar omong doang atau omdo, tapi bisa dibuktikan dan mampu memberikan perubahan berarti bagi yang dipimpin, sehingga semakin sejahtera,” terangnya.

Sedangkan ngopeni, berarti memelihara, menjaga, mengurus, dan merawat hal-hal yang menjadi bidang tugasnya. Misalnya ketika  bercocok tanam atau menjadi tukang kebun, maka harus bisa memelihara kebun dan seisinya agar sayuran dan tanaman tumbuh subur. Sehingga ada kegiatan memberi pupuk, menyiram, dan menyiangi tanaman.

“Menjadi pemimpin itu memiliki tanggung jawab terhadap anak buahnya, baik tanggung jawab lahir maupun batin. Gampangane mensejahterakan anak buah itu ora mung lahire nanging batine juga. Ora cuma diberi materi, gaji, atau pun kesejahteraannya, akan tetapi memperhatikan kesehatan jasmani,” katanya.

Ngladeni artinya melayani. Menurutnya, pemimpin itu tugasnya melayani atau memberikan pelayanan yang baik atau cepat, mudah, murah, dan ramah. Karenanya, apabila sudah mendedikasikan diri masuk di pemerintahan, maka sebagai tuannya adalah rakyat, sehingga kepuasan rakyat adalah kebahagiaan pimpinan.

Seorang pemimpin harus memiliki pemikiran, bahwa sudah seberapa jauh pekerjaan yang dilakukan memberikan pelayanan dan kepuasan kepada masyarakat. Apakah rakyat masih ada yang menggerutu, masih ada yang sengsara atau tidak, serta kebutuhan-kebutuhan masyarakat lainnya.

“Itulah tugas kita. Kita bekerja jangan hanya memikirkan pimpinan bahagia atau tidak, tetapi apakah masyarakat sudah bahagia atau belum,” pintanya.

Ia menjelaskan apabila kompetensi, memelihara, dan melayani sudah dilakukan dengan baik, maka pemimpin yang profesional dan melayani tidak hanya dalam hati, melainkan sudah pada tataran aplikasi. Terlebih profesionalisme ASN adalah sebuah kemampuan ASN untuk memiliki keterampilan dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan bidang dan jenjangnya masing-masing.

Profesionalisme ASN mensyaratkan beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pelayanan publik. Antara lain budaya organisasi publik, tujuan organisasi, struktur organisasi, tata kerja birokrasi, dan sistem insentif yang dihasilkan dan diwujudkan dalam proses birokrasi.

Hery Priyono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here